
Do Quo menempati kamar VVIP atas permintaan Nuzlan. Ia rela membayar segala biaya pengobatan yang tidak termasuk dalam biaya tanggungan panitia pertandingan.
"Bagaimanapun caranya, lelaki ini harus sembuh dari luka-lukanya!!!" tekan Nuzlan dengan serius kepada pihak rumah sakit.
Sementara para tabib melakukan operasi pembedahan, mengeluarkan sisa-sisa bebatuan yang masuk ke jaringan otot pasiennya, Havard berjalan mondar-mandir didepan pintu ruangan operasi. Nuzlan sendiri hanya duduk dengan mulut komat-kamit, entah apa yang dibacanya. Selena duduk disisinya sibuk berdoa diselingi isak tangis yang tersedat-sedat.
Nuzlan menengadah menatap Havard yang terus mondar-mandir dengan wajah yang tegang. Ia menghela napasnya dan menegur.
"Tenanglah Havard... semoga Tuan Do Quo tidak apa-apa..." ujar Nuzlan. "Gayamu itu justru membuatku makin gugup... duduklah disini." pinta lelaki menunjuk kursi disisinya.
"Aku... kehilangan ketenanganku..." jawab Havard dengan gemetar sambil terus mondar-mandir.
"Kita hanya bisa berdoa, berharap beliau tidak mengalami hal yang jelek." ujar Nuzlan mengingatkan. "Tapi kau semakin menerbitkan perasaan gugup dihati Selena. Lihatlah dia sejak tadi menangis saja!"
Havard berhenti mondar-mandir manakala Nuzlan mengingatkannya akan Selena. Pemuda itu melangkah mendekati Selena lalu duduk disampingnya. Perlahan lengan kekar Havard merengkuh tubuh Selena dan membawanya ketubuhnya.
Dalam pelukan pemuda itu, Selena tak segan menumpahkan emosinya. Tangisnya yang sejak tadi tertahan akhirnya keluar, nyaris meratap sampai-sampai Havard harus mendesis untuk menenangkannya.
"Sudahlah... hentikan tangismu." desis Havard meminta. "Tangisan tak akan membuat Do Quo membaik. Hanya doa yang bisa kita panjatkan agar Tuhan meringankan luka-luka yang dideritanya akibat pertarungan itu.
"Aku takut Havard..." desis Selena dengan lirih. "Paman Do Quo yang terlihat tangguh saja kini menggeletak tak berdaya dibawah kaki orang itu..." Selena melepas pelukannya dan menatap Havard lalu memelas. "Setelah ini, kau pasti berhadapan dengannya... aku takut, kau akan..."
"Ssst... diamlah." desis Havard menempelkan telunjuknya ke bibir ranum gadis itu. "Aku nggak akan semudah itu kalah dari orang itu... kau yakinlah padaku!" tandas Havard. "Aku janji akan membalaskan dendam Do Quo kepadanya..."
Selena kembali membenamkan diri dalam pelukan Havard. Tak lama kemudian pintu ruang operasi membuka dan keluarlah seorang tabib.
Nuzlan bangkit memburu ke arah tabib tersebut. "Bagaimana keadaannya?"
Tabib itu menyeka keringat yang membasahi wajahnya. "Syukurlah, Tuan Do Quo memiliki ketahanan tubuh yang baik." ujarnya dengan nada lega. "Tak ada luka yang berarti... hanya saja ia memerlukan perawatan penuh untuk menyembuhkan luka dalamnya."
Terima kasih atas upayanya." respon Nuzlan menjabat tangan tabib itu. Si tabib itu tersenyum lalu pamit meninggalkan tempat itu. Nuzlan menoleh menatap Havard dan Selena.
"Dia selamat..." ujar Nuzlan dengan gembira. Havard mendesah lega dan melepaskan pelukannya lalu bangkit mendekati Nuzlan.
"Bagus... apakah kita sudah boleh menjenguknya?" tanya Havard.
Tepat pada saat itu keluarlah juru rawat. Mendengar pertanyaan Havard tadi, kontan ia menyela, "Pasien masih belum melewati masa kritisnya... saya harap jangan ada diantara kalian yang menemuinya untuk saat ini... pasien masih dalam penanganan kami... harap dimengerti." tekannya lalu meninggalkan dua lelaki itu berdiri didepan pintu operasi.
Havard mendesah kecewa mendengar keterangan juru rawat tersebut. Namun Nuzlan bersikap tabah.
