
Pagi yang indah menyinari seluruh kota Tel-Qahira. Pasar kota terlihat begitu ramai dengan penjual yang menjajakan dagangannya saling sahut menyahut dengan pembeli yang ingin menawar harga dagangan tersebut.
Nuzlan dan Havard nampak berdesak-desakan diantara pengunjung pasar yang berjubel. Mereka hari ini akan membeli senjata dan amunisi serta logistik untuk persiapan perjalanan ke Runehall esok harinya.
"Kau tak mau menambah senjata? Nanti kubayar ongkosnya." ujar Nuzlan.
"Tidak, terima kasih... kopesh sudah lebih dari cukup untuk menghadapi musuh... aku hanya butuh batu amplas untuk mempertajamnya." sahut Havard dengan senyum.
"Terserah kamu sajalah..." ujar Nuzlan dan keduanya bergerak ke blok lain dimana dibagian itu terdapat para pengrajin.
"Aaah... Tuan Jenderal... bagaimana kabarnya?" tanya pengrajin tersebut. Kelihatannya ia adalah langganan keluarga ad-Dakhil.
"Kabar baik La-Panda..." balas Nuzlan. "Ada yang bisa kau pamerkan padaku?"
"Aaahhh... mari, silahkan masuk." ajak La-Panda kepada dua orang itu. Nuzlan dan Havard mengikuti langkah pengrajin itu menyusuri lorong-lorong tokonya.
"Ini karya eksklusif..." ujar La-Panda menunjuk rak-rak yang bertelekan senjata-senjata yang bagus.
__ADS_1
Nuzlan mengamati senjata-senjata itu dan ia mengangguk-angguk. Lelaki itu menatap La-Panda. "Aku mau tombak yang bagus."
"Aaah... ada... ada..." ujar La-Panda kembali mengajak Nuzlan ke sebuah bilik. Mereka menemukan sebuah peti.
"Sebenarnya senjata ini masih purwarupa... belum diuji sama sekali..." ujar La-Panda seraya membuka peti. Dan nampaklah bagi Nuzlan sebuah tombak yang indah buatannya.
"Ini kubuat dari campuran Spectral dan Mythril..." ujar La-Panda mengeluarkan tombak itu dari dalam peti dan Nuzlan langsung dapat melihat cahaya berpendar bagai pelangi menyelimuti tombak tersebut. "Aku menamakannya Pasak Bianglala... bagus, kan?"
Nuzlan mengangguk-angguk. "Baik, aku ambil Pasak Bianglala... berapa ongkosnya?"
"Tapi senjata ini belum diuji coba, Tuan Jenderal..." bantah La-Panda.
"Nanti saya kirimkan tagihannya melalui Telegram..." ujar La-Panda.
"Baik! Kemas senjata ini. Siang nanti aku tahu, Pasak Bianglala sudah berada di Quba al-Bashir." pesan Nuzlan.
"Baik Tuan Jenderal." jawab La-Panda.
__ADS_1
Keduanya keluar dari bilik itu dan menemukan Havard sedang mengagumi sebilah pisau panjang terbuat dari campuran tembaga dan spectral. Gagangnya dihiasi orihalcon pada bagian hiasan.
"Kau suka dengan belati itu?" tanya Nuzlan.
Havard kaget dan buru-buru mundur dari rak. "Ah, tidak." kilahnya. "Sekedar mengagumi saja. Rupanya buatan Tuan La-Panda memang estetik sekali." pujinya.
"Ambil saja." ujar Nuzlan. "Aku yang bayar..."
Havard masih ragu sehingga La-Panda menukas. "Biasanya Tuan Jenderal tak suka menarik kata-katanya. Alangkah baiknya anda mengambil belati itu. Hitung-hitung sebagai alat pelengkap pertahanan diri..."
"Oh ya... aku lupa satu hal." ujar Nuzlan seakan-akan teringat sesuatu. "Pilihkan aku sebuah busur yang bagus... mahal pun tak apa... kirim sekalian dengan Pasak Bianglala..."
"Baik Tuan Jenderal..." sahut La-Panda dengan gembira.
Mereka pergi meninggalkan toko kerajinan senjata itu dan menyusuri lorong-lorong pasar.
"Jangan katakan kalau busur itu untuk Selena?!" tebak Havard.
__ADS_1
Nuzlan tak menjawab melainkan hanya tersenyum saja. Havard tak bisa berbuat banyak selain mendengus menumpahkan kekesalan hatinya.[]