MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
TURNAMEN TARUNG SEJAGAT


__ADS_3

Sementara Nuzlan dan Nagini mengunjungi Syaikh Fahril at-Tamim di kantor keamiran, Havard dan Selena bersenang-senang di pasar kota sekaligus mendapat tugas mengintai gerak-gerik mata-mata Kerajaan Yahuda yang menyamar sebagai saudagar.


"Ah, senangnya bisa melihat lagi keramaian. Pasar Ukadz sih kalah kalau dibandingkan dengan pasar ini." seru Selena.


"Ternyata kau termasuk liar untuk ukuran gadis rumahan." sindir Havard.


Selena menatapnya dengan sinis. "Kenapa lagi kamu? Mau ngajak bertengkar?" tukasnya.


"Nggak..." kilahnya. "Aku hanya heran saja. Perempuan-perempuan di Las Mecca nggak ada yang seperti kamu..."


"Itu karena mereka nggak pernah keluar dari Las Mecca." jawab Selena dengan ketus.


"Oh, jadi kau membanggakan dirimu, bisa sebebas itu?" sindir Havard lagi.


"Kamu memang benar-benar mau ngajak berantem ya?!" tukas Selena lagi sambil bercakak pinggang. "Kalau aku mau, aku bisa memperkarakan kamu dihadapan majelis pengadilan karena melakukan pelecehan seksual terhadapku!"


"Eh, siapa yang melecehkanmu?" bantah Havard tak mau kalah. "Aku hanya bertindak secara medis memastikan kau sudah sehat atau belum..."


"Ooo... jadi dengan meremasi payudaraku itu untuk memastikan aku sudah sehat atau belum? Begitu?" tukas Selena dengan ketus kemudian melangkah menuju ke stan perhiasan.


Havard menyusulnya dan keduanya mengamati berbagai macam perhiasan yang diletakkan dalam etalase tersebut.


"Maksudku bukan begitu..." ujar Havard.


"Sudahlah Havard." sela Selena lagi dengan ketus. "Aku sudah cukup bosan meladeni kelakuanmu..." gadis itu mengamati sebuah medalion batu ruby yang terpasang pada sebuah logam berukir terbuat dari orihalcon.


"Wah, perhiasan yang indah..." gumam Selena terpukau, memuji perhiasan itu.


"Kau suka?" tanya Havard.


"Indah jika dikalungkan dileher Nona yang cantik... murah saja, Nona..." tawar saudagar itu. "Hanya lima ratus dirham saja..."


Selena hanya tersenyum hambar lalu menggeleng dan pergi meninggalkan etalase itu. Havard mengekori punggung gadis itu dan kemudian menatap saudagar itu.


"Katamu tadi berapa?" tanya Havard.


"Lima ratus dirham saja, Tuan." jawab saudagar itu dengan antusias.


Havard mengangguk dan mengeluarkan dompetnya, merogoh dua keping dinar dan menyerahkannya kepada saudagar tersebut.


"Bungkus barang itu, cepat!" ujar Havard.


"Sisanya lagi sepuluh dirham, Tuan..." kata saudagar tersebut seraya mengambil perhiasan itu dari etalase dan membungkusnya.


"Untukmu saja..." ujar Havard dengan tak sabar meminta bungkusan itu. Setelah itu ia berlarian mengejar Selena yang telah berada di stan pakaian.


Mendengar suara kaki yang berlarian mendekat, Selena menoleh menatapi Havard yang tiba dengan napas tak beraturan.


"Kamu darimana saja?" tegur Selena dengan kesal. "Aku mencari-cari kamu tadi... kupikir kau meninggalkan aku sendirian dan pulang ke penginapan."


"Mana ada aku melakukan hal semacam itu? Bisa-bisa aku ditampar Nuzlan nanti." ujar Havard.


"Kamu darimana sih?" tanya Selena dengan ketus.


"Lagi buang air kecil." jawab Havard sekenanya membuat Selena memandangnya dengan jijik.


