MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
MENGATUR STRATEGI


__ADS_3

Satu brigade tersebut dibawa ke barak prajurit dan dijamu dengan layak sementara para pimpinannya dibawa menuju kastil. Nuzlan melangkah paling depan dan Havard beserta Selana dibelakangnya. Dibelakang mereka bertiga terdapat tiga orang komandan kompi yang dipandu menghadap kepada Raja Sores di aula utama.


"Selamat datang, utusan dari Tel-Qahira... semoga penyambutan kami berkenan dihati anda sekalian." sambut Raja Sores yang bangkit dari tahtanya.


Nuzlan dan yang lainnya langsung berlutut dan menjura. "Maafkan jika kedatangan kami membuat kaget seluruh penduduk Norchburg... kami membawa pesan dari junjungan kami, Sultan Yazid al-Bustami."


Nuzlan mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Jenderal Connor. Pimpinan pasukan Norchburg itu membawa pesan itu ke hadapan Raja Sores. Ia membuka amplop dan mengeluarkan secarik kertas kemudian membaca isinya. Sejenak raut wajah Raja Sores berubah lalu kembali tenang sebagaimana biasanya.


"Silahkan duduk, para utusan dari Tel-Qahira..." ujar Raja Sores mempersilahkan.


Nuzlan menjura lagi lalu duduk ditempat yang disediakan di ruangan itu, bersama-sama dengan yang lainnya. Raja Sores menatap Jenderal Connor. "Undang menteri pertahanan dan perdana menteri kemari." titah Raja Sores.


Jenderal Connor membungkuk sejenak lalu berbalik langkah meninggalkan aula utama. Sepeninggal jenderal tersebut, Raja Sores kembali duduk dan menatap Nuzlan dengan senyum terkembang.


"Bagaimana kabarnya Sultan Yazid? Bagaimana pula kabarnya adikku Jennifer?" tanya Raja Sores dengan antusias.


"Alamat kebahagiaan datang keharibaan anda Yang Mulia. Selir muda Zuhrah (Jennifer) telah mengandung seorang putra..." jawab Nuzlan membungkuk sopan dalam duduknya.


"Benarkah?" seru Raja Sores dengan gembira. "Aku harus mengirimkan lagi beberapa seserahan ke Tel-Qahira... sebagai rasa syukur bahwa Norchburg akan segera memiliki pemimpin yang baru."


"Pemimpin baru?" ujar Nuzlan dengan senyum.

__ADS_1


"Kau tahu kan?" ujar Raja Sores tersipu. "Sampai saat ini, aku belum diberkahi keturunan dari tulang sulbiku sendiri..." Raja Norchburg itu mendesah dan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. "Klan-klan yang berkuasa di Norchburg mendesak agar aku memilih salah satu diantara anggota keluarga mereka untuk memegang tampuk kepemimpinan ini..." ujarnya dengan lesu namun sesaat kemudian wajahnya kembali gembira. "Dengan calon anak yang dikandung Jennifer, aku bisa mempertahankan tahta tetap berada dalam lingkaran dalam trah Mac Donald." ujarnya lalu tertawa.


Nuzlan hanya tersenyum menanggapi kegembiraan Raja Norchburg tersebut. "Saya harap itulah yang akan terjadi." sambung Nuzlan menyemangati Sores.


Tak lama kemudian, dua pejabat yang diundang tiba di aula dikawal oleh Jenderal Connor.


"Duduklah..." pinta Raja Sores kepada dua pejabatnya. Wajahnya kembali serius. Kedua pejabat itu duduk dekat singgasana. Sores menatap mereka berdua.


"Aku mendapat pesan dari sekutuku sekalian iparku, Sultan Yazid al-Bustami... ia memberitahukan bahwa Kerajaan Yahuda telah melakukan ekspansi militer mengganggu kedaulatan wilayah-wilayah di utara...." ujar Sores dengan serius.


Kedua pejabat itu menatapi Nuzlan dan rombongannya sejenak lalu mengalihkan kembali tatapan mereka kepada sang raja.


