
Lima orang itu mengamati keadaan disekitar Benteng Maung dengan waskita. Penjagaan di benteng alam itu kini dibuat sangat ketat. Beberapa lelaki Pantera berjaga-jaga, bahkan dihalaman benteng tersebut.
Nuzlan menarik napas. "Penjagaan semakin ketat saja..." geramnya. "Kita tak bisa menerobos..."
Do Quo manggut-manggut sejenak lalu menunjuk lima orang Pantera yang hilir mudik dihalaman kastil menggenggam macuahuitl. "Kita bisa melumpuhkan mereka dengan diam-diam..." Lelaki dari Daipeh itu kemudian menunjuk seorang Pantera yang berdiri dimenara benteng. "Kita harus melumpuhkannya dulu sebelum menyerang ke lima penjaga itu."
"Bagaimana caranya?" tanya Havard.
Do Quo menatap Selena. "Panahlah penjaga dimenara itu... membidiklah ditempat yang tak gampang ditemukan oleh musuh." pinta lelaki itu.
"Baik Paman..." jawab Selena kemudian berjingkat-jingkat meninggalkan tempat persembunyian mereka.
Do Quo menatap Nagini dan Havard. "Kita menyelinap ke balik karang itu, menyergap mereka dari belakang, sedang Nuzlan bertindak sebagai pengalih agar mereka lengah. Cepat lakukan!!" serunya.
Mereka berempat mengangguk lalu masing-masing memisahkan diri sesuai dengan rencana yang mereka buat.
Nuzlan tiba-tiba melompat dan berdiri dihadapan lima penjaga yang hilir mudik itu.
"Halo kawan!!! Kita ketemu lagi!!!" seru Nuzlan berdiri menggenggam tombaknya dengan wajah yang menebarkan senyum.
"Itu Nuzlan!!!" seru salah satu penjaga. "Dia hendak menyelamatkan Sultan Yazid." penjaga itu menatap penjaga satunya yang berdiri di menara. "Hei, bunyikan lonceng!!!" serunya.
SWINGGG.... JLEB!!! AAAAKHHH...
Seruan penjaga halaman itu tidak sempat dilakukan oleh penjaga menara. Sebatang anak panah yang dilesatkan Selena menembus tenggorokannya, menyebabkan penjaga itu tersentak dan jatuh ke jurang.
Belum sempat penjaga lainnya berseru kaget, dari kegelapan karang, melompat tiga bayangan menyergap kelima penjaga itu.
Nagini mengayunkan pedangnya menebas dua orang penjaga, sementara Havard menikam punggung penjaga ketiga. Do Quo menyergap penjaga ke empat dan mematahkan lehernya. Nuzlan maju menyerang penjaga kelima.
Sementara Nuzlan sibuk bertarung dengan penjaga kelima, Do Quo menatap menara benteng lalu memandang Havard.
"Havard! Kau ingat bagaimana kita berdua menembus pagar benteng suku Enishi?!" serunya dengan semangat.
Havard langsung muncul semangatnya dan mengangguk. "Kita lakukan sekali lagi!" balasnya.
Lelaki itu berlari sejenak menjauh mengambil ancang-ancang. Do Quo berdiri disisi jurang dengan tangan yang saling berkait kebawah perut.
Dengan satu dengusan napas, Havard melesat dengan cepat menuju Do Quo. Pemuda itu kemudian melompat tepat ke telapak tangan Do Quo yang dikaitkan satu sama lainnya.
HEIIYAAAAH!!!!
Do Quo mengayunkan kedua tangannya ke atas bagai pegas yang melontarkan tubuh Havard dengan ringan ke udara. Selena menatap kagum terhadap Havard yang melayang ringan diangkasa bagaikan elang.
Pemuda itu mendarat diatas menara dengan bagus lalu mencari tambang yang digunakan untuk menurunkan jembatan.
Tak lama kemudian jembatan diturunkan. Nuzlan berhasil membunuh penjaga kelima dan Selena bergabung dengan mereka. Keempatnya memasuki benteng.
Ternyata disana sudah disambut oleh sekumpulan pantera bersenjata kapak. Nuzlan dan Nagini maju duluan dan mengamuk menebas siapapun pantera yang mendekat. Do Quo kedapatan menghabisi sisanya yang tak sempat ditebas oleh kedua sahabatnya. Selena sendiri berdiri dengan sikap waspada membidik siapapun dari pantera itu yang luput dari serangan ketiga pemberani itu.
