
"Kau!!!" seru orang itu.
"Do Quo!!!" seru Havard dengan lantang dan gembira.
Kedua lelaki itu tertawa keras bersama-sama dan saling berpelukan.
"Kemana saja kau?!" seru Do Quo dengan haru. Air matanya terlihat menggenang dipelupuk matanya. "Terakhir kali kita berpisah di Kurama, kau masih berusia sepuluh tahun... sekarang..." ujarnya dengan takjub dan berdecak kagum.
"Anda sendiri, sejak dari Kurama, meneruskan perjalanan kemana saja?" tanya Havard.
Sejenak perbincangan mereka terjeda sebab terganggu oleh lalu-lalang para peserta yang masuk dan keluar dari bilik tersebut. Do Quo mengajak Havard ke dalam ruangan dan duduk dibalai panjang.
"Aku terus menjelajahi wilayah-wilayah timur hingga jauh..." jawab Do Quo dengan tenang.
"Apakah Enci Lan sudah di temukan?" tanya Havard dengan penuh harap.
"Aku masih sementara mencarinya, Havard... sampai kini..." jawab Do Quo. Nada bicaranya terdengar sendu.
"Kita akan bersama-sama lagi mencarinya..." ujar Havard menguatkan hati lelaki tersebut.
Do Quo kembali menatap Havard dan mengamati penampilannya. "Kau meniru pakaian suku-suku shinobi..." komentarnya.
"Apakah bagus?" tanya Havard.
"Terkecuali namamu, masih berbau wilayah barat." olok Do Quo membuat Havard tertawa. "Sebaiknya kau ganti nama saja... bagaimana kalau kuberikan nama Genshiro Yoshitsune?" usul Do Quo dengan senyum jenaka.
Havard kembali tertawa dan menggelengkan kepala. "Terima kasih, tapi aku lebih nyaman dengan namaku sekarang ini..." tampiknya.
"Bagaimana perkembangan seni pedangmu?" tanya Do Quo, "Selama mengembara, aku juga memperdalam seni tinjuku..." lelaki itu kemudian menatap Havard dan tersenyum nakal. "Bagaimana kalau kita uji, seni tarung kita di turnamen ini?" tantangnya.
"Bisa saja, Do Quo." jawab Havard dengan senyum. "Tapi... kau sudah tahu peraturannya? Turnamen ini menggunakan sistim gugur dengan kemenangan mutlak... kau tega membuatku harus membunuhmu hanya untuk membuktikan siapa diantara kita yang lebih hebat sekarang ini?"
Do Quo tertawa. "Aku bercanda kawan. Aku tak mau kehilangan kamu..." ujarnya seraya menampar punggung Havard berkali-kali. "Bagaimanapun, kau adalah putra keduaku setelah Do Tin Lan... bukankah begitu, Do Ha Fang?" ujar Do Quo mengeja nama Havard dalam bahasa daerahnya.
Tak lama kemudian seorang panitia muncul di ruangan itu. "Kalian semua peserta segera bersiap-siaplah menuju arena." ujarnya. "Kami akan memperkenalkan kalian, sekaligus mengundi nomor peserta."
Panitia itu kembali keluar dari ruangan. Havard sejenak menatap pintu lalu memandang Do Quo. "Kelihatannya kita harus segera bersiap-siap."
"Ayo kita keluar..." ajak Do Quo.
Keduanya kemudian keluar ruangan menuju sebuah aula yang luas. Tak berapa lama para kontestan lain bermunculan. Havard secara naluriah menatapi seorang lelaki.
Dia agak tinggi untuk ukuran orang-orang pada lazimnya. Tubuhnya ramping dan kulitnya bersih. Rambutnya putih bagai salju. Wajahnya datar terkesan misterius. Sebilah pedang dengan pelindung tangan yang unik tersampir dipinggang kirinya.
"Ada apa?" tanya Do Quo kepada Havard. Lelaki itu mengikuti arah tatapan sahabatnya. "Kau mengenalnya?"
Havard menggeleng tak kentara. "Tidak, tapi entah kenapa aku tak bisa melepaskan tatapanku darinya..."
Mungkin merasa ditatapi, lelaki berambut seputih salju itu menoleh menatap Havard dan sepasang matanya yang putih bagai perak itu mencorong tajam membuat Havard tersentak kaget.
"Lelaki ini..." gumam Havard tercekat.
Lelaki itu kemudian memalingkan muka dan melangkah menjauhi kerumunan. Ia memilih bersandar pada dinding aula, memperhatikan para kontestan lainnya.
__ADS_1
"Apa yang kau rasakan?" tanya Do Quo dengan penasaran.
"Dia... memiliki aura yang kuat!" ujar Havard tercekat lagi.
"Aku ingin bertarung dengannya di turnamen nanti." ujar Do Quo dengan semangat.
Havard menatap Do Quo. Lelaki itu mengibaskan tangannya. "Sudahlah, jangan pikirkan hal itu... ini masih babak penyisihan..." ujar Do Quo kemudian melangkah diikuti oleh Havard.
