
Tabib yang memeriksa tubuh Do Quo benar-benar dilanda keheranan yang tak biasanya. Berkali-kali ia memastikan pemeriksaannya dan Berkali-kali pula ia mendecak kagum menyadari lelaki yang duduk dihadapannya benar-benar dalam keadaan sehat wal afiat.
"Tapi... bagaimana bisa?" gumam tabib itu dengan kekacauan pikirannya.
Selena hendak menjawab, namun Nagini memegang tangannya dan meremasnya dengan pelan. Nuzlan dan Havard sepertinya paham kondisi itu dan memilih bungkam.
"Setidaknya, Tuan Do Quo sudah boleh pulang siang ini..." ujar Nuzlan pada akhirnya. "Saya senang, berkat pelayanan medis rumah sakit ini, sahabat saya sudah sembuh total dari luka-lukanya..." sambungnya dengan senyum sumringah yang tertebar.
Selena mengerling kepada Nuzlan. Lelaki itu berbohong. Bukan pelayanan para tabib dan juru rawat yang menyebabkan Do Quo sembuh, namun karena elixir Kembang Mentari yang dibawa Nagini dari Kuil Bethania, yang menyebabkan lelaki penuh luka dalam itu sembuh.
Do Quo mengangguk. "Kalau begitu, saya sudah bisa mengikuti turnamen itu untuk merebut juara ketiga..." ujarnya dengan semangat.
"Kalau perkara itu..." sela tabib dengan wajah menyesal. "Kami terlanjur melaporkan status anda membuat pihak panitia memutuskan anda menempati juara keempat secara in absentia... maaf..." tabib itu menghela napas dengan penuh rasa menyesal.
Kekecewaan nampak diraut wajah Do Quo. Nuzlan menyahut. "Jangan salahkan mereka, Do Quo... mereka hanya menjalankan tugasnya."
Do Quo sejenak menatap Nuzlan lalu mengangguk-angguk paham. Ia berupaya tabah. Nuzlan menatap tabib. "Kalau begitu, kami akan membawa sahabat kami pulang ke Penginapan Harem Bundi... saya akan menyelesaikan administrasinya sekarang."
"Silahkan ikut saya." ajak tabib berdiri dan melangkah keluar ruangan. Nuzlan melirik kepada Selena dan Havard dengan penuh makna, setelah itu bergegas mengejar tabib itu.
Selena cakap membaca gelagat langsung menghampiri Do Quo. "Paman, mari kita pergi." ajaknya.
Do Quo mengangguk lalu bangkit. Mereka menemani lelaki itu keluar.
...****************...
Sultan Yazid sedang meneliti berkas-berkas dalam ruangan kerjanya. Beberapa kali alisnya berkerut. Lama ia membaca berkas laporan itu lalu duduk terhenyak.
Lelaki itu kemudian bangkit dari kursi dan melangkah pelan mendekati jendela. Ia membukanya dan mengamati hamparan pemukiman warga yang membentang diluar kawasan elit pemerintahan, bagaikan kubus-kubus dipapan permainan Lego. Setiap orang yang memandang kota Tel-Qahira dari tempat tinggi akan mengagumi pemandangan tersebut dan perasaan hati akan tenang.
Namun hati penguasa wilayah Najd itu tidaklah tenang. Keterangan dari korps telik sandi membuka pikiran lelaki itu bahwa infiltrasi yang dilakukan musuhnya sudah berlangsung lama.
Kecurigaannya selama ini terbukti benar. Lord Rotcshild seorang agen ganda. Ia pengkhianat yang berperan diantara dua negara. Sultan Yazid al-Bustami menghela napas dan membuangnya dengan pelan. Terdengar dentangan bandul jam diruangan itu. Waktu telah menunjukkan pukul dua siang.
Pemandangan kota Tel-Qahira tidak lagi menentramkan benak penguasa negara tersebut. Beban berat menghimpitnya.
...****************...
"Mengapa tidak dikatakan saja kalau elixir itu yang menyebabkan Paman Do Quo sembuh?" tanya Selena.
"Dan menyebabkan kesucian dan ketenangan di Kuil Bethania terusik?" tukas Nagini dengan ketus. "Tidak, terima kasih..."
"Jika mereka tahu manfaat Kembang Mentari yang dibudidayakan disekitar Kuil Bethania, maka pastinya pihak rumah sakit akan mengirimkan tim ekspedisi kesana dan pastinya akan menyebabkan ketenangan diwilayah itu terganggu." tutur Nuzlan panjang lebar.
