
Amir kota Turan, Syaikh Fahril at-Tamim adalah seorang lelaki terhormat yang sangat menjaga hukum dan etika. Ia termasuk diantara pemimpin-pemimpin dunia yang disegani di jazirah timur dan utara. Dibawah pemerintahannya, kota Turan tumbuh menjadi kota yang maju.
Nuzlan sedang memeriksa dandanannya di cermin. Lelaki itu mengenakan pakaian yang berkerah tinggi berwarna hitam kemudian ditambahkannya dengan toga warna putih berbasis merah pada pinggirannya. Malam itu ia akan melakukan lawatan politik ke kantor keamiran kota Turan. Pejabat kantor telah memberitahu lewat mesin penjawab bahwa sang amir akan menemuinya selepas maghrib.
Lelaki itu menoleh menatap sebuah kotak kertas yang tergeletak di ranjang. Ia kemudian mengambilnya dan melangkah menuju pintu.
Nuzlan keluar dari kamarnya. Tangannya yang memegang kotak kertas itu disembunyikan di belakang. Ia melangkah santai menuju kamar Nagini. Didepan pintu, ia mengetoknya. Tak lama kemudian pintu itu membuka.
"Ada apa?" tanya Nagini dengan datar.
"Apakah Selena sudah keluar bersama Havard?" ujar Nuzlan balik bertanya. Nagini mengangguk.
Nuzlan mengangguk pula. "Kau tak ada acara malam ini?" pancing lelaki tersebut.
Nagini kembali menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Nuzlan tersenyum. "Apakah kau punya acara malam ini?" tanya lelaki itu kembali.
"Tidak ada." jawab Nagini. "Aku memilih berdiam saja dalam kamar.... aku tak punya siapapun dikota ini..."
"Aku punya tawaran yang lebih baik." ujar Nuzlan dengan senyum sembari memperbaiki sematan pin lambang keluarganya pada toga.
"Asalkan bukan disuruh berpura-pura lagi jadi istrimu." tukas Nagini mengerutkan alisnya.
Nuzlan tertawa lalu menggodanya. "Tapi, kau suka, kan?"
Nagini langsung melengos dan hendak menutup pintu. Nuzlan buru-buru menahan pintu itu.
"Jangan masukkan ke hati..." ujar Nuzlan dengan lembut. "Aku minta maaf jika kau tersinggung. Aku menyatakan kebohongan itu juga supaya kau bisa menyantap menu kesukaanmu."
"Salad Ayam Gampong bukan menu kesukaanku." ujar Nagini. "Aku hanya sengaja mengerjaimu..."
"Berarti kita sama-sama saling mengerjai." balas Nuzlan dengan senyum lagi. "Sekarang aku serius... kau mau menolongku malam ini?"
"Asalkan bukan untuk menjebakku." sindir Nagini lagi.
Nuzlan mengangguk. "Aku hendak menemui penguasa kota malam ini. Namun, jika aku pergi sendiri, kurasa itu bukan tindakan yang bijak sebab kurasa mata-mata Kerajaan Yahuda mengamati gerak-gerikku." ujarnya menarik napas sejenak. "Maukah kau menemaniku?"
Nagini sudah hendak menolak ketika Nuzlan buru-buru menjelaskan, "Untuk mengawal dan memastikan keselamatan seorang panglima sekaligus utusan dari Sultan Yazid al-Bustami."
"Hanya mengawal saja?" tukasnya dengan alis berkerut.
"Hanya mengawal saja." sahut Nuzlan.
"Baiklah..." ujar Nagini menyetujui usul lelaki itu. Nuzlan mengangguk lagi dan mengeluarkan tangannya yang memegang kotak kertas yang besar dan menyodorkannya kepada Nagini.
"Apa ini?" tanya Nagini.
"Pakaian..." jawab Nuzlan.
"Untuk apa?" tanya Nagini lagi dengan heran.
"Bukalah...." pinta Nuzlan.
Nagini masuk kedalam, membiarkan pintu kamar terbuka dan Nuzlan menyandarkan punggungnya ke sisi pintu. Wanita itu meletakkan kotak itu di ranjang dan membukanya. Kedua matanya melebar melihat sebuah pakaian mahal namun bergaya.