Havard bergabung kembali setelah menghabisi setiap pantera yang menjagai tangga menuju aula besar di pintu masuk benteng.
Mereka menyusuri lorong-lorong benteng berdasarkan panduan Nuzlan yang mengenal wilayah itu dengan baik. Di perjalanan itu sudah berapa banyak pantera yang tewas tertebas oleh senjata ketiga orang itu.
"Periksa semua penjara!!!" seru Nuzlan.
Havard dan Do Quo mengangguk lalu menuju ke beberapa ceruk berpintu yang digunakan untuk menyekap tawanan. Kedua orang itu menatap Nuzlan dan menggeleng menandakan orang yang mereka cari tak berada disana.
"Semuanya kosong." ujar Do Quo.
Nuzlan merutuk. "Dimana mereka menyembunyikan Baginda Sultan?"
...****************...
Di sebuah ruangan yang luas, nampak duduk berlutut seorang lelaki. Kedua tangannya terikat dibelakang.
Sementara dihadapannya, duduk disebuah kursi besar, seorang pantera yang bertubuh lebih kekar dari lainnya, menyandarkan tangannya pada sebatang macuahuitl yang ukurannya setengah panjang tubuhnya dan dipasangi batu obsidian yang bergerigi.
Orang yang duduk berlutut itu tak lain adalah Sultan Yazid al-Bustami, yang diculik oleh sekawanan pasukan pengkhianat dan dibawa ke Benteng Maung. Rencananya, Sultan Yazid akan dibawa ke Ur-Balam, langsung menghadap kepada Raja Saul di Istana Tarsia.
__ADS_1
"Apa yang kalian inginkan dariku?" selidik Sultan Yazid dengan ketus. "Mengapa aku disekap disini?"
Tigris, raja para pantera itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Kedua matanya yang tajam itu memandang Sultan Yazid al-Bustami.
"Haruskah aku mengatakannya padamu?" pancingnya.
"Setidaknya, aku harus tahu!" tuntut Sultan Yazid. "Apakah ini rencana si pengkhianat Rotcshild?!"
Tigris terkekeh. "Siapa lagi?"
Sultan Yazid mendengus. "Kalian berani bekerja sama dengan pihak Istana Tarsia.... apakah kalian lupa bahwa leluhur kalian pernah bersumpah setia kepada leluhurku, tak akan pernah mencari masalah dengan Kesultanan Bustamiyah?!" ungkap lelaki itu.
Tigris mengurut-ngurut dagunya yang bercambang. "Hmmm... begitukah?" gumamnya seolah-olah mengingat-ngingat sesuatu lalu tertawa.
"Kelihatannya pakta itu sudah tak berlaku lagi, Yazid!" seru Tigris sembari menegakkan tubuhnya. "Aku, bukanlah leluhurku..." ujarnya kemudian berdiri dan meraih macuahuitl yang tersandar disandaran kursinya.
"Raja Saul di Istana Tarsia mengajukan pakta yang lebih menguntungkan..." ungkap Tigris. "Jika Kerajaan Yahuda berhasil menundukkan Tel-Qahira, maka aku akan diberikan separuh wilayah dibagian selatan. Aku akan menjadi abdi utama Istana Tarsia..." Raja para pantera itu kemudian tertawa keras mengembangkan tangannya. "Bukankah itu hal yang menguntungkan?"
"Tapi kalian bukan lagi makhluk bebas." tandas Sultan Yazid. "Kalian sudah terjajah oleh mereka! Kau tak menyadari hal itu?!"
"Bagiku tidak masalah!" elak Tigris.
"Bagaimana dengan rakyatmu?!" ungkit Sultan Yazid.
"Mereka akan mengikutiku, baik mereka suka atau tidak." tandas Tigris dengan mantap.
"Keputusan yang keliru, Tigris!" seru Sultan Yazid.
"Itulah politik, Yazid!" tandas Tigris. "Bahkan Rotcshild yang berada dipihakmu menyeberang ke pihak musuh untuk sebuah tujuan yang hanya dia ketahui sendiri..." ejek pantera tersebut.
"Bagaimana kalau aku memberimu akses." tawar Sultan Yazid. "Setiap cendekiawan dari kalanganmu, dapat menjadi anggota kehormatan Bait Al-Hikmah? Derajat bangsamu akan terangkat dan mereka-mereka yang meremehkan kalian tidak akan berani lagi."
