MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MENUJU MOULL


__ADS_3

Selena seperti halnya seorang istri yang cemas dan mengkuatirkan suaminya. Tak sesaatpun gadis itu beranjak dari sisi ranjang dimana Havard terbaring diatasnya. Beberapa kali gadis itu mengusap wajah Havard yang berkeringat dan memeriksa dadanya yang lebam akibat hantaman senjata milik lawannya itu. Dibelakangnya berdiri dengan sikap tenang, Nagini yang terus memperhatikan Havard. Entah apa yang ada didalam pikiran wanita itu.


Nuzlan berada diluar kamar sementara berdiskusi dengan tabib.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Nuzlan dengan datar menyembunyikan kecemasannya.


"Apakah musuh itu menggunakan senjata sejenis palu?" tanya tabib tersebut.


"Sisi lain dari senjatanya berbentuk palu, sedang sisi lainnya berbentuk kapak." jawab Nuzlan menerangkan ciri-ciri senjata milik Thor.


Tabib itu mengerutkan alis sejenak. "Senjata berbentuk palu dan kapak? Kudengar itu hanyalah senjata yang dimiliki oleh raja bangsa Aesir, Morgul." gumamnya. Ditatapinya Nuzlan.


"Setahuku, bangsa Aesir sudah musnah karena serangan besar di Arkoll." ujarnya kemudian melangkah menuju lemari penyimpan peralatan medis.


"Arkoll?" desis Nuzlan.


"Arkoll adalah pemukiman bangsa Aesir. Lokasinya berada di wilayah barat Kerajaan Zhou.... mereka tinggal di wilayah bergravitasi rendah... pulau-pulau mengapung nampak disana..." papar tabib tersebut.


Nuzlan mengangguk-angguk. Tak lama kemudian muncul Jenderal Connor. Ia membawa secarik kertas kecil. Nuzlan berbalik menatap panglima Kerajaan Norchburg tersebut.


"Ada pesan dari Kerajaan Moull." seru Connor melambaikan secarik kertas tersebut. "Tentara Yahuda juga melakukan agresi kesana..."


"Kita harus bergegas!" tandas Nuzlan. "Moull perlu segera diselamatkan!" Lelaki itu masuk kedalam kamar mendapati Selena yang sibuk merawat Havard yang masih pingsan.


"Aku harus segera pergi." ujar Nuzlan.


Selena menoleh menatap Nuzlan. "Kenapa?" tanya gadis itu.


"Kerajaan Yahuda juga melakukan agresi militer ke Moul." jawab Nuzlan. "Aku harus segera memobilisasi pasukanku kesana..."


Selena menarik napas panjang lalu mengangguk. "Pergilah. Biarkan Havard disini untuk beristirahat.... ingatlah, tugas negara adalah yang terpenting!"

__ADS_1


"Terima kasih... sampaikan permintaan maafku kepadanya." ujar Nuzlan seraya menatap Havard yang masih pingsan.


Selena mengangguk. Nuzlan keluar dari kamar seraya diperhatikan sejenak oleh Nagini. Nuzlan mendekati Connor.


"Tetap lakukan pertahanan sebagaimana biasanya." pinta Nuzlan. "Aku akan menarik pasukanku untuk bergerak menuju Moull. Kurasa Earl of Moull sangat membutuhkan bantuanku." ujar Nuzlan.


Connor mengangguk. Nuzlan melangkah keluar dari bangunan tersebut dan bergerak menuju barak tentara dimana pasukan Tel-Qahira sedang beristirahat. Kedatangan Nuzlan membuat mereka memasang sikap siap.


"Hari ini, kita akan bergerak menuju Moull. Kita harus membantu Earl of Moul, Sir Wayne Longbottom untuk mengusir pasukan musuh yang menyerang negaranya." ujar Nuzlan.


