MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
GUA BASILISK


__ADS_3

Nuzlan mengangguk. "Benar. Gua Basilisk... itu adalah sebuah gua yang sekaligus menjadi jalan terowongan bagi pelintas wilayah bagian utara."


Selena menatap Havard yang hanya diam. Nuzlan melanjutkan, "Kalau kita bisa melewati gua itu, akses kita ke Kota Tel-Qahira akan lebih singkat sebab mulut gua diseberangnya sudah berbatasan dengan pegunungan barisan yang bersebelahan dengan desa-desa dan lahan‐lahan pertanian..."


Havard menghela napas lalu mengangguk. "Baiklah... kuharap kamu benar. Aku sebenarnya punya firasat jelek tentang gua itu..."


"Tentang apa?" tanya Nuzlan.


Havard lama terdiam lalu menggeleng. "Tidak. Lupakan saja..." Ia berdiri sambil menggenggam kopesh. "Mari kita pergi... lebih cepat, lebih baik."


"Usul yang bagus." sahut Nuzlan.


Mereka kemudian mematikan perapian dan Nuzlan menumpahkan sisa-sisa sup ke tanah. Biarlah itu menjadi rejeki dari renik-renik yang menghampar di tanah.

__ADS_1


Ketiganya melangkah meninggalkan tempat itu. Sekali lagi, Havard dan Selena mengikuti Nuzlan yang seakan tahu rute jalanan yang akan dilaluinya.


Untung saja Selena kemarin menyimpan daging terwelu yang tak disantap Havard semalam. Ia memotongnya menjadi kepingan-kepingan kecil dijadikan sebagai dendeng untuk bekal perjalanan.


Mereka menyusuri hutan belukar. Nuzlan bertindak sebagai perintis jalan sementara Havard membersihkan bekas-bekas rintisan yang dibuat Nuzlan. Selena sendiri hanya mengamati dan sesekali waspada dengan keadaan sekitarnya.


Perjalanan itu menempuh jarak setengah hari. Menjelang senja, ketiga tiba di mulut gua.


"Nah, inilah Gua Basilisk." ujar Nuzlan menunjuk moncong gua tersebut. "Kita masuk sekarang?"


Havard menatap gadis itu. "Kamu pilih mana? Kita susuri gua ini dan riba diseberang tepat waktu pagi, atau kita istirahat sejenak dengan resiko memasuki gua pas gelap. Aku tak menjamin hewan-hewan nokturnal tidak akan menemukan kita disini..." ujarnya.


"Yaaaa... kita masuk saja..." timpal Selena dengan kesal namun tak dihiraukan Havard. Lelaki itu mempersilahkan Nuzlan untuk memandu mereka memasuki gua.

__ADS_1


Nuzlan masuk pertama kali kemudian disusul oleh Selena. Sedangkan Havard masuk paling terakhir sebab mengamati dan mengawasi sekitarnya dengan cermat. Mereka bertiga menyusuri lantai berbatu-batu.


"Wah, indah sekali tempat ini..." puji Selena mengamati dinding-dinding gua. "Lihatkah Stagmit dan stalagmitnya... begitu indah menjulang." tunjuk Selena kearah batang-batang stalagmit yang sudah menyatu dengan stagmit menjulang di tanah. Tak lama kemudian mereka menemukan sungai dalam gua. Beberapa tonjolan batu nampak di permukaan air yang arusnya deras. Ketiganya mulai menyeberang dengan cara melompati bebatuan yang menjulang muncul dari balik deras air. yang


"Tentu... aku sudah sering menyusuri gua ini..." ujar Nuzlan kembali Ali dengan bangga. "Dan kalian harus tahu bahwa gua ini menyimpan..."


Belum sempat Nuzlan menginjak bebatuan, kakinya terpelesat dan lelaki itu terjatuh ke sungai lalu terbawa arus.


"Nuzlan!!!" seru Havard dengan kaget dan menyerahkan pedang bengkoknya kepada Selena sedang dia sendiri terjun menyusul Nuzlan yang sudah terbawa arus dan berupaya bertahan hidup.


Selena sendiri berhasil menyeberang dan mengejar Nuzlan melalui bibir sungai. Havard sendiri berenang cepat mengejar Nuzlan hingga akhirnya ia mendapatkan tubuh lelaki itu. Segera Havard menyeret tubuh Nuzlan hingga ke pinggir sungai dan mendamparkannya.


"Kau tak apa-apa kawan?" tanya Havard ditengah nafasnya yang tak beraturan lagi.

__ADS_1


Nuzlan hanya bisa mengangguk saja sambil terbatuk-batuk.[]


__ADS_2