MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
PERSIAPAN MENUJU FINAL


__ADS_3

Sehari itu, Nuzlan dibuat heran melihat sikap Selena yang begitu intim kepada Havard. Bagaimana tidak? Sejak sepulang dari jalan-jalan, gadis itu tidak lagi ditemani oleh Do Quo, melainkan oleh Havard.


Ketika Nuzlan menanyakannya kepada Do Quo, lelaki itu hanya tersenyum bijak dan berdalih, "Mungkin mereka sudah kembali menemukan harmonitas hubungan mereka yang selama ini renggang..." kilahnya.


Nuzlan akhirnya hanya bisa menerima dalih lelaki itu. Dia pun sebenarnya merasa senang melihat perkembangan hubungan kedua muda-mudi itu menjadi lebih baik dan intim.


Namun tergelitik juga hati panglima itu hingga akhirnya ia menanyai juga Havard perihal sikap Selena yang membaik itu kepadanya.


"Saya hanya memberikan apa yang ia idamkan beberapa hari lalu." jawab Havard saat keduanya bercengkerama dan Selena tidak berada diruangan santai itu.


Nuzlan mengerutkan alis. Apa yang diidamkannya beberapa hari lalu???


Wajah lelaki itu perlahan menegang dan menatap Havard dengan pias. "Apa kalian..."


Havard menatap Nuzlan dengan alis terangkat. "Ya?"


"Apa kalian sudah..." tanya Nuzlan tak mampu melanjutkan kata-katanya. Menebakpun terasa berat dalam benaknya. Tak mungkin keduanya telah melakukan hal-hal yang melanggar batas, meskipun ada perasaan suka sama suka diantara mereka.


"Ya, hubungan kami sudah membaik sekarang..." ujar Havard dengan lega. "Kami sudah kembali menjadi sahabat... dan semoga tidak ada lagi perselisihan paham diantara kami berdua..."


"Syukur jika hubungan kalian sudah membaik..." sahut Nuzlan dengan perasaan tak puas. "Tapi, kalian tidak melakukan apa-apa semalam tadi kan?"


"Semalaman itu kami bersama di kedai, aku memberikannya apa yang diinginkannya... melihatnya senang, akupun merasa senang..." jawab Havard.


Nuzlan akhirnya berdiri. "Kurasa sudah cukup! Kalian berdua harus kuhadapkan kepada penghulu." tandasnya.


Havard terkejut mendengar keputusan lelaki dihadapannya. "Penghulu? Tunggu dulu!" protes Havard. "Kenapa kami berdua harus menghadap penghulu?"


"Kalian berdua harus dinikahkan!" tegas Nuzlan sambil bercakak pinggang.


Havard berdiri. "Hei, itu masih terlalu dini!" protesnya lagi.


"Tapi kau sudah melakukan itu kepadanya. Kau mengakuinya." tukas Nuzlan menudingkan telunjuknya ke dada Havard.


"Melakukan apa? Aku hanya melingkarkan kalung berliontin batu ruby ke lehernya! Apakah itu salah?" ungkap Havard mengembangkan tangan.


Nuzlan tergagap. Ternyata tuduhannya tak beralasan dan lelaki itu langsung duduk dengan lemas. "Ah... kukira kau melakukan apa kepadanya..." desisnya dengan lemah dan lega.


Havard semula bingung dan sesaat kemudian sadar apa yang dipikirkan Nuzlan. Seketika ia meradang dan mencengkeram bahu panglima itu.


"Kamu pikir aku menyetubuhinya?! Kau pikir aku sebejat itu?!" tukas Havard. "Tega kamu, menuduh sahabatmu sedemikian itu!!!"


"Hei, Hei, Hei... tadi itu kan hanya prasangka..." elak Nuzlan mengangkat tangan. "Tapi aku lega... kau tak melakukan hal-hal bejat itu padanya."


"Sialan kau, Nuzlan." cerca Havard sembari mendorong bahu Nuzlan. "Aku masih tahu batasan!" Lelaki itu duduk lagi namun melengos ke arah lain.


"Baik, baik," lerai Nuzlan mengangkat tangannya. "Maafkan aku... maafkan aku." pintanya memelas dan menyapu pundak Havard berkali-kali.


"Lain kali, bertanya itu langsung ke intinya, jangan menebak!" tegur Havard mencela.


Nuzlan tersenyum. "Ya, aku salah. Aku memang pantas dihukum." ujarnya. "Sekarang katakan apa hukuman yang harus kutanggung agar kau memaafkan aku?" pancingnya.


Havard nengerling sejenak kearah Nuzlan lalu melengos lagi. "Yaaaa... ngak tahu..." gumamnya pelan namun masih terdengar kesal.


