MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
SEMI FINAL YANG MENEGANGKAN


__ADS_3

Hari ini kemeriahan kembali terlihat di koloseum tengah pasar. Semi final akan segera diadakan. Kesepuluh kontestan telah berada di aula, mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.


Nuzlan bersama Selena dan Nagini kini telah hadir kembali. Nuzlan menyuap petugas karcis agar memberi mereka tempat duduk yang dekat dengan panggung pertandingan.


"Disini, kita bisa lebih bebas menyaksikan tanpa terganggu oleh riuh-renyah teriakan penonton." ujar Nuzlan dengan sumringah. Ia menatap Selena. "Dan kau akan lebih jelas melihat kekasihmu bertarung."


"Siapa? Havard?" tanya Selena. "Dia bukan kekasihku, Kak!" bantah gadis itu.


"Terserah padamu saja adikku." ujar Nuzlan. "Yang jelas, dengan naluri kedewasaanku, aku sudah bisa menebak bahwa perhatiannya kepadamu adalah bentuk rasa cintanya..."


Selena melengos menatap panggung pertandingan. Ia memandang plank elektronik yang menampilkan nama-nama kontestan yang akan bertanding.


Sementara itu, Havard dan Do Quo duduk-duduk memperhatikan para kontestan lainnya.


"Menurutmu... siapa diantara mereka yang merupakan samaran Lord Rotcshild?" pancing Do Quo setengah berbisik sedang tatapannya tetap mengamati para kontestan.


Havard memperhatikan mereka kemudian mendesah. "Aku tak bisa memperkirakannya..." ungkapnya dengan jujur. "Seandainya bisa, sudah lama aku menantangnya berkelahi."


"Bagaimana dengan lelaki itu?" ujar Do Quo menganggukkan kepala ke arah Sinhala yang sementara duduk bermeditasi.


"Kan sudah kubilang... wajah Lord Rotcshild sering tertutup cadar sehingga sulit untuk diidentifikasi. Jangankan aku, para pejabat kesultanan saja sulit mengenalinya tanpa cadar." sahut Havard.


Panitia pertandingan muncul ditemani oleh lelaki yang mengenakan pakaian seragam pengamanan, lengkap dengan turbannya. Petugas berseragam itu memegang sebuah kotak berisi bola-bola undian. Panitia itu menatap para kontestan. Ia menggenggam sebuah papan kecil yang dilapisi selembar kertas.


"Semuanya berkumpul disini..." panggil panitia tersebut.


Para kontestan kemudian datang mengelilinginya. Panitia itu menatap beberapa kontestan sambil berbicara.


"Hari ini, pertandingan semi final akan segera dilangsungkan. Silahkan kalian merogohkan tangan mengambil bola undian untuk menentukan siapa yang akan melawan siapa." perintahnya.

__ADS_1


Petugas berseragam itu menyodorkan kotak undian ke tengah. Panitia tersebut memanggil masing-masing kontestan dan memintanya mengambil nomor undian.


Para kontestan itu melakukan apa yang diperintahkan oleh panitia. Setiap kontestan mengeluarkan bola undian bernomor, panitia itu kemudian mencatatnya hingga pengundian itu selesai.


"Silahkan bersiap-siap... kalian akan segera dipanggil." ujar panitia.


Sementara itu diluaran, pembawa acara sibuk menyampaikan beberapa pengumuman dan undian berhadiah kepada para penonton. Tak lama kemudian, pembawa acara itu berseru.


"Ya, saatnya kita tiba pada semi final. Inilah daftar kontestan yang akan bertanding hari ini!!!" seru pembawa acara seraya menunjuk ke arah papan elektronik yang menampilkan kesepuluh nama kontestan serta dengan siapa mereka akan bertarung.


"Hei, lihat!" seru Selena. "Havard mendapat pertandingan kedua... sedang Do Quo mendapatkan pertandingan kelima."


"Setidaknya, kita bisa bersantai." ujar Nuzlan kemudian menjawil lengan Selena. "Perhatikan bagaimana Havard akan mengalahkan lawan-lawannya."


Selena kembali memberenggut kesal digoda sedemikian rupa oleh Nuzlan. Seorang penjaja makanan lewat didekat mereka. Nuzlan memanggilnya.


Selena terheran-heran melihat Nuzlan memborong semua makanan sedangkan penjaja itu melayaninya dengan gembira sebab dagangannya laris hari itu.


"Untuk menikmati pertandingan adikku." jawab Nuzlan dengan santai sambil meletakkan tas besar berisi makanan ringan dan roti serta beberapa gelas besar minuman.


"Nikmatilah... sebab sebentar lagi suara kalian akan serak sebab terlalu banyak bersorak..." goda Nuzlan mengeluarkan dua gelas besar minuman dan menyerahkannya kepada Selena dan Nagini.


"Kakak kira aku pelahap makanan?" tukas Selena dengan ketus.