Do Quo mengangguk-angguk. "Kesimpulannya, kawasan Kuil Bethania itu merupakan kawasan yang harus dijaga..." lelaki itu memandang Nuzlan. "Kenapa kita tidak mengirim saja surat permohonan kepada Amir Syaikh Fahril at-Tamim, agar beliau menetapkan kawasan Kuil Bethania sebagai wilayah konservasi cagar alam? Dengan itu, wilayah tersebut akan menjadi tanggung jawab pemerintah kota Turan dalam melestarikan wilayah tersebut." usulnya.
"Itu bisa kita lakukan nanti..." sahut Nuzlan. "Aku akan menjelaskan hal itu kepada Syaikh Fahril at-Tamim secara pribadi. Bagaimanapun... suaraku pasti akan didengarnya."
Hal itu beralasan. Turan adalah wilayah otonomi yang tak bisa diintervensi oleh negara manapun sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang disepakati oleh seluruh kerajaan di dataran Runehall, Najd dan Kanpo di timur jauh.
Namun dalam kenyataannya, penguasa kota Turan secara turun temurun merupakan anggota keluarga Ad-Dakhily yang merupakan wangsa bangsawan di Tel-Qahira. Syaikh Fahril at-Tamim adalah keturunan ke lima belas dari pendiri kota Turan, Jenderal Tamim ad-Dakhil yang masih merupakan kerabat dekat Nuzlan melalui kakek buyutnya, Abdurahman Walid ad-Dakhil.
"Yang penting sekarang adalah mempersiapkan dirimu menghadapi Sinhala di pertandingan Grand Final..." tandas Nuzlan.
"Kau sudah melihat kemampuannya, kan?" sahut Do Quo. "Berhati-hatilah, Havard. Orang itu sangat kuat dan aura misteriusnya sangat terasa. Bisa jadi dia menyembunyikan kemampuannya dihadapanmu..."
__ADS_1
"Darimana kau mempelajari Jurus Jirah Arhat Emas?" tukas Nagini. "Setahuku hanya pendekar dari bangsa Sigirlya yang memiliki ajian-ajian itu. Amitabha Julai adalah salah satu leluhur mereka."
Do Quo menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum jenaka. "Aku mempelajari jurus itu dari seorang Sigirlya tua saat aku tersesat dihutan dekat kota Mashed, sebulan sebelum peristiwa kebakaran itu terjadi." jawabnya mengerling ke arah Havard. "Untungnya aku diajarinya ajian itu. Jirah Arhat Emas termasuk dalam jurus pertahanan tubuh dari serangan fisik dan non fisik yang dilancarkan lawan. Ditangan seorang Sigirlya, jurus itu sangat ampuh... namun karena manusia yang mempelajarinya, jurus itu tidak segitu banyak membantu dalam menghadapi serangan tenaga dalam..."
Nuzlan menatap jam dinding dan mengangguk. "Setengah jam lagi Turnamen Tarung Sejagat akan dilangsungkan." Ia menatap Havard. "Kami seperti biasa akan menonton dari tribun..." kemudian Nuzlan menatap Do Quo. "Apakah Anda akan ikut dengan kami, menonton di tribun?" tanya lelaki itu.
Do Quo tersenyum. "Aku akan duduk dibangku peserta saja." ujarnya lalu menatap Havard dan menampar-nampar bahunya dengan pelan. "Sekalian aku menjadi mentornya dalam menghadapi Sinhala."
Nuzlan mengangguk. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" ajaknya.
...****************...
Koloseum kembali ramai dengan para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan itu sampai akhir. Panitia sudah menyiapkan karcis dua kali lipat dari sebelumnya sebab yakin bahwa pertandingan ini lebih hebat dari pertandingan sebelumnya.
Nuzlan dan rombongannya tiba dan masuk melalui jalur VIP, sebab panitia tahu siapa lelaki tersebut. Nuzlan memilih duduk dibangku tepat didepan panggung pertandingan bersama-sama Selena dan Nagini. Adapun Havard dan Do Quo memilih duduk dibangku kontestan yang sebagian besar telah kosong.
Rudra Sarwa terkejut melihat Do Quo muncul dengan tubuh yang sehat sediakala. Mereka berjabatan tangan.
"Selamat! Anda adalah juara ketiga dalam kontes ini." ujar Do Quo memberi selamat.
Rudra Sarwa merendah, "Ah... semestinya pihak rumah sakit jangan terburu-buru memutuskan status anda." ujarnya. "Saya selalu penasaran ingin mencoba tarian Tandwa Natarja kepada anda."
