
Malam melingkupi udara yang menyelimuti Norchburg. Pasukan pengamanan telah dipersiapkan disetiap sudut benteng. Nampak dibagian selatan terlihat pasukan dari Tel-Qahira berjaga-jaga. Pasukan itu terlihat khas karena mengenakan baju jirah tahan proyektil terbuat dari rajutan benang kevlar yang dijalin bersama serbuk halus mythril. Helm mereka berbentuk kubah yang diikat dengan surban merah. Mereka bersenjatakan pedang dari baja khusus. Adapun pasukan yang dilengkapi peralatan sayap Icarus melakukan pengawasan sesekali di udara.
Havard berdiri menyandarkan pinggulnya pada dinding benteng. Ia mengamati hutan. Disebelahnya, Nuzlan memperhatikan beberapa pasukan Tel-Qahira yang hilir mudik dibagian bawah dinding pengawas.
"Malam ini begitu hening..." gumam Havard mengelus-elus sarung belati panjangnya.
"Semoga saja tetap damai seperti ini keadaannya..." sahut Nuzlan berharap. "Siapapun tak suka menghadapi musuh yang menyerang pada malam hari..."
"Aku curiga dengan isi hutan ini..." gumam Havard lagi. Matanya kali ini semakin memicing.
"Hewan-hewan disana mungkin sementara istirahat. Havard menggeleng.
"Sebaliknya..." tukasnya. "Aku justru yakin, mereka sekarang bersembunyi dalam hutan itu..."
"Kau terlalu curiga..." sindir Nuzlan.
"Dari pengalaman yang kulalui... hutan mampu menyamarkan pasukan penyergap. Hutan berbeda dengan area lain semisal padang rumput, gurun atau pegunungan dan lautan. Siapapun yang hendak melakukan penyergapan, tentunya lebih memilih hutan ketimbang mendirikan perkemahan ditempat lain." ujar Havard.
"Tapi kita tidak mendapati hal-hal yang mencurigakan... semisal asap dari api unggun, atau bau masakan dari arah hutan?" tukas Nuzlan menatapi Havard.
"Aroma makanan bisa saja terhembus oleh angin..." ujar Havard. "Dan jika mereka memasang perapian, tentu itu tindakan paling bodoh..."
"Hei, bukankah mereka perlu makan dan minum?" tukas Nuzlan. "Meskipun Kerajaan Yahuda memiliki teknologi yang maju, bukan berarti ia menyerahkan serangan ini pada sekumpulan cyborg, kan?"
Tak lama kemudian Selena muncul. Pakaian ringkasnya terlihat begitu pas ditubuhnya. Gadis itu menyanggul rambutnya. Sebuah andong penuh anak panah terpasang dipunggungnya. Tangannya menggenggam busur besar.
"Ah, datanglah putri pemburu kita..." sindir Havard membuat Selena mendecak kesal dan menatapnya dengan sinis.
"Aku kan sudah minta maaf... kenapa kau masih senang saja membuatku marah Havard?" tegur Selena dengan ketus.
"Siapa yang menyindirmu?" kilah Selena. "Kurasa kau harus lebih sering membersihkan telingamu itu..."
Selena mengencangkan rahangnya menahan kemarahan. Nuzlan buru-buru melerai.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi..." lerai lelaki itu. "Kalau kalian masih juga bertengkar, aku akan segera memanggil penghulu untuk menikahkan kalian. Mengerti?!" ancamnya pura-pura marah.
"Siapa yang mau menikahi kura-kura ini?" olok Selena seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Siapa juga yang mau menikahi kamu?" balas Havard.
Nuzlan tertawa. "Justru itu semakin meyakinkan aku bahwa kalian berdua ini sebenarnya punya hubungan khusus..." oloknya pula.
"Nggak lucu!!!" seru mereka berbarengan. Sejenak kemudian mereka kaget sendiri dan masing-masing membuang mukanya.
"Kurasa kalian ini memang lebih bagus segera menikah..." olok Nuzlan lagi. "Akan terlihat panas dan mesranya..." tambahnya lalu tertawa puas.
"Ah, aku tak mau menikahi lelaki yang hanya tahu bepergian saja. Lelaki begitu sangat nyata gombalnya..." olok Selena.
Havard tidak menghiraukan ocehan gadis itu. Ia memusatkan perhatiannya pada hutan. Tatapannya menajam.
"Bisa jadi lelaki itu memiliki gundik disetiap kota yang disinggahinya..." tambah Selena makin memanasi suasana.
Nuzlan tertawa saja melihat Selena mempecundangi Havard dengan ocehannya. Namun tawa panglima itu seketika sirna melihat tatapan Havard yang serius terarah ke hutan.
Havard menunjuk sekawanan burung yang terbang dari pepohonan. "Ada gerakan! Mereka dalam perjalanan kemari! Status darurat perang!!!" serunya.
Seketika Nuzlan berlari ke menara pengawas dan membunyikan sirene.
NGUUUUUUUUUUNG....NGUUUUUUUNG... NGUUUUUUUUNGGG....
