MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
DATANGLAH HAI MALAIKAT...


__ADS_3

Berita gugurnya Raja Saul, dalam perang tanding di kamar utama Istana Tarsia tersebar cepat hingga ke seluruh dunia. Seluruh rakyat dari wilayah-wilayah yang pernah mengalami serangan tentara Yahuda serentak merayakan kematian sang raja lalim itu dengan penuh suka cita.


Kabarnya, Earl Wayne Longbottom, langsung merayakan Hall of Eve, padahal saat itu penanggalan belum jatuh pada Bulan Kedelapan dari Penanggalan Romulus. *)


*) Kalender Romulus adalah penanggalan yang diresmikan setelah melalui sidang internasional untuk menetapkan penanggalan yang digunakan secara menyeluruh dan menghapus semua jenis penanggalan yang digunakan secara lokal. Kalender Romulus menggunakan sistim lunar (penanggalan berdasarkan peredaran bulan) dengan bulan-bulan sebagai berikut: 1. Intersecta, 2. Aperira, 3. Maia, 4. Junta, 5. Quintila, 6. Sextala, 7. Septua, 8. Oktana, 9. Novua, 10, Desima, 11. Janica, dan 12. Feberuca.


Semua warga di wilayah-wilayah utara dan timur banyak mengelu-elukan nama Sultan Yazid al-Bustami yang berhasil menjatuhkan kekuasaan Dinasti Darsus. Dengan kemenangan ini, maka Kerajaan Yahuda resmi berakhir dan dataran Najd hanya diperintah oleh satu kerajaan saja, yaitu Kesultanan Bustamiyah. Ur-Balam dirubah menjadi pemerintahan keamiran dibawah naungan Kesultanan Bustamiyah. Amir pertama kota itu adalah Master Ismanto yang berjasa memberikan akses bagi Sultan Yazid agar bisa menyusup ke Istana Tarsia dan membunuh Raja Saul dalam perang tanding.


...****************...


Prosesi pemakaman Nuzlan, berlangsung begitu khidmat dan syahdu. Kereta yang membawa jenazah panglima perang itu tiba didepan halaman istana kesultanan.


Peti jenazah dikeluarkan, dipanggul oleh empat orang lelaki kekar mengenakan seragam kebesaran angkatan bersenjata. Peti tersebut kemudian diletakkan pada altar.


Didepan altar, seorang padri mengenakan jubah besar dengan kopiah hitam panjang membawakan kata-kata takziyah. Ditenda pelayat, nampak Ummu Nazila, ibunda dari sang pahlawan perang itu, menyeka airmatanya. Disisinya duduk Selena juga dengan perilaku yang sama. Havard dan Do Quo berdiri disisi peti memanggul karangan bunga.


Setelah kata-kata takziyah yang dipidatokan oleh padri itu, peti itu kemudian diberangkatkan menuju masouleum khusus para pahlawan.


Ketika peti dibuka dan jenazah Nuzlan yang terbungkus toga putih dikeluarkan terdengar ratapan sedih anggota keluarga ad-Dakhil, baik yang inti maupun yang cabang. Mereka semua berduka atas kematian lelaki itu.


Sekelompok peratap yang disewa, kemudian menyanyikan sebuah lagu hymne, diiringi oleh lantunan irama petikan dawai lira akustik dan kithara elektronik yang dimainkan tim musik negara.


🎶 Sang Bijak t'lah melangkah.... menuju cahaya.. 🎶


🎶 Angin mengusap wajah... waktu 'kan melangkah...🎶


🎶 Dengarkan suara hati... panggilan nurani...🎶


🎶 Pejamlah wahai mata... menuju cahaya...🎶


🎶 Datanglaaaah... wahai kau, malaikat..🎶


🎶 Menapaaaak... tanah suci nan kekaaaaal...🎶


Suara seruling shrink dan petikan dawai lira akustik yang mengiringi hymne yang terlantun itu semakin menambah syahdu prosesi pemakaman tersebut. Sang pelantun lagu ratapan kembali menyanyi.


🎶 Datanglaaah....


🎶 Wahai kau, malaikat....


🎶 Menapaaaak....


🎶 Dataran suci nan kekaaaal...


Jenazah Nuzlan telah selesai diletakkan pada makam batu. Makam itu kemudian ditutup dan diatas makam tersebut dipasangkan sebuah nisan berujud patung Nuzlan mengenakan toga yang membalut baju jirah dan menyandang tongkat dengan hulu sepasang kapak yang tersilang dan seekor rajawali mengembangkan sayap diatas kapak tersebut. Dibawah kaki patung itu tertulis plakat:


...LOS IMPERATOR...


...Nuzlan bin Daliph ad-Dakhil....


...Lahir : ...


...Tel-Qahira, Quintila 25 Anno 1998...


...Wafat : ...


...Benteng Maung, Desima 28 Anno 2022...


Beberapa anggota keluarga dan pelayat meletakkan sekuntum bunga lily didepan plakat tersebut.

