
Havard melangkah masuk ke dalam aula, tepat didepan pintu, berdiri dengan tegak Sinhala dengan tatapan datar namun tajam mengintimidasi. Havard berdiri dihadapan lelaki berambut seputih salju tersebut.
"Apakah kau ingin mempercepat pertarungan denganku?" tanya Havard.
Sinhala mendengus pelan lalu memberi jalan. Havard mengangguk lalu melangkah. Ketika berpapasan, bahunya dipegang oleh Sinhala. Pemuda itu berhenti, wajahnya tak menoleh dan tatap pemuda itu juga tak mencari lelaki berambut seputih salju itu.
"Aku akan memberikan kejutan untukmu didalam pertarungan kita nanti..." ujar Sinhala juga tanpa menoleh. "Jangan berani kalah dalam pertarungan nanti..."
Sinhala melepas cengkramannya pada bahu Havard lalu melangkah keluar aula dan menyusuri lorong samping dibalik pagar pembatas arena dengan ruangan para kontestan.
Havard hanya menoleh sedikit mengamati calon lawannya yang menghilang dibelokan. Pemuda itu kemudian melangkah lagi. Diujung sana, Do Quo terlihat menikmati makanan dalam kotak itu. Melihat kedatangan Havard ia menghentikan sejenak kegiatannya.
"Bagaimana pertarungannya?" tanya Do Quo. "Maaf... aku tak sempat menyaksikan pertandinganmu." ujarnya mengangkat kotak makanan. "Aku lagi asyik menikmati ini... jatahmu ada disitu." sambungnya lagi menganggukkan dagunya ke arah kotak yang terletak disamping tempat duduknya.
"Terima kasih..." ujar Havard kemudian duduk dan mengambil kotak itu. "Tapi, aku tak lapar..." pemuda itu menyodorkan kotak ransumnya kepada Do Quo. "Makan saja..."
"Oh ya?" lonjak Do Quo dengan gembira lalu menyambut kotak itu. "Terima kasih..." ujarnya dan kembali menikmati makanan.
"Aku baru saja mendapat ancaman dari Sinhala..." ujar Havard membuat Do Quo sempat lagi menjeda kegiatannya. Havard menatap lelaki itu. "Kami berpapasan di pintu aula. Kemungkinannya dia menonton pertarunganku tadi..." Havard menoleh menatap aula. "Kelihatannya... kami memang akan bertemu dalam pertarungan..."
"Tidak sebelum aku mengujinya untukmu." sahut Do Quo seraya meletakkan kotak makanan yang kosong ke samping dan mengambil lagi kotak makanan lain dan membukanya. "Biarkan dia berhadapan denganku..." ujar Do Quo kembali mengunyah makanan. "Aku akan mengukur sejauh mana kompetensinya agar kau bisa memperkirakan dan mempersiapkan strategi yang jitu untuk menghadapinya..." Lelaki itu tersenyum lagi saat melahap sebongkah daging kecil dan kembali menyambung. "Itu kalau dia menang melawanku..."
Havard menatap Do Quo. "Maksudmu?"
"Kalau aku kalah... berarti dia akan berhadapan denganmu..." ujar Do Quo disela-sela kegiatannya mengunyah makanan.
"Terlalu percaya diri..." komentar Havard.
"Percaya diri itu penting..." balas Do Quo kembali menghabiskan sisa-sisa makanan dalam kotak. Ia kemudian bersendawa panjang dan berdecap-decap, setelah itu menyambung perkataannya.
"Yang tak boleh itu, adalah takabur..." ujarnya sembari meletakkan kotak-kotak makanan itu disisinya dan menatap Havard.
"Kau sudah banyak makan asam-garam kehidupan. Banyak menimba ilmu disetiap tempat yang kau singgahi...Aku yakin kau bisa menghadapinya..." jawab Do Quo seraya menepuk bahu Havard berkali-kali.
