
Diruang santai kamar nomor 84 Penginapan Harem Bundi, pukul 7 malam.
Selena baru saja keluar dari kamarnya dan hendak bersantai menikmati sepiring cemilan kacang pistachio beserta segelas besar kopi Qishr yang diberi hiasan topping irisan daging kurma dan krim. Pintu membuka dan masuklah Havard, Nuzlan dan Do Quo.
"Intinya kita tetap harus waspada." ujar Nuzlan kemudian duduk disofa yang panjang melingkar, berseberangan dengan Selena yang terlihat cuek menikmati cemilan dan sesekali menyeruput Qishr.
"Aku sudah mendiskusikan hal itu dengan Amir Syaikh Fahril at-Tamim. Beliau bersedia membantu namun melalui pihak ketiga, agar peran beliau tidak diketahui secara langsung oleh musuh kita." sambung Nuzlan.
Do Quo duduk diujung lingkaran sofa sedang Havard mengeluarkan nodachi Kanesada dari pengikat sabuknya dan menyampirkan pedang itu di rak dinding.
"Aku berharap demikian." sahut Havard yang kemudian melangkah dan duduk disamping Selena. Pemuda itu meletakkan piagam diatas meja.
Sejenak gadis itu mengerling sinis kearah Havard, namun kelihatannya pemuda itu tak memperhatikannya. Tatapannya tertuju ke piring berisi kacang pistachio.
"Wah, ada cemilan enak nih." ujarnya kemudian memajukan punggung dan tangannya terulur hendak mencomot sebiji kacang.
PLAK!!! ADOH!!!
Tiba-tiba Havard kaget dan mengaduh ketika tangannya langsung ditampar Selena. Gadis itu meraih piring cemilan itu sekalian gelas berisi kopi qishr lalu bangkit hendak meninggalkan tempat itu.
"Eh, kamu kenapa lagi?" tegur Havard dengan suara meninggi. Selena sejenak berhenti lalu menolehkan kepalanya menatap Havard dengan wajah jutek.
"Nggak apa-apa! Cuma malas lihat orang yang nggak perhatian muncul disini!" jawab Selena dengan ketus.
Nuzlan dan Do Quo langsung paham dan keduanya berpandangan geli, lalu menahan tawa. Selena baru hendak pergi ketika Havard bangkit dan mendekati gadis itu.
"Kamu lagi mengalami gejala datang bulan ya?" tukas Havard bercakak pinggang. "Nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba mengguntur saja suaramu terhadapku. Memang salahku padamu apa lagi?"
"Cari saja sendiri!" sergah Selena dengan ketus. Havard kaget namun tak mau jatuh mental dihadapan gadis itu.
"Eh, aku ini lagi heran seheran-herannya sama kamu." ujar Havard. "Baru kemarin kita baikan, sudah dekat-dekatan, kok ini malah bertengkar lagi?! Mau kamu apa sih?!" sergahnya menunjuk dada Selena.
"Jangan tunjuk dadaku!" bentak Selena dengan berang.
Nuzlan mengerling ke arah Do Quo lalu mengangguk. Keduanya serentak bangkit dan melangkah menuju pintu.
"Eh, kalian berdua mau kemana?!" sergah Havard.
Nuzlan menoleh dengan malas. "Kami nggak mau menjadi saksi pertengkaran suami-istri..." jawabnya setengah mengolok. Do Quo tertawa lalu mengajak Nuzlan meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal keduanya, Havard membentak Selena. "Lihat sikapmu yang kekanak-kanakan itu!!! Gara-gara kamu mereka berdua pergi meninggalkan tempat ini!" tukasnya.
"Oh jadi itu salah aku?! Semuanya salahkan aku!!! terus salahkan aku!!" balas Selena tak kalah sengit lalu berbalik hendak pergi ketika Havard kembali mencekal lengan gadis itu.
Namun karena kerasnya cekalan itu, tangan Selena yang menggenggam piring berisi cemilan kacang pistachio terlepas menyebabkan benda itu jatuh ke lantai.
PRANGGGG!!!!
Piring porselen itu pecah berhamburan dilantai bersama-sama dengan kacang pistachio yang berserakan disana.
"Waduh... maaf..." desis Havard merasa bersalah.
Selena menatap nanar piring yang pecah lalu mengalihkan tatapannya yang menakutkan itu kepada Havard. Pemuda itu menelan salivanya, menduga-duga apa yang akan dilakukan gadis itu.
__ADS_1
"Kau menghamburkan cemilanku!!!" geram Selena dengan marah.
