
Ketiga orang itu terus bergerak menaiki tangga yang melingkar bagai spiral. Sesekali Do Quo melongok ke bawah menonton pertarungan antara Thor Donnerstein melawan Nagini.
"Lihat, pintu sudah terlihat!" seru Sultan Yazid menunjuk sebuah gerbang yang telah nampak dibagian atas. "Ayo kita bergegas!"
Ketiga orang itu mempercepat langkah menjejaki anak-anak tangga hingga akhirnya mereka tiba didepan gerbang. Sultan Yazid mempreteli baju jirah dan menyisakan tunika yang membungkus tubuhnya. Sementara Do Quo dan Havard telah berdiri siaga disisi kiri dan kanannya.
Sultan Yazid menatap keduanya silih berganti. "Kalian siap?" tanya lelaki itu.
Havard dan Do Quo mengangguk. Sultan Yazid kemudian memasukkan kunci medali kedalam lubang kunci pintu tersebut. Terdengar bunyi 'klik' dan Sultan Yazid kemudian mendorong dengan pelan gerbang itu hingga membuka lebar. Ketiganya kemudian memasuki ruangan didepannya.
Ternyata, Raja Saul sedang duduk disisi ranjangnya dengan santai, menyangga tangan kanannya dengan tongkat berhulu dua mirip garputala. Ia menatap ketiga orang penerobos yang masuk dan tercekat sendiri sebab lelaki itu seakan telah tahu dan menunggu kedatangan mereka.
"Raja Saul..." desis Sultan Yazid.
Raja Saul tersenyum. "Sebuah kehormatan besar bagi Tarsia, menerima kedatangan seorang tamu agung dari Tel-Qahira..." lelaki itu berdiri. "Selamat datang, Sultan Yazid al-Bustami..."
"Aku datang memenuhi keinginanmu." ujar Sultan Yazid dengan siaga menyiagakan tombak Pasak Bianglala.
"Kurasa, ada kesalah pahaman disini." elak Raja Saul kemudian melangkah mendekati Sultan Yazid dan berdiri dalam jarak dua meter dihadapan lelaki penyandang tombak Pasak Bianglala itu.
"Aku tak pernah sedikitpun berniat mengundangmu." ungkap Raja Saul. "Kurasa Rotcshild mengelabuimu lebih dari yang kau bayangkan..." lelaki itu terkekeh.
"Mengapa kau menculik Selena?" tanya Havard dengan datar.
"Selena? Aku tak kenal perempuan bernama Selena..." bantah Raja Saul mengerutkan alisnya.
"Perempuan dari Las Mecca yang kalian sekap di Benteng Maung!!!" tambah Havard memperjelas keterangannya.
"Ooh... aku ingat sekarang." ujar Raja Saul lalu terkekeh. "Ya, perempuan itu akan kujadikan permaisuriku di Tarsia." ujarnya membuat Havard langsung saja menatap jijik.
"Apakah kau kekasihnya?" pancingnya lalu tertawa. "Apa kau tak sadar bahwa perempuan itu memiliki kekuatan misterius yang disebut animus purificanum?" pancingnya.
Havard tersentak kaget, mengingat kembali peristiwa dimana mereka diserang oleh Euryale di Gua Basilisk.
"Aaahhh... kau sudah tahu rupanya..." ujar Raja Saul lalu terkekeh kembali. "Orang yang memiliki kemampuan animus purificanum, hanya segelintir saja... mereka mampu melakukan sesuatu tanpa mempelajarinya terlebih dulu... mereka memiliki intuisi yang tinggi."
Havard mendengus saja. Raja Saul menyambung. "Aku membutuhkan orang-orang berbakat semacam itu untuk membangun kekuatanku sehingga mampu melingkupi wilayah-wilayah utara dan timur... Pax Saulia!!!" serunya dengan suara menggelegar seraya mengembangkan tangan ke udara.
"Kau gila!!!" bentak Havard. "Apa kau ingin meniru Kaisar Uran yang menguasai delapan penjuru bumi? Kau tak punya kemampuan sebesar itu!"
"Setelah Rotcshild memiliki tujuh harta karun dunia, ia menjanjikan seluruh dunia dalam genggamanku! Dia adalah satria Masshiahku!!!" ujar Raja Saul dengan lantang. "Dinasti Darsus akan menguasai seluruh persada bumi!"
