
Selena mendapati keduanya yang sementara berbaring merehatkan diri setelah melalui peristiwa menegangkan tadi.
Akhirnya, Nuzlan berbaring menyamping dan menatap Havard yang masih berbaring menelentangkan dirinya sembari menatap langit-langit gua yang terlihat kerlap-kerlip mirip bintang bersinar.
"Terima kasih kawan..." ujar Nuzlan masih dengan napas yang berupaya diatur ritmenya. "Kalau bukan kau, aku sudah tenggelam dan tak bisa lagi menjumpai ibuku..."
Havard kemudian duduk bersila. "Kau bisa berenang, kan?" selidik lelaki itu.
"Sebenarnya bisa... tapi kau lihat bukan? Arus sungai ini deras sekali..." jawab Nuzlan menatapi sungai itu lalu ikut duduk.
"Yang penting, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Selena. "Marilah cepat kita susuri lorong gua ini... aku... takut..." sambungnya sambil mengamati sekitarnya.
Havard mengangguk lalu bangkit dan meminta pedang miliknya yang dititipkan kepada Selena kemudian menyarungkan kopesh itu dipunggung.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." ajak Havard.
Nuzlan bangkit dengan malas. "Ah, sialan... tombakku terlepas waktu terpeleset tadi..." keluhnya dengan kesal.
Havard menghunus belati panjang dan menyerahkannya kepada Nuzlan. "Kau bisa menggunakan benda ini, kan?"
Nuzlan menerimanya dengan senyum masam. "Lumayan bisa... tapi aku, menyukai tombak..."
"Sudahlah... ayo kita lanjutkan perjalanan." kali ini Selena yang mengajak.
Ketiga orang itu kembali melanjutkan perjalanan. Untuk membunuh waktu, Havard bertanya, "Kau sendiri disekap oleh Tigris karena apa?"
__ADS_1
Nuzlan tersenyum tipis. "Karena memasuki rumahnya tanpa ijin..." jawab lelaki itu kemudian terkekeh. "Tapi aku beruntung bertemu kalian berdua... setidaknya..."
"Setidaknya apa?" kejar Havard.
"Setidaknya, aku sekarang punya dua orang pengawal yang menemaniku pulang..." jawab Nuzlan sekenanya dengan wajah jenaka.
"Sialan..." rutuk Havard dengan kesal.
Selena tertawa mendengar Havard merutuk dan Nuzlan memperdengarkan kekehan tawanya.
"Kau pikir... aku kesana mencarimu?" tukas Havard. "Kamu hanya kebetulan saja kutemukan..."
"Tapi, jika aku tak kau temukan... maka kau akan lebih lama menyusuri lorong-lorong dalam bangunan itu dan besar kemungkinan Tigris mengetahui keberadaanmu lebih cepat dari yang kau bayangkan..." bantah Nuzlan mengemukakan pendapatnya.
"Aku bisa mengatasinya!" tandas Havard dengan datar.
Havard tak menjawab melainkan mendengus saja. Nuzlan tersenyum menang lalu menjelaskan. "Aku sudah lima kali menyusup kesana dan kali kelima itu barulah aku tertangkap. Jadi jika dibandingkan secara pengalaman, aku lebih hafal seluruh lorong-lorong dibangunan itu ketimbang kamu..."
"Apa sih yang kau cari disana?" tanya Havard.
"Menemukan Wazir kiri, Lord Rotcshild..." jawab Nuzlan.
"Lord Rotcshild?" ulang Havard.
Mereka tiba pada tanjakan terjal. Nuzlan memutuskan naik pertama kali dan membantu Havard dan Selena menaiki tanjakan itu. Ketiganya masih sibuk memanjati tanjakan tersebut hingga akhirnya mereka tiba disebuah karang yang terlihat unik.
__ADS_1
"Perhatikan karang ini." ujar Nuzlan. "Kau tak melihat ada yang ganjil?"
Havard mengerutkan alis dan mendekati karang itu. Ia mengamati dengan saksama dan tak lama kemudian ia terkejut.
"Astaga!!!... ini kan..." seru Havard.
"Ya! Ini adalah bangkai Nephilim..." ujar Nuzlan sambil bercakak pinggang tersenyum senang.
"Nephilim? Apa itu?" tanya Selena dengan bingung.
"Nephilim adalah makhluk jaman dulu, hasil persilangan dari pernikahan bangsa manusia dengan kaum Jurjurian." jawab Nuzlan ikut mengamati karang tersebut.
"Nephilim terdiri atas berbagai jenis makhluk dan umumnya berukuran raksasa... mereka hidup didunia sudah milyaran tahun yang lalu..." ujar Nuzlan.
"Apakah Nephilim masih ada hingga sekarang?" tanya Selena dengan cemas.
"Nggak... mereka semua sudah musnah... sebagian ditenggelamkan dalam banjir besar dan bencana alam maha dahsyat dijaman para Avatar..." jawab Nuzlan.
"Tidak sepenuhnya benar!" seru suara dari kegelapan.
Seketika ketiga orang itu membalik dengan siaga sembari mengacungkan senjata masing-masing kearah kegelapan.
Dari kegelapan itu perlahan muncul sesosok makhluk yang membuat ketiganya terpana saking takjubnya. Makhluk itu menampakkan dirinya disinari oleh kerlap-kerlip cahaya dilangit gua. Ia berujud wanita telanjang dengan bagian bawahnya adalah ular dan rambutnya juga merupakan kumpulan ular-ular kecil.
"Aku adalah salah satu dari Nephilim yang bertahan hidup... apa kalian pikir bangsa kami semuanya tewas?" ujar wanita berujud setengah ular itu.
__ADS_1
"Makhluk apa ini?" desis Nuzlan dengan takjub.
"Aku Euryale, penguasa Gua Basilisk!" seru makhluk itu memperkenalkan namanya lalu tangannya tertuding ke arah Nuzlan. "Dan kalian adalah bakal mangsa yang sudah lama kuidam-idamkan... aku sudah lama tak menikmati daging manusia... kurasa, Tuhan memang memberikan aku kesempatan emas... untuk merasakan daging kalian sebagai pembuka dahaga!!!" serunya dengan suara menggelegar.[]