MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MELACAK RENCANA MUSUH


__ADS_3

Bukefals berlari sekuat tenaganya. Terdengar suara gemuruh tanah yang bergetar. Karkadan yang sedang berlari dapat menyebabkan tanah-tanah bergetar keras. Diatas punggungnya duduk Havard dan Selena. Nagini sendiri menyusul mereka mengendarai seekor kuda besar dengan surai panjang yang berkibar-kibar.


Kedua hewan itu menyusuri dataran pegunungan mengambil jalan pintas atas petunjuk Nagini. Dalam pengalamannya sebagai pengawal kafilah dagang, Havard memang belum menginjakkan kakinya di kawasan utara sebab kafilah dagang Las Mecca belum melebarkan sayap perniagaannya kesana.


Perjalanannya ke utara adalah yang perdana kali, lewat ajakan Nuzlan. Namun kelihatannya, Nagini mengenal benar kawasan utara sehingga ia menjabarkan rute-rute yang harus dilewati Havard untuk tiba di Moull dengan cepat.


Meskipun Moull dan Norchburg masih terletak di wilayah yang sama, Runehall, namun lokasi Moull agak terpencil terletak ditengah lembah, mirip dengan geografis kota Las Mecca. Perbedaannya adalah, Moull dikurung oleh hutan lebat sedangkan Las Mecca hanya dikelilingi oleh pepohonan kurma dan tetumbuhan kismir.


"Lihatlah... itu menara kastil Moull!!!" seru Nagini menunjuk ke suatu tempat. Dari rerimbunan pepohonan, nampak sebuah bangunan yang menjulang tinggi.


"Kita sudah dekat!" seru Havard. "Ayo Bukefals! Teruslah lari!" serunya.


Karkadan itu menggerutu keras lalu melajukan lainnya disusul oleh kuda tunggangan Nagini. Tak lama kemudian mereka mendapatkan sebuah tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan. Di ujung tanah luas itu nampaklah sebuah kastil besar lengkap dengan menaranya.


Terlihat kastil itu terbakar. Asap membumbung tinggi. Pintu gerbang sudah hancur sehingga kedua hewan tunggangan itu bisa langsung masuk ke dalam kastil.


Disana sedang terjadi pertempuran seru antara pasukan Yahuda dengan sisa-sisa pasukan Tel-Qahira dan Moull yang bahu membahu melawan mati-matian. Havard langsung melompat dari pelananya dan mendarat ditanah. Karena kopesh telah patah, maka Havard mengandalkan belati panjang menghadapi beberapa tentara Yahuda yang menyerangnya.


Nagini ikut melompat dari kudanya dan menghunus pedangnya dan maju membabat musuh-musuhnya. Sedangkan Selena tetap berada dipunggung Bukefals terus melesatkan anak panah kepada tentara-tentara Yahuda yang datang mendekatinya.


Bantuan dari ketiga orang tersebut membuat semangat para tentara pertahanan bangkit dan mereka kembali memperkuat perlawanan mereka.


TOEEEEEEEEEEETTTT....


Tiba-tiba terdengar bunyi serunai yang ditiupkan. Mendadak sisa-sisa pasukan Yahuda menarik diri dan melarikan diri meninggalkan kastil, menyisakan reruntuhan-reruntuhan dan puing bekas terbakar. Para tentara Moull dan Tel-Qahira bersorak-sorai merayakan kemenangannya.


Havard mendekati salah satu tentara Tel-Qahira. "Dimana Nuzlan?"


"Tuan Jenderal sedang bersama Earl of Moull dikamar kastil." jawab tentara itu.

__ADS_1


Havard mengangguk dan melangkah memasuki istana. Ia sempat dicegat oleh penjaga pintu istana.


"Saya Havard, konsultan militer...saya datang bersama-sama ekspedisi pasukan Tel-Qahira di Norchburg...saya ingin ketemu Nuzlan." ujar Havard kemudian menyerahkan belati panjangnya kepada penjaga tersebut. "Bawa benda ini kepada Nuzlan. Dia akan tahu."


Penjaga itu kemudian masuk kedalam membawa belati pemberian Havard. Tak lama kemudian ia muncul dan bersikap lebih hormat.