Tak lama kemudian Selena masuk. Ia terdiam melihat kedua laki-laki itu duduk diam-diaman. Bahkan Terkesan Havard sengaja membelakangi Nuzlan.


"Kenapa kalian?" tanya Selena. Havard menoleh ke arah Selena lalu bangkit mendekati gadis itu.


"Tanya sama Kakakmu, apa yang dilakukannya terhadapku!" jawab Havard dengan kesal lalu pergi meninggalkan ruangan santai itu.


Selena menatap Havard dengan heran saat ia meninggalkan ruangan itu. Gadis tersebut kemudian menatap Nuzlan dan menanyakan hal itu dengan isyarat wajah dan tubuh.

__ADS_1


Nuzlan hanya tersenyum memelas dan mengangkat bahu saja membuat Selena berbalik mengejar Havard. Sepeninggal gadis itu, Nuzlan tersenyum lagi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyantaikan dirinya kembali di sofa empuk itu.


...****...


"Havard! Havard!" seru Selena. "Tunggu!"


Havard memelankan langkahnya yang semula cepat ketika mendengar panggilan gadis itu. Terdengar langkah kaki berlari mendekat. Selena akhirnya bisa menjajari langkahnya.


"Kamu kenapa mengejarku?" tanya Havard dengan heran. "Aku ini hanya mau jalan-jalan, menenangkan pikiran."


Keduanya melangkah menyusuri trotoar. Havard mengelus-elus gagang pedang pendeknya lalu melangkah dengan santai. Selena melangkah disampingnya. Keduanya berbaur dengan beberapa warga yang juga melakukan aktifitas diluar rumahnya.


"Kenapa kamu segitu marahnya kepada Nuzlan?" tanya Selena. "Memang dia bicara apa kepadamu?"


Havard menjadi jengah mendengar pertanyaan gadis itu, teringat akan tuduhan yang dialamatkan Nuzlan kepadanya terhadap Selena.


"Pertanyaan tak penting... tak usah dipikirkan..." jawab Havard menenangkan perasaannya.


"Kutanyakan hal itu kepada Nuzlan, dia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya..." sahut Selena menatap jalanan lalu kembali memandang Havard. "Sebenarnya ada apa sih?"


Havard menoleh menatap Selena dengan alis berkerut. "Kamu mau tahu saja urusan orang..." tegurnya.


"Kalau itu ada hubungannya denganku, jelas harus kutahu!" tandas Selena lalu memegang lengan pemuda itu. "Ayo, katakan ada apa?"


Havard berhenti lalu melangkah menuju sebuah kursi panjang yang berada dipinggir trotoar. Lelaki itu duduk disana dan Selena pun ikut duduk.


"Dia menuduhku yang bukan-bukan terhadapmu..." ujar Havard dengan pelan.


"Apanya yang bukan-bukan?" kejar Selena. "Apakah karena hubungan kita sudah membaik seperti dulu?"


"Secara tak langsung ada kaitannya dengan itu." jawab Havard dengan jujur. "Tentu saja aku tak terima. Aku ini masih tahu batasan diri..."


"Memang apa yang dituduhkannya kepadamu?" tanya Selena.


"Katakan saja..." pinta Selena.


"Tapi janji dulu..." balas Havard.


"Janji apa?" tanya Selena.


"Nggak akan marah dan merubah sikap terhadapku!" tandas Havard dengan tegas.


Selena lama diam membuat Havard menjadi tak sabar. "Tuh, nggak bisa kan?"


"Baik! Baik! Aku nggak akan marah dan merubah sikapku terhadapmu..." ujar Selena seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mantap.


Havard menghela napas sejenak lalu melepaskannya dengan lembut. "Dia menuduh kita... melakukan... i-itu..."


"Itu apa?" tanya Selena tak mengerti.


Havard menoleh kesal lalu menjawab lagi. "Dia menuduh kita melakukan itu." ujarnya memberi isyarat dengan telunjuk yang dimasukkan kedalam lingkaran jari.


Selena terdiam dan wajahnya perlahan merona merah membuat Havard menjadi canggung.


"Tuh kan?" tukasnya. "Marah deh..." desisnya dengan pelan lalu melengos menatapi jalanan yang dilalui beberapa kereta kuda.


Gadis itu menunduk sejenak lalu menarik napas dan menatap Havard. "Aku tidak akan merubah sikapku kepadamu hanya karena tuduhan itu." ungkapnya. "Lagi pula itu hanya prasangka seorang kakak." gadis itu menyentuh tangan Havard. "Selama kita berdua tidak melakukan apa yang dituduhkan, mengapa kita mesti marah, cemas dan takut?" pancingnya.


"Tapi..." protes Havard.


"Aku percaya padamu, Havard." ujar Selena dengan mantap. "Aku percaya dengan hatimu." Ia menunjuk dada kiri pemuda itu. "Kita sudah bersahabat selama lima tahun dan aku memahami sebagian sikap dan perilakumu. Kau tak akan melecehkan aku sekecil apapun itu."

