
Riuh rendah sorak-sorai penonton kembali membahana pada siang hari itu. Koloseum semakin ramai dengan bertambahnya jumlah pengunjung yang membengkak sebab ingin melihat pertandingan final. Pihak panitia sendiri terpaksa harus meminta bantuan pihak sherif kota Turan untuk mengamankan dan mengendalikan penonton yang membludak hari itu.
Aula kini hanya ditempati oleh empat orang. Havard duduk bersila sembari memeluk tachi Norimitsu, dibagian sudut tenggara, dekat rak pakaian bersama Do Quo yang juga sementara duduk menyangga ketegakkan torsonya yang sedikit membungkuk dengan kedua siku tangan dikedua lututnya. Di sudut selatan, Sinhala berdiri menyandarkan punggungnya. Tatapannya terarah tajam kepada Havard.
Adapun disudut timur berdiri seorang lelaki atletis bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana ketat selutut yang dibalut sarung terbuat dari kulit smilodon. Sebuah sabuk besar dengan gesper logam berukir kepala siluman melingkari pinggang rampingnya. Lehernya dilingkari kalung tasbih besar yang menjuntai sampai ke perutnya dan kedua lengan atasnya dilingkari gelang. Rambut lelaki itu panjang hingga ke punggung dan sebagiannya disanggul keatas. Diatas sanggul itu terdapat hiasan bulan sabit. Sebuah busur besar tergenggam dijemarinya yang kokoh. Andong berisi anak panah tersampir dipinggang kirinya. Sebilah tombak pendek berhulu trisula tersampir dibelakang punggungnya.
Suara pembawa acara terdengar lantang memenuhi udara disekitar koloseum yang dipadati penonton. Di plang pengumuman tertera kontestan mana yang akan melawan siapa.
Nuzlan dan Selena melihat plang itu dan menyadari bahwa Havard mendapat pertandingan pertama melawan seorang bernama Rudra Sarwa dari Svaradwipa, sebuah pulau dari gugusan kepulauan Nusangga yang terletak di Lautan Tenggara. Adapun Do Quo mendapat pertandingan kedua menghadapi Sinhala dari Shamvala.
"Lawan Havard kali ini bukan main-main." ujar Nuzlan. "Orang-orang dari Nusangga terkenal dengan kemahiran beladiri yang tinggi dan jurus yang aneh-aneh."
Selena menatap Nuzlan dengan cemas lalu mengarahkan tatapannya ke arena. Tak berapa lama, muncullah dua kontestan yang disambut riuh oleh para penonton tel terkecuali Selena dan Nuzlan.
Havard mengambil titik bagian barat sedang Rudra Sarwa mengambil titik diseberangnya.
Terdengar aba-aba mulai dari wasit dan juri pertandingan yang menandakan bahwa pertandingan sudah dimulai. Kali ini, Havard menghunus dua pedang dan memasang kuda-kuda yang kokoh.
Tiba-tiba Rudra maju menyerang dengan mengayunkan busurnya mengincar wajah Havard. Dengan sigap Havard menyilangkan pedang lengkungnya di depan wajah dan berhasil menangkis kibasan busur yang dilayangkan Rudra.
Havard maju mengayunkan kedua pedangnya menghalangi Rudra mendekat. Gerakan Havard yang cekatan membentuk tirai ilusi pedang membuat Rudra menjadi jengkel dan melompat menjauh.
"Apa kau bisa mengalahkan kehebatan Busur Hardhan ini, Havard?!" seru Rudra dengan marah.
Dalam posisi melayang mundur, Rudra mencabut sebatang panah dari andongnya dan memasangkannya ke busur lalu membidiknya ke arah Havard.
SWINGGG....
Panah itu melesat dari busur. Havard mengibaskan pedang panjang hendak menebas anak panah itu. Namun Havard terkejut menyadari tak satupun pedangnya mengenai proyektil tersebut membuat Havard buru-buru menyampingkan kepalanya. Anak panah itu lewat beberapa senti nyaris mengores kulit lehernya.
Rudra mendarat dengan lembut dilantai dan tersenyum sinis melihat Havard berdiri dengan sikap waspada sebab lehernya baru saja hampir saja robek terkena sebatang anak panah.
Havard kembali menyilangkan kedua pedangnya didepan dadanya dan memasang kuda-kuda. Rudra berdiri tegak menggenggam Busur Hardhan.
