MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
DISKUSI DITENGAH JAMUAN


__ADS_3

Keduanya disambut oleh penghuni rumah. Seorang wanita parobaya dengan rambut tersanggul. Sebuah tiara indah menghiasi sanggulnya. Pakaian wanita itu adalah sejenis gaun panjang yang di balut oleh jubah toga yang longgar.


"Selamat datang di Quba al-Bashir... mari masuk." sambut wanita itu dengan senyum ramah.


"Inilah ibuku...Beliau adalah Nyonya Dinara, putri dari mendiang Jenderal Besar Gibraloor." ujar Nuzlan memperkenalkan jati diri wanita itu.


"Kau terlalu membesar-besarkan, nak..." tegur wanita itu dengan lembut kemudian menatap Havard dan Selena. "Panggil saja aku, Ummu Nazila..."


"Salam Ummu Nazila..." sahut Selena dengan santun menjabat tangan wanita itu dan menciumnya.


"Aah... anak yang baik..." puji Ummu Nazila kemudian menatap Havard. "Apakah dia suamimu?" tanya wanita itu seketika membuat Havard terdiam dan wajahnya memerah. Adapun Selena langsung canggung sembari melirik Havard sembunyi-sembunyi.


"Ibu, keduanya belum menikah..." ujar Nuzlan menjelaskan.


"Ahhh... Kupikir kalian sudah menikah..." kata Ummu Nazila. "Sebab mereka cocok sekali..."


Nuzlan menatapi Havard. "Kuharap kau tak memikirkannya terlalu dalam. Maafkan kelancangan ibuku..." ujarnya.


"Tak apa-apa..." jawab Havard sedemikian canggungnya.


Mereka dipandu kedalam rumah. Adapun karkadan tunggangan Havard sudah diturunkan dari gerbong dan dituntun ke istal oleh pelayan untuk diurus dengan baik.


Mereka dibawa ke ruangan yang luas. Disana terdapat meja panjang yang mana terhampar banyak prasmanan dalam loyang-loyang pipih.


Nuzlan duduk disisi ibunya sedangkan diseberangnya nampak Havard dan Selena duduk berdampingan. Dua orang pelayan berdiri melayani keinginan yang sedang berhajat.


"Aku yakin kalian pasti belum melakukan apapun hari ini... mari kita nikmati makanan ala kadarnya ini... Semoga Tuhan memberkati kegiatan kita hari ini..." ujar Ummu Nazila.


Ala kadarnya? Makanan segini banyak disebut ala kadarnya? Makanan ini bisa menjamu seluruh penduduk Las Mecca...

__ADS_1


Selena membatin sendiri, takjub dengan berbagai jenis kuliner yang dipamerkan saat itu.


Pelayan telah membagikan beberapa lembar roti pipih kedalam piring perak yang tersedia. Sementara pelayan lainnya menuangkan air segar ke gelas-gelas tinggi.


"Silahkan... jangan sungkan..." ajak Ummu Nazila.


Keduanya mulai menyantap makanan. Havard dan Selena risih juga diperlakukan layaknya seorang majikan. Mereka terbiasa melayani diri sendiri. Namun, adab dan adat tetap harus dijunjung tinggi. Maka mereka mengorbankan saja perasaan mereka saat itu.


"Selena, aku berterima kasih... luka akibat tancapan kapak itu sudah sembuh..." ujar Nuzlan disela mereka menikmati santapan. Lelaki itu mengangkat sendoknya. "Kurasa, kau harus menimba ilmu lebih banyak di Akademi Asklepian..."


"Terima kasih atas pujiannya..." jawab Selena dengan santun.


"Benarkah dia mampu menyembuhkan luka?" tanya Ummu Nazila kepada Nuzlan dengan takjub lalu menatap Selena dengan kagum.


"Itu benar Ibu... aku benar-benar kagum dengan kecakapannya... bahkan tabib-tabib di Tel-Qahira... kurasa tidak akan secakap dan secepat itu membebat lukaku..." jawab Nuzlan kemudian mencelupkan roti ke dalam sup dan memakannya.


Ummu Nazila menatap Selena. "Nak, aku sangat berterima kasih atas segalanya..." ujarnya dengan senyum kekaguman.


"Kau jangan membesar-besarkan, Havard." tegur Selena setengah berbisik. "Aku tak sehebat itu."


"Ikutilah tawaranku nak. Sekolahlah di Akademi Asklepian... percayalah... aku akan memberimu beasiswa penuh untuk itu!" ujar Ummu Nazila.


Selena melebarkan matanya. "Benarkah Nyonya?" tanya gadis itu.


"Tentu saja!" tandas Ummu Nazila. "Sebuah permata yang bagus harus dipoles dengan sebaik-baiknya... kau harus mendalami bakatmu di Akademi Asklepian!"


"Terima kasih, Nyonya..." sambut Selena dengan gembira.


"Tapi ada syaratnya..." ujar Ummu Nazila dengan senyum nakal.

__ADS_1


Seketika Havard menatap wanita itu dengan tajam. Nuzlan menjadi salah tingkah sedang Selena disergap rasa cemas yang berupaya disembunyikannya.


"Apa... apa syaratnya, Nyonya?" tanya Selena dengan gugup.


Ummu Nazila mengangguk pelan lalu menarik napas. "Selama ini, Nuzlan merindukan adanya perempuan lain selain ibunya..."


"Apakah anda akan melamarnya?" sela Havard dengan cepat.


"Aku belum selesai bicara..." ujar wanita itu menatap Havard sejenak lalu kembali menatap Selena. "Jadi aku berniat mengambilmu menjadi bagian dari keluargaku..."


"Nyonya..." sahut Havard lagi.


"Maukah kau menjadi adiknya Nuzlan?" tanya Ummu Nazila.


"Nyonya..." sahut Selena kini didera perasaan haru.


"Maukah kau?" tanya Ummu Nazila kali ini dengan sangat lembut dan gemetar.


Selena tak mampu lagi berkata-kata. Anggukan cepat ia lakukan, mewakili pernyataan kesanggupannya seraya tangis bahagia membuncah dikelola matanya.


"Anak baik..." puji Ummu Nazila menatap Selena lalu kemudian memandang Nuzlan. "Kau kini punya adik perempuan, Nak..."


Nuzlan tersenyum dan mengangguk lalu menatap Selena. Dengan tatapan penuh haru, ia berucap. "Terimakasih, telah menjadi adikku..."


"Sekarang kau boleh memanggilku dengan sebutan, Ibu..." ujar Ummu Nazila dengan lega. "Nanti ku urus administrasi adopsinya..."


"Terimakasih... ibu..." ucap Selena dengan lirih.


Ummu Nazila mengangguk lalu tersenyum menggoda Havard. "Anak muda... apa kau pikir aku setega itu merampas Selena dari hatimu?"

__ADS_1


Godaan itu menghantam telak perasaan Havard membuat lelaki itu terbungkam seribu kata dengan wajah memerah bagai kepiting yang direbus dalam wajan seharian.[]


__ADS_2