Sementara seorang pembawa acara telah tampil di arena. Sambil memegang pelantang, ia berseru.
"Hadirin semuanya!!! Selamat berjumpa lagi di Turan dalam Turnamen Tarung Sejagat!!!" serunya dengan semangat. Semua penonton meresponnya dengan tepukan tangan dan teriakan riuh pemberi semangat.
"Sebelum memulai pertandingan ini, marilah kita mendengar kata-kata sambutan dari Yang Mulia Amir Kota Turan, Syaikh Fahril at-Tamim sekaligus membuka dengan resmi acara Turnamen Tarung Sejagat." seru pembawa acara itu.
Syaikh Fahril at-Tamim muncul mengenakan pakaian kebesarannya, lengkap dengan surbannya. Amir Kota Turan itu sejenak melambaikan tangannya merespon suara gagap gembita para penonton yang menyeru namanya dengan semangat.
"Hadirin para pengunjung Turnamen Tarung Sejagat yang saya cintai, selamat datang kembali dikota yang kita cintai ini, menikmati kembali pergelaran yang diselenggarakan setiap tahun sekali untuk memperlihatkan kepada dunia, siapa petarung terkuat dijagat dunia." seru Syaikh Fahril at-Tamim. "Saya berharap, aturan dan kode etika dalam pertarungan selalu dipatuhi. Selama kita berjalan pada jalur yang benar, maka pasti anda semua saya dukung secara penuh... dengan menyebut, Bismillah... Turnamen Tarung Sejagat untuk tahun ini, dibuka dengan resmi!!!"
Seketika para penonton kembali berseru semangat mendengar ucapan pemimpin kota tersebut. Sepeninggal Syaikh Fahril at-Tamim, pembawa acara muncul lagi.
"Hari ini, jumlah peserta sebanyak dua puluh empat orang... jadi kita akan mengundi untuk menentukan siapa akan melawan siapa di arena nanti... sekarang, kita perkenalkan para kontestan kita!!!" seru pembawa acara itu lagi.
Para kontestan termasuk Havard dan Do Quo keluar dari aula menuju arena dan berbaris ketika pembawa acara itu menyebut nama kontestan dan asal daerahnya. Dari situ, Havard mengetahui kalau lelaki bermata seputih perak itu bernama Sinhala dari Shamvala, sebuah wilayah antah berantah yang berada dibarat. Havard aslinya memang berasal dari wilayah barat, tapi Shamvala terdengar agak asing ditelinganya. Entah dimana tempat itu berada.
Lelaki itu sendiri refleks menatap Havard ketika pembawa acara itu menyebut nama dan asal daerahnya. Lelaki berambut seputih salju itu memicingkan mata dan Havard pun menatapnya. Keduanya saling bertatapan.
Lelaki itu kemudian memandang ke arah penonton, dan menemukan Selena dan Nuzlan yang berada ditengah para penonton. Alisnya berkerut kembali dan menghela napasnya kemudian membuangnya dengan kasar.
Tibalah saatnya semua kontestan mengambil nomor undian. Do Quo sendiri mengambil nomor undian dan mendesah masygul.
"Ah, sialan... aku tak bertemu dengan laki-laki itu dibabak penyisihan..." ujarnya.
"Aku juga nggak." sahut Havard memperlihatkan nomor undiannya. "Aku akan bertarung dengan lelaki itu..." sambungnya seraya menganggukkan kepala ke arah lelaki bertubuh kekar bertelanjang dada yang dipenuhi rajahan-rajahan abjad aneh. Wajah lelaki itu di cat hitam pada bagian matanya. Rambutnya panjang dan sebuah bulu elang terselip disela rambutnya. Lelaki itu berkulit coklat kemerahan dan mengenakan celana kulit yang berumbai. Ia menggenggam sebuah macuahuitl dengan batu-batu obsidian meruncing menggidikkan bulu kuduk.
"Kelihatannya ia memiliki kekuatan fisik yang tak biasa... berhati-hatilah..." pesan Do Quo setengah berbisik.
Havard mengangguk. Sementara itu pertandingan telah dimulai. Beberapa petarung bertumbangan satu persatu dan yang menang merayakan kejayaannya di aula.
Tak lama kemudian nama Havard di panggil. Lelaki itu menatap Do Quo.
"Giliranku sekarang." ujar Havard sembari bangkit.
"Harus menang!!!" seru Do Quo dengan semangat.
Havard mengangguk lalu melangkah menuju arena. Disana juga, lelaki bersenjata macuahuitl itu berdiri menanti kedatangan Havard.
Keduanya berhadapan. Dan pembawa acara itu berseru. "Inilah pertandingan antara Havard dari Las Mecca berhadapan dengan Toquila, Sang Iblis Neggala dari Technotitan!!!"
Lelaki itu meraung keras dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Sementara Havard kemudian menghunus tachi karya Norimitsu Osafune tersebut dan memasang kuda-kuda chudan no kamae sebagai permulaan gaya pedangnya.
