
Havard malam itu memutuskan melakukan ronda untuk memastikan tempat persembunyian mereka tidak terdeteksi oleh regu-regu pengejar bangsa pantera. Sementara itu, Selena sedang melayani Nuzlan, memeriksa luka lelaki itu.
Meskipun jengah karena letak luka itu berada dipantat, Nuzlan tak bisa menolak ketika Selena dengan telaten membersihkan bekas-bekas luka tersebut dan membebat luka itu dengan ramuan dedaunan yang diyakini mampu menghentikan darah yang mengalir sekaligus merapatkan luka itu.
"Terima kasih..." ujar Nuzlan ketika Selena selesai mengobati luka. "Kupikir, kau berbakat menjadi tabib."
Selena tersenyum mendengar pujian lelaki itu. Nuzlan memperbaiki duduknya. "Di Aznak, ada sekolah khusus ketabiban... kurasa kau..."
"Akademi Asklepian..." sela Selena sembari membereskan sisa-sisa dari ramuan dedaunan. "Aku pernah mendaftar di sekolah itu..." Sebuah gurat senyum kecewa muncul diwajah gadis itu dan tertangkap jelas oleh tatapan Nuzlan.
"Lalu? Kurasa para tutor disana tentunya akan bangga memiliki siswa berbakat sepertimu..." ungkap Nuzlan.
Selena menggeleng. "Tempat itu gak cocok untukku..." tepisnya dengan tegas.
Nuzlan terdiam lama lalu menghela napas. "Kurasa... itu bukan alasan yang tepat..."
"Karena ia tak sanggup membayar biaya pendidikannya." sela Havard yang tiba-tiba saja sudah masuk kedalam gubuk.
__ADS_1
"Kami rakyat miskin... tidak akan mampu membayar biaya-biaya semacam itu..." ujar Havard sembari duduk dan meletakkan kopesh disisinya kemudian menatap Nuzlan. "Bagi kami, sekolah adalah impian utopis bagi kami..."
Nuzlan terdiam lama lalu mengangguk-angguk. "Aku paham... maafkan aku..."
Havard menggeleng. "Itu bukan salahmu." Lelaki itu menatap Selena yang duduk menundukkan wajahnya. "Selena, seperti katamu... dia memang berbakat jadi tabib... tanpa ijazah, kami warga Las Mecca mengangkatnya secara sepihak menjadi tabib kota... warga Las Mecca sudah menganggap Selena sebagai tabib mereka... kami tak perlu lagi tabib..."
Nuzlan tersenyum. "Kurasa kau benar."
"Aku bahkan sesumbar... silahkan datangkan semua siswa berprestasi Akademi Asklepian... mereka akan takluk berhadapan dengan Selena." ujar Havard berpromosi.
"Kelihatannya, kau mengenalnya begitu dalam... apakah kau sahabat karibnya sejak kecil?" tanya Nuzlan.
Nuzlan mengangguk-angguk. "Dan kedatanganmu ke Benteng Maung untuk membebaskan perempuan yang kelihatannya sangat khusus bagi dirimu..."
Havard melengos menyembunyikan warna hatinya. Sedangkan wajah Selena merona merah dan semakin menundukkan wajahnya. Nuzlan kemudian tersenyum dan kembali mengangguk.
"Kurasa kau terlalu menyimpulkan hal yang bukan urusanmu." ujar Havard menatap Nuzlan lalu ia merebahkan dirinya.
__ADS_1
"Sudah malam. Mari kita tidur..." ajak Havard kemudian membalikkan tubuh memunggungi Nuzlan.
"Kau tak makan terwelu bagianmu..." tegur Selena.
"Aku tak lapar..." ujar Havard.
Selena tak berkata-kata lagi. Ia akhirnya ikut berbaring dan berusaha tidur. Nuzlan menghela napas sejenak lalu menelungkupkan tubuhnya dan tidur dengan posisi tengkurap.
...****...
"Havard! Lindungi ibumu!" seru seorang lelaki parobaya yang berdiri memegang pedang.
"Ayah sendiri mau kemana?!" tanya anak kecil itu dengan cemas.
Lelaki parobaya itu mengacuhkan anak itu dan menatap wanita yang memeluk anak tersebut.
"Jangan kemana-mana, Rosalina. Aku akan segera kembali." ujar lelaki itu kemudian berbalik dan melangkah pergi sambil berlari meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Ayaaaaaaahhhh...." teriak anak itu, namun sang ayah tak menghiraukannya.[]