"Itu sudah terlambat, Yazid." ujar Tigris dengan seringai bengisnya. "Disaat kami sudah putus asa, Raja Saul menawarkan bantuannya. Jika kau mau lihat, ada banyak demihuman dari bangsa kami yang sekarang menjadi penduduk Ur-Balam yang terhormat."
"Itu semua palsu!" seru Sultan Yazid. "Mereka memanfaatkan kalian!"
"Dia tak akan dijemput siapapun!" seru suara yang membuat Tigris menoleh ke sebuah pintu lalu menggeram marah.
"Nuzlan!!!" geramnya.
Pemilik suara itu memang Nuzlan. Lelaki itu muncul menyandang tombak, disusul empat orang lainnya muncul disana.
"Kalian berani memasuki Aula Aslarn!!!" seru Tigris dengan marah. Tiba-tiba ia meraung dengan keras. Suaranya terasa menggerakkan ruangan itu.
Tak berapa lama kemudian muncul lagi serombongan pantera bersenjata kapak. Mereka dengan serentak memperisai Raja para pantera itu.
"Amankan Baginda Sultan!" seru Nuzlan setengah berbisik kepada Nagini dan Selena.
"Bunuh mereka!!!" teriak Tigris dengan marah.
Seketika menghamburlah para pantera itu menyerang kelima orang tersebut. Mereka membagi jatah. Havard dan Do Quo meladeni rombongan pantera yang mengepung mereka, sedangkan Selena dan Nagini sigap langsung berada disisi Sultan Yazid untuk mengamankannya.
Tigris menggeram lagi melihat Selena membuka ikatan lelaki itu. Ia hendak maju menyerang. Nagini sudah siap menyambut raja para pantera tersebut.
Namun langkah Tigris terhenti manakala Nuzlan telah berdiri dihadapannya. Lelaki itu mengacungkan tombaknya.
"Akulah lawanmu, Tigris!" ujar Nuzlan. "Kita selesaikan urusan kita yang tertunda."
Tigris meraung marah dan maju mengayunkan macuahuitl kearah Nuzlan. Dengan sigap lelaki itu menamparkan batang tombaknya ke senjata gada yang digenggam Tigris. Keduanya kembali bertarung dengan mengerahkan segala kemampuannya.
Sementara Do Quo dan Havard tidak terlalu kesulitan mengatasi kepungan para pantera itu. Mereka sebagian besarnya hanya sekumpulan makhluk bar-bar yang bodoh. Mereka menyerang tanpa mengindahkan strategi. Mereka maju menggerombol membuat kedua pemberani itu berhasil menaklukkan sebagian besar dari mereka.
Pertarungan sudah mencapai titik kemenangan dipihak Nuzlan. Seperti para pantera pada umumnya, Tigris bukan petarung yang baik. Kelebihannya hanyalah kekuatan fisik yang diatas rata-rata manusia. Namun Nuzlan dengan cerdik dapat mengalahkan Raja para pantera itu.
Sebuah tusukan di perut berhasil membuat Tigris harus menyerahkan selembar nyawanya dengan paksa. Nuzlan mendesah lega karena berhasil membunuh Tigris.
"Yang Mulia Baginda, anda tak apa-apa?" seru Nuzlan.
Sultan Yazid tersenyum dan menggeleng. Nuzlan ikut tersenyum lalu melangkah mendekati junjungannya.
__ADS_1
SERRRRR.... HEH????
Tiba-tiba serangkum angin keras menyerbu membuat Nuzlan terkejut lalu memasang kuda-kuda bertahan dan menyilangkan tombaknya didadanya. Hawa itu menghembus keras dan berhasil melemparkan Selena yang tak sempat mempersiapkan diri. Adapun Nagini berhasil memasang kuda-kuda, namun daya dorong angin itu berhasil membuatnya terseret ke belakang beberapa meter dari tempat Sultan Yazid duduk berlutut.
Semua pantera yang bertarunga menghadapi Do Quo dan Havard ikut bergelimpangan. Kedua pendekar itu menetralisir kekuatan dorongan angin itu dengan berlutut.
Setelah angin itu berlalu, tiba-tiba diruangan itu telah hadir seorang lelaki mengenakan pakaian yang dibalut toga merah marun. Tudungnya menutupi kepalanya dan menyamarkan wajahnya yang juga dilindungi dengan cadar.