"Tuan konsultan dipersilahkan masuk ke dalam." ujar penjaga pintu istana itu sembari menjura dengan sopan dan menyerahkan belati panjang ke tangan Havard.


"Saya datang bersama dua orang sahabat saya ini." ujar Havard menunjuk Selena dan Nagini. "Saya masuk kedalam bersama mereka."


Penjaga pintu hendak protes ketika Havard menyela. "Keduanya bisa saya jamin..."


Akhirnya penjaga pintu istana mengangguk dengan berat. Ketiga orang itu masuk dan dipandu oleh penjaga pintu istana menuju kamar dari pemilik kastil.


penjaga itu membuka pintu kamar dan mempersilahkan ketiganya masuk. Havard masuk duluan mendapati Nuzlan berdiri disisi ranjang, melipat kedua tangannya didada sambil sesekali mengelus-elus dagunya.


"Nuzlan..." panggil Havard.


"Beliau terluka parah..." ujar Nuzlan sembari menghela napas kemudian membuangnya dengan keras. "Kelihatannya Raja Saul merencanakan hal ini dengan sangat apik..." ujarnya dengan pelan. "Penyerangan ini dilakukan secara bersama-sama namun terencana dengan bagus..."


Nuzlan berbalik menatap Havard bersamaan dengan masuknya Selena dan Nagini kedalam kamar.


"Kelihatannya... serangan ke Norchburg hanyalah pengalihan..." ujar Nuzlan. "Serangan yang sesungguhnya diarahkan ke sini..."


"Nagini juga berpendapat demikian..." ujar Havard seraya menoleh kearah Nagini.


Nuzlan menoleh sejenak kearah Nagini lalu kembali menatap Havard. "Aku menangkap salah satu tentara Yahuda... aku mengorek keterangan darinya."


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Havard.

__ADS_1


"Sesuatu yang tak kusangka..." ujar Nuzlan membuat alis Havard terangkat ketika lelaki itu menyambung. "Dalang penyerangan ini adalah Lord Rotcshild dari Tel-Qahira..."


"Apa mungkin dia berbohong?" tukas Havard.


"Aku nggak tahu lagi..." ujar Nuzlan. "Aku memutuskan untuk mengejarnya."


"Kau akan kembali ke Tel-Qahira?" tanya Havard. Nuzlan menggeleng.


"Tidak. Dari informasi tentara yang tertangkap itu, ia mengatakan kalau Lord Rotcshild saat ini berada di Turan, menggelar pertemuan dengan utusan Kerajaan Yahuda." jawab Nuzlan.


"Turan? Kota transit itu?" tebak Havard.


Nuzlan mengangguk. "Aku akan kesana besok..." ujarnya kemudian bertanya, "Kau mau ikut?"


"Apakah pasukanmu juga akan ikut?" tanya Havard. Nuzlan tersenyum dan menggeleng.


"Mereka akan kembali ke Tel-Qahira seminggu setelah ini, memastikan Moull tidak akan diserang pasukan musuh." jawab Nuzlan.


"Baiklah... aku akan ikut denganmu." ujar Havard.


"Aku juga boleh ikut, kan?" tanya Selena.


"Kau pulang saja ke Las Mecca!" sela Havard membuat Selena memberenggut karena kesal.


"Karena Havard ikut denganmu ke Turan, maka aku harus ikut..." ujar Nagini.


"Tuh, Nagini saja ikut denganmu. Kenapa aku nggak boleh ikut?!" protes Selena.


"Biarkan Selena ikut." ujar Nuzlan. "Kau tak kasihan menyuruhnya pulang sendirian? Dia itu perempuan, bukan laki-laki seperti kita."

__ADS_1


Havard mengangkat bahu dan menghela napas. "Yaaaa yaaaa... Selena boleh ikut." ujarnya kemudian menggerutu pelan. Selena tidak perduli dan tetap saja memperlihatkan kegembiraannya.


"Baik... kita akan menuju Turan, melalui hutan raya... akan makan waktu tiga hari tiba disana...." ujar Nuzlan dengan mantap.[]


__ADS_2