
Havard mengikuti langkah Nuzlan yang terus menyusuri lorong demi lorong dalam benteng itu, seakan ia mengetahui benar setiap lekuk-lekuk benteng itu.
"Kelihatannya kau mengenal betul seluk beluk bangunan ini." tukas Havard dengan curiga.
"Tentu saja..." ujar Nuzlan tanpa menoleh. "Aku sudah beberapa kali menyusup kedalam sini..." lelaki penyandang tombak itu kemudian tersenyum. "Aku selalu menyusup kedalam pedati yang membawa logistik kemari."
"Kok sama ya?" cetus Havard.
Nuzlan sejenak menghentikan langkah dan menatap Havard dengan tatap jenaka. "Kau juga?" tanya Nuzlan.
Havard mengangguk polos dan Nuzlan menanggapinya dengan tawa riang yang menggema dalam lorong-lorong itu.
"Ssst... kecilkan tawamu. Kita bisa ketahuan." desis Havard dengan cemas.
"Tenang saja kawan... kalau ketahuan, ya paling kita disekap lagi." ujar Nuzlan dengan enteng.
Havard mendengus kesal sedangkan Nuzlan kembali melangkah dengan gesit menyusuri lorong-lorong hingga tiba pada suatu aula lagi.
Nuzlan mengisyaratkan Havard untuk berhenti. Kedua lelaki itu menempelkan punggung mereka seketat mungkin ke dinding untuk menyamarkan keberadaan mereka.
"Lihatlah..." bisik Nuzlan seraya mengangguk ke arah aula. Havard mengikuti anggukan lelaki tersebut.
__ADS_1
Di aula itu nampak beberapa orang penjaga hilir mudik bersenjatakan tombak bersilang.
"Kelihatannya aula ini menyekap tawanan yang penting..." ujar Nuzlan dengan pelan. Ia kemudian menatap Havard, namun yang ditatapinya sudah tidak berada ditempat.
"Eh, kemana dia?!" seru Nuzlan dengan kaget. Ketika ia menoleh kembali ke aula, ia melihat dengan jelas, Havard sudah terjun dalam pertempuran keroyokan itu. Sontak saja Nuzlan menghentak-hentakkan kakinya dengan jengkel.
"Brengsek! Dia nggak bilang-bilang mau menghamburi nyawanya ke kawanan itu!!!" geram Nuzlan dan akhirnya ia memutuskan keluar dari persembunyiannya kemudian ikut menyerang para penjaga.
Ketambahan satu orang, membuat semangat Havard makin naik dan dalam waktu singkat beberapa penjaga itu tewas dalam pertempuran itu.
"Kamu bilang-bilang dong kalau mau setor nyawa!" gerutu Nuzlan dengan kesal saat Havard menurunkan kopesh besarnya.
"Aku punya kuncinya..." ujar Nuzlan mengeluarkan kunci ketika Havard seketika berteriak keras dan melayangkan tendangan ke arah pintu tersebut.
HEIIYAAAAHHHH...
BRAK!!! GUBRAKKK...
Pintu itu roboh dan Havard melangkah masuk kedalam meninggalkan Nuzlan yang hanya bisa mengangakan mulutnya sembari memegang anak kunci.
"Selena? Selena?" seru Havard dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Havard? Kaukah itu Havard?" respon suara wanita di kegelapan ruangan itu.
Tak lama kemudian menyeruak dari kegelapan, sesosok gadis bergaun putih dan berambut coklat panjang sepunggung. Havard seketika maju dan memeluknya.
"Ohhh... Selena... akhirnya aku menemukanmu..." ujar Havard dengan lega tak menyadari betapa canggungnya Selena dalam dekapannya.
Akhirnya Havard tersadar juga dan melepaskan pelukannya. Dengan malu dan canggung ia bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu diganggu oleh mereka?!" desak lelaki itu dengan cemas.
"Aku tak apa-apa... mereka memperlakukan aku dengan baik..." jawab Selena menenangkan Havard kemudian menatap seseorang yang berdiri didepan pintu sembari memeluk tombak.
"Itu siapa?" tanya Selena.
Havard menoleh sejenak kepada Nuzlan yang tersenyum-senyum memeluk tombaknya kemudian menatap lagi Selena.
"Aku menemukannya dikurung disalah satu bagian bangunan ini..." jawab Havard sekenanya. "Ia yang menemukan tempat penyekapanmu."
Selena sejenak menatap Nuzlan lalu menundukkan kepala menyatakan rasa terima kasihnya dan dibalas oleh Nuzlan dengan anggukan santai saja.
"Hei, kampret..." umpat Nuzlan dengan nada bercanda. "Mari kita pergi dari sini. Aku tak mau tertangkap oleh mereka sedang kalian berdua disini asyik memadu kasih."
Havard menarik Selena berjalan bersamanya dan ketiga orang itu menyusuri lorong untuk segera tiba kembali di aula besar di depan moncong gua.[]
__ADS_1