Raja Saul tertawa lantang sementara Do Quo menjawil lengan Havard. "Kayaknya yang diberitakan Master Ismanto kepada kita itu memang benar... Raja Saul memang sudah gila..."
Sultan Yazid terkekeh lalu berdiri dengan posisi menyamping sedang tombak Pasak Bianglala terkepit dilengan kanannya.
"Aku tak punya urusan dengan hasrat gilamu untuk menguasai delapan penjuru dunia..." ujar Sultan Yazid dengan datar. "Tapi, aku punya urusan denganmu karena kau mengganggu wilayah kedaulatanku! Dan aku menagih pertanggungjawabanmu!"
"Datangilah!!!" seru Raja Saul dengan lantang.
Seketika pintu-pintu rahasia disekeliling ruangan itu membuka dan menyeruaklah sepasukan besar tentara bersenjata lengkap, pedang dan tombak. Mereka maju membentuk setengah lingkaran besar mengepung ketiga penerobos tersebut. Tak lama beberapa panglima perang, termasuk Surya Hitam muncul disana.
"Celaka! Kita terkepung..." desis Havard sembari menghadap ke arah kumpulan prajurit musuh sembari menyilangkan pedang lengkungnya didada.
__ADS_1
Do Quo memasang sikap bertarung. "Sudah kepalang basah." ujarnya menggeram. "Jika kita mati disini, itu bukan kematian yang sia-sia!"
Sultan Yazid tersenyum datar mendengar ungkapan kata Do Quo itu. Ia menatap Raja Saul.
"Sultan Yazid al-Bustami dari Tel-Qahira!!! Datang menantang penguasa Istana Tarsia, Raja Saul dari Dinasti Darsus!!! Bagaimana tanggapanmu?!" tantang Sultan Yazid dengan lantang.
Wajah Raja Saul memerah dan rahangnya mengencang mendapatkan tantangan langsung dari penguasa wilayah Najd. Kelelakiannya tersinggung. Ia membalas.
"Aku Raja Saul dari Dinasti Darsus, menerima tantanganmu!!! Majulah!!!" jawabnya menghentakkan tongkat garputalanya.
Semua tentara yang hadir paham tentang tantangan itu. Dalam kode etik kuno Codex Chivaliria, jika seorang petarung mengajukan tantangan secara langsung, maka yang ditantang akan mengabulkannya baik secara rela maupun terpaksa dan diselesaikan dalam pertandingan adil dengan kemenangan mutlak tanpa campur tangan pihak lain. Siapapun yang melanggar kode etik kuno itu akan dikucilkan oleh semua negara didunia.
Mereka mengalihkan kepungan kepada Havard dan Do Quo, membiarkan kedua raja itu bertarung ditempat yang leluasa.
"Seraaaaangg..." seru Surya Hitam dengan lantang. Seketika para prajurit maju mengeroyok kedua petarung itu.
"Terpaksa aku harus mengandalkan ajian Jirah Arhat Emas!!!" seru Do Quo merapal mantra dan seketika setuju tubuhnya mengencang dan cahaya pendar warna keemasan menyelubungi tubuhnya. Berbekal ilmu yang diajarkan seorang Sigirlya tua itu, Do Quo kini memiliki tubuh sekeras baja yang tak mempan dihantam senjata manapun.
Lelaki itu mengamuk memukuli prajurit yang menyerang dan mematahkan senjata-senjata mereka hanya dengan mengandalkan keempat tungkai tubuhnya.
Sementara Havard menciptakan ilusi tirai pedang untuk membendung keroyokan para prajurit musuh. Ia tak bisa mengandalkan ajian Pedang Pengumpul Awan Syurga. Ilmu itu tak akan berefek kuat diruangan tertutup.
...****************...
Pertarungan antara Nagini dan Thor berlangsung seru. Keduanya sama kuat secara fisik. Namun Nagini sulit menumbangkan lelaki dari suku Aesir itu sebab ia mengenakan benda-benda sakti peninggalan kaumnya seperti kapak Mjolnir dan sabuk Megingjorđ yang pernah disandang oleh Raja Theoldur dijaman kekuasaan Menara Temen-Ni-Zur dan Istana Baalthazar di Ur-Salem.
Nagini yang jengkel, terpaksa harus menggunakan ilmu andalannya. Di silangkannya pedangnya didepan dada dan ia mengiri telapak tangannya dengan bilah pedang itu, setelah itu ia menyeru.
"Wahai Ratu Parwati! Wahai adi sakti parashakti, aku sembahkan darahku... lakukan tugasmu, melebur musuhmu!!!" seru Nagini.