Terdengar seruan-seruan pemberi semangat dan pemberitahuan pertandingan ketiga akan segera dimulai. Nama kedua kontestan sudah dipanggil. Dua orang petarung yang berdiri di dinding yang saling berhadapan maju dan melangkah bersama keluar menuju arena.
Do Quo kembali menatap pintu aula. "Yang patut kau ingat adalah... dia telah melemparkan tantangan pertama kali kepadamu... sebagai seorang satria, kau harus meladeninya... bukankah itu yang menjadi kode etik umum dunia Kangouw?" ungkap Do Quo seraya mengangkat alis kirinya.
Havard mengangguk-angguk beberapa kali dan menghela napas. Ia bangkit. "Aku akan melakukan meditasi sejenak..." ujar pemuda itu lalu melangkah meninggalkan Do Quo sendirian menunggu giliran pertandingannya.
...****...
Pertarungan yang ketiga baru saja selesai dan inilah pertarungan yang pertama kali terjadi. Kedua kontestan gugur sebab sama-sama saling menyerang dan kehabisan tenaga dan darah.
Para petugas kebersihan masuk membersihkan sisa-sisa pertarungan termasuk genangan darah yang banyak bertebaran di lantai pertandingan. Untuk menghilangkan kebosanan penonton, pihak sponsor memutuskan memberikan hiburan untuk pengunjung.
Di arena digelar pertunjukan. Sebuah kelompok girlband muncul dan memeriahkan suasana dengan lagu yang mereka tembangkan, dipadu dengan alunan musik disko-techno yang bertalu-talu. Sejenak para penonton melupakan kebosanannya dan ikut berjoget ditempatnya.
__ADS_1
Nuzlan sendiri tidak menghiraukan penampilannya, ikut bergoyang seiringan alunan musik yang mengalir. Selena ikut bergembira. Hanya Nagini yang benar-benar menjaga imejnya, tidak tergoda mengikuti sisi gelap syahwatnya.
"Kalau Havard disini, pasti akan lebih asyik." seru Nuzlan dengan suara keras mengembangkan suara musik yang keras ditengah aktifitas jogetnya.
"Memang Kakak mau dia disini untuk apa?" sahut Selena bertanya tak kalah kerasnya.
"Untuk menemanimu berjoget!" jawab Nuzlan dengan keras.
"Dia tak pandai berjoget." ujar Selena. "Geraknya seperti Kingkong yang mengamuk melawan Serpentical..."
Nuzlan tertawa dan kembali berjoget. Suasana menjelang siang itu menjadi ramai.
...****...
Havard memejamkan mata dan memusatkan hatinya pada satu titik. Ia melepaskan segala beban pikiran untuk menggapai pencerahan. Sebagai penganut ajaran kuno yang monotheistis, pemuda itu mengamalkan beberapa praktik sufistik seperti merapal mantra yang mengandung kekaguman dan penghambaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bagaimanapun ia telah memenangkan pertandingan semifinal. Berarti tinggal pertarungan penentuan yang akan dijalaninya. Havard merapal berbagai kata-kata yang menenangkan hati.
Wahai Sang Penguasa Hati... kuatkanlah fisikku dan teguhkanlah hatiku. Tajamkan senjataku dan lemahkanlah musuhku... Engkau yang mampu membolak-balik hati setiap makhluk... atas Restu-Mu, aku akan meraih kemenangan...
...****...
Empat pertandingan sudah berlalu, kini tinggal pertandingan terakhir dari babak semifinal. Pembawa acara telah menyerukan nama Do Quo untuk memasuki arena pertandingan. Lawannya adalah Te Mou Chin, seorang pegulat termashyur dari dataran Guon Luon yang terletak di sebelah pulau Daipeh. Guon Luon sendiri merupakan dataran tandus yang banyak dihuni oleh hewan buas pemangsa. Hanya suku Borjigui, dan Te Mou Chin salah satu diantaranya yang bisa bertahan hidup dan mendirikan pemukiman nomadis dikawasan itu.
