
Rompi panjang tanpa lengan yang sudah robek panjang itu tercampak disisi panggung. Havard hanya tinggal mengenakan pakaian dalamnya yang dibalut logam-logam tipis mirip jirah.
Dihadapannya Sinhala berdiri tenang dengan senyum sinis yang terus dipamerkannya. Havard perlahan mengangkat pedangnya ke udara. Bersamaan dengan itu tiba-tiba angkasa menjadi mendung dan awan mulai bergerumbul kemudian membentuk pusaran yang berputar diatas Havard.
Sinhala mengangguk perlahan lalu kembali memutar pedangnya dengan pola namun kali ini, terlihat pedang itu memendarkan cahaya biru yang bercampur cahaya merah silih berganti.
Do Quo yang pernah diajari oleh seorang tua dari suku Sigirlya, terkejut menatap Sinhala.
"Celaka!!!" seru Do Quo sambil berdiri. "Havard! Berhati-hatilah! Dia menggunakan ajian Api Es Pelebur Semesta!!!" seru Do Quo kepada Havard.
Namun Havard tak mendengarnya. Ia juga sibuk merapal mantra. Dari pusaran awan yang berputar itu, turunlah halilintar yang menyambar pedang yang diacungkan Havard. Lelaki itu sedang merapal ajian Pedang Pengumpul Awan Syurga yang diajarkan Nitsu Katsunoshin. Itu adalah jurus andalan orang-orang Aragami yang menyandarkan prinsip penyerapan energi alam dan melepaskannya melalui kekuatan sabetan pedang.
Rudra menatap Do Quo. "Kenapa Do Quo? Mengapa kau terlihat begitu cemas?"
"Ajian Api Es Pelebur Semesta... itu jurus tertinggi dari Tapak Sakti Arhat Suci yang diciptakan Amitabha Julai. Jurus itu diwariskannya kepada Kepala Suku Sigirlya ke Enam, Duang San Zhuan yang mengasingkan diri dikuil Wangjie..." tutur Do Quo.
"Bukankah jurus yang dirapal Havard mampu menandingi ajian itu?" pancing Rudra.
"Aku tak tahu... yang jelas karakteristik ajian Api Es Pelebur Semesta bisa memenipulasi energi alam dan menjadikannya sebagai kekuatan penghancur..." sahut Do Quo.
Diiringi oleh teriakan bersama, Kedua petarung itu maju melancarkan serangannya. Havard mengandalkan Ajian Pedang Pengumpul Awan Syurga menghadapi Sinhala yang menggunakan Ajian Api Es Pelebur Semesta.
DUARRRRR....
Ledakan besar terjadi manakala kedua senjata itu bentrok. Arena menjadi kabur dengan titik-titik cahaya yang memeriksa disana-sini bersamaan dengan sambaran kilat yang menghujam lantai arena ketika Havard mengayunkan pedangnya. Para penonton sebagian lari berlindung sebagiannya lagi berlindung diri dibalik tempat duduk. Badai besar melanda.
Amir kota Turan, Syaikh Fahril at-Tamim sendiri langsung dilindungi dengan ketat oleh para Hijabah. Di arena tersebut tidak nampak lagi kedua petarung sebab mereka sudah mengerahkan kecepatan tingkat tinggi sehingga seakan-akan melebur dalam hamparan debu yang memenuhi panggung pertandingan.
Yang terdengar hanya bunyi senjata beradu dan suara teriakan kedua petarung tersebut. Para penonton sudah mengeluh pusing. Badai memenuhi panggung pertandingan tersebut.
Ajian Pedang Pengumpul Awan Syurga adalah jurus yang diciptakan oleh Susanoo saat ia menghadapi monster naga Orochi dengan berbekalkan sebilah pedang. Susanoo sendiri adalah salah satu dewa sesembahan dalam kepercayaan orang-orang dataran Kanpo. Suku Aragami menjadikan Susanoo sebagai sesembahan utama sebab mereka merupakan keturunan dari Tengu yang merupakan pengikut taat dari dewa tersebut.
Ketika mengerahkan ajian itu, praktisinya akan dilindungi oleh pusaran badai dan sambaran petir yang menyambar-nyambar.
Sinhala merasa menundukkan Havard secara sportif tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Havard pasti sudah dilindungi dengan air keabadian yang selalu dikonsumsi orang-orang Aragami. Sedikit banyak, pengetahuan orang-orang Aragami sudah dikuasainya dengan baik terlihat dari caranya memainkan teknik-teknik pedang suku tersebut.