"Ini adalah Busur milik Manikmaya dari Kalash.." ujar Rudra mempromosikan senjatanya. "Senjata ini sebenarnya kembar, layaknya kedua pedangmu itu. Satunya digunakan sendiri oleh guruku, Resi Amoghasidhi dari Pesanggrahan Ganatundra."
"Aku tak butuh promosi senjatamu!" balas Havard. "Serang saja aku sekuat tenagamu!"
Havard maju dan melompat sambil mengayunkan dua pedangnya. Ia mengerahkan tenaganya menyebabkan gerakannya menimbulkan deru angin keras mirip angin beliung.
"Hm... tirai pedang yang dibalut ****** beliung..." seru Nuzlan kemudian menatapi Selena yang terpaku kagum menatap ke arena tanding. "Apakah dia pernah memperlihatkan teknik-teknik pedangnya padamu?"
"Ada, beberapa..." sahut Selena tanpa menoleh. "Tapi jurus ini, aku belum pernah melihatnya."
Nuzlan kembali menoleh ke arah arena. Rudra mendengus dan melompat ke samping lalu membidik lagi.
SWINGGGG....
PRAKK...
Anak panah yang dilesatkan Rudra meluncur keras menghantam ****** beliung itu, namun tertebas dan patah menjadi dua bagian. Rudra menggeram marah. Ia mencabut kali ini lima anak panah yang dipasangkan pada Busur Hardhan kebanggaannya.
SWINGG...SWIIINGGG...SWIINGGG...SWIIINGGG....SWIIINGGG...
PRAKKK...PRAKKK...PRAKKK...PRAKKK...PRAKK...
Serangan lima anak panah juga tak merubah keadaan. Kelimanya tetap saja patah tertebas dua pedang milik Havard.
"Brengsek!!!" seru Rudra dengan murka.
Lelaki itu kemudian berdiri tegak. Tangan yang bebas teracung ke udara sedang jemarinya membentuk mudra tertentu sedang tangannya yang memegang Busur Hardhan diarahkan didepan dada dengan posisi busur berdiri. Bibir lelaki itu terlihat komat-kamit.
"Apa yang dilakukannya?" seru Selena. "Apa orang itu merelakan dirinya ditebas oleh Havard dan sedang membaca mantra menyambut maut?"
Nuzlan memicingkan matanya. Rudra yang selesai membaca mantra meraih tali busur dan merentangkannya, membidik ke arah Havard yang sementara berputaran bagai angin ****** beliung.
"Mengapa dia membidikkan busurnya tanpa anak panah?" olok Selena. "Kayaknya dia sudah gila!"
__ADS_1
Tiba-tiba dari tali busur yang terlentang itu muncul seberkas cahaya yang berubah wujud menjadi sebuah panah cahaya. Selena terkejut bukan main.
"Apa itu?!" serunya dengan kaget.
Nuzlan pun tak kalah kagetnya. Para penonton bersorak-sorai dengan penuh rasa kagum. Rudra memicingkan mata membidik Havard.
SWINGGGG....
Lelaki itu melepaskan tali busurnya. Panah cahaya itu melesat menuju ****** beliung yang membalut tubuh Havard.
BUMMM... AAAKHHH...
Terjadi ledakan besar saat panah cahaya itu membentur angin ****** beliung tersebut. Sesaat suasana terlibat menyilaukan dan sesaat kemudian hilang memperlihatkan Havard yang terbaring kesakitan diatas lantai arena, beberapa meter jauhnya dari tempat Rudra menjejakkan kakinya.
"Havaaarrrd..." pekik Selena dengan cemas.
"Tenang Selena!!! Tenanglah!!!" sela Nuzlan tak kalah cemasnya. Keduanya duduk tak tenang menyaksikan Havard yang terbaring kesakitan.
Untung saja kedua pedang tak terlepas dari genggamannya. Itulah sebab Rudra tak mendekatinya untuk mengakhiri hidup lelaki itu. Ia kuatir, Havard hanya pura-pura kesakitan dan tiba-tiba bangkit menyerangnya.
Sorak-sorai penonton terdengar lagi membahana diseluruh koloseum tersebut. Havard perlahan bangun dan bangkit berdiri dengan sempoyongan berusaha mengusir pengaruh ledakan yang ditimbulkan oleh bentrokan panah cahaya itu dengan tubuhnya.
Dengan napas tak beraturan, Havard kembali memasang sikap bertarungnya. Rudra mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Bagus. Aku suka semangatmu!" pujinya. "Aku juga tak bersemangat jika lawanku sudah tumbang sebelum kupersembahkan semua jurusku yang terbaik."