__ADS_1


Begitu tiba giliran Selena. Gadis itu sontak menghambur dan memeluk nisan patung tersebut dan tersedu-sedan. Ummu Nazila menangis tanpa suara lalu melangkah dengan tabah menarik Selena ke pelukannya.


Havard hanya menatap ke wajah patung tersebut. Ia kehilangan kata-kata. Namun hatinya perih bukan kepalang.


...****************...


Sebulan berlalu sejak wafatnya Nuzlan. Selena berdiri memandang hamparan belantara gedung-gedung pencakar langit yang membentang sejauh tatapan mata, terselingi oleh batang-batang pepohonan yang asri melindungi kelembapan kota Tel-Qahira.


Gadis itu memandang ke kanan. Nampak kubah istana kesultanan mengintip dibalik atap-atap gedung pemerintahan. Di ujung sana nampak atap bangunan masouleum dimana Nuzlan dimakamkan.


Tak lama kemudian Ummu Nazila muncul dan menjajari tubuh gadis itu.


"Hari sudah menjelang dhuha..." ujar Ummu Nazila. "Apakah kau tak mau sarapan?" ujar wanita parobaya itu ikut memandangi pemandangan gedung-gedung pencakar langit.


Selena menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Musim semi sudah sebulan menyelimuti kota Tel-Qahira. Gadis itu bergidik mengusir hembusan angin yang membelai lengannya.


"Umi..." panggil Selena dengan pelan.


Ummu Nazila mengalihkan tatapannya ke wajah gadis tersebut. Selena memutar tubuhnya menghadap ke arah Ummu Nazila.


"Aku... merindukan kakakku..." ujar Selena dengan sendu. Riap-riap rambutnya menyentuh sebagian pipi.


Ummu Nazila tersenyum hambar lalu menjawab. "Aku juga sama rindunya kepada anak itu..." Wanita itu kembali menatap pemandangan. "Entah bagaimana sekarang dirinya di Purgatory (alam barzakh)..." Ummu Nazila menghela napasnya kembali. "Seandainya aku bisa menyeberang ke tanah abadi, sudah sejak lama kulakukan..."


"Mungkin... ia sudah bertemu dengan Abi dan saling menceritakan pengalaman mereka..." sahut Selena.


Ummu Nazila tertawa pelan mendengar ungkapan polos dari gadis itu. "Bisa jadi... mana kita tahu?"


Selena ikut tersenyum. Keduanya kembali memandang bentangan gedung-gedung sambil menyangga siku mereka pada pagar pembatas balkon.


Selena teringat sesuatu. Ia menatap ibu angkatnya. "Havard kemana, Umi?"


"Havard dan Tuan Do Quo memenuhi undangan Sultan Yazid ke Istana kesultanan...." jawab Ummu Nazila. "Sepagi itu, dua orang pejabat istana tadi menemuiku dan meminta dipertemukan dengan Havard. Setelah berbincang-bincang singkat diruang tamu, mereka pergi meninggalkan tempat ini menuju istana, menaiki kendaraan elektronik."


"Entahlah, nak." jawab Ummu Nazila. "Pembicaraan dengan seorang penguasa negara biasanya akan makan waktu banyak... bisa seharian, bisa semingguan..."


"Hah? Selama itu?" tukas Selena terkejut.


Ummu Nazila mengangguk-angguk sambil tersenyum lalu menjelaskan. "Nuzlan pernah memenuhi undangan rapat khusus di istana kesultanan... seminggu dia tidak pulang ke Quba al-Bashir... menginap dikamar khusus para pejabat."


"Wah, bisa kesepian dong!" cetus Selena dengan spontan.


Ummu Nazila tertawa. "Kamu merindukan Havard?" godanya.


Selena langsung menampik. " Siapa yang merindukan lelaki itu?"


Ummu Nazila hanya tersenyum mendengar komentar sinis gadis itu. Perempuan parobaya itu kemudian pamit.


"Ibu akan mempersiapkan acara peringatan empat puluh hari wafatnya Nuzlan..." ujar Ummi Nazila. "Ibu harus mengawasi langsung distribusi kue dan kuliner apa yang akan disajikan nanti untuk para tamu yang akan hadir."


Ummu Nazila pergi meninggalkan Selena sendirian lagi dilantai balkon. Gadis itu menghela napas dan kembali menikmati pemandangan. Waktu sudah mulai menjelang siang.


...****************...


Kamar kerja Sultan Yazid, Istana kesultanan, Pukul 10.15 pagi.


"Jadi sudah tetapkah Paduka melakukan perjalanan?" tanya Havard.


Sultan Yazid mengangguk mantap. "Aku pernah bernazar... dalam perang tanding antara aku melawan Raja Saul, aku pernah bernazar apabila diberikan kesempatan hidup, aku akan melakukan pengembaraan... maka sekarang saatnya aku melaksanakan nazar tersebut."

