
Havard menantang tatapan tajam Sinhala ketika lelaki berambut seputih salju itu memasuki aula. Sepasang mata peraknya memicing sejenak. Keduanya berpapasan dan Sinhala berucap.
"Kita akan bertemu dalam pertandingan... itu akan kupastikan..." ujarnya dengan suara rendah, datar tapi penuh intimidasi.
"Aku juga menantikannya...." balas Havard dengan nada yang sama.
Sinhala mendengus pelan lalu melangkah meninggalkan Havard. Sementara Do Quo muncul membawa kotak makanan. Ia sempat berpapasan namun tak ada satupun percakapan terselenggara diantara mereka.
Do Quo mendapati Havard yang berdiri dipintu aula. "Hei, ini aku bawakan ransum makanan dari panitia." ujarnya memperlihatkan dua kotak makanan dalam tas plastik.
Havard menoleh menatap Do Quo. "Kelihatannya, kemampuan Sinhala harus diwaspadai..." ungkap Havard. Do Quo memandang pintu yang dimasuki Sinhala.
"Ya... aku juga berpendapat begitu." sahut Do Quo. "Aku sempat menonton pertandingannya dibilik sebelah lewat layar televisi. Aku tak menyangka... kecepatan geraknya begitu mengagumkan..." lelaki itu kemudian tersenyum. "Tapi aku akan tetap bertekad menghadapinya di arena. Aku benar-benar penasaran." ujarnya dengan semangat.
Havard tak menanggapinya melainkan kembali melangkah menuju balai-balai dan duduk disana. Do Quo meletakkan kotak makanan disisi Havard. Baru saja ia hendak duduk tiba-tiba terdengar seruan dari arena.
"Ya, para hadirin!!! Tadi kita telah menyaksikan pertandingan yang memukau antara dua petarung tadi. Untuk Leonidas yang gugur, pihak panitia akan memberikan santunan sebesar sepuluh ribu dinar sebagai kompensasinya..."
Do Quo menatap Havard sejenak kemudian memandang lagi ke arah arena. Suara si pembawa acara itu terdengar lagi.
"Kita tiba pada pertandingan kedua! Inilah dia! Kita sambut Havard dari Las Mecca dan Takeru Tachibana dari Katsukabei!!!!"
"Giliranmu, kawan!!!" seru Do Quo menepuk bahu Havard. "Berhati-hatilah..."
Havard bangkit dan melangkah keluar arena. Disana telah menanti seorang lelaki yang juga berpakaian agak mirip dengan jenis pakaian yang dikenakannya. Hanya warna mereka saja yang berbeda dan lelaki itu mengenakan tudung.
Keduanya berhadapan. Tatapan si lelaki bertudung terlihat memicing menyebabkan kedua matanya makin menyipit.
Havard berdiri siaga menggenggam sarung pedangnya. Namun jempolnya telah mendorong sedikit bagian cincin pelindung pedang agar mudah ditarik saat hendak menghunuskan pedang.
"Kau meniru penampilan kaum kami...." ujar Takeru dengan nada mencela.
"Ini hanya sebuah pakaian... tak lebih dari penutup tubuh agar tak telanjang." kilah Havard.
"Aku takkan mentolerir hal ini!" seru Takeru yang tiba-tiba melemparkan sesuatu ke arah Havard.
__ADS_1
SWINGGG.... TRANG-TRANG-TRANG....
Untung saja Havard sigap menghunus pedang sekaligus mengayunkannya dengan gaya mendatar. Tiga benda terpental dan jatuh berserakan dilantai. Havard menatap tiga keping shuriken dilantai itu lalu menatap lagi ke arah Takeru.
Takeru kembali melemparkan beberapa shuriken ke arah Havard. Dengan sigap Havard memutar-mutar dan mengayunkan pedang lengkungnya memperisai dirinya dari ancaman senjata rahasia beracun yang dilemparkan Takeru.
TRANG-TRANG-TRANG-TRANG-TRANG...
Takeru tak membuang-buang waktu, langsung melesat sambil menghunus pedangnya yang terlihat panjang melebihi ukuran tubuhnya. Takeru mengayunkan pedangnya.
Havard menyilangkan pedang lengkungnya diatas kepala.
TRANGGGGG....