Nuzlan itu sangat mengenal orang itu. Dia membentak. "Lord Rotcshild, pengkhianat negara!!!" serunya.
"Ternyata kalian semua sudah berkumpul disini... itu bagus!" ujarnya dengan senang.
Nuzlan mengerutkan alis. "Apa maksudmu menyekap Yang Mulia Baginda Sultan disini?!"
"Untuk sebuah rencana yang hebat..." jawab Lord Rotcshild. "Tapi aku tak akan membaginya dengan kalian..."
Nuzlan mendengus. "Tidak semudah itu." serunya sambil maju menyerang.
Lord Rotcshild mendengus jengkel lalu mengibaskan toga yang menutupi tangannya. Dari sana menyeruak sebilah pedang besar bercahaya.
Nagini tersentak kaget. "Tiang Langit!" serunya lalu menatap Lord Rotcshild. "Bagaimana bisa ada padamu?!"
Tak ada jawaban yang terucap sebab lelaki bertoga itu menghujamkan pedang bercahaya itu ke tubuh Nuzlan.
JLEB!!! UOHHHH...
"Nuzlan!!!" pekik Havard dengan kalap.
Nuzlan menyeringai menahan sakit sambil mencengkeram toga lelaki bercadar itu.
"Kaaaauuuu...." geramnya.
Lord Rotcshild mendengus lagi. Ia sekali lagi menghujam tubuh Nuzlan.
JLEB!!! URGGG...
Suara dengkuran keluar dari mulut Nuzlan yang sekarat. Terdengar sekehan tawa lelaki bercadar itu. Nuzlan ditengah sekaratnya meraih cadar lelaki itu dan merobeknya.
Seketika mereka terkejut, terkecuali Sultan Yazid, ketika menyadari siapa yang berada dibalik cadar itu.
"Sinhala!!!!" seru Havard lebih kalap lagi.
"Ternyata... Lord Rotcshild... adalah... kau..." geram Nuzlan.
"Selamat tinggal kawan!" ujar Sinhala sembari mencabut pedang Tiang Langit dari tubuh Nuzlan. Lelaki itu menggelosor ke lantai dan diam tak bergerak disana.
Belum sempat Havard bertindak, Sinhala mengarahkan telapaknya yang membuka ke arah Sultan Yazid.
"Wahai Mustika Jiwa! Keluarlah!!!" serunya dengan membentak.
Sesaat kemudian, tubuh Sultan Yazid bercahaya. Lelaki itu berteriak kesakitan ketika sebuah luka muncul dibagian dada kanannya, makin lama makin melebar. Dari dalam dada lelaki itu muncul sebuah benda seperti batu jade berbentuk jantung.
Sultan Yazid pingsan ketika benda itu keluar dari tubuhnya dan melayang ke arah Sinhala lalu hingga ditelapak tangan lelaki itu.
"Mustika Jiwa sudah kudapatkan..." ujarnya dengan senyum gembira.
"Sinhalaaaa!!!!" teriak Havard dengan kalap, bangkit dan menghambur ke arah Sinhala sembari menusukkan pedangnya.
Sinhala kembali mendengus pendek dan mengibaskan tangannya. Tiba-tiba toga dan pakaian yang dikenakannya membuka dan membentuk tirai yang menghalangi tubuh lelaki berambut putih salju itu.
Nodachi Kanesada menghujam ke pakaian itu. Namun tak mengenai orang dibelakangnya, sebab Sinhala sudah tak berada disana. Lelaki itu meloloskan diri memanfaatkan toga yang berkibar itu.
Tak berapa lama ruangan itu bergetar. Makin lama makin keras. Do Quo mendongak menatapi bebatuan kecil jatuh ke lantai.
"Benteng ini kayaknya akan hancur!!!" serunya. "Mari kita keluar dari tempat ini!"
Selena dipandu oleh Nagini sedang Havard memanggul jenazah Nuzlan dan Do Quo memanggul Sultan Yazid yang pingsan. Mereka berempat bergegas keluar dari tempat itu.
Ketika mereka tiba ditepi jurang diseberang benteng alam itu, Benteng Maung perlahan runtuh ke bawah dan hilang dalam kabut tebal dari belerang yang memenuhi kawah pegunungan karang tersebut. []
__ADS_1