"Sekali ini, ngemil saja." rayu Nuzlan. "Tidak setiap hari kau akan mendapati sekelilingmu dipenuhi makanan."


Dengan sedikit kesal, Selena menerima tiga kerat roti ukuran besar dan empat kotak berondong jagung. Nagini justru memberikan sebagian pemberian Nuzlan kepada para penonton di sekitarnya.


"Yah!!! Para hadirin, mari kita saksikan pertandingan pertama!!! Sinhala dari Shamvala bertarung melawan Leonidas dari Spartopel!!!" seru pembawa acara.

__ADS_1


Dari aula, muncul seorang lelaki bertelanjang dada dan hanya mengenakan cawat besi yang diikat sabuk berukir indah dari emas, dilehernya menggantung mantel warna merah marun. Ia mengenakan helm yang dihiasi rumbai-rumbai merah darah. Sepasang pelindung dari baja tipis melingkar disepasang lengan dan sepasang betisnya. Sebatang tombak tergenggam ditangannya dan sebilah xiphos (pedang pendek yang digenggam dengan satu tangan) tersarung dibagian kiri cawat besinya.


kemunculannya disambut sorak-sorai para pendukungnya yang kebanyakan berasal dari kota yang sama dengan petarung tersebut. Tak lama kemudian, muncul Sinhala, mengenakan pakaian ringkas dan hanya menggenggam sebilah pedang jenis rapier (pedang berbilah tipis dan lurus). Rambutnya yang lurus berwarna putih itu berkibar ditiup angin.


Kedua petarung itu berhadapan. Dan begitu bel pertandingan berbunyi, Leonidas dengan sigap langsung menerjang. Ia dengan ganas menyerang Sinhala yang hanya mengelak, dan menghindar dengan tenang bahkan cenderung santai dan tak mengeluarkan banyak tenaga.


Para pendukung Leonidas meradang dan memaki-maki Sinhala untuk memprovokasi dirinya. Sementara Leonidas terus menyerang berupaya menjatuhkan lawannya meskipun ia heran sebab tak satupun tusukan dan sabetan tombaknya mengenai Sinhala.


Nagini memperhatikan dengan serius pertandingan tersebut sedangkan Nuzlan terpukau dengan gaya yang dibuat Sinhala. Ia kagum dengan kecepatan lelaki itu meskipun ia mengakui bahwa Leonidas seakan memiliki cadangan tenaga yang tidak sedikit. Lelaki berhelm surai merah itu belum terlihat ngos-ngosan.


"Apa kau hanya tahu menghindar saja, heh?!" ejek Leonidas dengan senyum sinis.


Sinhala hanya menampilkan wajah datar saja diejek demikian. Ia tetap saja berdiri santai beberapa jarak dari Leonidas. Mata pedangnnya tetap terarah ke lantai, seakan ia malas untuk bertarung.


Leonidas muntab melihat gaya Sinhala yang terkesan meremehkannya. Lelaki itu tiba-tiba melemparkan tombak ke arah Sinhala.


SWINGGGGG....


Tombak itu melesat mengincar kepala Sinhala. Namun betapa terkejutnya Leonidas dan terpukaunya penonton, terkecuali Nagini ketika Sinhala memiringkan kepalanya tanpa menggerakkan sedikitpun posisi tubuhnya ketika mengelakkan tombak tersebut. Senjata itu menancap diluar panggung pertandingan.


Dengan murka, Leonidas menghunus xiphos dan maju menerjang Sinhala. Nagini dapat dengan jelas menangkap berkas sinar menyala di mata perak milik Sinhala ketika tiba-tiba ia melesat menabrak Leonidas.


SWINGGG.... JLEB.... BRUK...


Penonton tak bisa melihat gerakan secepat kilat yang dilakukan Sinhala ketika dia menyambar Leonidas. Keduanya berdiri beberapa jarak saling membelakangi. Suasana saat itu menjadi hening dan beberapa saat kemudian menjadi riuh ketika menyaksikan Leonidas rubuh kelantai dengan luka tusukan pada dadanya.


Lantai dibanjiri darah dan Leonidas telah gugur dalam turnamen tersebut. Sinhala sendiri dengan santai melangkah meninggalkan aula sementara petugas berseragam mengurusi mayat Leonidas yang diusung keluar arena pertandingan. Para penonton gempar dan membicarakan peristiwa itu.


Nagini menghela napas. Kelihatannya... lelaki itu memiliki kekuatan yang tak bisa diprediksi...kecepatannya tidak sanggup ditangkap mata oleh penonton... ada yang menarik dalam diri laki-laki ini...

__ADS_1


Nagini memicingkan mata menatapi punggung Sinhala yang melangkah menuju aula. Tiba-tiba ia berbalik sejenak menatap ke arah penonton. Tatapan Nagini berhadapan dengan tatapan Sinhala. Keduanya melempar tatapan tajam yang tidak dipahami oleh siapapun, selain pemilik netra itu sendiri.[]


__ADS_2