Selain menguasai gaya pedang wilayah barat yang pernah diajarkan mendiang ayahnya, Havard sedikit banyak juga mempelajari gaya pedang wilayah timur saat berada di Ugataka. Ia pernah mempelajari seni pedang aliran Myojinshoga dari Seishiro Hirata saat berdiam beberapa tahun disana.
Lelaki itu maju mengayunkan gada besarnya. Havard melompat selangkah ke belakang untuk menghindari ayunan gada lawan kemudian maju menusukkan pedangnya.
__ADS_1
Toquila kembali mengayunkan macuahuitl miliknya menampar tachi yang ditusukkan Havard ke arah tubuhnya. Pedang itu terlempar ke samping membuat Havard memutar tubuhnya mengikuti arah pedang memutar dan kembali mengayun secara horisontal mengincar wajah Toquila.
Refleks Toquila melemparkan tubuhnya ke belakang. Havard menyilangkan tachi itu didada sedang dua kakinya melebar, salah satunya berada didepan dengan posisi tubuh menyamping.
Riuh suara penonton terdengar begitu antusias. Havard maju lagi mengayunkan pedang secara horisontal sementara Toquila juga menampar balik serangan itu dengan macuahuitl miliknya.
TRAKK... TRAKKK... TRAKKK...
PRANGGGG...
Bunyi dua senjata beradu. Havard mengakui lelaki dihadapannya memiliki kemampuan fisik lebih kuat darinya. Cara untuk menaklukkan Toquila hanyalah dengan cara yang cerdik.
Havard mengayunkan pedang lengkungnya dari bawah ke atas, membuat macuahuitl milik Toquila terlontar meski tak terlepas dari genggaman lelaki dari Technotitan tersebut.
PRANGGGG....
Dengan sigap, Havard melompat dan bersalto diudara dengan posisi berjungkir balik. Toquila mengayunkan gadanya ke atas, dan langsung ditampar oleh Havard dengan cepat.
PRANGGG....
Havard mendarat dibelakang Toquila dan kembali mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Toquila menyilangkan gadanya menangkis tetakan tersebut.
TRAKKKK...
"Perlawanan yang bagus..." puji Havard.
Toquila tersenyum dan mendengus. Tiba-tiba tubuhnya melesat menjegal kaki Havard membuat lelaki tersebut sedikit kehilangan keseimbangan. Sekali lagi Toquila melakukan sepakan dan mengenai dada Havard.
Untung saja pakaian Havard dilapisi baja ringan sehingga efek sepakan kaki itu tidak memengaruhi tubuhnya selain mendorongnya saja beberapa meter. Havard menusukkan pedang ke lantai untuk memperlambat laju dorongan sementara Toquila bangkit kembali seraya menatap Havard yang berdiri dengan santai menggenggam pedangnya. Tatapan kedua petarung itu saling hujam.
Kali ini Toquila maju menyerang sembari mengayunkan gadanya. Havard mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas, seraya mengerahkan tenaga dalamnya menyebabkan terbentuknya serangan kasat mata yang langsung mengenai Toquila membuat lelaki itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
Havard lalu maju dan kembali mengayunkan pedangnya secara horisontal. Toquila buru-buru menyilangkan gada menahan serangan lawan yang mengincar pinggangnya.
Kembali pertarungan berlangsung seru diiringi oleh seruan keras penonton yang terkesan dengan pertandingan tersebut. Ternyata ditempat yang tak diketahui Havard, Sinhala memperhatikan pertarungan tersebut dari tempat yang tersembunyi.
Havard memutuskan untuk tidak bermain-main lagi. Ia melompat maju dan berpusingan sambil mengayunkan pedangnya. Seketika muncul angin beliung yang menyelimuti tubuhnya dan maju menerjang Toquila. Tak ada yang bisa dilakukan Toquila kecuali menyongsong serangan itu dengan senjatanya.
TRAKKK.... PRANGGG... KRAKKK....
Kedua senjata lagi-lagi beradu dan tanpa disangka, macuahuitl milik Toquila retak lalu patah membuat lelaki itu terkejut dan terpaksa menyongsong pedang lawan yang sebentar lagi menetak tubuhnya. Toquila memejamkan matanya dengan pasrah.
Tachi milik Havard menempel di leher Toquila disambut oleh riuh penonton.
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!" seru penonton dengan antusias.
"Jangan! Jangan! Jangan!" seru Nuzlan dan Selena berbarengan melawan kehendak para audiens di tribun tersebut.
Toquila memang sudah pasrah. Ia sudah memejamkan mata. Namun Havard kemudian mengayunkan kembali pedangnya, menebas bagian kepala, menerbangkan beberapa hewan rambut Toquila, membuatnya menjadi botak sebagian. Setelah menebas rambut lawannya, Havard kemudian menyarungkan pedang itu kedalam warangkanya.
"Ya!!! Havard dari Las Mecca memenangkan pertandingan!!!" seru pembawa acara.
Sementara itu Havard kemudian meninggalkan lapangan pertandingan diiringi riuh suara penonton.[]
__ADS_1