
Dua lelaki itu duduk berselonjor pada kursi-kursi malas ditemani dua kerat minuman dan sepiring penganan. Selena sendiri menemani Ummu Nazila diperaduannya. Kini wanita itu menemukan anak perempuan yang mau menemani hidupnya yang menjelang sandyakala.
"Lihatlah konstelasi-konstelasi bintang itu." ujar Nuzlan menunjuk salah satu konstelasi bintang yang dilihatnya. "Bukankah Tuhan menciptakan semuanya tidak sia-sia?"
"Nuzlan... aku boleh mengemukakan pertanyaan?" tanya Havard tiba-tiba.
Nuzlan menurunkan tangannya dan beralih menatap Havard yang tidur-tiduran santai dengan pandangan tetap ke arah angkasa malam itu.
"Apa sebenarnya tujuanmu di Benteng Maung?" tanya Havard. "Kurasa... alasan mencari seorang menteri... tidak relevan dengan akibat yang kau derita." lelaki itu kemudian menatap Nuzlan dengan tajam.
Nuzlan tersenyum lalu kembali menatap angkasa malam. "Aku memang mencari berita tentang Lord Rotcshild... dia adalah seorang pejabat menteri di Dewan Kabinet yang dibentuk Wazir Utama, Nizam al-Mulk..."
"Berita tentang Lord Rotcshild?" desis Havard.
Nuzlan mengangguk. "Ada isu tak sedap yang mengarungi awan politik di Istana kesultanan... menurut data yang dikumpulkan telik sandi, Lord Rotcshild sedang menjalin hubungan ambiguitas dengan Kerajaan Yahuda." Nuzlan memiringkan tubuhnya dan menatap Havard. "Jadi aku melakukan penyelidikan mandiri langsung yang menuntunku sampai ke Benteng Maung..."
"Lalu, apa yang kau temukan?" tanya Havard.
"Belum sepenuhnya..." jawab Nuzlan. "Tapi, aku yakin... memang ada simbiosis ambiguitas yang sementara terjalin... tapi aku tidak bisa langsung merumuskan bahwa Lord Rotcshild terlibat secara langsung..."
"Apakah Tigris adalah kaki-tangan dari Raja Saul?" tebak Havard.
"Tigris dan kawanannya memang menjalin persekutuan dengan Kerajaan Yahuda... tapi itu tak bisa menjamin kalau Raja Saul berniat melakukan ekspansi ke utara... Dia akan berhadapan dengan penguasa-penguasa wilayah utara... salah satunya dengan Sultan Yazid al-Bustami." ujar Nuzlan dengan serius.
"Kau sudah melaporkan kegiatanmu kepada Yang mulia Sultan?" tanya Havard lagi.
__ADS_1
"Sudah... Dia sudah memahaminya dan memintaku melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk menemukan bukti-bukti itu." jawab Nuzlan kembali menatap angkasa.
Havard membuang napasnya lalu mengambil sebotol minuman dan menegak isinya.
"Aku mengambil cuti selama beberapa hari paska kepulangan kita dari Gua Basilisk... Aku juga melaporkan bahwa penghuni gua itu sudah tewas... dengan begitu, kami bisa menambang isi gua dengan leluasa..." sambung Nuzlan.
"Memang ada apa saja dalam gua itu?" tanya Havard ingin tahu.
"Tim ekspedisi kami sebelumnya menemukan kandungan bijih besi, emas dan orihalcon dalam gua tersebut...sayangnya ekspedisi berikutnya ditunda sebab tim ekspedisi pertama sebagian besarnya tewas dimangsa Euryale... kini... kami bisa melakukan eksplorasi sampai ke hulu gua... siapa tahu masih banyak mineral yang bisa kami temukan disana..." ujar Nuzlan lalu menatap Havard.
"Kamu tenang saja... hasil eksvakasi, akan kuberikan padamu sebesar tiga puluh persen..." ujarnya dengan wajah jenaka.
"Lalu... setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Havard.
"Boleh aku menemanimu ke istana?" tanya Havard.
Nuzlan tersenyum senang. "Tentu saja boleh." lelaki itu menatap pakaian yang dikenakan Havard. "Tentunya tidak dengan pakaian seperti itu..."
Havard hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
...***...
Havard terasa risih menggunakan pakaian berkelas itu. Namun, untuk bisa memasuki istana kesultanan, memang harus mengenakan pakaian khusus, kecuali ia seorang dari kasta militer, boleh-boleh saja mengenakan pakaian perang ketika menghadap seorang penguasa.
Selena sendiri sebisanya tidak mengeluarkan tawa, meskipun dalam hatinya begitu geli, sebab maskulinitas Havard seketika pudar saat mengenakan jubah toga itu.
__ADS_1
"Kau tampan dalam pakaian itu nak." puji Ummu Nazila.
"Benarkah, Nyonya?" tanya Havard dengan ragu kemudian menatap dirinya di cermin.
"Kau sangat mirip dengan seorang bangsawan..." ujar Ummu Nazila kemudian terkesiap. "Atau... jangan-jangan kau memang keturunan bangsawan?"
"Nggak mungkin Ibu..." sela Selena dengan cepat dan tersenyum geli. "Seorang raja tak akan bisa mengangkat kopesh seberat sepuluh kilogram itu...dan seorang raja nggak mungkin memiliki otot seperti itu, kecuali...dia memang raja bar-bar..." komentar gadis itu setengah mengolok.
Havard melempar tatapan sinis ke arah Selena. Tak lama kemudian Nuzlan muncul dengan pakaian perangnya, lengkap dengan tombak yang disandangnya.
"Bagaimana? Sudah siap berangkat?" tanya Nuzlan memperhatikan Havard yang menampakkan wajah tak nyaman.
"Bisakah aku meminjam pakaian sejenis yang kau kenakan?" pinta Havard tiba-tiba.
"Memangnya kenapa? Lagipula, kau bukan dari kasta militer..." ujar Nuzlan menerangkan.
"Tapi dengan toga ini, aku terlihat seperti seorang banci!" tukas Havard dengan ketus sambil mengembangkan tangannya.
"Berarti ketika mengenakan toga, aku terlihat seperti seorang banci?" tukas Nuzlan membalas.
"Bukan begitu maksudku..." kilah Havard.
"Sudahlah... ayo ikut." ajak Nuzlan. "Untuk saat ini, berlakulah seperti bangsawan..."
Terpaksa Havard mengalah dan mengikuti Nuzlan ke istana kesultanan dengan mengenakan pakaian yang paling tidak disukainya.[]
__ADS_1