MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
KETEGUHAN HATI SELENA


__ADS_3

"Nggak! Pokoknya aku ikut!" tandas Selena dengan berang.


"Keberadaan kamu hanya akan jadi beban!" sergah Havard. "Ini ekspedisi militer, bukan dharma wisata! Apakah kau akan menemukan pemandangan menyenangkan di Runehall?"


Selena mendengus keras. "Tapi aku bisa menjaga diri! Kalian berdua sudah melihat hasilnya kan? Aku menjatuhkan beberapa orang bangsa Pantera dalam pengejaran itu! Aku juga berhasil melukai Euryale..." ujarnya mengungkit-ungkit kecakapannya.


"Itu hal kebetulan saja! Kebetulan mereka saja yang bernasib jelek." bantah Havard dengan keras. "Kenapa kau tidak menemani saja Ummu Nazila? Kamu sekarang adalah putrinya!"


"Tapi kau harus tahu bahwa anggota keluarga ad-Dakhil adalah para pejuang dan pahlawan! Aku tak mau disebut pengecut ketika kakakku harus berperang sementara aku enak-enakan dirumah!!!" bantah Selena lagi.


Sementara Nuzlan dan ibunya hanya memandang pertengkaran itu dengan tenang dan sedikit geli. Pasalnya pertengkaran mereka lebih mirip pertengkaran suami-istri ketimbang pertengkaran antar teman.


"Pokoknya semuanya sudah bulat! Kau tinggal di Tel-Qahira, sedang kami berdua akan bergerak menuju Runehall, esok lusa, titik!" tandas Havard.


"Aku tidak terima!" sergah Selena lagi. "Hidupku adalah milikku! Kau tak berhak mengaturnya! Aku memutuskan untuk pergi menemani kakakku ke Runehall!"


Havard menatap Nuzlan. "Kau lihat? Kau lihat?" ujarnya jengkel menunjuk Selena yang bercakak pinggang memasang wajah marah. "Inilah yang ku kuatirkan! Anak ini kerasnya menyamai batu karang! Bukan, lebih keras dari Baja Mythril buatan kaum peri! Dia bahkan tidak berpikir bahwa tujuan kita ke Norchburg dan Moull bukan sebuah wisata!"

__ADS_1


"Kau jangan bawa-bawa Nuzlan dan ibu dalam masalah kita!" sergah Selena melangkah dan berdiri dihadapan Havard lalu menunjuk-nunjuk dada pemuda itu dengan keras. "Masalahnya ada padamu sendiri! Siapa kamu yang berani melarangku pergi?! Siapa kamu?!"


Havard terdiam mendengar kata-kata gadis itu. Akhirnya ia memilih mengalah dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Selena akhirnya sadar sendiri dan mulai menangis sesenggukan.


Ummu Nazila mendekat dan menyapu pundak dan punggung gadis itu. Selena seketika memeluk wanita parobaya tersebut dan menumpahkan tangis tanpa suaranya. Sedangkan Nuzlan hanya menghela napas lalu berbalik meninggalkan ruangan itu pula.


Lelaki itu berjalan menyusuri lorong-lorong rumah dan bertemu dengan salah satu pelayan yang baru muncul dari arah ruangan makan.


"Kau melihat sahabatku?" tanya Nuzlan.


"Tuan Havard berada di istal." jawab pelayan itu.


Nuzlan mengisyaratkan kepada para pelayan untuk meninggalkan istal. Sepeninggal para pelayan, Nuzlan mendekati pemuda itu.


"Kau tak harus semarah itu kepadanya." ujar Nuzlan. "Dia juga berhak mengemukakan pendapatnya."


"Buat apa mengungkapkan pendapat yang pada akhirnya tidak kusetujui?" tukas Havard seraya terus mengurusi hewan tunggangannya.

__ADS_1


"Dia ada benarnya juga, Havard." bantah Nuzlan dengan lembut. "Kau bukan orang yang berhak mengatur hidupnya.... kau... bukan suaminya..."


Havard meletakkan sikat dan berbalik menghadap kearah Nuzlan. "Baik... kau benar. Dia memang bukan istriku... tapi, dia adalah kebanggaan warga Las Mecca! Kebanggaan itulah yang kujaga. Aku tak mau menanggung malu jika aku tak mampu menyelamatkannya apabila terjadi bencana dalam perjalanan kita." kilah Havard berjalan menuju gentong, membukanya dan mencuci muka.


"Supaya dia mendengarmu, nyatakan saja kalau kau menyukainya... kau mencintainya..." usul Nuzlan.


"Dan dia akan menggetok kepalaku dengan batu hanya gara-gara ucapan konyol itu keluar dari mulutku?" sambung Havard kemudian terkekeh membuat Nuzlan ikut terkekeh pula.


Havard menatap Bukefals yang asyik menyantap rumput segar. "Kami berdua punya nasib yang sama... kami sama-sama yatim piatu... dia diasuh oleh Amir Kota Las Mecca, Syaikh Hasyim, sedang aku bertahan hidup dari rumah warga ke rumah warga yang lain, mengambil pekerjaan serabutan untuk menyambung kehidupanku..." Havard mengenang, "Aku kemudian bergabung dalam tim pengawal kafilah dagang, hanya karena aku pandai bertarung, baik menggunakan senjata maupun tanpa senjata..."


Havard menatap Nuzlan. "Intinya... aku tak mau dia mengalami kekerasan hidup... Selena adalah orang yang lembut..."


"Tapi hatinya teguh..." sela Nuzlan. "Dan dia baru saja memperlihatkannya kepadamu..."


"Dan kau akan menuruti keinginannya?" pancing Havard.


"Semua keputusan tergantung ibu... jika ibu mengijinkannya, maka dia akan bersama kita dalam perjalanan ke Runehall..." ujar Nuzlan.

__ADS_1


"Tapi..." protes Havard.


"Dan sekali-kali..." tambah Nuzlan. "Percayalah kepadanya... aku yakin, jika kau mempercayai kompetensinya... dia tidak akan mengecewakanmu..." ujar lelaki itu kemudian berbalik meninggalkan istal, membiarkan Havard yang termenung sendirian disana.[]


__ADS_2