"Jurus apa itu barusan??" tanya Havard seraya mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Warastra Cahya!" jawab Rudra dengan senyum bangga. "Salah satu jurus dari aliran Ganatundra..." Lelaki itu menganggukkan dagunya kearah Havard. "Bagaimana rasanya?"
"Cukup lumayan..." olok Havard meskipun ia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Dihantam ajian itu terasa bagai terkena setrum halilintar. Setiap sendi tubuhnya terasa ngilu.
Rudra tertawa saja sebab ia melihat langsung efek dari ajian itu terhadap Havard. Lawannya hanya mengejeknya dan berpura-pura kuat.
"Aku akan mengalahkan semua jurus panahanmu! Keluarkan semuanya!" seru Havard dengan senyum mengejek.
"Kita hanya memiliki satu kali kesempatan saja... mengapa kita tak berjudi sekalian?" balas Havard.
Rudra mendengus. "Baiklah! Hadapi kali ini, Jurus Pasopati!!!" seru lelaki itu mengangkat tangannya ke atas dan jemarinya membentuk mudra tertentu. Kemudian ia merentangkan tali busurnya dan membidik ke arah Havard.
Havard pun maju mengembangkan tangannya yang memegang pedang. Tiba-tiba dari busur yang terentang itu muncul lagi sebuah panah bercahaya putih berpendar-pendar.
"Pasopati!!!!" seru Rudra dengan keras seraya melesatkan panah cahaya berpendar itu.
Havard melompat ke kiri menghindari proyektil cahaya itu lalu kembali menerjang ke arah Rudra. Namun betapa terkejutnya Havard ketika melihat panah cahaya itu berbalik dan mengejarnya. Lelaki itu menggeram dan terpaksa melesat kesana-sini berupaya menghindari senjata tersebut.
Rudra tertawa keras. "Kau pikir bisa melarikan diri dari panah itu? Dia mengejar aura tubuhmu. Kau tak bisa menghindarinya!!!"
Havard menjadi pias mendengar keterangan lelaki itu. Ia menggeram lagi. Terpaksa Havard mengeluarkan jurus yang pernah diajarkan Katsunoshin kepadanya.
Jurus ini memanfaatkan angin menciptakan ilusi tubuh yang mirip dengan aslinya. Tiba-tiba tubuh Havard membelah menjadi dua. Keduanya memisahkan diri dan menyerang Rudra dari dua sudut yang berbeda.
Panah cahaya akhirnya mengejar salah satunya dan menghujam tubuh maya dari Havard.
BUMMM....
Terdengar ledakan namun tidak menyilaukan. Tubuh maya dari Havard hilang terkena panah Pasopati. Rudra sendiri memang sudah mempersiapkan diri. Ketika Havard mendekat, lelaki itu menyarungkan busurnya ke punggung dan balik mengeluarkan tombak pendek trisula dan maju menyongsong serangan Havard.
TRANGGG... TRANGGG... TRANGGG...
Bunyi senjata beradu terdengar memenuhi udara koloseum itu berpadu dengan suara gagap gembita para penonton dan sponsor yang memberikan dukungan pada gacoan mereka masing-masing.
Rudra sesekali balas menyerang, menusukkan tombak trisula menabrak garis pertahanan Havard.
TRANGGG... TRANG... TRANGGG...
Havard memanfaatkan hal itu mengayunkan kedua pedangnya dari arah serong bawah, ke atas. Rudra ikut mengayunkan tombak pendek trisula menampar kedua pedang itu.
__ADS_1
TRANGGG....
Tubuh Rudra terlontar ke udara namun ia mampu mengatur keseimbangan tubuhnya hingga seakan-akan ia melayang diangkasa. Lelaki itu mengambil lagi busurnya dan merentangkan tali busur, memanfaatkan tombak pendek trisulanya sebagai panah.
"Terima ini, Havard!!!" seru Rudra melepaskan tali busurnya.
SWINGGG...
Tombak pendek berhulu trisula itu melesat cepat menukik ke arah Havard. Dengan cekatan ia melemparkan pedang pendek ke udara menuju tombak yang meluncur cepat.
PRANGGG...
Havard terkejut ketika menyadari pedang pendek itu patah sementara tombak pendek trisula itu terpental dan jatuh diluar arena. Masih sementara diudara. Rudra merapal lagi mantra dan mengacungkan tangan dengan jemari membentuk mudra tertentu lalu menyerukan jurusnya.
