
Pedati yang disewa Nuzlan berjalan menyusuri jalanan pedesaan. Mereka bertiga memilih membayar waktu tidur mereka dalam perjalanan menuju Tel-Qahira. Suasana yang gelap dalam pedati itu membantu mereka mengistirahatkan fisik dan mental setelah semalaman menyusuri lorong-lorong Gua Basilisk, menyeberangi sungai dalam gua, dan bertarung menghadapi Euryale, salah satu Nephilim yang mendiami gua tersebut.
Perjalanan ke Tel-Qahira hanya separuh hari saja. Menjelang siang, mereka tiba digerbang kota. Kusir pedati itu membangunkan kedua lelaki itu.
"Ah, sudah tiba rupanya..." erang Nuzlan kemudian menggeliat dengan nikmat. Havard bangun dan duduk ditepi pedati sementara Selena masih terlelap.
"Kalian mau mampir?" tanya Nuzlan.
"Terima kasih.... kami akan kembali ke Las Mecca. Kau tahu kan?" jawab Havard sembari menganggukkan kepala ke arah Selena yang masih lelaki dengan penuh arti. Nuzlan tersenyum.
"Aku mengerti..." sahutnya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Nanti aku akan mengundang kalian ke Tel-Qahira... Sementara ini, istirahatkan tubuh kalian..." Nuzlan kemudian menatap kusir pedati itu. "Antarkan kedua sahabatku ini tiba ditujuannya..." pintanya seraya menepuk-nepuk bahu kusir itu. "Aku akan menambahkan sisanya ke rekeningmu saat mereka tiba nanti."
Kusir itu mengangguk dan Nuzlan turun dari pedati. Kendaraan itu membelok meninggalkan gerbang Tel-Qahira, menyusuri jalanan dan membelok ke kiri ketika mendapati persimpangan jalan. Perjalanan ke Las Mecca memakan waktu dua hari jika menggunakan pedati dan waktu sehari jika menggunakan kendaraan elektronik anti gravitasi.
Dipersinggahan, pedati itu berhenti sejenak mengisi perbekalan sementara Selena sudah bangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengamati alam sekelilingnya.
"Kita lagi dimana?" tanya Selena dengan suara serak.
__ADS_1
"Kita berada di terminal Arquebos." jawab Havard.
Selena mengangguk paham. Terminal Arquebos adalah tempat persinggahan umum bagi kendaraan manapun yang akan melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan.
Tak lama kemudian kusir muncul dari kedai membawa beberapa buntal logistik. Kebanyakan adalah makanan roti kering dan beberapa botol minuman segar tapi bukan sirup dan bir.
Kusir memberikan sebuntal logistik kepada Havard dan lelaki itu membuka isinya kemudian membagi sebagian logistik kepada Selena.
Pedati kembali melanjutkan perjalanan. Havard menatap Selena. "Sebenarnya Nuzlan mengajak kita mampir sejenak ke Tel-Qahira."
"Hanya saja melihat kamu yang kelelahan, aku menolak kehormatan itu..." sambung Havard menunggu reaksi Selena.
Gadis itu mengangkat bahu lalu kembali mengkonsumsi makanan yang diberikan Havard.
"Kau kecewa?" pancing Havard.
Selena hanya tersenyum tipis. Havard mengangguk. "Maafkan aku..."
__ADS_1
"Apa yang perlu kau mintakan maaf? Kamu nggak salah, kan?" ujar Selena.
Havard mengangguk-angguk dan tak bicara lagi. Mereka menikmati pemandangan selama sehari perjalanan mereka ke Las-Mecca.
"Selena..." panggil Havard.
Selena berpaling menatap lelaki itu sementara kusir tetap pada kegiatannya.
"Kau tak merasakan dalam dirimu memiliki sesuatu yang luar biasa?" pancing Havard.
"Apanya?" balas Selena kemudian tersenyum. "Aku tak merasakan sesuatu keistimewaan dalam diriku..."
Havard diam sesaat kemudian mengangguk-angguk lagi dengan pelan dan memalingkan wajahnya menatap kembali pemandangan yang terpampang disekitar mereka.
Menjelang senja, pedati itu tiba di Las-Mecca. Mereka disambut para warga dan Syaikh Hasyim kemudian mendapati mereka, mengajaknya beserta kusir itu untuk beristirahat menikmati hidangan.
Kusir dan pedatinya meninggalkan Las Mecca sehari setelahnya. Kehidupan kedua orang itu kembali normal setelahnya.[]
__ADS_1