"Aku sengaja membeli pakaian yang mirip-mirip dengan penampilanmu, namun sedikit..." Nuzlan menjentikkan jari, "Yah... katakanlah berkelas..." lelaki itu kemudian mendatangi Nagini yang masih terpaku ditempatnya.
"Seorang pengawal pejabat kesultanan nggak boleh berpakaian yang tak layak. Makanya aku membelikan pakaian yang bisa kau kenakan dengan pantas dihadapan Syaikh Fahril at-Tamim." tambah Nuzlan dengan senyum.
__ADS_1
Nagini terdiam lagi. Nuzlan mendekat selangkah lagi. "Maafkan aku jika membuatmu tersinggung... tapi, aku juga hanya ingin membuatmu merasa pantas dihadapan siapapun... bisakah kau memahamiku???"
Nagini menghela napas kemudian dan mengangguk. "Tolong keluar sebentar, aku akan mengenakan pakaian ini."
"Bolehkah aku tetap dikamar ini?" goda Nuzlan membuat Nagini menatapnya dengan tajam. Lelaki itu mengangkat tangan dan berbalik keluar dari kamar sambil menutup pintunya.
Nuzlan melangkah mondar-mandir didepan kamar perempuan itu. Tak lama kemudian pintu membuka dan Nuzlan terpana melihat Nagini mengenakan pakaian yang dibelinya.
Seperti yang dikatakan Nuzlan, pakaian yang dikenakan Nagini mirip dengan pakaian yang dikenakannya tadi, hanya saja mungkin ditambahi disana-sini oleh penjahit sehingga terlihat lebih modis. Sangat serasi dengan tiara bertanduknya itu.
"Kau sangat cantik..." puji Nuzlan.
Nagini tersenyum tipis dan membungkukkan tubuhnya merespon pujian lelaki itu.
"Bisakah kita berangkat sekarang?" ujar Nuzlan mengulurkan tangan seakan meminta Nagini untuk menggamitnya. Namun wanita itu hanya diam saja ditempatnya, mungkin gugup oleh sikap Nuzlan yang dilihatnya begitu romantis.
Nuzlan tersenyum dan mengibaskan tangannya. "Lupakan saja... mari..." ajaknya.
Nuzlan melangkah keluar dari penginapan diikuti Nagini dari belakang. Sesampainya didepan jalan, ternyata mereka telah dijemput oleh kereta khusus yang dipersiapkan oleh Amir Kota Turan.
Nuzlan mengangguk saat pengawal membuka pintu kereta. Ia masuk dan menatap Nagini, mengisyaratkannya untuk masuk pula kedalam. Nagini mengikuti perintah Nuzlan dan keduanya kini duduk didalam kereta.
Kereta itu menyusuri jalanan, membelah arus pejalan kaki yang memenuhi jalanan utama. Tak lama kemudian kereta tiba di depan gerbang kantor keamiran.
Nuzlan turun dari kereta diikuti oleh Nagini. Kini wanita itu membiasakan diri melangkah disisi Nuzlan. Lelaki itu kembali tersenyum melihat wanita itu bersikap demikian.
Keduanya dikawal menuju kantor. Bangunan itu terlihat indah, menyamai istana raja-raja terdahulu. Bentuknya menyerupai manor, lengkap dengan menara-menara yang mendempet disetiap sisi-sisi bangunannya.
"Dihadapan Syaikh Fahril at-Tamim, janganlah berbicara terkecuali di minta." pesan Nuzlan. "Dia adalah lelaki yang sangat menjaga adab."
"Silahkan..." ujar pengurus tersebut membungkukkan tubuhnya disisi pintu ruangan. Nuzlan mendorong pintu itu dengan pelan dan melangkah masuk ditemani oleh Nagini.
Nampaklah sang amir, Syaikh Fahril at-Tamim duduk dengan santai dikursi kerjanya. Lelaki itu nampak berwibawa dengan kumis dan jenggotnya. Ia mengenakan kemeja sejenis kaftan lengkap dengan kancingnya yang dibuat secara horisontal. Sebuah selempang mirip jubah tersampir dibahunya, diselempang itu terpasang berbagai bintang kehormatan dan medali. Ia mengenakan celana yang dibungkus sepatu bot sampai dilutut. Diatas kepalanya terpasang sebuah turban yang ujungnya panjang menjuntai dan dililitkan panjang melingkar dileher.
