MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MENUJU TURAN


__ADS_3

Havard membaringkan Selena pada dipan yang dilapisi beludru tebal. Sejenak ia membelai rambut gadis itu. Selena masih lelah dalam tidurnya.


"Cantik ya?" cetus Nuzlan tiba-tiba.


Havard mengerutkan alis lalu menatap Nuzlan. Lelaki itu tersenyum menyandarkan punggungnya ke sisi pintu.


"Maksudmu?" tanya Havard.


"Perempuan ruh itu..." ujar Nuzlan sambil melangkah ke dalam kamar dan berdiri dihadapan Havard. "Bahkan Selena, kalah cantik dengannya..." olok Nuzlan dengan senyum nakal.


"Cantik itu relatif..." ujar Havard melengos menatap Selena.


"Ya... bagi kau yang mencintai Selena... dia jauh lebih cantik dari pada perempuan itu..." goda Nuzlan lagi. "Lagi pula, Selena masih hidup dan perempuan itu sudah lama mati..."


"Kau menyukai Perawan Agung Lupricala?" tanya Havard.


Nuzlan tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya, mengibaskan tangannya berkali-kali.


"Mana mungkin aku mencintai perempuan yang sudah mati puluhan juta tahun yang lalu?" bantah Nuzlan berkilah, "Seandainya dia hidup pun mungkin wajahnya lebih jelek dari pada nenek penyihir."


"Kenapa kekaguman itu tiba-tiba saja berubah?" sindir Havard.


"Karena aku berpikir logis, kawan." sahut Nuzlan menepuk pundak Havard lalu tertawa kembali.


"Ssst... jangan terlalu keras..." desis Havard kemudian mengajak Nuzlan menjauhi kamar tersebut. Keduanya berdiri didepan bilik.


Sejenak Nuzlan melongok lagi ke dalam bilik, memastikan Selena masih tidur. Ia kemudian menatap Havard.


"Akuilah Havard... kau memang mencintainya!" desak Nuzlan.


"Aku tidak mencintainya!" bantah Havard dengan keras.


"Ramuan itu buktinya!" tekan Nuzlan. "Lupricala sudah bilang, hanya pasangan hidupnya yang bisa membuat Bunga Panacium itu menjadi obat penawar racun Mawar Lilith! Kau lihat? Selena membaik..."


"Aku tidak cinta kepadanya... aku hanya menegaskan tanggung jawabku kepadanya..." bantah Havard lagi. "Bagaimana aku bisa mencintainya? Doa lebih layak disebut pengasuh bayi, ketimbang istri yang pengertian."


"Jangan membohongi hatimu, Havard." ujar Nuzlan mengingatkan. "Kelak, kau akan menyesal ketika dia raib dari sisimu."


"Kau mendoakan hal yang jelek bagi saudarimu!" tekan Havard lagi dengan berang.


Nuzlan menggeleng. "Tidak Havard. Aku hanya ingin menggugah hatimu. Akuilah, bahwa kau memang mencintainya... meskipun kau tak pernah menampakkan hal itu... atau kau memang... tak sengaja jatuh cinta..." tandasnya.


"Aku... mencintainya?" desis Havard dengan ragu. "Yang ada justru kami selalu bertengkar..."

__ADS_1


"Pertengkaran kalian, lebih nampak sebagai pertengkaran suami-istri ketimbang pertengkaran antar teman... bukankah itu yang pernah ku katakan padamu?" ujar Nuzlan mengingatkan.


Havard terdiam lama. Nuzlan tersenyum. "Sudahlah... santaikan pikiranmu... istirahatlah... besok, kita akan bergerak menuju Turan..."


Nuzlan menepuk pundak Havard beberapa kali dengan lembut lalu pergi meninggalkan Havard sendirian didepan bilik. Sepeninggal sang panglima, Havard melangkah masuk lagi kedalam bilik dan duduk dilantai dekat dipan yang ditiduri Selena.


Pemuda itu menatapi gadis itu. Ia mengerutkan alis.


Aku... mencintai Selena???


...***...


Havard tak tahu, berapa lama ia tidur dalam posisi duduk seperti itu. Yang jelas, ia terbangun ketika sebuah tangan lembut menyentuh pipinya.