"Hei, Hei... itu..." elak Havard dengan gagap.
Tiba-tiba Selena yang muntab mengayunkan gelas, menumpahkan isinya ke arah Havard. Refleks pemuda itu mengelak dan minuman itu jatuh membasahi lantai.
"Hei, tenang Selena!!" seru Havard dengan kuatir.
Selena tersenyum sinis. "Kau mau cari perkara ya?!" geramnya.
"Eh yang mau cari perkara, siapa?" bantah Havard yang tak tahu jika kemarahan gadis itu sudah berada di ubun-ubun.
"Tunggu disana!!!" seru Selena seketika pergi ke dalam kamar dan membanting pintunya.
"Ah, perempuan memang makhluk yang aneh..." gumam Havard dengan kesal lalu menatap pecahan beling dari piring yang pecah. Ia berjongkok membersihkan beling-beling itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
Havard baru saja berniat mengambil peralatan pel lantai saat Selena keluar dari kamarnya, menyandang Busur Lupricala. Andong penuh batang panah terpasang dibalik pinggulnya.
"Kamu mau kemana? Kok bawa-bawa panah?" tanya Havard.
Selena mengambil sebatang panah dan memasangkannya pada tali busurnya lalu membidik Havard. Pemuda itu terkejut.
"Eh, Selena! Apa-apaan ini hah?!" seru Havard dengan kuatir.
"Mampus saja kau!!!" seru Selena sembari melepaskan anak panah.
SWINGGG... EHHH????... JLEB!!!
Anak panah itu melesat dengan kecepatan penuh ke arah Havard. Pemuda itu dengan sigap mengerahkan tenaga dalamnya menghindari proyektil yang ditembakkan dari jarak dekat itu. Batang panah itu menancap didinding ruangan.
"Aku benci kamu!!!" seru Selena dengan cepat mengambil batang panah lagi dari andong dan memasangkannya ke busurnya, lalu kembali membidik Havard.
SWINGGG!!!! JLEB!!!
Proyektil itu kembali ditembakkan. Tapi Havard sudah siap. Ia menghindar lagi dan batang panah itu menancap di dinding.
"Apa salahku, Selena!!!" tantang Havard. "Katakan saja sebelum kau memenuhi ruangan ini dengan batang-batang panah!!!"
"Kau lelaki yang tak menghargai perempuan!!! Aku benci kamu!!!" sergah Selena menghentakkan kakinya dengan kesal lalu kembali mengambil dua batang panah dan memasangkannya ke busurnya dan membidik lagi ke arah Havard. "Kali ini, kau tak akan lolos!!!"
"Dimana letak tidak perhatianku kepadamu?!" bentak Havard lagi dengan kalap.
Tapi Selena tak lagi memberi kesempatan. Gadis itu kembali melesatkan dua batang proyektil itu ke arah Havard.
...****************...
Nuzlan dan Do Quo tertawa-tawa sambil menikmati dua sloki Halib al-Asad, minuman khamr bening yang terbuat dari campuran adas, anggur dan buah plum. Untuk cemilannya mereka memesan dua piring kue Kacang yang dilapisi coklat.
"Apakah Havard segoblok itu?" komentar Nuzlan kembali tertawa sambil mencomot sebuah kue kacang dan mengunyahnya.
"Dia tidak terlalu akrab dengan wanita..." tebak Do Quo. "Mungkin terlalu lama mengembara dan mengawal kafilah dagang." ujarnya memberikan alasan.
Nuzlan menggeleng-gelengkan kepala lalu menatap kerumunan di bar itu. Do Quo ikut menatapi kerumunan orang-orang di bar tersebut.
__ADS_1
"Kurasa aku perlu menegaskan sesuatu..." ujar Nuzlan sembari menyeruput sedikit cairan khamr bening itu. "Katamu kau mencium bau-bau petualangan dalam perjalanan kami." lelaki itu menatap Do Quo. "Benarkah itu, Do Quo?"
Do Quo sejenak meneguk Halib al-Asad, lalu mengangguk-angguk ketika meletakkan gelas di meja. "Ya... firasatku tak bisa dibohongi." Lelaki itu menatap Nuzlan. "Kalian pasti sudah melewati berbagai peristiwa seru akhir-akhir ini. Benar, kan?"
Nuzlan tersenyum dan mengangguk membenarkan tebakan lelaki dari Daipeh itu.
"Tebakanmu tak salah, kawan." ungkapnya dengan jujur. "Kami melarikan diri dari Benteng Maung setelah membebaskan Selena yang disekap disana, meneruskan ekspedisi ke utara Runehall, membantu Kerajaan Norchburg dan Kastil Moull menghadapi agresi militer pasukan Yahuda..."