Cara untuk menang harus diraih dengan cara apapun. Sinhala akhirnya menemukan cara untuk menaklukkan lawannya. Lelaki itu kemudian merapal mantra.
Kali ini giliran Rudra yang terkejut. "Apa? Dia menguasai jurus Dashapasa?!"
"Apa?!" sahut Do Quo tak kalah kaget.
"Tak mungkin!" seru Rudra. "Bagaimana bisa dia menguasai jurus itu? Hanya padepokan Ganatundra yang memiliki jurus tersebut! Apakah dia juga sempat menimba ilmu kepada Resi Amoghasidhi?!" tukas pemuda tersebut.
Tubuh Sinhala seketika membelah menjadi beberapa sosok kembaran lalu maju mengepung Havard. Berpuluh bayangan Sinhala maju mengeroyok Havard dengan menggunakan Ajian Api Es Pelebur Semesta.
Arena pertandingan mengalami kerusakan kembali akibat kedua petarung itu mengerahkan kesaktiannya. Sebagian tembok-tembok Koloseum runtuh dan retak akibat kekuatan dari ajian yang dipraktekkan kedua praktisi tersebut didalam pertarungan.
Havard mengamuk menebas bayangan manapun yang mendekatinya. Pertahanannya menjadi terbuka dan membuat Sinhala memanfaatkannya dengan cerdik. Lelaki itu menampakkan pedangnya dengan keras.
TRANGGG.... TRAKKKKK!!!!
Tamparan kedua menyebabkan tachi Norimitsu patah menjadi dua membuat Havard terkejut.
JLEB!!!! UHHH....
Tanpa sempat menghindar, Havard terpaksa menerima tusukan pedang yang dihujamkan Sinhala ke perutnya.
"Havaaaaarrd!!!!" teriak Do Quo dengan kalap.
"Havaaarrrrd..." pekik Selena dengan pilihan.
Havard hanya bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang mulai goyah sedang pedang lawan masih bersarang ditubuhnya.
"Sayang sekali, Havard..." ejek Sinhala kembali menghujamkan lagi pedangnya membuat Havard tersentak.
JLEB!!! UKHHH....
__ADS_1
Havard menatap Sinhala ditengah seringai kesakitannya. Darah keluar dari mulutnya. "Aku... tak... akan... kalah..." ujarnya ditengah rasa sakit yang menyiksa.
"Kau....kalah!!!" seru Sinhala seraya menarik pedangnya dengan sentakan. Tubuh Havard kembali tersentak dan perlahan rubuh ke lantai dengan keempat tungkai yang terpentang lebar.
Sinhala berdiri dan mengangkat pedangnya, mengarahkan ujung pedang ke arah leher lawannya.
"Matilah!!!!" seru Sinhala dengan senyum bengisnya. Pedang itu meluncur deras mengincar leher Havard.
"Tidaaaaaak..." pekik Selena dengan histeris sembari menutup wajahnya.
TRANGGGG!!!!
EHHHH????
Sinhala terkejut ketika pedangnya tiba-tiba terpental. Dihadapannya berdiri Nagini dengan pedang teracung ke wajah Sinhala. Wajah wanita itu terlihat dingin dan menakutkan.
"Sudah cukup!!!" geramnya dengan pelan.
Sejenak Sinhala terpaku lalu sejenak kemudian ia mendengus sambil tersenyum sinis. Lelaki berambut seputih salju itu berbalik dan melenggang santai keluar dari arena.
Nagini kemudian menyarungkan pedangnya dan mengambil sebotol kecil elixir Kembang Mentari dan meminumkannya kepada Havard yang sekarat. Disaat yang bersamaan, terdengar suara pembawa acara.
"Ya!!!! Sambutlah juara pertama Turnamen Tarung Sejagat untuk tahun ini... Sinhala dari Shamvala!!!!"
Terdengar sorak-sorai penonton. Nuzlan bergegas meninggalkan tribun diikuti oleh Selena. Do Quo bangkit dan berlari menaiki panggung. Nagini baru saja meminumkan ramuan itu dan tak berapa lama luka tusukan tersebut menyatu lagi dan Havard bangun dipandu oleh Nagini.
"Kau tak apa-apa?" tanya Do Quo yang berlutut disamping Havard.
