MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MEMBURU ATAU DIBURU?


__ADS_3

"Hei, kalian enak saja jalan sedang aku tak diberikan alat pertahanan diri." protes Selena.


Havard dan Nuzlan berhenti lalu menatap Selena.


"Nggak usah banyak cakap Selena. Kita sekarang berada disarang musuh. Bisa jadi sebentar lagi pelarian kita akan ketahuan oleh mereka dan kita tidak punya banyak waktu lagi." bantah Havard dengan tak sabar.


"Tapi dia benar Havard." bantah Nuzlan lalu mengangguk setuju kepada Selena. "Jika dia tak diberikan alat pertahanan diri, dia hanya akan menjadi beban bagi perjalanan kita."


"Tuh kan? Lelaki itu saja lebih menghargai pendapatku ketimbang kamu." tukas Selena dengan ketus.


Havard sejenak menatap kesal kearah Nuzlan lalu kembali menatap Selena dan tersenyum dengan paksa.


"Lalu, jenis keterampilan apa yang kau punyai dibidang beladiri?" tanya Havard dengan lembut.


"Aku belajar memanah dua minggu lalu kepada Ahmad..." jawab Selena.


Havard mendesah masygul. "Memanah? Dengan keterampilan dasar memanah selama dua minggu? Kau sudah gila ya?"


Selena mendecak kesal kepada Havard lalu menoleh menatap Nuzlan. "Kamu tahu dimana letak gudang senjata?"


"Untuk apa kita ke gudang senjata?" tukas Havard lagi dengan kesal.


"Tentu saja untuk mengambil sebuah busur dan andong berisi anak panah! Kau pikun ya?" jawab Selena dengan ketus.


"Tapi..." protes Havard.


"Sudahlah, ikuti saja maunya." sela Nuzlan mengalah kemudian menatap Selena dan tersenyum. "Ikut aku! Aku tahu tempatnya!" ajaknya mengibaskan tangan.


Selena mengangguk senang kearah Nuzlan lalu mendongak angkuh kepada Havard dan melangkah mengikuti Nuzlan. Havard hanya bisa mendesah saja lalu mengikuti langkah kedua orang itu.


Nuzlan memang telah mengenali seluk- beluk benteng ini. Ia tiba disebuah ceruk yang ditutupi pintu.


"Ini gudang senjata." ujar Nuzlan. "Setiap lantai memiliki gudang senjata. Kita bisa mengambil senjata dari sini." sambungnya kemudian mengeluarkan rentengan anak-anak kunci dan mulai mencocokkan kunci-kunci itu. Pintu itu membuka kemudian dan Nuzlan mengajak keduanya masuk.


Mereka tiba didalam dan Selena langsung tersenyum melihat sebuah busur besar yang tersandar pada tempatnya. Disisinya terdapat sebuah andong berisi sekumpulan anak-anak panah. Gadis itu langsung meletakkan andong itu dipunggungnya dan menggenggam busur besar itu.


"Bagaimana?" tanya Selena.


"Cocok... kau mirip seorang putri pemburu." puji Nuzlan membuat Selena seketika tersenyum bangga sedangkan Havard hanya mendesah dan melengos saja sehingga Selena menanggapinya dengan dengusan kasar saja.


"Jangan hiraukan temanmu." ujar Nuzlan menyemangati Selena. "Ini saatnya kau menunjukkan hasil pelatihan selama dua minggu itu dihadapannya. Kau bisa, kan?"


Seketika Selena mengangguk mantap sedang Havard kembali mendesah malas.


"Yah, tunjukkanlah kompetensimu..." ujarnya kepada Selena lalu menatap Nuzlan. "Dan kau paling pintar membuat perempuan takluk kepadamu."


Havard langsung melangkah keluar diikuti oleh Selena dan Nuzlan. Ketiganya kembali menyusuri lorong-lorong dalam benteng itu.


