MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MISTERI TENTANG SELENA


__ADS_3

Seketika Euryale melesat maju dengan tangan terkembang hendak menangkap salah satu dari ketiganya.


"Menyingkir!!!" seru Havard dengan sigap.


Ketiganya berpencar masing-masing ke arah yang berbeda untuk mengacaukan gerakan makhluk separuh ular tersebut. Havard berinisiatif maju menyerang. Ia mengayunkan kopesh beberapa kali ke arah Euryale.


Wanita bertubuh separuh ular itu memang lincah. Ia gampang berkelit dan balik mengayunkan lengannya yang bercakar. Meskipun begitu, makhluk ini jengkel juga menyadari tak satupun dari serangannya yang berhasil melukai satu diantara ketiganya.


Selena memanjat karang bangkai Nephilim itu dan mulai melancarkan serangan proyektil. Euryale beberapa kali menjerit kesakitan ketika ujung anak panah menancapi tubuhnya.


Makhluk itu bermaksud menyerang Selena namun kedua lelaki itu selalu mengacaukan dan mengalihkan perhatiannya. Euryale benar-benar dibuat murka dengan hal itu.


Seketika ia mengibaskan ekornya berkali-kali.


DESSSS!!! DESSSS!!!


AKH!!! UGH!!!


Kibasan pertama berhasil mengenai Nuzlan membuat lelaki itu terlempar jauh dan jatuh menghantam batang satgmit sementara kibasan ekor yang kedua benar-benar membuat Havard terpelanting menghantam dinding gua jauh beberapa meter dibelakangnya.


Euryale tersenyum puas melihat kedua lelaki itu susah payah bangkit. Ia beralih kepada Selena.

__ADS_1


Gadis itu terkejut dan langsung kembali menembakkan anak-anak panah ke arah makhluk itu. Namun karena dilanda rasa panik, sebagian besar tembakannya tak lagi mengenai sasaran karena Euryale berhasil meliuk-liukkan tubuhnya menghindari proyektil-proyektil itu.


"Giliranmu, anak manusia!!!" seru Euryale mengayunkan lengannya menghantam bangkai Nephilim itu membuat benda itu bergetar keras dan berhasil membuat Selena oleng lalu jatuh ke lantai gua.


"Ku mangsa kau!!!" seru Euryale sembari maju menerjang ke arah Selena.


AAAAAHHHH...


Selena berteriak ketakutan sembari memperisai dirinya dengan kedua tangannya. Ia sudah benar-benar pasrah.


"Selenaaaa!!!!" teriak Havard dengan kalap.


"Aaah... tidaaaaaaakkk... panaaasss..." teriak Euryale dengan nada kesakitan.


Seisi gua terlihat terang dan tubuh Selena begitu menyilaukan serasa bagai dirinya adalah sebuah inti cahaya. Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa saat saja dan setelah itu menghilang dan suasana gua menjadi gelap kembali.


Euryale sudah tidak nampak. Kemungkinan besar makhluk itu lebur dalam berkas cahaya itu. Sementara Selena terbaring tak bergerak.


"Selena!!!" seru Havard bergegas bangkit dan berlari mendapati perempuan itu. Ia mengguncang Selena dengan pelan.


"Selena? Selena?" seru Havard pelan memanggil-manggil perempuan itu agar kembali siuman. Terdengar erangan halus dan perlahan kedua mata lentik Selena membuka.

__ADS_1


Havard tersenyum. "Syukurlah... kau tak apa-apa, Selena?" tanya pemuda itu membantu Selena duduk.


Nuzlan yang sudah bangkit melangkah mendekati mereka berdua. Selena menggeleng-gelengkan kepala mengusir rasa pening.


"Apa yang terjadi? Apakah kita selamat?" tanya Selena dengan lemah.


Havard mengangguk dan tersenyum kemudian membantu Selena bangkit. Nuzlan barusan hendak bicara ketika Havard langsung menatapnya membuat lelaki itu terdiam, paham maksud tatapan lelaki itu.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak Nuzlan kemudian melangkah mendahului sementara Havard sesekali mengiringi Selena yang masih gontai karena kelelahan yang terasa aneh baginya.


Ketiga berjalan menyusuri lorong gua yang makin lama melebar hingga akhirnya membentuk sebuah aula dan nampaklah gerbang gua.


"Lihat! Kita sudah sampai!!!" seru Nuzlan dengan gembira dan berlari menyongsong gerbang. Selena yang gembira melupakan rasa lelahnya dan berlari menyusul Nuzlan. Havard ikut berlari menyusul keduanya.


Mereka berdiri digerbang gua dan keluar sembari menatap hamparan tanaman yang menghijau ditanam oleh para penduduk.


"Kita sudah sampai, kawan!!" Selamat datang di Luzanvala!" ujar Nuzlan mengembangkan tangan.


Ketiganya menuruni bukit dengan gembira dan Nuzlan kemudian menemui salah satu petani yang ditemuinya. Mereka berbincang-bincang sejenak dan tak lama kemudian Nuzlan menemui kedua sahabatnya.


"Kita akan naik pedati ke Tel-Qahira. Ayo..." ajaknya dengan semangat.[]

__ADS_1


__ADS_2