MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
PERJALANAN MENUJU BARAT


__ADS_3

Do Quo memicingkan mata sejenak dan menghalangi pelipisnya dari terpaan cahaya mentari diterik siang itu. Sejenak kemudian ia berbalik dan melangkah mendekati kereta wagon yang ditarik seekor Geryon*). Lelaki berkumis tebal itu mendekati pintu dan mengetuk kaca jendelanya.


Tirai jendela itu membuka dan nampak wajah Sultan Yazid. Ia menatap Do Quo. "Paduka, sedikit lagi kita akan melewati perbatasan wilayah Moull dengan Kerajaan Zhou. Gurun Boudi diwilayah barat Runehall sudah terlihat." ujar Do Quo.


Sultan Yazid mengangguk. "Kta harus bergegas... Kerajaan Zhou berada dalam bahaya..."


Do Quo mengangguk lalu melangkah menuju tempat sais. Disana duduk Nagini memegang tali kendali geryon tersebut. Sebenarnya hewan itu adalah tunggangan wanita itu. Namun karena Sultan Yazid akan bepergian menggunakan kereta, maka hewan tersebut dijadikan sebagai penarik kereta tersebut.


*) Geryon adalah makhluk mirip kuda namun tubuhnya beruas-ruas mirip eksoskeleton dan sepasang tanduk tumbuh didahi hewan itu. Surainya berwarna putih kusam. mereka termasuk dalam hewan berkuku genap.


Do Quo duduk disamping Nagini yang tetap asyik dalam kesendiriannya. Ia kembali menggebah hewan itu dan kendaraan itu mulai berjalan menyusuri jalanan yang melintasi padang rumput yang tumbuh lebat.


"Aku senang dalam perjalanan ini, Selena tidak ikut serta." ujar Havard gembira diatas punggung karkadannya. Ia menggebah hewan itu agar dapat menjajari kereta wagon yang sementara berjalan tersebut.


"Sepanjang jalan aku tak akan bisa fokus untuk melakukan hal-hal berguna..." keluh pemuda itu seraya memikul nodachi Kanesada dipundaknya.


"Mengapa kau selalu usil saja dengan kehidupannya?" tegur Do Quo. "


"Aku bukan orang usia, Do Quo. Kau sudah paham siapa aku..." tampik Havard. "Aku hanya tak suka direpotkan oleh perempuan..."


Do Quo tertawa membuat Havard mengerling kearahnya. "Kenapa kau tertawa?" tanya pemuda itu dengan heran bercampur kesal.


"Kalau ayahmu tak suka direpotkan oleh ibumu, maka kau tak akan hadir didunia ini Havard." ujar Do Quo.


Nagini tiba-tiba saja tertawa mendengar ungkapan satir yang diucapkan Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu langsung menatap Nagini dengan kagum.


Nagini yang canggung seketika membungkam mulutnya dan tersenyum tipis. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Nagini dengan risih.


Do Quo kemudian menatap Havard. "Seterik ini matahari... ternyata ada angin syurga yang berhembus..." ujarnya lagi.


Nagini yang paham dengan sindiran itu langsung merespon. "Sialan kau, Do Quo!" umpatnya lalu melengos, namun Do Quo dapat melihat dengan jelas, Nagini menyembunyikan senyumannya.


"Hei aku nggak bohong." kilah Do Quo dengan serius meskipun senyum dibibirnya tak hilang membuat kumis tebalnya membentuk pola seperti sebuah pikulan. "Ini adalah pertama kalinya kau memperdengarkan tawamu. Dan aku mendengarnya serasa bagai mendengar tawa renyah seorang bidadari..."


"Tak usah menggoda, Do Quo." sela Havard. "Nagini nggak akan kenyang dengan rayuanmu..." sambungnya sambil menggebah lagi tali kekangnya agar karkadan tunggangannya menjajari lagi laju kereta yang ditarik geryon tersebut.


"Aku tidak sedang menggodanya." elak Do Quo.


Havard tertawa. "Kau menggodanya, Do Quo..." olok pemuda itu dengan kukuh.


Do Quo baru saja hendak membantah ketika Nagini langsung menatap lelaki berkumis tebal itu dengan tajam. Do Quo langsung tersenyum canggung.


"Baiklah, Nagini..." ujar Do Quo langsung bersikap layaknya seorang laki-laki yang takut dengan istrinya. Havard tertawa mengoloknya namun Do Quo tidak membalas olokan itu.


