
Seperti yang diperkirakan, turnamen itu di tunda esok hari setelah babak penyisihan selesai. Kontestan menyisakan sepuluh orang, termasuk Havard, Do Quo dan Sinhala diantaranya.
Panitia mengumumkan bahwa pertandingan semi final akan diadakan besok hari dan para kontestan dipersilahkan untuk menikmati istirahatnya di bangsal para satria.
Namun dengan pertimbangan khusus, Havard diperbolehkan oleh panitia kembali ke Penginapan Harem Bundi. Hal itu tak lepas dari peranan Nuzlan melobi pihak pelaksana pertandingan sehingga melonggarkan peraturan tersebut.
Havard membawa Do Quo menemui Nuzlan. Lelaki itu membungkuk hormat dihadapan panglima pasukan bersenjata Kesultanan Bustamiyah.
"Kehormatan besar bagi saya bisa bertemu dengan anda, Tuan Jenderal." ujar Do Quo. "Saya, Do Quo dari Pulau Daipeh... saya dan Havard adalah teman seperjalanan sejak berusia sembilan tahun..." tambahnya.
Nuzlan mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih, anda telah menjadi sahabat dari sahabat saya. Kesimpulannya... anda sahabat saya pula..." ujarnya kemudian mempersilahkan Do Quo duduk disalah satu sofa yang terdapat diruang santai penginapan tersebut.
Do Quo hendak duduk ketika Nagini muncul diruangan itu. Menatap Nagini, seketika Do Quo terpana sampai lupa caranya duduk. Tatapannya penuh kagum terarah kepada wanita bertiara tanduk itu.
Selena menahan tawa melihat Do Quo yang membungkukkan badan lupa hendak duduk. Begitu pula dengan Nuzlan. Akhirnya Havard menyenggol lengan Do Quo membuat lelaki itu kaget dan buru-buru duduk dengan gugup.
"Kamu kenapa?" bisik Havard.
Do Quo memalingkan wajahnya kepada Havard. "Aku baru melihat bidadari turun dari kayangan..." balasnya berbisik namun sempat terdengar oleh Selena membuat gadis itu tertawa renyah.
__ADS_1
Nagini kemudian duduk disisi Nuzlan menatap Do Quo. "Kamu berasal dari wilayah Tionggun? Kerajaan Zhou?" tebak wanita itu.
"Aahhh... anda sangat pandai menebak orang..." seru Do Quo yang akhirnya kehilangan rasa gugupnya. "Tebakan anda tidak salah, Nyonya..."
"Aku belum menikah..." sela Nagini dengan datar.
"Oh ya?" seru Do Quo. "Saya juga belum menikah..." jawabnya membuat Havard kembali menyodok pinggangnya.
Do Quo meringis kesakitan sementara Selena makin susah menahan tawanya. Lelaki itu menatap Havard dengan kesal.
"Kamu kenapa sih?" bisiknya dengan ketus.
"Kau bilang belum menikah? Kau sudah punya istri tiga, tahu?!" sergah Havard dengan berbisik.
"Kau mau mengesankan hati perempuan itu? Nggak bakalan! Dia itu perempuan dingin!" ujar Havard dengan berbisik pula.
"Kurasa perkenalan kita bukan untuk membicarakan status, Tuan Do Quo..." tegur Nagini dengan dingin.
"Ah, maafkan saya..." ujar Do Quo dengan merendah. "Saya selalu gugup jika berhadapan dengan perempuan cantik..."
__ADS_1
"Gombaaaallll...." olok Selena membuat Do Quo hanya tersenyum tersipu.
Nuzlan tersenyum. "Jika ingin lebih dekat, silahkan saja Tuan... Asalkan anda bisa melumerkan hatinya...."
Do Quo hanya kembali memamerkan senyum sipu-sipu. Havard menatapnya dengan kesal. Untuk menghilangkan kecanggungan Selena melangkah menuju panggung. Ia meraih pelantang dan berseru.
"Selamat malam...." sapanya.
Seketika pengunjung ruang santai itu menoleh menatap seorang gadis yang berdiri sembari memegang tangkai pelantang.
"Malam ini, Ijinkan saya menyanyikan sebuah tembang untuk menghibur anda sekalian..." ujar Selena.
Tak lama kemudian ia menyanyikan sebuah tembang dan para pengunjung pun terpesona mendengar suara merdu gadis itu.
Havard ternganga membuat Do Quo menyikut rusuknya. Havard meringis dan menatap Do Quo. "Kenapa sih?" tanya lelaki itu dengan ketus.
"Mengapa kau membuka mulutmu selebar itu? Apakah ini pertama kalinya kau mendengarnya menyanyi?" tanya Do Quo.
Havard menggeleng. "Tidak... tapi setiap ia menyanyi, tanpa sadar aku pasti seperti tadi..." jawab Havard membuat Do Quo mengerutkan alisnya dengan heran. Havard kembali menatap ke panggung dan tanpa sadar, mulutnya kembali membuka lebar.
__ADS_1
Sementara Nuzlan tersenyum-senyum. "Hmmm... tak kusangka... adik angkatku itu memiliki suara emas..." gumamnya.
Nagini sendiri hanya memamerkan senyum tipis yang anehnya membuat Do Quo kembali terpesona dan tanpa sadar ia berlaku seperti Havard.[]