MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
KECURIGAAN SEORANG PRAJURIT


__ADS_3

Havard baru saja memasuki aula ketika Do Quo menghambur. "Bagaimana?" desaknya.


Havard hanya tersenyum lalu memperlihatkan dua jemari yang terkembang.


"Ya!!! Bagus!!!" seru Do Quo dengan senang. "Aku tak salah tentang kamu..."


"Ini masih babak penyisihan... lagi sembilan pertandingan lagi..." ujar Havard mengingatkan.


"Mengingat itu, aku baru sadar kalau aku adalah kontestan kedua yang bertarung." seru Do Quo.


Terdengar suara pembawa acara yang memanggil kedua kontestan untuk segera memasuki arena.


"Semoga menang, kawan!" ujar Havard memberi semangat. Do Quo menatapi wajah sahabatnya dan mengangguk mantap kemudian meninggalkan aula.


Tinggallah Havard yang masih bergabung dengan kontestan lain yang menunggu namanya dipanggil. Lelaki itu mengeluarkan tachi Norimitsu dari sabuk dan membiarkan wakizashi pasangannya tetap terselip disabuknya. Havard kemudian duduk dan menyandarkan pedang lengkung itu ke bahunya.


Kembali Havard merasakan aura yang besar dan seketika ia menoleh, terkejut namun segera ditenangkannya hati demi melihat lelaki berambut seputih salju itu duduk berseberangan dengannya dan menatapnya dengan datar namun tajam. Keduanya saling bertatapan. Havard memicingkan matanya sejenak.


Laki-laki ini memiliki aura yang sangat kuat... tapi aku mengenal aura ini... kurasa kami pernah bertemu disuatu tempat... ah, sayang... aku lupa dimana aku bertemu dengan dia...


Havard masih tetap menantang tatapan lelaki berambut seputih salju itu. Tak lama sesungging senyuman misterius muncul di bibirnya. Lelaki itu kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan aula.


Havard menjadi tenang kembali dalam duduknya sepeninggal lelaki berambut seputih salju tersebut. Tak lama kemudian, Do Quo muncul di aula dan melenggang gembira. Ia mendekati Havard yang masih duduk.

__ADS_1


"Aku menang!" serunya dengan gembira. "Lawanku kelimpungan menghadapi seranganku..."


Havard mengangkat wajah dan tersenyum lalu berkata. "Syukurlah kalau begitu... kelihatannya ini akan memakan waktu selama beberapa hari." ujar lelaki tersebut.


Do Quo duduk disisi Havard. "Berarti kita masih punya banyak waktu..." sahutnya dengan senang. "Kamu tinggal dimana saat ini?"


"Aku mengikuti seorang panglima kesini..." jawab Havard. Lelaki itu kemudian menatap Do Quo. "Apakah selama disini, kamu tak menemukan berita-berita menarik? Semacam isu atau gosip, misalnya..." korek Havard.


Do Quo menarik napas panjang lalu menjawab. "Ada sih... beberapa..." lelaki itu menatap langit-langit aula. "Kabarnya, Kerajaan Yahuda sedang melakukan ekspansi militer ke wilayah-wilayah utara... apakah itu benar?" tanya Do Quo dengan serius.


Havard mengangguk. Do Quo kembali menarik napas. "Ada selentingan isu, jika Raja Saul berhasil merekrut beberapa suku dan kelompok yang mau bergabung dalam aliansinya. Beberapa demihuman dan... kudengar juga ada dari keturunan bangsa kuno yang hidup di wilayah terluar Kerajaan Zhou."


"Orang itu melakukan agresi militer ke Norchburg..." sahut Havard.


"Ah, itu juga kudengar beberapa hari yang lalu..." timpal Do Quo membenarkan hal tersebut.


"Apakah sekarang kau bekerja sebagai seorang mata-mata, kawan?" tukas Do Quo. "Wahhh... kau tak jauh bedanya dengan kaum shinobi itu..." oloknya dengan wajah jenaka.


Havard mengangkat bahu. "Terus terang, akupun tergelitik hati. Pasalnya, beberapa hari sebelum kemari, Las Mecca di duduki pasukan dari Yahuda. Mereka menculik sahabat perempuanku dan membawanya ke Benteng Maung." tutur Havard. "Aku membebaskannya dan berniat mencari sebab mengapa mereka menculiknya. Penyelidikanku membawaku kemari... selain mengikuti turnamen ini, sebenarnya aku sedang melakukan penyelidikan mandiri..."


Do Quo manggut-manggut mendengar penuturan Havard. Lelaki itu kemudian mengangkat bahunya lagi.


"Mungkin mereka tertarik dengan kecantikan sahabatmu." tebak Do Quo.

__ADS_1


"Kalau memang tertarik akan kecantikan, mengapa hanya menculik seorang saja? Mengapa tidak membawa semua perawan-perawan Las Mecca ke Benteng Maung?" bantah Havard dengan geram. Cengkramannya pada sarung pedang itu begitu kuat.


"Masuk akal juga." sahut Do Quo. "Lalu?"


"Ternyata penculikan sahabatku, dilakukan atas perintah Raja Saul! Dan itu atas nasihat dari Lord Rotcshild, seorang pejabat dari Tel-Qahira yang berperan ganda juga sebagai penasihat pribadi Raja Saul!" jawab Havard.


"Tapi, memang aneh juga." komentar Do Quo. "Jika perkara wanita, mengapa dia tidak memperistri saja salah satu perempuan cantik di Ur-Balam?"


"Aku kemari sedang melacak keberadaan Lord Rotcshild... menurut isu, dia berada disini..." ujar Havard.


"Aaahhh... Lord Rotcshild... aku juga mendengar hal tersebut... tapi aku tak tahu dia menginap dimana, atau sedang apa..." sahut Do Quo. "Tapi, apakah kau tak berpikir, jika dia juga mungkin melakukan penyamaran agar terhindar dari pantauan kalian?"


"Itu juga yang kupikirkan..." timpal Havard. "Jadi, aku sekarang ini sedang berhati-hati... siapa tahu diantara penonton... atau bahkan kontestan, salah satunya adalah Lord Rotcshild yang sedang menyamar."


"Memang kau tak mengenalnya? Apakah orang itu tak pernah memperlihatkan wajahnya kepada seluruh orang di Tel-Qahira?" pancing Do Quo.


Havard menggeleng. "Katanya dia berwajah cacat sehingga selalu mengenakan cadar. Yang paling mencolok adalah pin miliknya yang berbentuk sebuah tameng warna merah tersemat disetiap pakaiannya, berukir bunga fleur. Hanya itu tanda pengenal yang bisa kujadikan panduan kalau orang itu adalah Lord Rotcshild..."


"Wah, susah juga..." gumam Do Quo. "Bisa jadi dia meminjamkan pin itu kepada salah satu bawahannya atau orang sewaannya dan mereka disuruh menyamar sebagai dia..." lelaki itu menjabarkan kemungkinan yang membuat Havard makin kuatir. "Kau bisa kecolongan..."


"Kau bisa menolongku?" pinta Havard.


"Apa saja... asal jangan membuntuti orang." jawab Do Quo kemudian tertawa. "Aku bukan penguntit, kawan."

__ADS_1


Havard menghela napas dengan masygul. Do Quo menyapu punggung sahabatnya.


"Tapi kamu tenang saja... aku akan membantumu mengejarnya..." ujar Do Quo dengan wajah jenaka lagi. "Kita akan menangkapnya bersama-sama." []


__ADS_2