Do Quo berdiri di arena. Lelaki itu mengenakan pakaian ringkas tanpa lengan warna putih. Pinggangnya diikat dengan sabuk merah. Celananya lebar dan dimasukkan dalam sepatu bot dari beludru. Sementara lawannya bertubuh tinggi besar dengan baju jirah tipis berbahan perunggu yang diukir berbentuk kepala setan dan kerah jirahnya berbentuk tanduk yang melingkar dan ujungnya mencuat ke bahu. Kepala lelaki itu ditumbuhi rambut yang awut-awutan berwarna kuning kecoklatan.
Bel berdentang pertanda pertandingan dimulai. Do Quo mempersiapkan kuda-kudanya, begitupun dengan Te Mou Chin.
Te Mou Chin berupaya menangkis serangan yang dapat ditangkisnya, namun saking cepatnya seni tendangan yang dipraktikkan Do Quo, lelaki itu banyak menerima tendangan pada bagian tubuhnya.
Namun Do Quo menggeram heran, menyadari lawannya tidak mengalami efek dari Tendangan Seribu Bayangan. Tiba-tiba Te Mou Chin dengan cepat menjulurkan tangannya dan berhasil menangkap sebelah kaki Do Quo.
Lelaki itu terperanjat dan meronta untuk melepaskan diri, namun ia kalah tenaga. Te Mou Chin mengangkat tubuh Do Quo dan membantingnya ke lantai.
BRUKKK.... UUGHHH...
Do Quo menggelinjang kesakitan saat tubuhnya menghantam lantai. Lelaki itu cepat bangun dan melenting menjauh. Do Quo kembali memasang kuda-kuda.
Lelaki ini... memanfaatkan momentum untuk menciptakan kerusakan...
"Ya saudara-saudara!!! Lihatlah kehebatan Setan Gurun Guon Luon-Te Mou Chin!!!" seru pembawa acara disambut riuh rendah suara penonton yang bersorak-sorai.
Te Mou Chin merasa bangga mendengar sorakan para penonton membuat semangatnya naik berlipat ganda. Sementara dihadapannya, Do Quo memasang kuda-kuda dengan tatapan yang memicing, mencari titik-titik kelemahan lawannya.
Kembali dengan satu teriakan, Do Quo maju mengayunkan sebuah sabetan tangan. Anehnya, Te Mou Chin membiarkan saja. Sabetan tangan Do Quo mengenai leher bagian samping Te Mou Chin.
PLUKKK... EEEHHH???
__ADS_1
Do Quo mengerang heran menyadari hantaman sabetan tangannya tak berefek apa-apa terhadap lawannya. Dengan geram Do Quo maju mengarahkan tinju ke arah titik diantara hidung dan alis.
TAPPP... EH???
Dengan cekatan Te Mou Chin menangkap kepalan tangan Do Quo dan meremasnya. Do Quo mengerang kesakitan dan menarik tangannya dengan cepat dan melompat mengayunkan lengannya menghantam bahu Te Mou Chin.
PLUKKK...PLUKKK...PLUKKK...
Berkali-kali Do Quo mengarahkan pukulan dan hantaman ke bahu dan dada lawannya namun Te Mou Chin tetap kokoh ditempatnya.
Tiba-tiba Te Mou Chin maju lagi menangkap kepalan tinju Do Quo dan menariknya. Do Quo tertarik kedepan dan Te Mou Chin memeluknya dengan erat. Do Quo meronta dengan keras.
"Gawat!!! Do Quo tak bisa melepaskan diri!!!" pekik Selena dengan ngeri dan menutup mulutnya. Gadis itu cemas luar biasa.