"Apa ini!!!" seru Thor.
"Durga Kali!!!!" seru Nagini dengan lantang dan seketika ujudnya hilang berganti sosok makhluk betina raksasa berwarna hitam dengan empat tangan memegang masing-masing senjata trisula, pedang, cakram dan sabit besar.
Makhluk itu meraung lalu menyerang Thor. Kelabakan lelaki itu menyambut serangan makhluk berkulit hitam tersebut sebab keempat tangannya mengeroyok dan menghujani Thor dengan berbagai senjata itu membuatnya terpaksa memutar-mutar saja kapaknya menangkis serangan dengan serampangan.
Lelaki itu lama-lama terkuras juga tenaganya dan mulai kelelahan sedang lawannya seakan-akan memiliki kekuatan tak terbatas.
CRASSHHHH...
Sebuah sabetan pedang berhasil melukai lengan Thor yang memegang kapak Mjolnir. Ia meraung kesakitan dan senjata itu terlepas dari genggamannya. Dengan sisa-sisa tenaganya, Thor harus bergulat melawan makhluk hitam bertangan empat dengan lidah terjulur keluar tersebut.
Lelaki itu akhirnya jatuh tak berdaya ditindih kaki makhluk tersebut. Thor berpikir dia akan dihabisi. Lelaki suku Aesir itu sudah pasrah. Makhluk yang menindihnya meraungkan kemenangannya dan seketika suasana gelap itu berangsur hilang dan tubuh makhluk itu juga mengecil dan berubah wujud kembali ke wujud Nagini yang menginjakkan kaki kanannya didada Thor, sedang pedangnya diarahkan pada leher lelaki itu. Tatapan matanya begitu tajam dan menakutkan.
Thor sejenak menatapnya lalu perlahan ia memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya melemah seiring dengan menguapnya tenaga. Lelaki Aesir itu pingsan.
Nagini tak punya maksud membunuh lelaki itu. Ia menyingkirkan kakinya lalu menyarungkan pedangnya. Dengan langkah santai Nagini meninggalkan Thor yang terbaring pingsan dan ia menaiki tangga menuju kamar utama sang raja.
...****************...
Para prajurit tak berdaya menghadapi keganasan dua orang petarung itu. Sebagiannya tewas terpukul dan terkena tendangan dari Do Quo, dan sebagiannya tewas ditebas oleh Havard. Yang tersisa hanya prajurit berkemampuan tinggi yang membagi lawan diantara mereka.
Surya Hitam menghadapi Do Quo dan perkelahian tanpa senjata kembali berlangsung dengan seru sedang Havard melawan seorang lelaki bersenjata sabit.
__ADS_1
Di tempat yang leluasa, terlihat Sultan Yazid bertempur mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam olah seni tombak, menghadapi Raja Saul yang juga memiliki kemampuan yang sejenis.
Namun kelihatannya Raja Saul memiliki kematangan tempur dan pengalaman lebih dari Sultan Yazid al-Bustami. Lelaki itu beberapa kali melakukan serangan tipuan yang membuat Sultan Yazid beberapa kali sempat terjebak. Kelebihan Sultan Yazid adalah kekuatan tubuhnya yang masih kuat karena usianya sepuluh tahun lebih muda dari usia Raja Saul yang kini telah berumur 45 tahun.
"Mana kemampuanmu?!" ejek Raja Saul sambil tertawa, "Apakah hanya segitu?"
Sultan Yazid tidak mengomentari ejekan itu. Ia lebih fokus menjatuhkan lawannya meskipun kecakapannya mungkin jauh lebih rendah daripada Raja Saul, bahkan mungkin lebih jauh dari Nuzlan.
Untuk pertama kalinya, sang penguasa menyesali gaya hidupnya yang terlalu manja sebab telah dipenuhi segala keinginannya. Selama ini dia terlalu malas meningkatkan kompetensinya dibidang seni beladiri. Ia berpikir, toh sebagai penguasa, ia akan dilindungi oleh pengawal-pengawal dengan kemampuan tinggi.
Aku bersumpah, setelah pertarungan ini.... jika Tuhan masih memberiku kesempatan hidup, aku akan menjalani petualangan dalam rangka meningkatkan pengalaman hidupku. Aku akan menjalani penderitaan dengan tabah... semoga Tuhan mendengar doaku ini....