Sores melanjutkan, "Beberapa waktu lalu mereka melakukan agresi militer secara kilat ke Las Mecca, entah dengan tujuan apa... dan sahabat kita ini..." sang raja menunjuk Nuzlan, "Menyampaikan kepada rajanya bahwa dia sempat mendengar pembicaraan pribadi antara salah seorang pengkhianat dengan utusan dari Kerajaan Yahuda, bahwa mereka akan melakukan ekspansi militer ke wilayah kita..."


"Pengkhianat dari pihak Tel-Qahira?" desis perdana menteri dengan sinis. "Kurasa memang ada yang ingin hubungan bilateral antara kerajaan kita tidak berjalan baik." sindirnya.


Nuzlan merah wajahnya disindir begitu rupa, sedang tiga komandan peleton hanya bisa menahan kemarahannya. Nuzlan tersenyum menyingkirkan perasaannya.


"Sebenarnya pengkhianatan itu bukan ditujukan untuk merusak hubungan persahabatan antara Norchburg dengan Tel-Qahira... tapi, pengkhianat ini menjadi kaki-tangan Raja Saul untuk meluaskan kekuasaan..." jawab Nuzlan menepis sindiran perdana menteri tersebut. "Aku mendapat beberapa informasi yang valid terkait hal itu..."


Nuzlan bangkit dan berdiri ditengah aula agar perhatian para audiens tertuju kepadanya.

__ADS_1


"Ada selentingan gosip yang beredar di selatan dan barat daya... Raja Saul menjalin persekutuan dengan segolongan orang yang ingin membangkitkan lagi Kerajaan Samirah yang pernah jaya dibawah kepemimpinan Raja Bushlak." ujar Nuzlan menatapi satu persatu audiens. "Dan menurut hikayat-hikayat kuno yang saya kaji di Bait Al-Hikmah, raja dari bangsa Gog itu tidak tewas, namun disegel entah dibagian mana dibelahan bumi ini, menunggu pengikutnya yang paling setia untuk membebaskannya dan memulai lagi pemerintahan teror..."


"Menurutmu... Raja Saul ingin memperalat kekuasaan Raja Bushlak demi kepentingan pribadinya?" pancing Raja Sores memicingkan mata.


"Arahnya kesitu, Yang Mulia." jawab Nuzlan dengan mantap. "Dia juga merekrut golongan orang-orang kuat... kabarnya, golongan itu akan menyerbu wilayah-wilayah utara... itulah sebabnya saya memohon kepada Sultan Yazid untuk mengirimkan ekspedisi ini... kami juga akan mengunjungi Earl of Moul, Sir Wayne Longbottom dengan misi yang sama..." ujar jenderal tersebut kemudian kembali duduk dikursinya.


"Kurasa... kita harus segera mempersiapkan pertahanan... saya akan segera mengumpulkan kekuatan." ujar menteri pertahanan.


"Bagian mana dari benteng ini yang paling lemah?" tanya Havard tiba-tiba.


Menteri pertahanan termangu sesaat lalu menjawab. "Bagian selatan benteng, berbatasan dengan hutan raksasa yang membentang disepanjang kawasan utara ini."


Havard mengangguk-angguk sejenak. Nuzlan bertanya. "Kenapa Havard?"


"Biarlah satu brigade dari Tel-Qahira akan memperkuat bagian selatan... sementara bagian lainnya tetap dipertahankan oleh tentara reguler..." saran Havard.


Nuzlan mengangguk-angguk lalu tersenyum. Ia menatap Sores. "Bagaimana pendapat Baginda?" pancingnya.


Sores menatap menteri pertahanan. "Bagaimana menurutmu?"


"Usul yang bagus, Yang Mulia..." jawab menteri pertahanan.

__ADS_1


Sores mengangguk-angguk dengan senang dan berkata. "Kurasa kita bisa segera membentuk pertahanan semesta dalam benteng ini..." raja itu bangkit dari singgasananya dan melangkah ke tengah aula.


"Aku ingin melihat sejauh mana kecongkakan orang-orang dari selatan ketika mereka berniat menjamah wilayah-wilayah utara..." ujarnya dengan datar diikuti anggukan persetujuan dari jenderal Connor dan menteri pertahanan.[]


__ADS_2