Nuzlan sejenak menjeda keterangannya sedang Do Quo terus menatapinya dengan antusias. Lelaki itu terkekeh sejenak lalu mengambil gelas dan meneguk beberapa kali Halib al-Asad kemudian meletakkan gelas yang sudah hampir kosong.
"Aku bertarung melawan Surya Hitam, seorang demihuman yang menjabat sebagai salah satu panglima militer angkatan bersenjata Kerajaan Yahuda di Hutan Raya dalam perjalanan kami menuju Turan...." Nuzlan menarik napas dan kembali menatapi Do Quo. "Dan disinilah kami sekarang, mengadakan penyelidikan mengendus keberadaan salah satu pejabat kesultanan yang menjadi agen ganda pihak musuh."
Do Quo mengangguk-angguk dengan semangat. "Kalau kau tidak keberatan... aku tegaskan kembali permintaanku... bisakah aku bergabung denganmu dan membagi petualangan kita bersama?"
Lama Nuzlan menatap lama kepada Do Quo dan akhirnya ia mengangguk-angguk pelan menunjukkan persetujuannya atas permintaan lelaki itu. Do Quo tersenyum dan mengangkat gelas.
"Untuk petualangan kita!" serunya bersulang.
Nuzlan meraih gelas yang kosong dan balas bersulang kemudian menandaskan isinya. Keduanya meletakkan gelas itu di meja.
Tak lama kemudian muncul seseorang tak dikenal menghampiri kedua lelaki tersebut dengan langkah yang sempoyongan. Do Quo menatap lelaki itu dengan curiga sementara Nuzlan bersikap seolah-olah tak ada apa-apa.
"Halloooowwww... kawaaan..." sapa lelaki mabuk itu menyanggakan kedua tungkai tangannya pada pinggiran meja.
Nuzlan menatap lelaki itu dengan tenang sedang Do Quo sudah gatal ingin mempermak wajah si pemabuk itu.
Lelaki itu mencomot sebiji kue kacang dan memperlihatkannya pada Nuzlan. "Bolehkah kuminta kue kacangmu ini, kawaaan....???" pintanya.
"Sebaiknya kau menyingkir dari sini sebelum kuratakan wajahmu dilantai." ancam Do Quo dengan datar sembari memelintir misai tebalnya.
Namun Nuzlan mencegahnya dengan isyarat tak kentara membuat Do Quo terpaksa menahan kemarahannya. Lelaki itu menatap si pemabuk dan tersenyum.
"Silahkan... dengan piringnya sekalian bawalah..." jawab Nuzlan.
"Wwooooaaahhhh..." seru pemabuk itu. "Kau ternyata lebih baik dari... orang ini..." komentarnya lalu meraih piring berisi kue kacang. "Sebagai... hadiahnya... aku memberimu... ini..." ujar si pemabuk mengeluarkan selebaran kertas promis yang berfungsi sebagai alat pembayaran selain koin-koin dinar dan dirham. Dikertas itu tertera tanda tangan penguasa kota yang menjamin lembaran kertas itu dengan sejumlah uang.
Kertas promis itu dalam posisi terlipat-lipat mirip origami, diletakkan di meja lalu pemabuk itu meninggalkan tempat itu dengan langkah sempoyongan.
"Kau terlalu baik dengan orang, kawan." komentar Do Quo, sementara Nuzlan menatapi lembaran uang kertas yang terlipat itu. Ia memungut lembaran tersebut dan membuka lipatannya.
Ternyata itu bukan uang kertas, hanya saja jenis kertas yang digunakan sejenis dengan dengan kertas yang digunakan untuk alat pembayaran resmi. Diatas kertas itu tertulis kalimat-kalimat yang membuat alis Nuzlan berkerut.
*Segera menuju Benteng Maung!!!
Kubah istana kesultanan telah dibawa kesana*.
Nuzlan melipat-lipat lagi kertas itu dan bangkit. Do Quo menatapnya dengan heran.
"Ada apa?" tanya lelaki itu.
"Kita pulang ke Penginapan Harem Bundi!!!" seru Nuzlan langsung melangkah.
Do Quo bangkit mengejar lelaki itu. "Kenapa?" desaknya.
__ADS_1
Nuzlan menjeda langkahnya dan berbalik menatap Do Quo.
"Sultan Yazid al-Bustami diculik dan dibawa ke Benteng Maung!!!" jawab Nuzlan dengan serius. "Kita harus bergegas menyelamatkannya!" []