Para prajurit Tel-Qahira saling berpandangan. Nuzlan mengangguk-angguk lalu berkata, "Yang terluka dalam pertempuran tadi, tetap berada disini, sampai penyembuhan selesai...setelah sembuh, kuperintahkan kalian kembali ke Tel-Qahira." Nuzlan mencari seseorang dan menemukannya diantara para prajurit yang sementara melakukan pengobatan.


"Luqman... kau memimpin pasukan ini kembali ke Tel-Qahira dan melaporkan hasilnya kepada Sultan Yazid al-Bustami..." ujar Nuzlan dengan tegas.


Luqman, yang dipanggil tadi segera bersikap siap. Nuzlan mengangguk lalu menatap tentaranya.


"Pasukan, bersiap-siaplah! Setengah jam lagi kita meninggalkan tempat ini!" ujar Nuzlan dengan tegas.


***


"Selena..." gumam Havard.


"Ah, kau sudah sadar rupanya." ujar Selena dengan lega.


"Aku ada dimana?" tanya lelaki itu beranjak hendak bangun namun ditahan oleh Selena.


"Beristirahatlah dahulu." ujar Selena. "Kamu mengalami memar akibat hantaman senjata musuh. Kau masih harus beristirahat."


Havard akhirnya berbaring kembali lalu menatap Selena. "Dimana Nuzlan?"


Selena sejenak menarik napas panjang. "Nuzlan sudah bergerak meninggalkan Norchburg..." jawabnya membuat alis Havard mengerut. Selena menyambung, "Disaat yang sama, hanya selisih beberapa jam setelah kita diserang, Moull juga mengalami agresi dari tentara Yahuda... pesannya baru saja diterima Jenderal Connor tadi."

__ADS_1


"Berarti mereka melakukan penyerangan serentak ke dua wilayah..." gumam Havard.


"Kurasa mereka melakukan serangan pengalihan." ujar Nagini membuat Havard seketika menoleh menatapi wanita bermantel hitam yang berdiri menyandarkan punggungnya pada sisi pintu.


"Siapa dia?" desis Havard kepada Selena. "Dia temanmu?"


Selena menggeleng. Nagini melangkah mendekat dan berdiri disisi ranjang dekat dengan Selena.


"Aku, Nagini dari Purnaloka..." ujar wanita itu. "Aku secara tak sengaja menemukan kalian diserang. Jadi aku bergerak untuk menolong..."


"Apakah... kita saling kenal?" tanya Havard dengan pelan.


"Kita tidak saling mengenal." jawab Nagini dengan jujur. "Tapi... aku... mengenal ayahmu."


Havard kaget membuat dirinya serentak duduk. "Kau mengenal ayahku?"


Nagini mengangguk. "Aku dan Kougar adalah sahabat akrab."


"Seberapa akrab?" selidik Havard dengan curiga.


Nagini menghela napas dan tersenyum tipis. "Kami sama-sama teman seperjalanan, dan teman seperjuangan..."


"Seperjalanan dan seperjuangan?" desis Havard.


Nagini mengibaskan tangannya. "Biarkan kuceritakan hal itu lain kali." ujarnya lalu menatap pintu sejenak dan kembali memandang Havard. "Kau tidak berniat untuk mengikuti sahabatmu ke Moull?"


"Dia masih butuh istirahat, Nyonya!" sela Selena dengan ketus. "Kau tak lihat dadanya lebam?"


"Aku belum menikah!" balas Nagini lebih ketus.


Havard menatap keduanya bergantian. "Kenapa kalian bertengkar? Tidak lihat aku masih perlu istirahat?!"

__ADS_1


Nagini dan Selena seketika membuang muka dengan masing-masing wajahnya terlihat keruh. Havard menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran.


"Tingkah kalian lebih mirip dua perempuan berebut lelaki..." tukas Havard membuat keduanya seketika menatap Havard dengan tatapan seperti hendak menelan lelaki itu mentah-mentah. Seketika, nyali Havard langsung ciut.[]


__ADS_2