"Tak apa..." ujarnya menguatkan hati. "Yang penting dia sudah selamat..."
Nampak beberapa juru rawat muncul mendorong ranjang beroda dimana Do Quo yang belum sadar dibaringkan. Ia dibawa menuju ruang satunya. Nuzlan, Havard dan Selena mengikutinya dari belakang.
Do Quo dimasukkan dalam tabung inkubator nanotek untuk mempercepat penyembuhan. Beberapa selang infus ditusukkan ke bagian tubuhnya begitu juga kabel-kabel deteksi yang ditempelkan ke bagian-bagian tubuh tertentu untuk mengontrol perkembangan pasien.
__ADS_1
Terpaksa ketiga orang itu harus puas memandangi Do Quo dari balik kaca tabung.
"Kasihan Paman Do Quo..." sedu Selena menempelkan kedua tangannya pada kaca inkubator itu.
"Kita harus tawakal, Selena... semoga Do Quo akan cepat sembuh dari sakitnya." sahut Nuzlan.
Havard hanya berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan itu. Nuzlan menghela napas sejenak lalu meninggalkan Selena dan mendekati Havard.
"Kau tunggulah disini..." pesan Nuzlan. "Aku akan ke bagian resepsionis menyelesaikan masalah administrasi..."
Havard mengangguk. "Aku dan Selena akan berada disini, memastikan Do Quo siuman dari pingsannya."
Nuzlan ikut mengangguk dan menarik napas panjang lagi lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Langkah kakinya menggema disepanjang koridor menyusuri lorong itu menuju ruangan luas di bangunan utama.
Ketika tiba di ruangan luas itu, Nuzlan menatapi Nagini yang muncul dari pintu utama. Lelaki itu langsung menyambutnya.
"Ada apa dengan Do Quo?" desis Nagini dengan penasaran.
Nuzlan menceritakan kronologis pertarungan tersebut hingga selesai. Nagini mengerutkan alisnya.
"Jurus Tapak Sakti Arhat Suci?" desis Nagini memicingkan mata.
Nuzlan mengangguk. "Kenapa? Kau mengenal jurus itu?" selidik lelaki itu.
Nagini menghela napas sejenak lalu menjelaskan. "Jurus Tapak Sakti Arhat Suci adalah jurus utama yang dimiliki para satria terpilih dari suku Sigirlya... Jurus itu diciptakan oleh seorang avatar jutaan tahun lalu ditempat yang sekarang dikenal sebagai dataran Guon Luon..."
"Praktisi jurus itu akan menyerap kekuatan alam dan mengeluarkannya dalam bentuk tembakan tenaga dalam melalui telapak tangannya." tutur Nagini. "Dulu, jurus itu digunakan oleh penciptanya untuk menundukkan seekor kingkong perkasa bernama Sun Wu Kong dari Bukit Persik... makhluk itu tunduk dan tak lagi melakukan kekacauan di dataran Guon Luon..."
Nuzlan manggut-manggut mendengar keterangan Nagini. Lelaki itu menghela napas. "Aku akan menyelesaikan dulu administrasi pengobatan Do Quo..."
"Dimana orang itu sekarang?" sela Nagini.
"Ada diruangan inkubasi..." jawab Nuzlan. "Lukanya parah... tapi untungnya kata tabib, Do Quo memiliki ketahanan tubuh yang baik. Ia yakin Do Quo akan sembuh dari luka-lukanya meskipun agak memakan waktu yang lama..."
Nagini mengangguk. "Aku akan kesana..." ujarnya hendak pergi namun dicegah oleh Nuzlan.
"Temani aku menyelesaikan pembayaran ini... nantilah kita bersama-sama kesana." usul Nuzlan.
Nagini akhirnya hanya bisa menyanggupi.
...****************...
Selena masih betah mengamati Do Quo yang terbaring diam dalam inkubator. Tubuhnya diam bagai orang yang mengalami mati suri. Hanya gerak napas yang nampak pada kembang-kempisnya dada lelaki itu menandakan ia belum meninggalkan alam fana.
Havard melangkah mendekati Selena lalu memegang bahunya.
__ADS_1
"Aku berharap ia cepat sembuh..." gumam Havard dengan pelan.
Selena menengadah menatap wajah pemuda itu dan menyadari sepasang mata Havard terlihat basah.
"Dia orang kedua yang kukenal setelah kebakaran hebat yang melanda kampung halamanku..." kenang Havard tersenyum tipis namun dua titik air mata jatuh membasahi pipinya. "Kami berkelana bersama, membagi petualangan juga rasa sedih dan senang bersama..."