Mereka bertiga akhirnya tiba di ruangan besar didepan gerbang. Namun betapa terkejutnya mereka mendapati tempat itu telah dikerumuni oleh sekawanan pantera. Mereka bersenjatakan golok besar dan tombak.

__ADS_1


Pemimpinnya, Tigris, muncul dengan tenang sambil menyeret sebuah gada besar pipih yang kedua sisinya ditancapi batu-batu obsidian hitam pekat. Seringainya terlihat bercampur dengan geraman jelas terdengar dari mulutnya.


"Tigris..." gumam Nuzlan tercekat.


"Wah...wah...wah... Nuzlan... hebat benar kau... meski kau terkurung, masih juga sempat mendatangkan bantuan." sindir Tigris lalu terkekeh disambut tertawaan para pantera yang lain.


Tigris menatap Havard. "Anak muda. Aku baru pertama kali melihatmu... apakah kau sekutunya orang ini?" tanya raja para pantera itu menganggukkan kepala kearah Nuzlan yang telah menodongkan mata tombaknya ke arah sekawanan pantera tersebut.


"Bukan, aku bukan temannya. Dia kutemukan saat aku mencari sahabatku ini." jawab Havard sembari mengangguk ke arah Selena yang memegang busurnya dengan erat.


Tigris kembali menggeram. "Demi Aslarn... Anak muda! Perempuan itu adalah tawanan kami. Kembalikan dia kepada kami dan aku biarkan kau membawa lelaki itu keluar dari benteng ini dengan selamat." ujarnya mengajukan tawaran.


"Wah, tawaran yang bagus..." sahut Havard.


"Kau mau menyerahkan perempuan itu kepada mereka?" sela Nuzlan.


"Aku belum selesai bicara." balas Havard dengan ketus kepada Nuzlan lalu kembali menatap Tigris dan kawanannya.


"Tapi aku lebih memilih opsi kedua. Bagaimana kalau perempuan ini tetap bersamaku dan kalian membiarkan kami pergi?" balas Havard dengan senyum.


"Itu artinya kau akan menyerahkan aku!" pekik Nuzlan dengan kesal.


Havard hanya mendengus kesal sedangkan Tigris kembali tertawa. "Tawaran yang lucu, anak muda! Aku justru memilih perempuan itu ketimbang lelaki ini." ujar Tigris menunjuk Nuzlan.


"Ah, kalau begitu... opsi ketiga saja." ujar Havard lagi. "Keduanya ikut denganku dan biarkan kami pergi... bagaimana Raja Tigris?"


Tigris menggeram. "Atau bagaimana kalau opsi keempat?"


"Kalian berdua jadi santapanku dan perempuan ini kembali ke biliknya!" ujarnya lalu menatap anak buahnya. "Bunuh mereka berdua!!!"


Seketika sekawanan pantera itu meraung keras dan maju menyerang dengan senjatanya. Havard dan Nuzlan pun maju menghadang serangan mereka. Terjadilah perkelahian keroyokan sedangkan Tigris memperhatikan kawanannya mengeroyok kedua petarung itu.


Meskipun begitu, ternyata Havard dan Nuzlan mampu mempecundangi para pantera tersebut. Ditengah hingar-bingar pertarungan, Havard menoleh ke arah Selena.


"Selena! Buka gerbang! Cepaat!!!" seru Havard sambil terus mengibas-ngibaskan kopesh sehingga terbentuk tirai pedang yang membuat para penyerangnya sulit menembus pertahanan pemuda itu.


Dengan sigap, Selena merentangkan busurnya yang telah dipasangi anak panah dan melesatkannya ke arah penjaga yang memegang tuas gerbang.


SIINGGGG.... JLEB!!! AARRRGHHH...


Penjaga itu jatuh dan tewas dengan dada tertancap anak panah. Genggamannya pada tuas gerbang terlepas dan pintu membuka sekaligus jembatan turun ke sisi seberang.


"Demi Aslarn! Jangan biarkan mereka lolos!!!" seru Tigris.


