
Havard tak lagi sadar akan dirinya. Dia pingsan setelah terkena hantaman senjata milik Thor. Lelaki tinggi berkulit putih itu melangkah maju dengan senjata yang terseret.
"Kau lawan yang sepadan. Aku merasa terhormat menghabisimu." ujar Thor saat berdiri dihadapan Havard yang pingsan. Ia mengangkat senjatanya ke atas. "Mjolnir akan membebaskanmu dari rasa sakit.
Thor dengan cepat mengayunkan senjatanya mengincar batok kepala Havard. Namun disaat yang bersamaan sesosok tubuh muncul mengayunkan pedangnya menghantam senjata yang diayunkan Thor.
TRANGGGG!!!!
HEH???
Dihadapan lelaki itu berdiri seorang wanita bermantel hitam. Rambutnya hitam pekat namun mengkilap seakan selalu diurap dengan minyak. Diatas rambut itu bertengger tiara bermotif dua tanduk yang melindungi telinga. Pakaiannya serba hitam. Pedang uniknya terulur mengancam Thor untuk ujung melangkah.
"Siapa kau?" seru Thor dengan marah.
Wanita itu tidak menjawab sekalipun melainkan terus mengarahkan pedangnya kepada Thor dengan raut wajah yang datar dan dingin. Wanita itu kemudian berdiri didepan Havard seakan memperisainya.
"Siapa kau?!" seru Thor sekali lagi.
Sekali lagi, wanita itu bungkam, tak sekalipun berkata-kata. Pedang uniknya tetap terarah ke lelaki berambut pirang itu.
__ADS_1
Thor hanya menggeram dan mengeluarkan serunai dari gading kemudian meniupnya dengan keras.
TOOOOEEEEEEEEEETTTTT.....
Seketika seluruh pasukan robot itu berhenti bertarung dan berdiri diam. Para tentara Tel-Qahira juga menghentikan pertarungan dengan kebingungan.
Thor berbalik melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia melewati kembali gerbang yang pernah dia hancurkan. Manusia-manusia kaleng itu serentak berbalik mengikuti langkah pimpinannya. Tentara-tentara Tel-Qahira hanya menatap peristiwa itu dengan bengong hingga suasana menjadi sunyi sendiri.
Tak lama setelah kepergian tentara-tentara mesin itu, semua prajurit Tel-Qahira yang menjagai bagian selatan benteng bersorak-sorai menampakkan kegembiraannya.
Nuzlan muncul mencari-cari keberadaan Havard dan ia terkejut menyadari sahabatnya pingsan menggeletak didepan pintu benteng.
Dua orang tentara muncul membawa tandu dan memindahkan tubuh Havard yang pingsan ke tandu yang mereka bawa. Tubuh pemuda itu digotong keluar dari tempat itu.
"Bawa ke rumah sakit!" seru Nuzlan.
Pasukan medis itu membawa tandu tersebut kedalam kendaraan yang dipersiapkan, sebuah panser milik pasukan Tel-Qahira yang segera meluncur menuju rumah sakit kota tersebut.
Nuzlan menatap wanita bertiara tanduk itu dan melangkah mendekatinya.
__ADS_1
"Apakah kau yang menyelamatkannya?" tanya Nuzlan.
Wanita itu tetap tak menjawab dan hanya memperhatikan kendaraan yang membawa Havard semakin menjauh.
"Aku Nuzlan, pimpinan pasukan disini... kalau boleh kutahu, siapa kau?" tanya Nuzlan lagi dengan datar.
Wanita itu menatap Nuzlan sejenak lalu melangkah meninggalkan lelaki itu menjauhi tempat tersebut. Nuzlan bingung dan melangkah menyusul wanita tersebut.
"Hei... siapa kamu?" tanya Nuzlan, kali ini agak keras. "Jika kau tak memberitahu identitasmu, aku menganggap kau adalah penyusup yang dikirim musuh kemari!" ancam lelaki tersebut dan menekan bahu kiri wanita itu dengan ujung tombaknya.
"Aku tak punya urusan denganmu..." ujar wanita itu dengan datar dan dingin.
"Sebutkan saja namamu, dan mengapa kau tiba-tiba saja ada disini dan membantu kami mengusir tentara musuh?" balas Nuzlan masih tetap dengan sikapnya.
Wanita itu terdiam sesaat lalu akhirnya menghela napas dan menyebutkan identitasnya.
"Aku, Nagini." ujar wanita itu dan kembali berlalu tanpa menyebutkan hal-hal yang lain tentangnya. Langkahnya terus terayun lagi menyusuri jalanan.
Nuzlan menghela napas berat lalu menyusul kembali langkah lelaki tersebut.[]
__ADS_1