Selena membelai dada Havard. Pemuda itu menarik ingus yang memenuhi rongga hidungnya. Ia melanjutkan bicara. "Dia kuanggap keluargaku yang kedua setelah mendiang orang tuaku yang tewas dalam kebakaran itu..." desis pemuda itu dengan lirih.
Selena kemudian memeluk pemuda itu dan membenamkan dirinya disana. Havard akhirnya balas memeluk namun tetap bergeming dari tempatnya. Keduanya menatapi tubuh Do Quo dalam tabung inkubator tersebut.
Langkah kaki terdengar mendekat dan tak lama kemudian muncul Nagini di ruangan itu, disusul Nuzlan yang masuk setelahnya.
Nagini mendekati tabung inkubator tersebut dan mengamati Do Quo yang terbaring diam disana. Wanita itu mengangguk-angguk kepala perlahan.
"Memang efek dari Tapak Sakti Arhat Suci memang mengerikan..." gumam Nagini. "Tapi dia mampu menetralisir sebagian hawa pukulan itu dengan jurus tameng, Jirah Arhat Emas..."
Nagini menatap Nuzlan. "Rupanya Do Quo juga mempelajari ilmu-ilmu ciptaan Amitabha Julai..." Wanita itu tersenyum. "Jangan kuatir... dia akan segera sembuh..."
"Kau yakin?" tanya Nuzlan sambil mendekat.
Nagini mengeluarkan sebuah tabung kecil dari balik mantelnya. "Aku tak tahu, apakah ini kebetulan... ataukah Lupricala memang memiliki kepekaan yang tinggi. Ketika aku hendak meninggalkan Kuil Bethania, dia menitipkan tabung berisi elixir dari bahan tanaman Kembang Mentari... katanya, aku akan memerlukan benda itu... dan nyatanya memang demikian..."
"Benarkah?" seru Nuzlan dengan antusias. Havard dan Selena sendiri maju dan mengamati tabung berisi ramuan dalam genggaman tangan Nagini.
Nagini mengangguk. "Aku pulang dan kudengar kalian semua berada di rumah sakit menunggui Do Quo yang terluka parah dalam pertandingan..." Wanita itu menatap tabung itu. "Bersyukurlah pada Tuhan atas semua kebetulan ini..."
"Bagaimana cara mengkonsumsinya?" tanya Nuzlan.
"Suntikkan saja elixir ini ke dalam kabel infus itu." ujar Nagini. "Nantinya cairan elixirnya akan menyatu dengan cairan infus itu dan terserap kedalam tubuh Do Quo..."
"Khasiatnya apa?" tanya Nuzlan.
"Menyembuhkan luka-luka fisik secara instan dan mengembalikan ketahanan tubuhnya kembali sediakala." jawab Nagini.
"Kemarikan benda itu." pinta Nuzlan meraih tabung elixir dalam genggaman Nagini.
Lelaki itu mencari-cari alat injeksi dalam rak obat-obatan di ruangan tersebut dan ia menemukannya. Segera Nuzlan memindahkan elixir itu kedalam alat injeksi kemudian menyuntikkannya ke dalam kabel infus.
Sebentuk cairan kuning cerah mengalir bersama-sama cairan infus, masuk ke dalam tubuh lelaki itu. Perlahan nan pasti elixir dari ramuan Kembang Mentari itu terserap. Havard, Nuzlan dan Selena mengamati dengan serius perubahan fisik Do Quo dari balik kaca tabung.
Ketiganya keheranan ketika menatapi luka-luka yang menghias tubuh Do Quo perlahan menghilang. Tubuh lelaki itu mulus sebagaimana sebelumnya. Tak lama kemudian kedua mata Do Quo membuka dan menoleh kekiri dan kanan lalu menatap ketiga sahabatnya yang mengamatinya dari balik kaca tabung inkubator.
"Juru rawat!!! Juru rawat!!!" teriak Selena dengan girang, berlari keluar. "Pasiennya sudah sembuh!!! Dia sudah sembuh!!!"
Havard dan Nuzlan saling berpelukan dengan perasaan lega luar biasa sedang Nagini hanya tersenyum datar saja.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan..." seru Nuzlan dengan bahagia lalu menatap Nagini dengan haru.
"Terima kasih Nagini.... untung saja ada kamu..." ujar Havard dengan penuh haru.[]