Havard menarik kekang agar Karkadan tunggangannya mendekati bagian sisi samping kereta. Pemuda itu mengetuk kaca jendela.


Tirai kembali terbuka dan Sultan Yazid kembali melongokkan kepalanya keluar jendela. "Ada apa, Havard? Apa kita sudah tiba?"


"Perjalanan kesana masih membutuhkan waktu sehari lagi, Paduka." ujar Havard. Ada baiknya kita beristirahat sementara disini..." usulnya.


Sultan Yazid menimbang-nimbang sejenak lalu mengangguk. "Hentikan kereta. Kita berkemah disini." ujarnya.

__ADS_1


Havard memacu kendaraannya mendahului. Tepat disisi Nagini yang memegang tali kekang hewan itu, pemuda tersebut berujar.


"Paduka menyuruh kita berhenti." serunya dengan suara keras.


Nagini berdecak keras beberapa kali. Geryon langsung menghentikan larinya dan berdengus menghembuskan uap napasnya yang berasap tebal. Do Quo turun ke sisi kiri sedang Nagini melompat turun ke sisi kanan.


Do Quo membuka pintu kereta dan keluarlah Sultan Yazid mengenakan pakaian ringkas yang menyesuaikan dengan cuaca musim semi.


Nagini melepaskan hewan itu dari kereta, membiarkannya merasakan kelegaan setelah sekian lama menarik kereta tersebut. Nagini menyapu-nyapu leher geryon, menenangkan hewan tersebut.


Do Quo mengajak Sultan Yazid mendaki sebuah lokasi yang terletak agak tinggi dari tempat pemberhentian mereka. Do Quo menoleh kearah Havard yang masih betah berada diatas punggung karkadan kesayangannya.


"Havard! Dirikan tenda!!!" seru Do Quo.


"Bantulah aku..." pinta Havard. Namun Do Quo menggeleng dengan senyum licik.


"Maaf, kawan. Aku lagi menemani Paduka Sultan beristirahat disini." kilahnya. Havard mendengus jengkel.


Pemuda itu melompat turun dan melangkah ke belakang kereta sambil menenteng pedang lengkungnya.


Dibelakang kereta itu, Havard membuka pintu bagasi dan mengeluarkan semua peralatan berkemah termasuk kain parasut yang dihempaskannya ke tanah.


ADUH!!! EH???


Terdengar suara mengaduh kesakitan dari dalam kain parasut yang tergulung. Havard kaget. Segera ia membuka gulungan kain parasut itu dan menemukan pemandangan yang mengagetkan hatinya.


"Selena?! Ngapain kamu disini?!" sergah Havard dengan kemarahan yang tersulut tiba-tiba.


Selena yang duduk meringkuk, langsung menantang wajah pembentaknya. "Nggak usah teriak-teriak begitu juga!!!" balasnya tak kalah garang. Gadis itu berdiri dan bercakak pinggang.


"Eh, nggak usah sok nunjuk-nunjuk dadaku ya?!" balas Selena dengan gusar menepis sarung pedang tersebut ke samping lalu balik menuding-nuding telunjuknya ke wajah Havard. "Aku sudah minta ijin beliau untuk ikut dengan kalian. Lagi pula siapa kau berani melarangku?!" tukas gadis itu dengan ketus.


"Aku ini kan...." seru Havard namun tak bisa melanjutkannya. Mulutnya terbungkam dengan sendirinya.


"Siapa?! Siapa?!" tantang Selena. "Suami bukan, pacar juga bukan..."


"Aku.... temanmu!!!" seru Havard pada akhirnya. "Aku bertanggung jawab penuh atas kamu!!! Aku nggak mau kamu ada apa-apanya dalam perjalanan kami nanti!!!"


Do Quo dan Sultan Yazid yang melihat pertengkaran itu bergegas menuruni dataran tinggi, sedang Nagini sendiri kini hanya menonton drama pertengkaran itu sambil menyandarkan punggungnya pada dinding kereta.


"Aku nggak mau Syaikh Hasyim beranggapan kalau kamu itu adalah wanita yang nggak bisa diatur!!!" kilah Havard. "Sekarang pulanglah!!!"


"Apa kau bilang?" tanya Selena dengan ketus.


"Kubilang, pulang!!! Ayo pulang!!!" bentak Havard lebih garang lagi.


"Nggak mau!" jawab Selena dengan mantap sambil menatap tajam Havard dan bercakak pinggang.


