
Ur-Balam adalah ibukota pemerintahan Kerajaan Yahuda yang dipimpin Raja Saul. Kota ini berbentuk trapesium dan dipagari benteng yang kokoh. Penjagaan dikota itu amat ketat.
Setiap pengunjung diperiksa dengan saksama. Do Quo mencari akal. Ia menyamar sebagai saudagar yang membawa barang dagangan dengan kereta tradisional.
Do Quo menyarankan hal itu untuk menghindari alat deteksi yang dipasang digerbang utama kota. Jika menggunakan kereta elektronik maka penjaga akan dengan mudah menemukan persembunyian mereka yang disisipkan dibawah kereta, tersembunyi oleh barang-barang dagangan.
Sultan Yazid disembunyikan dalam kereta sedang Havard berperan sebagai pengawal kafilah sebagaimana pekerjaannya sehari-hari. Adapun Do Quo dan Nagini menyamar sebagai pasangan suami-istri saudagar.
"Berhenti disana!!!" seru seorang penjaga yang melihat sebuah kereta dagang tradisional yang ditarik dua ekor kuda kekar, dan seorang pemuda mengendarai seekor karkadan mendekati gerbang utama.
Do Quo menarik tali kekang dengan lembut dan dua ekor kuda yang menarik kereta itu berhenti. Havard sendiri memberhentikan tunggangannya disamping kereta tersebut.
Dua orang penjaga gerbang maju dengan senapan laser yang terkokang penuh. Do Quo melongokkan kepalanya dari dalam kereta.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" sapa Do Quo dengan ramah.
"Mana surat jalan?" tanya penjaga tersebut menjulurkan tangannya.
Do Quo dengan sigap mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkannya kepada penjaga itu. Mereka memeriksanya dan manggut-manggut.
"Oh... dari Turan, ya?" gumam penjaga itu. Salah satunya kemudian memeriksa isi kereta dan sesekali mengobok-oboknya untuk menemukan sesuatu yang dicurigai.
"Periksa semua imigran yang memasuki kota ini, juga kota-kota satelit kita... bisa jadi, mata-mata kerajaan musuh telah bertindak jauh melakukan penyusupan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan kita." pesan Raja Saul kepada semua petugas gerbang kota.
Penjaga satunya menatapi Do Quo lalu melongok kedalam kereta. Ia menemukan seorang wanita mengenakan abaya dan kerudung panjang.
"Itu siapa?" tanya penjaga tersebut.
"Itu istri saya..." jawab Do Quo dengan ramah pula.
Senyum cabul muncul dibibir penjaga itu. "Cantik juga..." komentarnya. "Pandai kau mencari istri ya?" tambahnya dengan kurang ajarnya menjulurkan jemarinya mencolek dagu wanita itu.
Wanita yang berkerudung tak lain adalah Nagini yang menyamar hanya menatap saja penjaga itu dengan datar. Siapapun juga pasti akan tertawan hatinya menatap Nagini. Kontur wajahnya yang unik ditambah sepasang matanya yang lentik, mirip bentuk mata kucing semakin menambah aura kecantikan wanita itu.
Do Quo hanya menatap cemas, bukan karena takut Nagini digoda penjaga itu, namun penyamaran mereka akan terbongkar jika Nagini kelepasan kontrol dan menjatuhkan tangan jahatnya kepada penjaga gerbang yang tak tahu diri itu.
Untung saja kekurang ajaran penjaga itu hanya sampai disitu. Setidaknya gaya cabulnya terhenti saat Havard mendehem keras diatas punggung karkadannya.
Penjaga gerbang itu menatap Havard dan membentaknya. "Eh, turun kau!!!" seru penjaga itu.
Havard mendengus pelan lalu melompat turun dari punggung hewan tunggangannya. Penjaga itu mengamatinya dan perasaannya sedikit gentar.
Penampilan pemuda itu memang sangat mendukung. Tubuh kekarnya terselimuti oleh baju putih tanpa lengan dan celana panjang biru gelap yang ditutup sepatu bot dari kulit naga. Ikat pinggang berbahan kulit yang dipasangi gesper besi melingkar dipinggang kecilnya. Kedua pergelangan tangan pemuda itu dilapisi kaos tangan berlapis pelat baja tipis. Beberapa bilah kunai tersemat pada kantung kulit dikedua sisi pahanya. Nodachi Kanesada yang panjang melengkung itu tergenggam ditangan kirinya. Rambut panjang setengkuk dan tatapan yang tajam semakin menambah nilai tambah kegarangan Havard dihadapan para penjaga tersebut.