Melihat peluang yang ada, Nuzlan dan Havard maju menerobos kawanan itu, menciptakan sebuah celah sempit yang bisa dilalui Selena hingga ke gerbang.


Selena lekas berlari dan bergegas tiba di gerbang lalu terus berlari hingga ke seberang. Melihat perempuan itu berhasil lolos, Havard dan Nuzlan serentak melarikan diri.


"Terus lari Selena! Jangan melihat ke belakang!!!" teriak Nuzlan dengan kalap.

__ADS_1


"Kejar mereka! Jangan sampai lolos!!!" teriak Tigris dengan gusar lalu menatap salah satu penjaga. "Bawakan kendaraanku!!!"


Sementara itu Havard langsung mengambil terompet dari gading dan meniupnya dengan keras.


TOOOOEEEEEET....


Sesaat ia meniup terompet itu, seketika dari bebatuan menghamburlah seekor karkadan besar, tidak lain adalah Bukefals yang mendengar suara terompet majikannya dan bergegas menemuinya.


"Bukefals!!!" seru Selena dengan gembira.


"Cepat naik, Selena!!!" teriak Havard.


Bukefals mengenal Selena dan dia berlari menghampirinya. Selena seketika melompat kepunggung hewan besar itu.


"Halo sayang, aku merindukanmu. Bisakah kau bawa kami pergi dari sini?" ujar Selena.


Seakan paham ucapan gadis itu, Bukefals meraung keras lalu berlari menyambar Nuzlan dan Havard dengan culanya lalu melemparkan kedua orang itu kepunggung. Havard jatuh didepan sedang Nuzlan jatuh ke bagian pantat. Keduanya duduk menjepit Selena yang berada ditengah-tengah.


Bukefals berlari meninggalkan tempat itu, bersamaan dengan Tigris yang muncul dengan tunggangannya, seekor sabretooth besar berkulit coklat, sedangkan beberapa pantera lainnya menunggangi smilodon yang ukurannya lebih kecil dari kendaraan rajanya.


"Demi kejayaan Aslarn! Kejar mereka!!!" seru Tigris mengayunkan macuahuitl kebanggaannya.


Seketika sekawanan pantera berkendara smilodon itu maju mengejar karkadan yang membawa lari ketiga orang tersebut. Aksi kejar-kejaran berlangsung. Beberapa pantera yang mengendarai smilodon itu mengacung-acungkan golok besar untuk menyemangati dirinya maupun tunggangannya agar segera menyusul buruannya.


"Lambatkan pengejaran mereka!" seru Havard.


"Akan kulakukan!!!" seru Selena seketika menarik beberapa batang anak panah dari andong dan memasangkannya ke busur kemudian merentangkannya.


"Menyingkir sedikit, tuan!!!" seru Selena.


Nuzlan merundukkan tubuhnya memberikan jarak pandang yang luas bagi Selena untuk melesatkan anak-anak panahnya.


SWINGGG.... SWIIINGGG...SWIIIINGGG...


JLEB!!! JLEB!!! JLEB!!!


AARGHH... UUURGGG... AARRRGGGHHH...


Tiga ekor smilodon tewas tertancap panah membuat penunggangnya terpelanting dan jatuh membentur tanah-tanah padas. pengejaran regu pemburu sedikit terhambat gara-gara insiden itu.


Tigris kembali menggeram marah sementara Nuzlan memuji hasil tembakan Selena.


"Ah, itu hanya kebetulan saja!!!" seru Havard.


"Terus kejar!!!" raung Tigris lagi.


Akhirnya salah satu pengejar melajukan smilodon tunggangannya sembari mengayun-ayunkan kapak. Ketika berada pada jarak bagus, pantera itu melemparkan kapaknya.


SWIIIIINGGGG.... JLEB!!!! AAAAAAAKKHHH....

__ADS_1


"Astaga!!! Nuzlan kena!!!" pekik Selena dengan panik.[]


__ADS_2