
Iringan pejalan itu menyusuri jalanan hutan dengan gembira. Nuzlan hanya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala memperhatikan Havard dan Selena yang lagi-lagi bertengkar mengklarifikasi tindakan lelaki itu yang dianggap Selena sebagai tindakan pelecehan seksual.
"Aku kan sudah bilang hanya memeriksa detak jantungmu!" tandas Havard berapi-api. "Kamu tahu? Kamu mengalami pembekuan tubuh ketika pingsan dan tubuhmu membatu! Bersyukurlah Nagini mengetahui penawarnya dan meminta kepada Lupricala untuk memberikan Bunga Panacium itu."
"Tapi kenapa harus meraba-raba payudara segala?! Kau seperti lelaki yang haus dengan hal semacam itu!" tukas Selena.
"Heh, siapa suruh payudaramu bertengger tepat didadamu! Lain kali, pindahkan payudaramu ke tempat mana saja supaya kau lega dan bebas dari prasangka itu!" balas Havard dengan sengit.
"Aku akan melaporkanmu pada ayah!" seru Selena kemudian.
"Kenapa kau harus melaporkan hal itu pada ayahmu?! Memangnya aku berbuat apa sampai dituduh sekeji itu?!" sahut Havard.
Karkadan tunggangan mereka menggerutu keras lalu menggoyang-goyangkan kepalanya yang bersurai. Selena menepuk-nepuk pantat hewan itu.
"Lihatlah, bahkan Bukefals saja mendukung kata-kataku!" ujar Selena.
Nagini menghela napas panjang. Ia menghentikan kudanya, membuat Nuzlan juga menghentikan kuda. Ia menatap Nagini yang berada didepannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nuzlan.
"Kelihatannya, kita akan sedikit terlambat tiba di Turan." ujar Nagini.
Nuzlan menggebah kuda membuat hewan itu mensejajarkan dirinya. Nuzlan menatap ke arah yang ditatapinya. Lelaki itu sejenak mengerutkan alis.
Dihadapan mereka berdiri sesosok demihuman berujud manusia serangga bertubuh hitam. Mata fasednya memantulkan bayangan keempat orang yang berada dikendaraannya.
"Surya Hitam..." ujar Nuzlan dengan pelan.
"Kau mengenalnya?" tanya Havard.
"Jangan turun dari kendaraan kalian." pesan Nuzlan. "Aku akan bicara dengan makhluk ini."
Havard mengangguk. Selena sendiri merapatkan tubuhnya kepada Havard membuat lelaki itu kemudian berbisik.
"Buatlah jarak sedikit. Aku tak mau lagi kau tuduh-tuduh lelaki penggila syahwat hanya gara-gara kedua payudaramu menyentuh punggungku!" bisik Havard membuat Selena memberenggut kesal dan sedikit membuat jarak duduk.
__ADS_1
Nagini sendiri hanya menatap angkuh diatas punggung kudanya. Nuzlan sendiri melangkah hingga berhadapan dan menyiagakan Pasak Bianglala dibelakangnya.
"Suatu hal yang tak kusangka, kau berada disini..." ujar Nuzlan dengan datar.
"Aku hanya ingin memberitahu hal yang patut kau tahu." jawab Surya Hitam kemudian melipat tangannya didada.
"Katakan saja..." ujar Nuzlan.
"Jika kedatanganmu ke Turan, hanya untuk menangkap basah pertemuan Lord Rotcshild dengan kami, kau hanya membuang waktu... sebaiknya pulanglah dan jagalah istana kesultanan." ujar Surya Hitam.
"Kau bicara seperti ini hanya untuk menjebakku dan menganggap pertemuan kalian tak pernah terlaksana? Telik sandi kesultanan memberikan data dan fakta yang valid..." bantah Nuzlan.
"Lalu, apakah dengan menangkapnya, kau berpikir bisa mencegah Raja Saul mengurungkan ekspansinya? Kau bermimpi..." ejek Surya Hitam sambil terkekeh.
"Setidaknya, aku bisa melakukan pencegahan demi pencegahan. Sultan Yazid al-Bustami akan berusaha dengan keras untuk menjaga garis kedaulatan wilayahnya." tandas Nuzlan. "Satu hal lagi. Penyerangan kalian ke Norchburg dan Moull, itu tak akan merubah peta kekuasaan Kerajaan Yahuda menjadi lebih luas."
"Kita akan buktikan hal itu disini!" ujar Surya Hitam seketika memasang jurusnya.
__ADS_1
"Datangilah!" balas Nuzlan mengacungkan tombaknya.[]