"Kenapa lagi?" tanya Havard.


Selena menggeleng cepat-cepat menoleh ke arah pakaian yang dipamerkan di stan tersebut. Mereka mengamati semua pakaian yang dijual disana. Selena kemudian terpaku menatap satu set pakaian yang dipamerkan di etalase.


Pakaian itu mirip dengan jenis pakaian yang dikenakan oleh orang-orang di jazirah timur. Rompi panjang selutut tanpa lengan menutup bagian lengan pakaian bagian dalam yang dibalut potongan-potongan baja yang ditempelkan, seperti baju jirah ringan. Bawahannya adalah sebuah celana panjang dan sepasang sepatu bot berjari dua.


"Kau suka pakaian itu?" tanya Havard lagi, "Nggak cocok sama penampilanmu." komentarnya.


"Ih, siapa bilang itu untukku?" bantah Selena.


"Kau memandangi busana itu lama sekali, persis bagaimana kau menatap perhiasan di stan sana..." jawab Havard. "Dan kayaknya Nuzlan nggak punya selera pakaian yang beginian."

__ADS_1


"Kalau semisalnya aku membelinya, pakaian ini bukan untuk kuberikan padanya..." ujar Selena.


"Aaah... pasti untuk Ahmad..." tebak Havard.


"Ahmad akan kelihatan lucu mengenakan pakaian ini..." ujar Selena kemudian menatap Havard dan melepaskan tudung kepala lelaki itu.


"Kenapa kau melepaskan tudungku?" tanya Havard hendak memasang lagi tudungnya namun dicegah oleh Selena.


"Kamu cocok mengenakan pakaian itu, Havard." ujar Selena kemudian meraih rambut pemuda itu dan menggenggamnya mirip kuncir. "Apalagi rambutmu kan panjang. Kalau dikuncir, apalagi mengenakan pakaian itu, kau tak jauh bedanya dengan penduduk jazirah timur..." sambung gadis itu dengan senyum yang lucu.


"Kau kira lucu ya?" tukas Havard melepaskan tangan Selena yang menggenggam rambut belakangnya.


"Ya... belilah pakaian itu, Havard." ujar seseorang di belakang membuat kedua muda-mudi itu menoleh.


Nuzlan tersenyum. Dibelakangnya nampak Nagini. Penampilan wanita itu membuat Selena terpukau.


"Waaaah..." seru Selena, "Kau seperti seorang wanita bangsawan... mirip seorang putri pendekar..." pujinya.


"Terima kasih..." jawab Nagini tersenyum tipis. "Nuzlan yang membelikannya."


"Waaah... kayaknya Ibu harus segera diberitahu kalau Kakak hendak mengambil istri..." goda Selena membuat wajah Nagini memerah.


Nuzlan tertawa. "Itu bisa kita bahas nanti..." elaknya kemudian menatap Nagini sejenak lalu kembali menatap Havard.


"Bukankah aku memberikanmu uang yang banyak?" tegur Nuzlan. "Belanjakan uang itu... manjakan dirimu..."


"Aku mau dia mengenakan pakaian itu." cetus Selena menunjuk pakaian gaya timur tersebut.


"Hei, aku tak..." protes Havard.


"Havard, belilah dan kenakan pakaian itu." tegur Nuzlan lagi. "Jangan menolak keinginan Selena..."


Havard menggerutu dan terpaksa memborong pakaian tersebut. Dibantu para pegawai toko, lelaki itu mengenakannya dan ketika ia keluar dari kamar ganti, Nuzlan pun terpukau dan bertepuk tangan.


"Waw... luar biasa..." komentarnya. "Kau memang tak jauh beda penampilannya dengan suku-suku shinobi dari dataran timur itu. Sejenak Nuzlan mengerutkan alis lalu tersenyum kembali. "Aku tahu senjata yang cocok untukmu... marilah..." ajaknya.