"Siapa kamu?" bentak penjaga itu menyembunyikan kegentarannya dibalik suaranya yang mengguntur.
"Aku pengawal kafilah..." jawab Havard dengan tenang dan mengeluarkan plakat lisensi dari bahan logam, memperlihatkannya kepada penjaga itu.
"Kamu mau main-main dengan saya ya?!" gertak penjaga itu.
Havard sudah terbiasa dengan bentuk-bentuk intimidasi setiap penjaga gerbang dimana ia mengawal kafilah dagang. Pemuda itu tenang saja dibentak seperti itu.
Do Quo kembali melongok dari dalam tenda kereta. "Tuan penjaga, bisakah kami lewat?" tanya lelaki berkumis tebal itu dengan ramah.
"Pemeriksaan belum selesai!!!" bentak penjaga itu lagi kepada Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu pura-pura ciut nyalinya dan memasukkan kepalanya ke dalam tenda kereta, padahal sebenarnya tubuhnya sudah gemetar bukan main menahan murka sebab dibentak oleh penjaga tersebut.
Penjaga itu kembali menatap Havard dengan bengis. "Kau jangan macam-macam denganku!" gertak penjaga itu lagi.
Havard menegakkan pedang lengkungnya dan membiarkan ujung sarung pedang itu menyentuh tanah.
__ADS_1
"Kamu juga jangan bertindak sembarangan..." tegur Havard dengan tenang. "Tadi kulihat kau melanggar prosedur pemeriksaan... aku bisa menuntut kamu dihadapan komandanmu." balas Havard balik mengancam.
"Apa kau bilang?!" tantang penjaga itu sembari mengarahkan moncong senapan laser itu kepada Havard. "Berani benar kau ya?!"
"Tentu saja saya berani." balas Havard. "Saya pengawal kafilah tersertifikasi... saya paham aturan-aturan yang diberlakukan disetiap kota..." pemuda itu menudingkan telunjuknya kearah penjaga itu. "Kulihat tadi kau menggoda istri saudagar itu... aku bisa melaporkan kamu dengan delik pengaduan tentang pelecehan seksual..." ancam Havard.
Ancaman pemuda itu sedikit banyak membuat penjaga itu terdiam dan menciut sedikit keberaniannya. Pemuda dihadapannya tidak bisa ditekan sembarangan.
Penjaga satunya yang memeriksa barang-barang muncul kembali. "Ada apa?" tanya penjaga kedua dengan ketus.
"Orang ini mengancamku!!!" tuduh penjaga pertama menghasut penjaga kedua.
Penjaga kedua kelihatannya sama berani dengan Havard. "Kamu tak takut ditangkap ya? Kami bisa menangkap dengan alasan menghalang-halangi prosedur pemeriksaan yang dilakukan petugas." ancam penjaga kedua.
Havard menatap penjaga pertama yang tersenyum sinis. Ia kemudian menatap penjaga kedua.
"Kulihat kau berbeda dengan dia." ujar Havard. "Kau lebih punya prinsip." pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Kamu tahu kan? Salah satu tugas pengawal kafilah adalah memastikan pelanggannya bebas dari segala bentuk intimidasi, apakah itu oleh petugas, pembeli, terlebih para pengacau pasar." Havard menganggukkan kepala ke arah penjaga pertama. "Temanmu itu melakukan tindakan pelecehan dengan menggoda istri pelanggan saya. Tentu sebagai pengawal saya tidak terima pelanggan saya diperlakukan tidak terhormat didepan saya!"
"Majikan kamu ini tidak berkomentar apapun saat istrinya dicolek temanku. Aku melihatnya sendiri dari belakang." debat penjaga kedua.
"Berarti kalian berdua yang mencari masalah denganku..." ujar Havard dengan rahang yang mengeras. "Sebagai pengawal, aku berhak membela kehormatan majikanku!"
Suasana menjadi panas disana ketika terdengar bentakan dari arah gerbang. "Hentikan pertengkaran kalian!" seru penjaga ketiga yang berdiri disisi gerbang. "Biarkan mereka masuk!!!"
Kedua penjaga itu terpaksa memberi jalan dan menatap dengan penuh dengki kepada kereta yang ditumpangi Do Quo, dan Havard yang menuntun karkadan kesayangannya memasuki kota.