Melihat Nuzlan yang datang, Syaikh Fahril at-Tamim berdiri dan melangkah menyambut lelaki itu sembari mengembangkan tangan.
"Selamat datang utusan kesultanan, salam sejahtera... salam sejahtera." ujarnya kemudian memeluk erat Nuzlan. Itu adalah adat yang digunakan untuk menjamu tamu di kota Turan. "Bagaimana kabarmu? Sehat bukan?" ujarnya melepas pelukannya.
"Aku sehat tak kurang suatu apa." jawab Nuzlan.
Syaikh Fahril at-Tamim kemudian menatap Nagini dan sedikit terdiam. Ia terpukau.
"Ini..." ujarnya bertanya kepada Nuzlan namun tatapannya menghujam kearah Nagini.
"Ini sahabat saya, Nagini dari Moull." jawab Nuzlan. "Dia menemani saya menemui anda..."
Syaikh Fahril at-Tamim mendatangi Nagini. "Apakah kita saling kenal?" pancingnya. "Aku mengenal Sir Wayne Longbottom-Earl of Moull-dengan baik. Selama lawatanku kesana, aku belum pernah melihat anda..."
"Saya pengelana, Tuanku." jawab Nagini hendak membungkuk namun ditahan oleh Syaikh Fahril at-Tamim.
"Jangan membungkuk..." pintanya. "Wanita yang cantik dan terhormat seperti anda tak pantas membungkukkan badan kepadaku..." ujarnya memegang tangan Nagini sambil tersenyum kemudian menatap Nuzlan.
"Mari duduk..." ajaknya.
Mereka kemudian duduk di sofa panjang yang melingkar. Syaikh Fahril at-Tamim kemudian memencet lonceng disisi mejanya.
"Suguhi tamuku minuman..." titah sang amir kemudian menatap lagi Nuzlan dan tersenyum. Ia duduk disofa, beberapa jarak dari Nuzlan dan Nagini.
__ADS_1
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Syaikh Fahril at-Tamim dengan senyum lagi.
"Hanya mau melaporkan kedatangan kami untuk menginap beberapa hari di Turan... sekaligus menyampaikan pesan dari Baginda Sultan Yazid al-Bustami." ujar Nuzlan mengeluarkan sebuah surat dari saku pakaiannya dan menyerahkannya kepada Syaikh Fahril at-Tamim.
Syaikh Fahril at-Tamim menerima surat itu dan membuka amplopnya. Ia mengerutkan alis beberapa kali saat membaca isi surat tersebut. Sejenak ditatapinya Nuzlan kemudian melanjutkan lagi membaca. Tak lama setelah itu ia melipat kertas itu dan meletakkannya di meja.
Syaikh Fahril at-Tamim melangkah menuju jendela dan mengamati pemandangan kota dari sana.
"Aku tak menyangka Raja Saul akan merobek-robek perjanjian damai dengan kerajaan-kerajaan wilayah utara..." gumam Syaikh Fahril at-Tamim setengah menggeram. "Kalau saja kotaku tidak terlindungi oleh pakta perdamaian semesta, kemungkinan besar dia juga pasti akan menganeksasi kota ini."
"Tapi kurasa tidak, Tuanku..." bantah Nuzlan.
Syaikh Fahril at-Tamim menoleh kepada lelaki berjubah toga itu. "Mengapa Tuan Jenderal bisa berpandangan begitu?"
"Turan adalah kota transit. Akses ekonomi berpusat dikota ini. Ibaratnya, Turan adalah lumbung yang tak boleh diganggu sebab bisa berpengaruh pada kehidupan kawula di wilayah-wilayah utara dan timur..." tutur Nuzlan dengan tenang.
"Tapi, mereka mengadakan pertemuan rahasia dikota ini dan aku tak mampu mengendusnya..." sesal Syaikh Fahril at-Tamim dengan gusar.