__ADS_1


Havard menatapi Selena dengan dalam. Gadis itu menatapi jalan lalu tersenyum nakal. "Aku akan percaya tuduhan Nuzlan, saat kau berani memasuki sungai saat memergokiku mandi telanjang waktu itu..."


Havard seketika menjadi malu. Selena menatap wajah pemuda itu lalu tertawa pelan. "Apakah kau melihat keseluruhan tubuhku saat mandi disungai itu?" pancingnya.


"Haruskah kujawab pertanyaan memalukan itu?" tukas Havard dengan risih.


"Jawab saja." tekan Selena.


"Nggak!" jawab Havard dengan wajah yang memerah malu.


"Nggak?" pancing Selena.


"Nggak!" tandas Havard lagi. Ia kemudian menatap Selena. "Bagaimana bisa kulihat ketelanjanganmu jika dihalangi batang-batang jerami yang saling berkait-kait itu? Ketika kutiba, kau pun langsung menenggelamkan tubuhmu. Mana kulihat segalanya?"


"Dan kau tak terpancing masuk kedalam air?" pancing Selena dengan senyum nakal. "Bisa kulihat bagian itu di celanamu mengembung." oloknya.


Sontak Havard bangkit. "Kau membuatku malu!" tukasnya lalu beranjak pergi. "Sebaiknya aku jalan-jalan saja sendirian daripada ditemani olehmu, membuat pikiranku jadi tak konsentrasi." ujarnya dengan ketus dan terus melangkahkan kakinya.


Selena hanya cekikikan sambil membekap mulutnya agar suara tawanya tak terdengar keras.


...****...


"Malam ini, aku akan beristirahat di barak kontestan." ujar Havard membuat Nuzlan mengangkat alisnya dan Selena langsung kaget.


"Kenapa?" tanya Selena dengan galau.


"Besok kan sudah pertandingan final." jawab Havard. "Aku akan lebih terkonsentrasi jika..."


"Apakah karena aku?" sela Selena.


Havard terdiam sejenak lalu menggeleng dan tersenyum. "Nggak... kau jangan terlalu mengambil hati keputusanku... ini adalah masalah hidup dan mati. Aku mau menenangkan pikiranku." kilahnya.


Selena sudah mau protes namun Nuzlan menegurnya. "Jangan ganggu dia, Selena... Havard benar... ini masalah hidup dan mati..."


Selena mendecak kesal dan melengos. Nuzlan mengangguk. "Baiklah... jangan kuatirkan kami. Fokuslah pada meditasi dan latihanmu."


"Aku akan menemanimu." sambut Do Quo. "Kita akan sama-sama disana sebentar malam."


Havard mengangguk lalu menatap Selena sejenak. Gadis itu menatapnya dengan sendu lalu kembali melengos. Havard menunduk lalu berbalik dan mengambil tachi Norimitsu yang tersampir di rak dinding kemudian melangkah meninggalkan ruangan santai itu.


Do Quo menatap Selena. "Tenanglah nak, aku akan menjaganya untukmu..." ujarnya kemudian pergi menyusul Havard.


Sepeninggal kedua lelaki itu, Selena terduduk lemas disofa dan menumpahkan tangisnya. Nuzlan tersenyum empatik dan duduk disisi gadis itu.


"Menangispun, tidak akan merubah takdir yang akan berlaku." tegur Nuzlan.


Selena masih tetap dalam tangisnya. Ia menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan.


"Kau menginginkannya pulang dengan selamat?" pancing Nuzlan.


Selena menurunkan tangan dari wajahnya dan menunduk lalu mengangguk-angguk pelan sambil terisak-isak. Nuzlan mengangguk-angguk lalu menghela napas.


"Maka bantu dia dengan doa." ujar Nuzlan kemudian tersenyum empatik lagi. "Lalu percayalah kepada kemampuannya... jika kau percaya dia mampu menaklukkan lawannya, maka Havard pasti akan bisa menaklukkan lawannya."


Selena menunduk dalam meresapi perkataan lelaki tersebut. Ia memejamkan mata dan sebaris air mata kembali jatuh membasahi pipinya.


...****************...


Malam merayap jauh. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas. Sejam lagi waktu akan bergerak menuju pagi buta. Di barisan bangku tribun paling tinggi, nampak seorang pemuda sedang duduk memeluk tachi. Tatapannya terarah tajam ke panggung arena pertunjukan.


Tatapan pemuda itu memicing. Waktu mulai merayap jauh. Besok pertandingan penentuan akan dilangsungkan. Ia menghela napas dan menghembuskannya dengan pelan.

__ADS_1


Semuanya akan ditentukan oleh hari esok. []


__ADS_2