Setelah beberapa jauh dari pos penjagaan, Do Quo melongokkan kepalanya dan menegur Havard.
"Kenapa kau ngotot sekali?" tegur Do Quo dengan ketus. "Kita bisa menyuap penjaga itu tanpa harus beradu argumen dengan mereka."
"Aku melihat gelagat diwajahmu, kawan." elak Havard dengan tenang sambil menuntun Bukefals. "Makanya aku turun tangan."
"Untunglah Havard cepat bertindak." sela Nagini. "Aku tak perduli dengan rencana ini... jika mau, aku bisa membunuh semua penghuni kota Ur-Balam hanya dalam semalam."
Do Quo kontan menelan salivanya mendengar ucapan Nagini. Sedangkan Havard hanya tersenyum-senyum saja melihat Do Quo merutuki Havard menggunakan isyarat air muka.
Mereka tiba dipasar kota. Do Quo turun dari kereta dan memeriksa isinya. Ia mengeluarkan sebuah peti panjang berisi bahan rempah-rempah.
"Havard, bantu aku." pinta Do Quo.
Havard melepas tali kekang hewannya lalu membantu Do Quo mengangkat peti tersebut ke sebuah lapak penjualan. Keduanya meletakkan peti itu tersembunyi dibalik meja lapak.
Nagini turun dari kereta dan melangkah memasuki lapak. Sementara Havard berdiri mengawasi sekitar, keduanya membongkar peti dan mengeluarkan Sultan Yazid dari dalam peti tersebut.
Sultan Yazid juga mengenakan pakaian sederhana untuk menjamin penyamarannya. Do Quo mengeluarkan tombak Pasak Bianglala milik mendiang Nuzlan yang dibungkus sedemikian rupa sehingga menyerupai sebatang tongkat. Rupanya, Sultan Yazid menyamar menjadi seorang padi yang memegang sebuah tongkat panjang.
"Diantara rumah-rumah yang berderet ini, ada agen kita..." ujar Sultan Yazid merapikan pakaiannya lalu meraih tongkat samaran tombak Pasak Bianglala. "Kita mencari rumah itu."
Sultan Yazid menatap Havard. "Kau parkirkan kereta dagang dan tungganganmu itu, lalu jagalah lapak ini sementara kami menemui sekutu kita..."
"Bagaimana dengan tindakan penyusupan?" tanya Havard setengah berbisik.
"Akan ada yang akan menjaga lapak penyamaran ini. Tunggulah orang itu dan dia akan memberitahukan kamu untuk menyusul kami." jawab Sultan Yazid.
Havard mengangguk lalu menuntun kuda dan karkadan tunggangannya menuju istal umum khusus kendaraan non elektronik. Setelah itu, ia kembali ke lapak dan bersikap biasa sebagaimana seorang pengawal yang mengawasi barang dagangan majikannya.
...****************...
Sultan Yazid mudah menemukan letak rumah yang dimaksud. Lelaki berpakaian padri biara itu kemudian mengetok pintu rumah tersebut.
__ADS_1
Sekian lama mengetok, pintu itu membuka menampilkan seorang tua mengenakan pakaian sederhana namun berkelas.
"Cuaca hari ini terlihat mendung." ujar Sultan Yazid mengemukakan kalimat kode.
"Tapi hari tak akan hujan." balas lelaki tua itu, kemudian membuka pintunya. "Silahkan masuk." ajaknya.
Ketiga orang itu masuk. Lelaki tua itu kemudian berlutut dihadapan Sultan Yazid.
"Yang Mulia Paduka Sultan..." seru pria tua itu menghaturkan sembahnya.
Sultan Yazid menyuruh pria itu bangkit. "Bagaimana kabarmu, Paman..." sahut Sultan Yazid seraya maju mengembangkan tangan dan memeluk pria tua itu.
"Baik, Tuanku..." balas pria tua itu.
"Ada sahabat kami berada dilapak. Kirimkan salah satu bujangmu untuk menjaga lapak tersebut." pinta Sultan Yazid.
Pria tua itu tersenyum. "Akan kukirimkan..." ujarnya kemudian memanggil salah satu pelayan. Pria tua itu berbicara dalam bahasa asing kepada pelayan itu.
Pelayan itu mengangguk-angguk paham lalu pamit meninggalkan ruangan itu. Sepeninggal bujang itu, Sultan membuka pakaiannya. Lelaki itu memperkenalkan pria tua itu kepada Do Quo dan Nagini.