Benda itu diserahkan kepada Selena. "Nah, adikku... silahkan bersenang-senang. Makan dan minumlah dan belilah pakaian dan perhiasan..." ujar Nuzlan.


Selena dengan senang hati menerima dompet itu dan menjulurkan lidahnya, mengolok Havard yang menggerutu panjang-pendek karena dompetnya dimiliki perempuan itu.


Nuzlan mengajak Havard menuju toko kerajinan senjata. Ia menyapa pemilik toko tersebut.


"Kalian menjual senjata khas orang-orang timur?" tanya Nuzlan. "Aku membutuhkan senjata itu."


Pemilik toko itu mengangguk dan mengamati rak-rak senjata. Ia kemudian bergerak menuju sebuah rak dan mengeluarkan sebuah pedang gaya timur yang sedikit melengkung. Sarungnya berwarna hitam kehijauan. Pelindung pedangnya terbuat dari logam campuran tembaga dan emas. Gagangnya dari gading yang dibalut kain warna hitam kusam yang diikat spiral. Sebuah pin kecil berbentuk bunga dan daunnya melekat pada gagang itu. Tali berwarna jingga melingkar di bagian atas sarung tersebut.



Pedang itu disodorkan kepada Nuzlan. "Ini adalah tachi buatan Norimitsu Osafune, empu terkenal dari dataran timur..." ujarnya.


Nuzlan mengambil pedang itu dan menghunusnya, memperhatikan bilah pedang tersebut lalu mengangguk-angguk puas. Ia menyarungkan kembali dan menatap pemilik toko itu.


"Berapa harganya?" tanya Nuzlan.


"Jenis pedang itu termasuk langka. Orang-orang di selatan dan utara tidak pernah memesan pedang jenis ini... agak mahal kelihatannya..." ujar pemilik itu pura-pura enggan.


"Berapa harganya?" tanya Nuzlan lagi.


"Kalau anda memaksa, kuhargai pedang itu empat dinar..." ujar pemilik toko itu dengan senyum licik.


"Sialan! Itu mahal sekali" seru Havard memprotes.


"Kalau anda tak mampu, jangan menanyakan harganya!" sergah pemilik toko tersebut.


Havard baru saja hendak membalas ketika Nuzlan menyilangkan tangannya didepan dada pemuda itu. Ia menatap pemilik toko itu.


"Aku akan membayar enam dinar jika kau memberikan pasangannya..." tawar Nuzlan menganggukkan kepala kearah sebuah pedang jenis sama yang berukuran sedikit pendek dengan sarungnya yang diukir membentuk motif kulit buaya. "Bagaimana?"

__ADS_1


Pemilik toko itu ragu sesaat. Nuzlan kembali mendesaknya tanpa memberi peluang pemilik toko tersebut berpikir lagi. Akhirnya si pemilik toko menyerah dan mengiyakan.


Dengan senyum kemenangan, Nuzlan menyodorkan enam keping dinar dan mengambil dua bilah pedang tersebut. Ia kemudian menatap Havard.


"Gunakan dua pedang ini..." ujarnya seraya menyodorkan dua pedang itu, dan mengambil belati panjang milik Havard. "Benda ini biar kau hadiahkan saja kepada Selena..."


Havard mengalah dan akhirnya menyelipkan dua pedang tersebut disabuk kainnya. Belati panjang itu disimpan Nuzlan.


"Sekarang kau tiada jauh bedanya dengan para shinobi dari timur itu..." komentar Nuzlan seraya mengacungkan dua jempol atas penampilan Havard.


Keduanya kembali menyusuri pasar. keduanya nampak seperti seorang majikan dan pengawal yang sedang menyusuri pasar.


"Bagaimana pertemuannya?" tanya Havard.


"Syaikh Fahril at-Tamim sudah menerima pesan Sultan Yazid al-Bustami... dia juga sekarang membantu kita mengamati gerak-gerik mata-mata Kerajaan Yahuda..." jawab Nuzlan. "Tugas kita sudah sedikit lebih ringan."