"Bangun Havard..." panggil suara lembut itu.


Havard mengangkat wajahnya dengan malas dan sedetik kemudian kesadarannya langsung pulih.


"SELENA???"


Pekik Havard memang bukan sebuah khayal. Diatas dipan itu duduk menselonjorkan kaki, Selena yang sedang menatapnya.


"Katakan padaku, kita berada dimana?" tanya gadis itu.


"Selena???" desisnya.


"Iya, ini aku!" seru Selena dengan tegas. "Bisakah kau..."


PLUK!!! BUBS!!! EEEEKHHH???


Selena hanya bisa mengerang tertahan ketika tiba-tiba Havard langsung meraba dada sebelah kiri gadis itu. Selena dengan jelas merasai telapak tangan Havard menggenggam ***********.


Havard yang semula tegang, kemudian mengendurkan wajahnya dan tersenyum. "Syukurlah... kau sudah sehat..." ujarnya dengan lega.


PLAK!!! UOHHH...


Tiba-tiba tangan Selena melayang menampar pipi Havard dengan keras membuat lelaki itu terjungkal. Gadis itu serentak bangkit dari ranjang dan bercakak pinggang.


"Kamu kenapa sih?!" teriak Havard dengan berang bercampur bingung sambil memegangi pipinya yang kebas akibat tamparan. "Main tampar-tampar saja! Memang salahku ini apa?!"


"Masih mengaku tak bersalah?!" teriak Selena dengan geram. "Persangkaanku kepadamu selama ini ternyata salah! Kau memang pemuda tiada adab!!!"


"Hei, hentikan tuduhanmu yang tak beralasan itu!" tekan Havard menudingkan telunjuknya ke wajah Selena dan langsung ditepis dengan kasar oleh gadis itu.

__ADS_1


"Memang kau pemuda tak beradab." ujar Selena. "Mengapa kau pegang payudaraku?! Mau cari keuntungan ya?!"


"Siapa yang merabai payudaramu?! Aku meraba dadamu, memeriksa detak jantungmu! Itu saja! Kenapa kau tiba-tiba jadi galak tak beralasan?!"


Tak lama kemudian Nagini dan Nuzlan muncul di bilik itu.


"Ada apa ini?!" tanya Nuzlan.


"Dia!!!" seru Selena dengan geram, "Dia melecehkan aku!!!"


"Aku tak melecehkannya!" bantah Havard.


"Sudahlah! Hentikan pertengkarannya." lerai Nuzlan. "Kita harus bergegas."


Selena mendengus kasar dan menuding-nudingkan telunjuknya ke wajah Havard.


"Awas kau! Urusan kita belum selesai!!!" geramnya lalu pergi meninggalkan bilik.


Havard balas mendengus kasar lalu menyusul keluar ditatapi oleh Nagini dengan pandangan datar.


...***...


Keempat orang itu berdiri dihadapan Lupricala. Ruh sang perawan itu tersenyum.


"Kalian akan pergi hari ini..." ujar Lupricala.


Nuzlan mengangguk. "Benar Perawan Agung. Kami harus bergegas ke Turan hari ini." jawabnya.


Lupricala mengangguk. "Berhati-hatilah..." pesannya. "Mungkin kalian akan menghadapi bahaya di perjalanan." wanita ruh itu menatapi Selena. "Untukmu, wahai gadis..."


Selena mengangkat wajah. Lupricala tersenyum. "Kau lihat busur yang dipegang oleh arca itu?"


Selena menatap busur indah yang digenggam arca Lupricala. Ia menatap ruh tersebut dan mengangguk. Lupricala kembali tersenyum.


"Agaknya, busurku berjodoh denganmu... ambil dan gunakanlah untuk mempertahankan kehidupanmu." titah Lupricala.


"Terima kasih, Perawan Agung." sahut Selena.


Lupricala menatap Havard. "Dan kau anak muda... jagalah mereka dengan nyawamu..."


"Aku akan menjaganya!" tandas Havard dengan tegas.


"Kami pamit, Lupricala..." ujar Nagini.

__ADS_1


Setelah mendapat restu, mereka meninggalkan Kuil Bethani dan melanjutkan perjalanan menuju Turan.[]


__ADS_2