Havard menggeleng mengisyaratkan ia sudah sembuh. Tak berapa lama Selena dan Nuzlan tiba dipanggung tersebut.
Selena langsung menubruk dan memeluk Havard melepaskan tangisnya. "Sudah kubilang kan?! Aku takut!!! Aku takut Havard!!!" sedu Selena dengan keras.
Nagini menjadi jengah dan sedikit menjauh, begitu juga dengan Do Quo yang terkekeh. Keduanya bangkit berdiri membiarkan kedua muda-mudi itu saling menenangkan.
"Aku tidak apa-apa, Selena." bantah Havard dengan risih. "Kau tak perlu se lebay itu!!!"
"Lho? Kan ada Ahmad, Zubaidah..." kilah Havard. "Kau tidak akan kesepian, Selena..."
"Aku benci kamu! Aku benci kamu!!!" teriak Selena dengan jengkel ditengah sedu sedannya sambil mencakar muka Havard. Lelaki itu hanya bisa menghalangi tindakan gadis itu sambil marah-marah.
Nuzlan dan yang lainnya tertawa melihat kekonyolan yang mereka tampilkan senja itu.
...****************...
Havard berdiri ditangga kedua sedang Rudra berdiri ditangga ketiga. Sinhala sendiri berdiri ditengah-tengah keduanya, berada ditangga paling tinggi mengacungkan piala emas yang diserahkan langsung oleh Amir Syaikh Fahril at-Tamim. Juara kedua hanya menerima piringan (piagam) dari perak. Ketiganya dikalungi karangan bunga oleh pihak panitia.
Selesai acara penobatan kejuaraan itu, kerumunan tersebut berakhir. Setelah menerima jabat tangan dan foto penggemar, Havard mendatangi Selena yang duduk di bangku peserta ditemani Nagini.
Diujung sana, terlihat Nuzlan yang ditemani Do Quo sedang terlibat diskusi serius dengan Amir Syaikh Fahril at-Tamim yang dikawal beberapa anggota Hijabah.
"Maaf... aku hanya bisa mempersembahkan ini..." ujar Havard dengan senyum masygul, menyodorkan piring emas kepada Selena.
Selena tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih..." ujarnya dengan tulus. "Aku tak sedikitpun mempermasalahkan siapa yang juara dan siapa yang tidak..."
Nagini pamit meninggalkan keduanya. Wanita itu bergabung dengan Nuzlan dan Do Quo yang sementara berdiskusi serius dengan Amir Syaikh Fahril at-Tamim.
Havard duduk disisi Selena. "Tapi aku bisa melihat kekecewaan dimatamu..."
"Ya... aku memang kecewa..." jawab Selena dengan jujur. "Tapi aku bersyukur. Kau tidak tewas... aku benar-benar bersyukur untuk itu."
"Benarkah?!" tanya Havard tak yakin.
"Kalau kamu tewas, siapa yang menemaniku pulang ke Las Mecca?" rajuk Selena dengan manja.
"Kau bisa pulang ditemani Nuzlan... kau tak akan kesepian... lagi pula..." kilah Havard.
PRANGGGG!!!! ADUUUHHH...
__ADS_1
Sejenak orang-orang yang tersisa ditempat itu kaget dan melihat kearah suara. Disana Havard terbaring telentang dengan dahi yang benjol sedang Selena berdiri sambil bercakak pinggang dan marah-marah tak karuan.
"Brengsek kau Havard!!! Kamu itu lugu atau bodoh sih?! Kau tak menghargai perhatianku ini?!" cerca Selena dengan marah sambil menuding-nuding Havard yang hanya bisa menatap dengan perasaan kaget bercampur bingung.
"Aku kan cuma bilang..." elak Havard.
"Diam!!! Tak usah bicara kalau tak tahu apa yang kau bicarakan!!!" sergah Selena. "Kau pikir siapa dirimu, berani-beraninya memberikan harapan kepadaku?! Kau dasar lelaki brengsek!!! Aku benci kamu!!!"
Sesudah puas memarahi pemuda itu, Selena melempar piagam itu ke wajah Havard lalu pergi dengan langkah panjang sambil mencak-mencak sendirian.
"Nagini, susul dan temani Selena pulang!" pinta Nuzlan.
Nagini mengangguk lalu meninggalkan tempat itu. Havard sendiri bangkit dan meringis kesakitan memegangi dahinya yang benjol akibat digetok Selena menggunakan piagam perak. Lelaki itu duduk lagi sambil menggerutu panjang-pendek.