"Lalu setelah ini, apa langkah kita selanjutnya?" tanya Havard.


"Mendaftarkanmu sebagai peserta turnamen itu..." jawab Nuzlan.


Havard kembali hendak protes ketika Nuzlan kembali mengajukan alasannya.


"Hadiahnya besar..." ujarnya. "Kau tak mau merebut hati Selena?"


"Dia bukan mata duitan..." protes Havard.


"Uangnya bukan untuk dia... tapi untukku" ujar Nuzlan dengan senyum nakal. "Lumayan kan? Untuk penambah bekal diperjalanan."


Havard kembali menggerutu. Nuzlan kembali berkata, "Tadi aku mendapat informasi bahwa Lord Rotcshild berada di pasar ini... tapi dibagian mana, aku tak tahu..." ujarnya mengamati sekitaran sejenak. "Aku curiga, dia hadir di turnamen ini untuk merekrut orang-orang yang bisa dimanfaatkan untuk bergabung dengan kelompok pendekar yang akan memperkuat angkatan bersenjata mereka!"


"Jadi kita mengikuti turnamen untuk memata-matai Lord Rotcshild?" seru Havard. "Kenapa tak bilang dari tadi?!"


"Kamu mau ikut nggak?!" tekan Nuzlan.


"Tentu saja aku akan ikut, jika ini menyangkut Lord Rotcshild..." sahut Havard menerima.


"Bagus... aku akan mendaftarkanmu." ujarnya mengajak Havard menuju ke sebuah koloseum buatan yang terdapat ditengah-tengah pasar.


Mereka tiba di gerbang masuk. Nuzlan mendekati panitia.


"Aku mau mendaftarkan orang ini..." ujar Nuzlan kepada panitia.


Panitia itu sejenak menatap Havard lalu menoleh kembali ke arah Nuzlan. "Anda tahu peraturannya?" pancingnya.


"Apa peraturannya?" tanya Nuzlan.


"Pertandingan memakai sistim gugur dengan kemenangan mutlak. Yang luka akan diobati sampai sembuh, dan yang tewas dalam pertandingan ini, maka keluarganya akan mendapatkan uang asuransi sebesar sepuluh ribu keping dinar..." tutur panitia itu.


"Gila!" tukas Havard dan direspon dengan senyuman sinis oleh panitia itu.


"Kalau tak berani, sebaiknya mengundurkan diri saja." sindirnya. "Ini turnamen untuk petarung sejati..."


"Sialan..." ujar Havard merasa tersinggung dengan sindiran panitia itu. "Nuzlan! Daftarkan aku!!!"


Dengan senyum kemenangan, Nuzlan kemudian mendaftarkan nama Havard sebagai peserta turnamen tersebut. Setelah membayar biaya pendaftaran dan uang jaminan asuransi, panitia tersebut mempersilahkan Havard memasuki ruangan khusus para peserta.


Adapun Nuzlan dipersilahkan menempati bangku di tribun penonton. Nuzlan memesan karcis untuk tiga orang. Setelah itu ia berdiri didepan gerbang menanti kedatangan Nagini dan Selena.


Tak lama kemudian, kedua perempuan itu tiba. Nuzlan mendekati mereka. "Ayo, pertandingan sedikit lagi akan dimulai." ajaknya seraya memberikan karcis masing-masing ke tangan Nagini dan Selena.


Ketiganya masuk dan menaiki tangga menuju tribun bagian tengah. Mereka duduk ditempat yang sesuai dengan nomor urut karcis. Ketiganya rupanya duduk bersisian.


"Sebentar lagi Havard akan muncul di turnamen. Kita berikan dukungan kepadanya." ujar Nuzlan dengan semangat.


Sementara itu, Havard yang baru saja memasuki bilik khusus peserta, berpapasan dengan seseorang. Mereka bertatapan sejenak. Lelaki itu terkejut. Seketika Havard berseru.


"Kau!!!!" serunya dengan kaget.[]

__ADS_1


__ADS_2