"Sayangnya pihak panitia melewatkan momen itu. Bagaimanapun aku yakin, jurus Zìràn rònghuà milikku tidak akan kalah dari tarian Tandwa Natarja milik anda." balas Do Quo.
"Kita bisa mengujinya dilain waktu." ujar Rudra menepuk-nepuk pundak Do Quo. Bagaimana jika anda mengunjungi Svaradwipa dan kita bertanding disana?"
"Aku akan memenuhi tantangan anda, setelah saya menyelesaikan perjalanan saya..." jawab Do Quo balas menepuk-nepuk pundak Rudra.
Keduanya duduk berdampingan sedang Havard duduk disamping Do Quo. Havard mengamati arena.
"Dia tidak hadir..." ujar Havard.
Havard tersenyum mendengar olokan sahabatnya. Arena sudah diperbaiki oleh pihak panitia. Lantai Panggung sudah mulus seperti sediakala seakan tidak pernah terjadi kerusakan yang parah sebelumnya. Havard memuji pertukangan yang mengerjakan proyek perbaikan ini.
Pembawa acara muncul dan melangkah ke tengah-tengah panggung dan berseru.
"Hadirin sekalian! Selamat datang di Turnamen Tarung Sejagat!!!" serunya disambut oleh sorak-sorai penonton yang penuh semangat.
"Kini kita melangkah ke sesi paling akhir dari turnamen ini... yaitu Grand Final!" seru pembawa acara. "Dan satu hal istimewa bagi tahun ini, pertandingan kali ini akan dihadiri pula oleh penguasa kota ini, Amir Syaikh Fahril at-Tamim! Kita sambut beliau!!!"
Selesai pembawa acara itu bicara, nampak dari sisi pintu keluarlah barisan hijabah yang melakukan pengamanan menyeluruh, tak lama setelah itu, muncullah Amir Syaikh Fahril at-Tamim mengenakan pakaian kebesarannya, lengkap dengan mantelnya. Ia melangkah sambil melambaikan tangannya dengan senyum tertebar. Para penonton yang sebagian warga kota Turan merespon hal itu dengan balas melambai sambil bersorak-sorai gembira.
Amir Syaikh Fahril at-Tamim duduk dipanggung yang dipersiapkan pihak penyelenggara, dilindungi oleh para hijabah sebagai bentuk pertama intimidasi agar tidak ada yang berani mendekatinya.
Pembawa acara kembali berseru. "Ya!!! Tanpa menunggu lama, kita tampilkan finalis kita, Havard dari Las Mecca!!!"
Havard bangkit dari bangku dan melangkah menuju panggung. Ia kemudian berdiri disisi panggung bagian timur.
"Dan sambutlah penantangnya, Sinhala dari Shamvala!!!" seru pembawa acara.
Dari arah aula, muncul Sinhala yang kini menyandang sebilah pedang jenis rapier. Ia melangkah dan mengerling sekilas kepada Havard yang menatapnya dengan tajam. Lelaki berambut seputih salju itu berdiri disisi bagian barat panggung.
"Mari kita saksikan pertandingan spektakuler tahun ini!!!" seru pembawa acara diselingi bunyi bel berdentang pertanda pertandingan dimulai.
Havard menghunus tachi Norimitsu dan menggunakan gaya seigan lalu merubahnya ke gaya te ura gasumi dengan memajukan kaki kirinya ke depan.
__ADS_1
Sinhala tersenyum sinis dan menghunus rapier lalu mengacungkan pedang itu kedepan sedang tangannya satunya terkembang ke belakang. Kedua kakinya membuka, bagian kaki kanannya maju ke depan.
Diiringi satu teriakan, Havard maju menusukkan pedang lengkungnya ke depan. Sinhala dengan sigap meliukkan pedang lurus pipihnya menampar tusukan itu.
TRANGGGG....
Tachi Norimitsu terpental ke samping, untungnya tak terlepas dari genggaman Havard meski ia merasakan jemarinya kesemutan, gara-gara tamparan senjata lawan. Ia menebas lagi dengan gaya horisontal mengincar wajah Sinhala.
Buru-buru lelaki berambut seputih salju itu menyilangkan pedangnya vertikal disisi wajah.
TRANGGG...
Tachi Norimitsu menghantam rapier milik Sinhala. Lelaki itu kemudian menekan pedang lengkung lawannya ke bawah. Keduanya berdempetan berupaya saling menekan pedang.
"Sudah kubilang bukan?" geram Sinhala. "Kita pasti akan bertemu!"
"Kelihatannya aku... harus bersyukur atas hal itu..." geram Havard ditengah seringai bengisnya.