Setelah menyelesaikan diskusi itu, Nuzlan minta diri dihadapan Amir Syaikh Fahril at-Tamim dan melangkah mendekati Havard diikuti Do Quo.
"Kamu kenapa bertengkar lagi dengan Selena?" tegur Nuzlan setengah mengeluh.
"Nggak tahu!!!" omel Havard jengkel sambil mengembangkan tangannya lalu mengelus-elus dahinya yang benjol. "Tahu-tahu dia tiba-tiba menggetokku dengan piringan ini!" ujar Havard dengan ketus memperlihatkan piringan perak. "Lalu pergi sambil marah-marah. Memangnya salahku apa?!"
"Pasti punya alasannya." tukas Nuzlan. "Kalian tadi bicara apa?"
"Dia mengungkapkan ketakutannya saat aku ditikam oleh Sinhala dipertandingan itu. Ketika kukatakan dia tak akan kesepian, eh dia malah menggetokku dengan piringan! Memang salah kataku apa?!" omel Havard lagi.
"Hanya itu?" selidik Nuzlan.
Havard menatap sahabatnya dengan alis berkerut. "Kau tak percaya?!"
Nuzlan mengangkat bahu lalu mengibaskan tangannya. "Sudahlah. Nanti kita bicarakan dipenginapan." Havard bangkit.
"Ayo kita pulang." ajaknya.
"Tunggu..." sela Nuzlan. "Kau harus ganti pakaian..." ujarnya mengamati penampilan Havard. "Ayo kita ke pasar." ajak lelaki itu.
Havard setuju. Ketiganya kemudian keluar dari tempat itu dan menyusuri pasar yang ramai.
"Bagaimana dengan penyelidikannya?" tanya Havard sembari mengamati para pengunjung pasar.
"Nihil..." jawab Nuzlan. "Isu yang disebar itu ternyata hoax saja. Lord Rotcshild tidak berada disini."
"Jadi? Kita harus kembali ke Tel-Qahira?" pancing Havard.
Nuzlan mengangguk. "Kita berangkat besok." jawabnya kemudian menatap Havard. "Sultan Yazid harus segera mengetahuinya."
"Aku memutuskan untuk ikut dengan kalian..." cetus Do Quo. "Aku mencium bau-bau petualangan yang mengasyikkan."
"Bagaimana dengan pengembaraanmu mencari Enci Lan?" tanya Havard.
"Keduanya dilakukan bersama-sama." jawab Do Quo. "Aku berpetualang bersama, sekaligus mencari keberadaan Enci Lan."
Nuzlan tersenyum. "Kalau begitu aku senang... setidaknya kita bisa menghadapi bahaya dengan tenang."
Ketiganya tiba di blok pasar pakaian. Nuzlan memberikan kebebasan bagi Havard untuk memilih pakaian yang disukainya.
Havard memborong satu stel baju putih tanpa lengan, sebuah celana panjang, ikat pinggang dari bahan kulit dengan gesper logam dan kantung-kantung. Ia mengepasnya dikamar ganti. Kantung dan selempang untuk menyimpan senjata ringan disematkan pada ikat pinggang dikiri dan kanan. Havard mengenakan sepatu bot dari kulit dan rambutnya yang panjang setengkuk dibiarkan terurai.
"Aku mau membeli sebilah tachi." ujar Havard. "Senjataku sudah patah."
Nuzlan mengiyakan. Mereka bertiga pergi ke toko senjata dimana Nuzlan pernah membeli pedang buatan Norimitsu Osafune yang diberikannya kepada Havard.
Pemilik toko menyodorkan sebilah tachi yang ukurannya sedikit panjang dari pedang buatan Norimitsu.
"Ini adalah odachi yang dibuat oleh Naoe Kanesada..." ujarnya. "Harganya dua dinar saja." kata pemilik itu dengan santai.
Havard setuju dan membeli pedang panjang itu. Ia menatap Nuzlan. "Aku suka benda ini. Mirip dengan shira-zaya yang diletakkan di altar kamidana dikuil-kuil dataran Kanpo."
Nuzlan mengangkat bahu. "Yang penting kau suka..." ujarnya.
__ADS_1
Havard menyelipkan pedang itu disabuknya. Ketiganya melangkah pulang menuju Penginapan Harem Bundi menggunakan fasilitas kereta kuda. []