MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MENYEMBUNYIKAN DIRI


__ADS_3

Karkadan itu masih terus berlari membawa ketiga orang itu, dikejar oleh beberapa ekor smilodon yang dikendarai oleh para pantera bersenjata golok besar.


"Harus segera menemukan persembunyian..." gumam Havard yang melayangkan tatapannya ke segala arah mencari tempat untuk bisa menyembunyikan diri.


"Aahh... itu disana..." gumam Havard mendapati dibagian bawah bukit terdapat hamparan padang yang ditumbuhi rerumputan raksasa. Tempat yang sangat cocok.


"Kita mau kemana?" tanya Selena sembari membidik dan melepaskan panahnya yang mengenai kembali beberapa pantera yang semakin memperkurang jumlah para pengejar.


Havard tak menjawab dan langsung menggebah tunggangannya. Bukefals tiba-tiba melompat dari bukit dan terjun ke bentangan padang rerumputan tersebut. Tubuh hewan itu langsung terbenam didalam tetumbuhan raksasa yang menjulang tinggi.


"Demi Aslarn! Kalian bodoh semua! Cepat kejar mereka!!!" raung Tigris dengan marah sambil mengacung-acungkan macuahuitl kebanggaannya.


Jumlah pengejar, termasuk dengan Tigris sendiri kini tinggal berjumlah empat orang saja. Mereka ikut-ikutan melompati bukit dan terjun kedalam semak-semak raksasa itu.


Sementara Havard sudah menyuruh keduanya turun dari punggung karkadan itu. Havard menyapu lembut cula milik Bukefals.

__ADS_1


"Kembalilah ke desa, kawan. Aku menunggumu disana... kau tahu jalan pulang, kan?" ujar Havard setengah berbisik.


Bukefals menggerutu lalu bergerak meninggalkan ketiga orang itu, menyamarkan dirinya diantara semak-semak raksasa itu. Sementara Sabretooth tunggangan Tigris terus menggeram pertanda ia mencium bau darah.


"Obrak-abrik tempat ini!!! Mereka tentu masih sembunyi disini!!" seru Tigris dan mulai mengayun-ayunkan macuahuitl ke rerimbunan semak itu, memangkas bagian ujung tetumbuhan itu memastikan buruan mereka berada disana. Tindakan itu diikuti oleh tiga pantera berkendara smilodon itu dengan mengayun-ayunkan golok mereka ikut memangkas tanaman di areal tersebut.


Sementara Havard yang membantu Nuzlan berjalan sebab bagian pantatnya luka, bersama Selena yang membidik-bidikkan panahnya dengan waspada, menjauhi areal tersebut.


Setelah sekian lama memangkas kesana-sini dan tak menemukan buruan mereka membuat Tigris jengkel dan akhirnya berteriak.


"Apakah kita akan istirahat disini?" tanya Nuzlan ditengah seringai rasa sakitnya.


"Tidak. Tunggangan mereka masih mampu mencium bau luka... kita harus terus bergerak." jawab Havard sambil terus memandu Nuzlan terus bergerak menjauhi lokasi pencarian.


Ketiga terus melangkah dan setengah memaksakan diri agar tidak tertangkap. Hingga akhirnya, menjelang senja, mereka berhasil keluar dari bentangan permadani semak yang berwarna kekuningan.

__ADS_1


"Kurasa kita memasuki tempat yang aman..." ujar Havard mengangguk ke arah depan.


Dihadapan mereka terdapat sebuah gubuk tua. Kelihatannya tidak terpakai lagi meskipun gubuk sendiri belum seberapa rusak.


"Kita bersembunyi disini untuk sementara waktu." ujar Havard kemudian menatap Selena. "Buatlah perapian... aku akan berburu sedikit untuk penampal perut kita semalaman ini..."


Selena mengangguk. Havard memasuki gubuk itu dan membaringkan Nuzlan disudut dinding. Selena dengan cekatan langsung mencari benda-benda yang dapat digunakan untuk menjerang api.


Sementara Havard meminjam busur dan andong berisi anak panah milik Selena kemudian keluar untuk berburu. Nuzlan memperhatikan segalanya ketika gadis itu dengan sigap mempersiapkan tungku sederhana. Ada sebuah kuali bekas yang dipergunakannya untuk memasak air.


Matahari sedikit lagi menghilang di ufuk barat ketika Havard muncul membawa tiga ekor terwelu yang sudah mati. Setelah meletakkan busur dan andong disisi dinding, Havard keluar membawa terwelu itu untuk dikuliti.


Air sudah masak dan tak lama kemudian Havard muncul lagi membawa tiga ekor terwelu yang sudah terkuliti dan telah kosong bagian jeroannya. Hewan-hewan itu sudah disula dan diserahkan kepada Selena untuk dibakar di perapian. Havard kemudian duduk bersila disisi Nuzlan yang tidur meniarap.


"Untuk sementara ini, kita akan bermalam disini, memastikan keberadaan kita tak terendus oleh kaum pantera itu... besok kita akan lanjutkan perjalanan..." ujar Havard kepada Nuzlan.[]

__ADS_1


__ADS_2