
Kendaraan anti gravitasi itu berjalan dengan kelajuan normal. Untunglah kendaraan itu memiliki sebuah gerbong yang kemudian digunakan Havard untuk mengikutsertakan Bukefals kedalam perjalanan.
Havard melirik ke belakang. Digerbong itu nampak Bukefals terlihat gugup, namun untunglah tidak panik sehingga tidak menyebabkan gerbong itu rusak. Bagaimanapun, kekuatan seekor karkadan tidak bisa diremehkan. Hewan itu tidak seperti kuda. Kekuatan seekor karkadan dewasa mampu merobohkan dinding setebal 30 inci.
"Tenanglah... gerbong terbuat dari campuran batu meteor." ujar perwira tersebut. "Jangankan seekor karkadan, seekor naga pun sulit melumerkan dinding gerbong itu dengan napas apinya."
"Bagaimana kabarnya Nuzlan?" tanya Selena yang sudah menggunakan pakaian ringkas untuk bepergian.
"Oh, kabarnya baik." jawab perwira itu. "Kabarnya, dia banyak menerima anugerah sebab keberhasilannya meloloskan diri dari Benteng Maung..." perwira itu mendekatkan wajahnya kepada Havard.
"Kabarnya kau membantunya meloloskan diri..." ujar perwira tersebut.
"Hanya kebetulan saja." balas Havard dengan senyum tipis. Selena kemudian ikut bertanya.
"Kalau boleh tahu, siapakah Nuzlan?" tanya Selena.
__ADS_1
"Dia tak memberitahukan dirinya kepada kalian?" tanya perwira itu dengan heran. Havard dan Selena serentak sama-sama menggelengkan kepala.
Perwira itu mengangguk lalu bercerita. "Nuzlan adalah saudara angkat raja kami, Sultan Yazid. Selain itu, ia adalah kepala korps Hijabah yang bertanggung jawab terhadap keselamatan keluarga kerajaan."
Keterangan itu mengagetkan Selena dan Havard dan seketika mereka menjadi canggung. Perwira itu melanjutkan. "Saya Abdullah, adalah wakil ketua bagian protokoler istana kesultanan, Al-Azhar. Saya ditugaskan untuk menjemput kalian berdua untuk menghadap kepada Nuzlan di kediamannya, Istana Quba al-Bashir."
"Quba al-Bashir? Bukankah itu adalah bangunan bersejarah yang dibangun oleh Syaikh Abdurahman al-Walid?" tebak Selena dengan takjub.
"Benar. Tuan Nuzlan adalah keturunan kelima belas dari Syaikh Abdurahman al-Walid..." jawab Abdullah.
Selena mendecak kagum. Havard mendengus kesal. Kecemburuannya muncul melihat Selena begitu kagum dengan lelaki yang pernah bersama-sama mereka menyusuri Gua Basilisk itu.
Abdullah menatap datar kepada Havard. Lelaki itu menyambung. "Apa yang dicari oleh Nuzlan ke Benteng Maung?" tanya Havard.
"Sebut dia 'Pak' Nuzlan, Havard..." tegur Selena. "Orang itu adalah pembesar negeri."
__ADS_1
Havard kembali mendengus lalu menatap Abdullah. "Bisa anda beritahukan kepada saya?" pintanya.
"Sebaiknya kau menanyakan saja hal itu kepada Pak Nuzlan saja..." usul Abdullah dengan senyum tipis.
Havard mengangkat bahu saja lalu memalingkan mukanya menatap pemandangan sementara kendaraan anti gravitasi itu melaju menyusuri jalanan.
Hanya dalam waktu sehari, tanpa singgah di Terminal Arquebos, kendaraan itu tiba digerbang kota Tel-Qahira.
"Selamat datang di Tel-Qahira..." ujar Abdullah. "Sedikit lagi, kita akan tiba di Istana Quba al-Bashir..."
Tiba-tiba kendaraan itu mengeluarkan bunyi raungan sirene, pertanda agar kendaraan-kendaraan lain segera menepi memberi jalan.
Kota Tel-Qahira meniru konstruksi kota bundar yang dipagari oleh benteng yang melingkari pemukiman warga. Istana kerajaan terletak ditengah kota, bersebelahan dengan masjid jami. Pasar utama juga berada dipertengahan kota diapit oleh gedung-gedung penting lainnya. Adapun dibagian timur kota diisi oleh barisan bangunan yang didiami para bangsawan.
Kendaraan yang ditumpangi oleh Selena dan Havard melaju dengan cepat melintasi jalanan utama kota hingga tiba di area khusus kediaman para pembesar negeri. Nampak Istana Quba al-Bashir terlihat jelas ditengah bangunan-bangunan megah milik para bangsawan.
__ADS_1
Akhirnya mereka tiba didepan gerbang istana Quba al-Bashir. Didepan gerbang berdiri seseorang yang mereka kenal, mengenakan gamis yang dibalut toga putih yang longgar, tanpa hiasan apapun disana. Ketika Selena dan Havard turun dari kendaraan, seketika lelaki itu melangkah mendekat sambil mengembangkan tangan.
"Selamat datang di Quba al-Bashir..." sambut Nuzlan dengan ramah dan memeluk keduanya dengan akrab dan hangat.[]