
"Perawan Suci Lupricala, kami datang menghadapmu." ujar Nagini dengan takzim dan menghaturkan sembahnya.
Sebuah cahaya keputihan muncul yang makin lama makin mewujud hingga akhirnya membentuk tubuh transparan seorang wanita. Ia berpakaian sebagaimana seperti arca. Hanya saja wajahnya lebih cantik dari arca yang memancang di makam tersebut.
"Aaah... Nagini..." seru tubuh transparan tersebut yang tak lain adalah Lupricala sendiri. "Ada keperluan apa kau muncul di rumahku ini? Tak biasanya kau..."
"Aku datang meminta tanaman Panacium Vortex, atas restumu..." sela Nagini seraya mengangkat wajahnya menatap Lupricala.
Lupricala tersenyum lalu menatap Havard yang sedang memeluk Selena. Kedua mata Lupricala menatap nanar.
"Arken?" desis Lupricala dengan takjub. "Kupikir kau..."
"Dia bukan Arken, Lupricala..." sela Nagini lagi. "Nanti akan kuceritakan..."
Havard menatap Nagini. "Mengapa dia memanggilku Arken?" tanya lelaki itu setengah berbisik, namun Nagini tidak menanggapinya.
"Mengapa kau meminta Panacium Vortex? Bukankah kau kebal racun?" selidik Lupricala.
"Sahabatku terkena racun Mawar Lilith, Perawan Agung..." sela Havard tidak sabar. Nagini sejenak menoleh kesal. Havard tidak perduli dan langsung meminta lagi. "Bisakah engkau perkenankan aku mengambil sekuntum bunga Panacium itu untuk menyembuhkan sahabatku ini?"
Sejenak Lupricala tertawa pelan lalu menjawab. "Nak, racun Mawar Lilith memang bisa disembuhkan oleh sekuntum kembang Panacium saja... namun... apakah kau tahu cara meramu tumbuhan itu menjadi sebuah obat?"
Havard sontak saja menggeleng dengan putus asa. "Apakah... Perawan Agung tidak berkenan menyembuhkan sahabatku?" tanya Havard dengan suara serak.
"Tidak begitu Arken... eh, maksudku... siapa namamu, anak muda?" tanya Lupricala yang sempat keceplosan.
__ADS_1
"Aku Havard... kaki berdua sama-sama dari Las Mecca..." jawab Havard.
"Ah... kota kuno, dimana ajaran luhur pernah diturunkan dari langit..." gumam Lupricala sejenak kemudian mengangguk-angguk dan menatap Nagini. "Apakah mereka berdua, sepasang kekasih?"
"Aku tak tahu..." jawab Nagini. "Sepengetahuanku, sepanjang hari dalam perjalanan, keduanya saling bertengkar."
Lupricala tersenyum. "Pasangan yang serasi..." ujarnya lalu menatap Havard lagi. "Anak muda... salah satu bahan ramuan adalah setitik darah dari pasangan hidup perempuan itu... tanpa itu, Mawar Lilith akan membuatnya menjadi arca selamanya..."
Havard terdiam. Nuzlan menyenggolnya. "Sebaiknya akui saja kau itu kekasihnya... bukankah kau memang selalu memperhatikannya selama ini?" tukasnya.
Havard masih diam. Lupricala kembali mendesak. "Bagaimana nak?"
Havard akhirnya mengangkat wajah. "Jika Panacium membutuhkan darah sepasang kekasih... aku berikan darahku..." ujar Havard. "Jika darahku bisa menyembuhkannya, aku akan sangat bersyukur..."
Havard tersenyum lemah. "Aku tidak tahu... tapi siapa tahu? Bagaimanapun, perempuan ini adalah tanggung jawabku... jika dia wafat, lebih baik... goreskan pula putik bunga beracun itu ke telapakku agar setidaknya kami berdua tak terpisahkan..."
Lupricala tersenyum puas. "Sudah kuduga... cinta yang tersembunyi..." ujarnya kemudian membisik kepada Nagini. "Seperti kau dan Arken..."
Ucapan Lupricala membuat wajah Nagini bersemu merah, namun ia tetap tegak ditempatnya. Lupricala menatap Havard.
"Ambillah sekuntum Panacium Vortex... basahi dengan darahmu... lalu minumkan kepada perempuan tersebut..." ujar Lupricala menjabarkan cara meramu bunga itu.
Dengan gembira, Nuzlan langsung beranjak mendekati makam dan memetik sekuntum bunga tersebut dan menyerahkannya kepada Havard.
Havard menghunus belati panjang dan melukai telapak tangannya. Ia kemudian meremas bunga tersebut dan membuka mulut Selena. Beberapa titik darah bercampur bunga Panacium menetes kedalam mulut gadis itu.
__ADS_1
Mereka menanti beberapa saat dan Havard serta Nuzlan gembira melihat, tubuh Selena yang semula membantu, mulai melemas dan kembali sediakala.
"Ramuan itu masih sementara bekerja." ujar Lupricala dengan senyum. "Menunggu perempuan itu siuman, menginaplah disini sejenak." pinta Lupricala. "Dalam kuil ini, ada beberapa bilik. Tempatilah salah satunya..."
"Terima kasih, Perawan Agung..." ujar Havard dengan penuh rasa gembira dan terharu. Lelaki itu kemudian menggendong kembali Selena dan melangkah meninggalkan tempat itu. Nuzlan sejenak menghaturkan sembahnya lalu menyusul Havard.
Tinggallah di tempat itu, Nagini. Lupricala kemudian menatapnya. "Sekarang ceritakan kepadaku... siapa anak muda itu? Dia sangat mirip dengan Arken..." pinta Lupricala dengan penasaran.
"Anak itu, kurasa adalah keturunan dari Arken..." jawab Nagini. "Namun...dia tidak menggunakan namanya, ia menggunakan identitas baru..."
"Kurasa juga begitu..." sahut Lupricala. "Kukira, Raja para Mashiah sudah bangkit dari tidur panjangnya... setahuku, Arken tewas juga dalam perang itu, kan?"
"Tidak..." bantah Nagini dengan datar. "Aku menyaksikannya sendiri... Arken membatu, terkena peluru racun Mawar Lilith..." ujar wanita itu kemudian menarik napas panjang. "Seandainya dia sempat ku gapai, tentunya dia..."
Nagini tak lagi melanjutkan ucapannya. Lupricala mengangguk-angguk. "Aku paham... mungkin itu sebabnya, kau menanggalkan kemanusiaanmu dan memburu titisan Ratu Langit untuk mencegah Samiri bangkit kembali..."
Nagini hanya diam. Lupricala menarik napas lalu berucap, "Perang itu sudah sangat lama... lagi pula Kota Kuno Dur-Salim sudah jatuh. Menara Temen-Ni-Zur juga sudah jatuh... Tujuh Mashiah... sebagiannya sudah gugur..." Lupricala kemudian memegang bahu Nagini.
"Tapi... aku masih merasakan pacaran kekuatan Arken... kurasa, dia belum mati, Nagini..." ujar Lupricala.
"Tidak mungkin." bantah Nagini. "Aku melihat sendiri... Arken membatu dalam pelukanku."
"Tapi... auranya jelas, hanya saja samar..." Lupricala menghela napas lagi. "Pemuda itu, mungkin keturunan dari Arken... tapi dia tak memiliki aura tersebut."
Nagini menatap Lupricala lama sekali. Wanita itu meresapi segala perkataan dari arwah tersebut.[]
__ADS_1