__ADS_1


Havard dan Do Quo saling berpandangan. Sultan Yazid juga menambahkan. "Lagi pula, aku juga mengemban tugas negara mengejar pengkhianat itu dan mengadilinya nanti sebagai bentuk kewajibanku yang lain."


"Apakah Paduka Sultan sudah mengetahui keberadaan Sinhala?" tanya Do Quo dengan serius.


Sultan mengambil selembar kertas diatas meja kerjanya dan melemparkannya kepada Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu menangkap surat itu dan membuka lipatannya lalu membaca isinya.


"Surya Hitam, Kepala polisi keamiran Tarsia *) memberitahuku melalui kawat rahasia bahwa Lord Rotcshild sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Zhou dibagian barat wilayah Runehall... Ia mengincar Cermin Hati yang disimpan dalam kamar benda pusaka Kerajaan Zhou.... kita akan menuju ke sana." tutur Sultan Yazid. "Itu kawatnya..." ujarnya menunjuk surat tersebut.


*) Keamiran Tarsia adalah bentuk pemerintahan baru paska runtuhnya Kerajaan Yahuda. Ibukota pemerintahannya adalah Ur-Balam.


Sekali lagi Havard dan Do Quo saling tatap. Pemuda itu kemudian bertanya lagi. "Lalu... tujuan Paduka mengundang kami?" tanya Havard.


"Ikutlah bersamaku dalam perjalanan ini." ajak Sultan Yazid. "Perkara biaya hidup kalian, aku yang akan menanggungnya... aku memerlukan bantuan kalian untuk menangkapnya." tutur lelaki itu mengemukakan dalilnya.


"Apakah Nagini juga termasuk yang diajak?" pancing Do Quo.


Sultan Yazid mengangguk. "Tentu saja... wanita berkomitmen semacam dia akan membantu perjalanan kita..."


Havard menatap Do Quo. "Bagaimana menurutmu?" tanya pemuda itu.


"Aku bersedia..." jawab Do Quo. "Lagi pula aku dalam misi mencari putriku juga. Aku bisa melakukannya secara bersamaan... sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui..."


Havard memicingkan matanya. "Jangan-jangan kau bersedia, sebab karna Paduka Sultan juga mengajak Nagini..." tukasnya. "Jujurlah Do Quo... kau bersedia ikut untuk membantu Sultan Yazid menangkap Sinhala, atau karena ingin berdekatan dengan Nagini?"


"Dua-duanya kan bisa dilakukan bersama-sama..." kilahnya membuat Sultan Yazid tertawa geli. Do Quo melanjutkan. "Kau tak kasihan dengan temanmu yang sudah menduda lama?"


"Itu bukan urusanku." elak Havard membuat Do Quo mendengus kesal dan melengos.


"Bagaimana denganmu Havard?" tanya Sultan Yazid. "Bersediakah kau menemaniku mengejar pengkhianat itu?"


"Aku bersedia... dengan satu syarat." ujar Havard pada akhirnya.


"Katakan..." pinta Sultan Yazid.


"Jangan pernah mengajak Selena dalam perjalanan kita." pinta Havard.


"Kenapa?" tanya Do Quo dengan heran.


"Aku tak mau kerepotan oleh perempuan itu!" jawab Havard dengan ketus.


"Memang dia merepotkanmu?" tukas Do Quo, namun Havard tak menghiraukannya. Pemuda itu menatap Sultan Yazid.


"Bagaimana?!" desak Havard.


Sultan Yazid tersenyum lalu mengangguk. "Ya, aku setuju!" ujarnya.


...****************...


Kuil Bethania, pukul 2 Siang.


Nagini berdiri menatapi patung nisan Lupricala. Ia menghela napas lalu berujar.


"Aku hendak pamit padamu..." ujar Nagini. Hanya tiupan angin pelan, menyapu wajahnya merespon kata-kata wanita itu.


"Aku akan melanjutkan perjalanan kembali ke barat... kali ini menuju Kerajaan Zhou..." ujar Nagini. "Kita tidak mungkin bertemu lagi dalam beberapa waktu...kuharap kau baik-baik saja disini."


Nagini menghela napas lagi lalu akhirnya berbalik dan melangkah. Ketika ia tiba di gerbang luar kuil, terdengar suara memanggilnya. Wanita bermantel hitam dan mengenakan tiara model tanduk itu menoleh ke belakang.


Nampak Lupricala dengan tubuh transparannya, mengenakan jubah putih tipis yang bagian pahanya membuka. Belahan dadanya juga terbuka sehingga menampakkan sebagian besar payudara. Wanita itu mengenakan tiara dari daun salam dan memeluk seikat tangkai pohon zaitun.

__ADS_1


"Berhati-hatilah diperjalanan..." pesan pemilik Kuil Bethania itu.


Nagini meresponnya dengan senyum tipis lalu berbalik pergi meninggal kuil tanpa pernah menoleh lagi. []


__ADS_2