Nuzlan memajukan punggungnya dan mengeluarkan erangan tertahan sedangkan Nagini nyaris berdiri dengan tatapan begitu tajam menatap Te Mou Chin yang tiba-tiba meloncat kebelakang sambil tetap memeluk Do Quo yang masih sementara meronta. Lelaki berambut kuning kecoklatan itu tiba-tiba berpusing memindahkan posisinya menjadikan tubuh Do Quo berada dibawah dan keduanya jatuh berdebam ke lantai.
BRUKKKK.... UUHHHH...
Selena menutup wajah sambil memekik ngeri, Nuzlan dan Nagini menatap dengan penuh cemas. Para penonton bergidik ngeri melihat Do Quo terkapar nyaris pingsan dengan tubuh terlentang. Kelihatannya tubuhnya remuk ditindih oleh tubuh Te Mou Chin yang berat.
Te Mou Chin bangkit dan berdiri lalu mengangkat kedua tangannya dan meraungkan kemenangannya. Terdengar lagi sorak-sorai penonton.
"Do Quo! Bangun Do Quo!!!" seru Nuzlan dengan keras dan mencengkeram pinggiran kursinya dengan kuat.
Te Mou Chin kemudian membungkuk mengangkat tubuh Do Quo yang terkulai kemudian mengangkatnya ke atas sambil meraung lagi diiringi sorakan penonton yang histeris.
"Bangun Do Quo!!!" tiba-tiba Nagini mengerahkan tenaga dalam dan mengirimkan suara sehingga menembus dria pendengaran Do Quo.
Lelaki itu tiba-tiba sadar disaat Te Mou Chin hendak menghantamkan lawannya ke lutut untuk mematahkan tulang belakang Do Quo.
Seketika Do Quo memeluk leher Te Mou Chin dan mengandalkan gaya gravitasi saat Te Mou Chin hendak menghantamkan tubuh Do Quo ke lutut, ia memutar hingga akhirnya justru Te Mou Chin yang terpelanting ke depan dan jatuh bergulingan dilantai.
Do Quo bangkit dan berdiri dengan tegak. Ia merapal jurus terkuatnya. Kedua tangannya ditekuk kebawah, memunculkan bisepnya sementara otot dada dan perutnya mengembung membentuk sepir-sepir. Setelah itu Do Quo melayangkan tangannya dan mengepalkan kepalanya dekat pipi. Tatapannya tajam menghujam ke arah Te Mou Chin yang bangkit dengan susah payah karena kesakitan.
Tiba-tiba Do Quo mengarahkan tangan kirinya ke depan dan tangan kanannya ke sisi wajah dan ia melompat. Diatas udara ia berseru.
"Pukulan Halilintar!!!" serunya mengarahkan tinjunya yang berada disisi wajah ke depan.
BUAGHHH... AAAKHHH...
Tinju itu tepat mengenai wajah Te Mou Chin. Teriakan menyayat terdengar dari mulut pegulat hebat dari gurun Guon Luon bersamaan dengan tubuhnya terdorong ke belakang. Tubuh Do Quo kemudian melenting lagi di udara. Ia bersalto sejenak lalu menukik lagi mengarahkan tendangan.
"Tendangan Halilintar!!!!" serunya.
BUAGHHH... AAAHHH...
Tendangan itu tepat mengenai wajah Te Mou Chin yang kedua kalinya dan seketika tubuh pegulat itu tersentak. Do Quo mendarat lembut di lantai dan memasang kembangan gerakan. Perlahan tapi pasti, Te Mou Chin menggelosor ke lantai.
__ADS_1
Do Quo kembali ke sikap santainya lalu membungkuk ke arah Te Mou Chin yang terbaring diam dilantai kemudian melangkah meninggalkan arena.
Sekali lagi terdengar sorak-sorai penonton. Petugas muncul mengangkut tubuh Te Mou Chin yang sudah lunglai ke sisi luar arena. Mereka memeriksanya. Beberapa saat kemudian, pegulat termashyur dari dataran Guon Luon itu menghembuskan nafas terakhirnya disebabkan oleh rusaknya tengkorak akibat dua hantaman yang dibuat Do Quo. []