Havard kaget tak menyangka mendapatkan perlawanan dari gadis itu. Sultan Yazid menyeruak dari belakang pemuda itu.


"Selena? Bagaimana bisa kamu..." tukas Sultan Yazid dengan takjub.

__ADS_1


Selena langsung berlutut takzim. "Paduka junjungan hamba... ijinkan hamba untuk bisa ikut serta dalam perjalanan ini..." pintanya dengan begitu takzim. "Hamba janji tidak akan merepotkan Paduka didalam perjalanan."


"Kau itu sudah merepotkan sejak tadi!" sela Havard dengan jengkel.


Selena mengerling sinis kepada Havard lalu memandang Sultan Yazid dengan tatapan memelas.


"Paduka... sebagai anggota keluarga ad-Dakhil... saya berkewajiban membalaskan dendam kakak saya... ijinkan saya ikut, Paduka." pintanya lagi.


"Kau bukan adik kandungnya!" sela Havard lagi.


"Bisakah kau diam?!" sergah Selena dengan ketus kepada Havard. Lagi-lagi pemuda itu kaget dengan tindakan pemberontakan gadis itu. Selena kembali menatap Sultan Yazid dengan sikap memelas bagai kucing yang minta diberi makan.


"Dasar penjilat!!!" umpat Havard menggerutu.


Sultan Yazid mendesah. Ia menatap ketiga rekannya. "Bagaimana ini?"


"Aku nggak setuju!" sela Havard lagi. "Paduka sudah berjanji padaku!" tuntutnya.


"Jangan memanfaatkan kebaikan hati Paduka Sultan untuk mendapatkan keinginanmu!" tegur Selena dengan ketus.


"Memang kenapa?!" tantang Havard yang sudah menipis kesabarannya. "Kau mau cari masalah?!"


Selena menghentakkan kakinya dengan jengkel lalu berbalik melangkah menuju bagasi dan mengeluarkan busur serta andong berisi anak panah dari dalam ceruk bagasi itu. Ia mengikat tali andong dipinggang lalu mengambil sebatang anak panah, meletakkannya pada tali busur dan merentangkannya serta membidik kearah Havard.


"Apa yang kau lakukan?!" bentak Havard. "Turunkan busurmu!!! Kau mau memanahku?!"


Selena mendengus. "Selama kau tak menyatakan persetujuanmu, selama itu juga kuhujani kau dengan panah sampai seluruh isi andong ini habis!!!" serunya langsung melepaskan tali busur.


SYUUTTTT.... EH????


Proyektil itu melesat mengincar wajah Havard. Seketika pemuda itu melompat jauh menghindari arah panah yang melesat dengan cepat.


Sambil mengumpat-umpat, Havard menghindari setiap panah yang dilesatkan Selena. Gadis itu terus mengejar pemuda itu seraya terus melesatkan proyektil panahnya. Meskipun begitu, tak pernah Havard berniat menghunus nodachi Kanesada, melainkan hanya menggunakan sarung pedang itu untuk menampar setiap anak panah yang tak sempat dihindarinya.


Sultan Yazid menatap keduanya yang sementara bertengkar dan bertanding kemudian menatap Do Quo dan Nagini.


"Apakah mereka memang sering begini?" tanya Sultan Yazid.


Do Quo hanya mengangkat bahu dan tersenyum. "Biarkan saja mereka. Nanti kalau sudah lelah dan bosan... mereka akan kembali menjadi pasangan yang akur dan saling memperhatikan satu sama lain."


Sultan Yazid menatap Nagini dan anggukan pelan wanita itu seakan mengamini pendapat Do Quo membuat Sultan Yazid menyerah dan memandang kembali keduanya yang masih sementara bertikai.


"Kelihatannya... kemah akan berdiri setelah menjelang senja nanti..." keluhnya meskipun senyum akhirnya tersungging dibibir sang penguasa.[]


...TAMAT...


...****************...


Bacalah kisah petualangan Havard dan kawan-kawannya dalam kisah Mashiahsaga berikutnya:


..."KONSPIRASI PUTRI BAYANGAN"...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kerajaan Zhou ternyata di perintah oleh seseorang dibalik layar dengan memanfaatkan saudara kembar dari penguasa negara tersebut. Mampukah Havard dan kawan-kawannya membongkar persekongkolan yang direncanakan oleh Sinhala dan komplotannya?


__ADS_2