Tiba-tiba Sinhala menampar lagi pedang lawannya dan mengayunkan pedangnya mengincar wajah Havard.
Havard dengan sigap mundur dan menangkis serangan lawannya lalu maju lagi mengayunkan pedangnya.
Tiba-tiba Sinhala mengerahkan tenaga dalamnya. Tubuhnya dengan cepat tanpa disadari telah menghilang dan muncul dibelakang Havard.
Untungnya Havard memiliki kepekaan tinggi. Ia merasakan sebentuk aura dibelakangnya. Dengan refleks Havard memutar kebelakang sambil mengayunkan pedangnya.
TRANGGGG...
Serangan yang dilancarkan Sinhala gagal. Havard berputar sekali lagi lalu mengayunkan pedang dengan posisi serong dari bawah ke atas. Sinhala kembali mengerahkan tenaga dalamnya, menjauh dengan cepat.
Havard mengejar lagi sambil mengayunkan pedang lengkungnya dengan posisi bersilangan. Itu adalah salah satu jurus dari aliran Api Syurga yang diajarkan oleh Nitsu Katsunoshin kepadanya.
Sinhala paham bahwa ia tak boleh menerobos barikade maya yang diciptakan oleh tebasan bersilangan pedang lengkung milik Havard. Resikonya besar dan bisa membahayakan nyawanya sendiri.
Sinhala mengetahui bahwa didataran Kanpo, ada banyak pendekar pilih tanding, namun yang terkenal diantaranya adalah para pendekar suku Aragami yang diyakini merupakan keturunan Tengu, hantu pegunungan yang buas, selalu menyandang kipas daun lebar dan pedang lengkung mirip yang digunakan Havard. Bisa jadi, guru lelaki itu berasal dari suku Aragami yang terkenal kehebatannya itu. Dari merekalah dikenal istilah shinobi, yaitu pendekar yang memahami kekuatan alam gaib dan mampu bergerak secepat bayangan.
Sinhala berdiri disudut utara panggung menjauhi Havard yang kini memasang gaya shin. Lelaki bermata perak itu mengangkat bahunya.
"Rupanya kau memancingku untuk mengerahkan kemampuanku..." ujar Sinhala dengan datar. "Sebaiknya persiapkan jurusmu yang terbaik. Jangan memalukan nama gurumu."
Havard mendengus dan memicingkan matanya. Sinhala menurunkan pedangnya kebawah, lalu memutarnya perlahan membentuk pola lingkaran. Sebuah cahaya berpendar dari pedang itu menciptakan suasana khayali yang menyihir para penonton hingga terpukau.
Tiba-tiba Sinhala menghentakkan pedangnya lalu melejit dengan kecepatan tinggi menuju Havard.
Havard terkejut lalu menghindar ke samping saat Sinhala menusukkan pedangnya. Lelaki itu menyambungnya lagi dengan tebasan ke samping. Havard buru-buru menyilangkan pedangnya.
TRANGGGG...
Ditengah gemuruh suara penonton, kedua kontestan itu bertarung mengerahkan kompetensinya masing-masing. Keduanya terlihat sama kuat dan sulit ditentukan siapa yang akan memenangkan pertandingan itu.
Do Quo sendiri ternganga dan tak percaya dengan penglihatannya, melihat Havard bergerak dengan kecepatan yang sulit ditangkap oleh matanya. Lelaki itu adalah seorang pendekar yang mumpuni. Dria penglihatannya sudah terlatih dengan baik sehingga gerakan secepat apapun masih bisa dideteksinya. Namun Havard ternyata lebih cepat dari itu. Para penonton saja tidak lagi melihat ujud kedua petarung itu. Saking cepatnya, mereka hanya melihat percikan bunga api akibat bentrokan dua senjata dari kontestan tersebut. Sebagiannya sudah mengeluh pusing karena tak mampu lagi menangkap jelas pertarungan itu.
Tiba-tiba Sinhala melesat lagi dan mengayunkan pedangnya. Havard berhasil menghindar namun pedang lawan berhasil merobek rompi panjangnya. Keduanya menjauh lagi dan berdiri berseberangan. Disaat itu juga ujud mereka nampak. Para penonton bersorak-sorai lagi.
Havard melihat rompinya yang robek. Ia akhirnya melepaskannya dan membuang pakaian itu keluar arena. Tatapannya yang tajam kembali terhujam kearah Sinhala.
__ADS_1
Lelaki itu melihat kedua mata Havard memendarkan cahaya kekuningan. Ia tersenyum.
Ternyata benar... kau dilatih dengan baik oleh orang-orang Aragami itu...[]