"Dashapasa!!!" seru Rudra mengambil sebatang anak panah dari andong lalu memasangnya pada busur dan membidik kearah Havard kemudian melepaskannya.
Panah yang dilesatkan Rudra tiba-tiba memecah ujud menjadi sepuluh anak panah yang meluncur deras. Havard terpaksa memutar-mutar pedang lengkungnya membentuk putaran tirai pedang.
TRAKK... TRAKKK...
Kesepuluh panah itu patah terkena sabetan pedang. Berkali-kali Rudra merapal ajian Dashapasa, menghabiskan sebagian besar anak panah dalam andongnya.
Havard berhasil mengelakkan serangan panah itu meski tak semuanya. Lima batang anak panah sempat menancap dikedua paha, lengan kiri, punggung bagian kanan dan rusak bagian kanan.
Rudra mendarat dengan lembut dilantai sementara Havard mencabuti semua batang panah yang menancap di tubuhnya.
"Havard... kalau tak sanggup, menyerah saja..." desis Selena dengan lirih. Ia tak sanggup melihat luka-luka dari anak panah ditubuh Havard.
Rudra menatap Havard dengan senyum mengejek. "Berhentilah melawan. Aku akan mengakhiri hidupmu tanpa rasa sakit...." ujar lelaki itu mengambil lagi sebatang anak panah dan memasangkannya ke busurnya.
"Perjudian belum berakhir, kawan." ujar Havard. "Aku masih punya dadu terakhir untukmu..." Lelaki itu kemudian merubah kuda-kuda menjadi kuda-kuda gaya batto-jutsu.
Rudra menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Dasar keras kepala." gumamnya kemudian membidikkan panah ke arah Havard.
"Terimalah... Panah Brahmatsya!!!" seru Rudra. Batang panah itu tiba-tiba berubah ujud menjadi batang panah yang mengobarkan api.
SWIIINGGG.... BURRRRRR....
Rudra melepaskan panah yang dilapisi ajian Brahmatsya. Panah api itu melesat menimbulkan gemuruh suara yang memekakkan telinga. Para penonton yang tak terbiasa mendengar suara gemuruh keras akhirnya menekan telinganya, tak terkecuali Selena. Nuzlan sendiri menahan rasa sakit ditelinganya akibat efek batang panah api yang melesat sambil menderu.
Diiringi satu teriakan, Havard mengerahkan tenaga dalamnya. Tubuh lelaki itu tiba-tiba melesat bagikan kilat yang menyambar. Panah api sendiri tidak mengenai lelaki itu dan menyentuh pinggiran arena menimbulkan sebuah ledakan dahsyat. Pinggiran arena itu hancur berantakan.
Rudra tidak sempat lagi merapal mantera sebab Havard tiba-tiba sudah berada dihadapannya. Tak ada yang bisa dilakukan pemanah tersebut terkecuali menyilangkang Busur Hardhan melindungi kepala dan dadanya.
TRAKKK!!!!! ... EEHHHH????
Busur Hardhan patah menjadi dua dihantam tachi Norimitsu milik Havard. Rudra terkejut bukan main.
"Tidak mungkin!!!! Busurku yang kuat!" serunya dengan histeris.
Havard maju melayangkan kakinya menghantam perut Rudra membuatnya terpelanting jauh beberapa meter dan keluar dari arena pertandingan. Secara langsung, sesuai hukum pertandingan, siapapun yang jatuh diluar panggung pertandingan, maka dia dikalahkan.
Sorak-sorai penonton kembali terdengar. Rudra susah payah bangkit. Dipinggir panggung, Havard berjongkok.
"Kau tak apa-apa, kawan?" tanya Havard.
Rudra menatap lelaki yang jongkok dipinggiran panggung pertunjukan itu. Havard mengulurkan tangan.
"Bangunlah jagoan." ujarnya. "Kau sudah mendapatkan rasa hormat dari penonton."
Rudra akhirnya tersenyum dan menggapai tangan Havard. Keduanya lalu bangkit.
"Ah, Busur Hardhan sudah patah... aku terpaksa menerima hukuman dari Resi Amoghasidhi gara-gara mematahkan senjata milik Raja Manikmaya dari Kalash..." keluh Rudra dengan senyum masam.
"Busur itu adalah satu diantara senjata terbaik yang ditampilkan di arena ini." puji Havard.
Kedua kontestan itu tersenyum lalu tertawa bersama berbaur dengan suara sorak-sorai para penonton yang memenuhi seluruh koloseum itu.[]
__ADS_1