
Nuzlan meninggalkan Kastil Moull, di temani Havard, Selena dan Nagini. Pihak kastil sendiri menghadiahkan sebuah kuda bagus untuk kendaraan Nuzlan.
"Ini adalah Brazen... kuda kesayangan sang earl." ujar pengurus rumah tangga kastil. "Sayangnya, Beliau sekarang terbaring sakit akibat luka-lukanya..." lelaki tua mengeluh. "Akan butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka semacam itu..."
"Jangan kuatir..." ujar Nuzlan menenangkan hati pria tersebut. "Aku akan membalaskan dendam tuanmu. Bagaimanapun, menjadi kewajiban bagi Sultan Yazid al-Bustami untuk membersihkan pekarangan rumahnya dari hama-hama yang menggerogoti kedaulatan..."
Pengurus kastil itu menyerahkan Brazen kepada Nuzlan. Lelaki itu sangat berterima kasih karena tunggangannya termasuk hewan berkualitas dari segi kecepatan lari.
Karkadan milik Havard memang tidak secepat kuda. Kelebihan Bukefals adalah kulitnya yang sekeras batu sehingga bisa dijadikan tameng perlindungan saat melakukan serangan diatas kendaraan. Culanya bisa berfungsi sebagai senjata untuk melawan musuh.
"Sebentar lagi kita akan memasuki hutan raya..." ujar Nuzlan menatap Havard yang duduk diatas pelana. Dibelakangnya, nampak Selena duduk membonceng. Sebelum keberangkatan, Selena sebenarnya sudah ditawarkan kuda oleh pengurus kastil, namun Havard ngotot bahwa Selena harus duduk diatas punggung Bukefals bersamanya.
Nuzlan menahan senyumnya mendengar permintaan kekanak-kanakan itu dan ia memilih mengalah, menyanggupinya dan meminta Selena untuk mematuhi permintaan tersebut.
Nagini mengangguk. "Kita harus hati-hati saat menjelajah hutan ini..." Ujarnya.
__ADS_1
Havard menatap Nagini. "Ada yang harus ku ketahui tentang hutan ini?" tanya lelaki itu dengan sikap siaga yang disamarkan.
Nagini menoleh ke arah hutan yang sebentar lagi mereka masuki. "Kabarnya, didalam hutan ini ada sekumpulan mutan berbahaya... mereka disebut Arachnas..."
"Arachnas?" desis Havard memicingkan mata. Selena sendiri tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ke dekat Havard. Nagini mengangguk lagi.
"Mereka pandai merajut..." ujar Nagini memelankan laju kudanya. "Dan mereka termasuk karnivora..."
"Mutan karnivora? Agaknya itu mengerikan." ujar Selena lalu menatap tengkuk Havard.
Merasa ditatapi, Havard menoleh memandang Selena. "Kamu takut? Aku kan sudah berapa kali mengatakan kalau ekspedisi ini bukan berwisata... sekarang? Kamu merasa takut?" oloknya.
"Kita akan segera tahu..." ujar Havard dengan senyum nakal membuat Selena mengkerut ketakutan.
Ketiga ekor hewan tunggangan itu mulai memasuki hutan tersebut. Havard terus menatap lorong-lorong hutan tersebut dengan tatapan waspada sementara Selena asyik memperhatikan sekitarnya dengan hati riang.
__ADS_1
Nuzlan turut pula mempertajam indera penglihatan dan pendengarannya. Sementara Nagini dengan tatapan misteriusnya.
Mereka memutuskan istirahat ketika melihat arloji digital yang melingkar ditangan Nuzlan yang terbalut lengan besi itu menunjukkan pukul 12 siang. Untungnya, Pengurus kastil memberikan logistik yang banyak. Kesemuanya tergantung dengan aman dibagian pinggul Bukefals. Havard mengeluarkan sebagian logistik dan menyerahkannya kepada Nuzlan untuk dimasak.
Sambil menunggu makanan itu siap saji, Nagini memperhatikan sekitaran dan alisnya sejenak berkerut. Ia menarik napas.
"Kelihatannya, kita dekat dengan lokasi kaum Arachnas..." ujar Nagini.
"Kenapa?" tanya Selena.
Nagini menunjuk ke suatu tempat. "Lihat disana... tempat itu dipenuhi laba-laba... Arachnas sangat menyukai laba-laba karena mereka mirip dengan hewan tersebut."
Havard memperhatikan belati panjang yang dihunusnya. "Ah, kalau saja kopesh milikku tidak patah..."
Nuzlan tersenyum dan mengangguk-angguk. "Tenang....aku akan memesankan senjata baru untukmu.." ujarnya memenangkan hati Havard. "Yang penting kita tiba dulu di Turan..."
__ADS_1
Tiba-tiba sesuatu dari semak-semak bergetar dan menyeruak keluar membuat keempat orang itu terlonjak kaget.
"AWASSSS.....[]