Terdengar sirene menyayat udara hening malam itu. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pintu benteng bagian selatan ambrol dan menyeruaklah sepasukan tentara berujud rangka yang terbuat dari baja, bersenjatakan pedang menghambur kedalam benteng.
"Sialan! Seperti perkiraanmu! mereka mengerahkan pasukan robot untuk menyerang kita!!!" seru Nuzlan dengan geram dan akhirnya ia melompat turun menjejaki atap-atap pemukiman dan mendarat dengan bagus ditanah.
"Jangan biarkan mereka masuk! Jangan biarkan mereka masuk!!!" seru Nuzlan dengan lantang sambil maju menusukkan Pasak Bianglala ke salah satu robot. Manusia mesin itu seketika roboh dan kehilangan fungsi geraknya. Panglima itu terus mengamuk, menyabet dan menusuk ke arah kumpulan prajurit-prajurit sibernetik yang maju menyerang.
Havard sendiri menyerang para robot yang memanjati dinding benteng. Ia menebasnya dengan kopesh sehingga robot-robot itu jatuh kembali ketanah. Selena membidik beberapa robot yang keluar dari hutan. Robot-robot yang tertembak panah mengeluarkan bunyi ledakan dan menghingar-bingarkan suasana.
__ADS_1
Havard mendatangi menara pengawas. Disana ada tentara Norchburg yang bertugas sebagai pengirim dan penerima berita.
"Bagaimana status pertahanan ditempat lain?" tanya Havard.
"Prajurit Norchburg dibeberapa pos, berhasil menghalau para penyerang." jawab petugas tersebut. "Yang paling gencar, kayaknya di pos ini... mereka mengirimkan pasukan yang sulit dibunuh!"
Baru saja Havard mendengar berita itu, tiba-tiba terdengar suara deru diatas langit. Nampak drone-drone raksasa berujud pesawat nirawak melaju membelah angkasa malam. Mereka menembakkan beberapa misil ringan yang cukup merepotkan pasukan Tel-Qahira.
"Peleton Icarus!!! lakukan tugasmu!!!" seru Nuzlan dengan lantang. Seketika dua ratus orang prajurit Tel-Qahira mengembangkan sayap buatan dan melesat ke angkasa, mengejar drone-drone tersebut. Beberapa diantaranya berhasil menembak jatuh drone musuh, namun sebagian lainnya juga tewas ditembak oleh pesawat tanpa awak tersebut.
Ditengah keributan dahsyat peperangan itu, muncul dari gerbang sesosok pria berkulit putih dengan rambut hitamnya yang diurai. Ia mengenakan baju jirah dari bahan mythril hitam yang dipasangi kenop-kenop besar dibagian dada, perut dan sabuknya. Sebuah kapak besar dengan hulu palu disisi lainnya tergenggam ditangannya yang bersepir besar itu.
Wajahnya yang beringas dihiasi kumis dan cambang tebal itu berseru. "Merahkan pedangmu dengan darah orang-orang Norchburg!!!" serunya dengan lantang sambil membabati setiap prajurit Tel-Qahira yang ditemukannya.
Havard menggeram dan melompat turun dari menara pengawas. Sambil menjatuhkan satu persatu tentara robot itu, ia mendekati tempat dimana lelaki penyandang kapak itu berpijak.
"Hei, kau! Akulah lawanmu!!!" seru Havard menyiagakan kopesh.
Lelaki itu menatap Havard sejenak lalu mengangguk. "Hm... lawan sepadan bagi Thor Donnerstein... majulah!!!
Havard seketika berteriak maju mengayunkan pedang bengkoknya. Pertempuran satu lawan satu itu terlihat begitu seru. Prajurit-prajurit Tel-Qahira sengaja menjauh dari area itu memberi ruang bagi keduanya memperlihatkan teknik-telnik terbaiknya dalam pertarungan tersebut. Lainnya tetap menggempur robot-robot yang terlanjur memasuki pemukiman penduduk.
Sementara jauh diangkasa, pasukan Icarus berhasil menjatuhkan semua drone yang beterbangan. Mereka memenangkan pertempuran meskipun memang dibayar mahal dengan berkurangnya separuh jumlah personel mereka.
Sementara pertarungan antara Havard dan Thor Donnerstein berlangsung seru. Namun dalam pukulan berikutnya, terjadi benturan keras.
KRAKKK!!!!
Senjata kopesh milik Havard patah membuat pemuda itu terkejut. Ditengah kebingungannya, Thor mempergunakan kesempatan itu mengayunkan senjatanya ke arah Havard.
BUKKKK!!!! OOHHH...
Bagian pendentam dari senjata kapak lelaki itu menghantam telak dada Havard. Lelaki itu terlempar jauh dan menghantam dinding benteng dengan keras. Havard jatuh pingsan. Thor mendekat.
__ADS_1
"Lawan yang seimbang buatku..." ujar lelaki itu kemudian mengangkat kapaknya, siap menetak tubuh lawannya yang pingsan.
"Aku terhormat bisa menghabisi nyawamu!!!" serunya mengayunkan kapak itu dengan cepat.[]