"Aku sendiri masih menyelidiki, mengapa Lord Rotcshild mengadakan rapat rahasia dengan mata-mata Kerajaan Yahuda disini..." ujar Nuzlan. "Aku sendiri bertemu dengan salah satu panglima tentara Kerajaan Yahuda di jalan lintas hutan raya setelah melewati persimpangan menuju Kuil Bethania...."
"Terus, apa yang terjadi? Sudah kupastikan kau bertarung dengannya, kan?" tebak Syaikh Fahril at-Tamim.
"Tentu Tuanku... dia menghalangi maksudku mendatangi kota ini... dan juga ia menyebar informasi palsu bahwa pertemuan itu tidak ada..." jawab Nuzlan. "Tapi aku yakin. Pertemuan itu sudah selesai dan aku sekarang sedang melacak keberadaan Lord Rotcshild..."
"Apakah dia masih berada disini?" tanya Syaikh Fahril at-Tamim.
"Informanku menyampaikan bahwa ia tidak melihat Lord Rotcshild meninggalkan Turan. Orang itu tak mungkin menyamar... ia memerlukan akses politik untuk bisa keluar-masuk kota manapun yang diinginkannya..." jawab Nuzlan.
"Aku harap kau benar..." ujar Syaikh Fahril at-Tamim kembali menatap jendela. "Turnamen Tarung Sejagat sedang dilaksanakan... itu bisa menjadi peluang, dan bisa juga menjadi jebakan..."
"Apakah Anda berpikir, Lord Rotcshild menyamarkan identitasnya dan mengikuti turnamen itu?" tebak Nuzlan.
"Siapa tahu?" ujar Syaikh Fahril at-Tamim. "Kita tidak tahu seperti apa orangnya..." lelaki itu kemudian berbalik menatap Nuzlan. "Kau sendiri tak menyangka dia bisa melakukan pengkhianatan dengan menjadi agen ganda dua negara... jika secara politis saja ia bisa melakukannya, mengapa tidak secara pribadi dia melakukannya juga?"
"Anda membuat saya cemas Tuanku..." ujar Nuzlan. "Jika memang begitu, saya harus lebih waspada untuk bisa melacak keberadaannya..."
Pintu terbuka dan masuklah seorang pelayan membawa nampan berisi minuman. Pelayan itu kemudian meletakkan minuman itu di meja lalu pamit meninggalkan ruangan. Syaikh Fahril at-Tamim mengekori punggung pelayan itu hingga ia menutup pintu ruangan.
"Tadi kau mengatakan, akan menginap beberapa hari disini..." ujar Syaikh Fahril at-Tamim.
"Kami tinggal di..." Nuzlan menyebutkan nama penginapan tersebut. "Sebentar lagi saya akan menemui rekan saya di turnamen itu."
"Sahabatmu mengikuti turnamen tersebut?" ujar Syaikh Fahril at-Tamim. "Aku akan memberikan dukunganku..."
"Terima kasih..." ujar Nuzlan kemudian mengambil gelas dan meminum sebagian isinya lalu bangkit diikuti oleh Nagini.
"Kalau begitu, saya pamit Tuanku..." ujar Nuzlan.
Syaikh Fahril at-Tamim mendatangi keduanya. "Aku akan mengerahkan telik sandiku untuk memata-matai kegiatan orang-orang Yahuda disini... mereka kebanyakan adalah saudagar yang memenuhi beberapa lapak di pasar utama kota..."
"Itu kewenangan anda, Tuanku...selebihnya ijinkan saya mengembangkan penyelidikan mandiri dengan restu anda..." ujar Nuzlan.
"Aku mengijinkannya... lakukanlah..." ujar Syaikh Fahril at-Tamim. "Sampaikan salamku kepada Sultan Yazid al-Bustami..."
"Akan saya sampaikan salam tuanku kepadanya..." sahut Nuzlan membungkukkan tubuhnya kemudian pamit meninggalkan ruangan diikuti Nagini.
Keduanya keluar dari kantor keamiran dikawal oleh dua petugas protokoler hingga ke depan gerbang. Ketika dibawa menuju kereta, Nuzlan menolak dan memilih untuk menaiki kereta umum dan meminta diantar menuju kompleks pasar kota, dimana kegiatan turnamen sebentar lagi akan dilaksanakan.[]
__ADS_1