Raja Saul tetap melakukan beberapa gerak tipu membuat Sultan Yazid kelimpungan menangkis serangan lawannya.
CRASHHH... KREKKK... KREKKK..
Tunika yang dikenakannya telah robek dibeberapa tempat sebab disambar oleh tongkat garputala Raja Saul. Namun Sultan Yazid tidak mau menyerahkan hidupnya dengan sia-sia.
Tombak Pasak Bianglala kembali diputarnya membentuk lingkaran pusaran maya dari putaran tombak. Ini adalah salah satu jurus yang diajarkan Nuzlan kepadanya saat mereka mempraktikkan latihan menggunakan tongkat.
"Pada dasarnya, tombak sama dengan tongkat. Keduanya adalah senjata galah yang bisa digunakan untuk bertahan dan dapat digunakan untuk menyerang." ujar Nuzlan pertama kali mengajarkan dasar-dasar ilmu tongkat kepadanya. "Perbedaan diantara keduanya hanyalah tombak memiliki hulu yang tajam, sedangkan tongkat tidak."
Sultan Yazid tersenyum dan ia merubah segala jurusnya menjadi jurus tongkat. Memposisikan ujung tombak dari Pasak Bianglala sebagai salah satu hulu tongkat dalam imajinasi pikirannya.
Raja Saul terkejut melihat gaya permainan lawannya yang mulai meningkat bahkan mulai bisa memberikan desakan-desakan kepadanya. Meskipun begitu, sang raja tidak panik dan berusaha membentuk gaya pertahanannya sendiri.
Pertarungan sudah memasuki beberapa jurus yang dimainkan. Faktor usia menjadi penentu seberapa lama pertandingan dapat berlangsung. Napas penguasa Istana Tarsia itu sudah tak teratur. Kekuatannya sudah terkuras.
Sultan Yazid mulai naik semangatnya menyadari perubahan kondisi yang membuat Raja Saul kehabisan tenaga.
TRANGG TRANGG TRANGG
Beberapa kali benturan antara tongkat garputala milik Raja Saul dan Tombak Pasak Bianglala dari Sultan Yazid terdengar. Seluruh jemari lelaki itu kesemutan.
Sebuah gerak tipu dibuat Sultan Yazid. Gerakan ini membuat Raja Saul terpancing maju mengayunkan tongkat garputalanya. Sultan Yazid menampar senjata lawannya lalu memutar tombaknya mengincar kepala Raja Saul.
Raja Yahuda itu membuang tubuhnya ke samping. Gerakan lawan dimanfaatkan Sultan Yazid memutar tombaknya lalu menghujamkan tombak dari belakang.
JLEB!!!!
UGHHHH...
Ujung Tombak Pasak Bianglala tepat menghujam ke bagian uluhati Raja Saul. Lelaki parobaya itu tersentak menerima tusukan itu.
Surya Hitam yang sibuk meladeni Do Quo serentak terjeda. Demihuman berujud manusia belalang itu menatap junjungannya yang sekarat ditembusi tombak lawan.
"Yang Mulia!!!!" pekiknya histeris dan kehilangan semangat tempur.
Lelaki bersenjata sabit juga menghentikan perlawanannya dan langsung menyerah.
Sultan Yazid menyentakkan tombak mencabutnya dari tubuh Raja Saul. Penguasa Istana Tarsia itu jatuh memggelosor dilantai dan langsung dipeluk oleh Surya Hitam.
Kedua panglima itu meraung tersedu-sedan menangisi rajanya yang gugur dalam pertandingan adil. Sultan Yazid memberikan penghormatan terakhirnya dengan membungkuk takzim sambil menyembunyikan Tombak Pasak Bianglala dibalik punggungnya.
__ADS_1
Havard menyarungkan pedangnya lalu berlutut dengan satu kaki tertekuk ke depan. Tangan kirinya menggenggam pedang yang ditegakkan, sedang tangan kirinya mencengkeram lutut yang ditekuk ke depan. Kepala pemuda itu menunduk memberikan penghormatan dengan takzim. Do Quo juga melakukan hal yang sama dengan Havard. Bedanya, tangan satunya diletakkan menyentuh lantai.
Nagini tiba tepat ketika mereka memberikan penghormatan kepada raja yang telah wafat itu. Wanita itu menyarungkan pedangnya pula dan berdiri tegak menghormati simpai keramat Dinasti Darsus yang sudah gugur. Dinasti itu punah sudah dengan tewasnya Raja Saul dalam perang tanding. []