"Ini adalah Master Ismanto, seorang magister yang menjabat sebagai lektor di Akademi Sastra Dunia dikota ini." ujar Sultan Yazid, "Selain itu, ia menjabat sebagai birokrat Istana Tarsia dengan pangkat Tata Pratama."
Do Quo dan Nagini membungkuk hormat. Ismanto menatap Sultan Yazid. "Sebuah kehormatan besar menerima tamu agung dirumah saya." ujarnya sembari mengajak ketiga tamunya untuk duduk.
Sultan Yazid menatap Do Quo. "Silahkan buka penyamaran kalian. Kita sudah aman disini." pinta lelaki itu.
Do Quo dan Nagini kemudian membuka penyamaran mereka. Wanita itu memakai kembali tiara tanduknya. Sultan Yazid menatap lektor tersebut.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Sultan Yazid.
Ismanto mengangguk. "Terowongan itu sudah berhasil tembus ke salah satu bilik Istana Tarsia yang tak terpakai. Anda bisa menyusup lewat terowongan itu..."
"Seharian ini, apakah anda melihat Lord Rotcshild?" tanya Sultan Yazid.
Ismanto menggeleng. "Orang itu sangat jarang bertemu Yang Mulia Raja di Istana Tarsia..." pria tua itu kemudian menyambung. "Biasanya, Raja Saul bersama orang-orangnya melakukan penyamaran dan menerima orang itu ditempat yang telah disepakati."
"Kalau boleh saya bertanya Tuan Lektor... maaf jika anda tersinggung dengan pertanyaan ini..." sela Do Quo.
"Silahkan..." ujar Ismanto.
"Mengapa anda membantu kami untuk membunuh rajamu sendiri? Bukankah itu termasuk sebuah pengkhianatan?" tukas Do Quo.
Sultan Yazid menatap Do Quo dengan pandangan tak suka, namun Ismanto kemudian tersenyum.
"Akhir-akhir ini, Raja Saul menjadi aneh setelah menerima Lord Rotcshild sebagai sekutunya. Beliau sebenarnya orang baik, namun hatinya sudah tercemar oleh hasutan Lord Rotcshild untuk meluaskan kekuasaan ke wilayah-wilayah bagian utara dan timur." tutur Ismanto.
"Berarti Raja Saul sebenarnya hanya tergiur oleh harapan-harapan yang dibuat Lord Rotcshild. Kegilaannya muncul ketika ia memerintahkan agresi militer ke Las Mecca dan menculik putri dari amir kota itu untuk kemudian diperistri." tutur pria tua itu. "Ia termakan hasutan Lord Rotcshild yang mengatakan bahwa perempuan itu adalah titipan Arch Kyria, Ratu Langit, istri dari Kaisar Uran yang memerintah di Istana Baalthazar, Ur-Salem."
Do Quo dan Nagini saling berpandangan. Sementara itu Sultan Yazid kembali bertanya. "Apa yang direncanakan Lord Rotcshild berikutnya? Dia mencuri Mustika Jiwa yang ditanam dalam tubuhku."
"Mustika Jiwa dicuri?!" seru Ismanto dengan kaget.
"Katakan Tuan Lektor..." pinta Do Quo. "Apakah Mustika Jiwa itu sangat berharga?"
Ismanto bangkit lalu melangkah ke tengah ruangan. Sambil mondar-mandir, pria tua itu berkisah. "Mustika Jiwa adalah satu diantara tujuh harta karun dunia. Yang lainnya adalah Cermin Hati yang disimpan dalam ruang bendahara Kerajaan Zhou, Adeola Semiramis yang dikenakan oleh para ratu kerajaan Bellial, Pedang Tiang Langit milik Kaisar Uran, Kuda pegasus api, Naga Agung yang berdiam di gunung Pyrgo, dan Kitab Lao Mahfu yang berada di kota kuno yang melayang Ordiuri." tutur Ismanto lalu menatap Sultan Yazid dengan serius. "Aku tak tahu apa yang ada dalam benak birokrat gila itu. Yang jelas, Rotcshild pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar."
Sultan Yazid mengangguk. "Bagus. Jasamu tak akan kulupakan, Tuan Lektor. Kelak, setelah perdamaian kembali terjalin, mari kita bekerja sama untuk membangun negeri kita dengan lebih baik."
Tak lama pintu terbuka dan masuklah Havard. Ia menatap mereka yang duduk disofa.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa tindakan selanjutnya?" tanya pemuda itu.[]