Kedua bilah tajam senjata itu saling menetak menimbulkan bunyi nyaring. Havard mendorong pedang lawan ke atas lalu maju mengayunkan lagi pedangnya.
Takeru dengan cepat membuang tubuhnya ke belakang dan berdiri dengan sikap waki no gamae. Havard sendiri berdiri dengan sikap hasso.
Penonton kembali berteriak histeris melihat pertunjukan itu. Selena tanpa sadar berseru semangat. "Ayo Havard! Kalahkan dia!!!"
Nagini hanya tersenyum tipis mendengar seruan-seruan itu. Sementara Havard menurunkan pedangnya lalu merubah gayanya. Kali ini dia menyilangkan tachi Norimitsu secara horisontal sedang kaki kanannya maju selangkah didepan.
Takeru tersenyum sinis. "Hm... pedang karya Norimitsu Osafune..." ujar lelaki itu menebak pedang yang digunakan Havard.
"Apa kau berpikir pedangmu bisa mengalahkan pedangku?" ujar Havard memprovokasi lawannya.
"Kita buktikan saja..." sahut Takeru. "Yang jelas pedangku adalah karya terbaik Nagamitsu dari Bisen..."
"Apakah kau hanya memuji-muji pembuatnya? Kemenangan ditentukan oleh seberapa hebat kompetensimu dan seberapa bagus mutu senjatamu." timpal Havard.
"Huah! Kita buktikan saja!" seru Takeru kembali maju mengayunkan pedangnya. Havard pun maju meladeni serangan lawannya.
TRANG-TRANG-TRANG
Bunyi pedang saling beradu terdengar seirama dengan riuh rendah suara penonton yang terpukau dan memberi semangat. Tiba-tiba Takeru melompat diudara dan melemparkan lagi beberapa shuriken ke arah Havard.
__ADS_1
Havard menggeram dan memutar-mutar pedangnya menangkis semua shuriken yang melesat ke arahnya.
TRANG-TRANG-TRANG
TRANG-TRANG-TRANG
Shuriken-shuriken itu terpental kesana-sini. Takeru menukik mengayunkan pedangnya mengincar bahu Havard.
Havard mengayunkan pedang lengkungnya ke atas.
TRANG!!!!
Lelaki itu menyusulnya dengan tebasan kedua dari bawah ke atas. Pedang itu berhasil menyerempet tudung Takeru hingga robek. Lelaki bermarga Tachibana itu dengan cepat menarik wajahnya ke belakang agar tidak lagi terserempet pedang lawan.
Havard melompat ke udara dan mendesak Takeru dengan tujuh tebasan enam penjuru. Kelimpungan benar Takeru menangkis semua ayunan pedang lawannya. Keduanya mendarat lagi dilantai menggunakan sikap yang sama, Waki no gamae namun dengan kuda-kuda kaki yang lebih lebar.
"Kau belajar dari mana Jurus Api Syurga?!" tukas Takeru. "Setahuku...hanya Seishiro Kano yang mewarisi aliran itu dari Nitsu Katsunoshin..." mata sipit lelaki itu melebar. "Kau... muridnya???" desisnya.
"Tidak secara resmi... menurut istilah umum dinegeri kalian, aku hanyalah shugyosha, bukan gakushin..." jawab Havard mengaku.
Takeru tersenyum. "Kurasa, Tuan Seishiro akan bangga mendengarmu ikut serta dalam kompetisi ini..."
"Terima kasih..." respon Havard.
"Tapi akan pulang sebagai mayat!!!" seru Takeru maju menyerang dan merubah ayunan pedangnya, serong dari atas ke bawah.
Havard melesat maju, melompat sambil mempraktekkan jurus badai beliung. Ia mengayunkan pedangnya juga sering dari bawah ke atas.
TRANGGG...
Kedua pedang bertumbukan. Pedang Nagamitsu milik Takeru terpental ke belakang. Belum sempat ia mempersiapkan serangannya, Havard memutar tubuhnya sekali lagi dan mengayunkan pedang lagi dari bawah ke atas.
CRASSSSS....
Senjata itu menebas leher Takeru dan kepala lelaki itu terlempar lalu jatuh dilantai, disusul tubuhnya yang kemudian jatuh berdebam ketanah diluar arena. Wajah Takeru menampakkan kekagetan. Darah memenuhi lantai disekitar kepala itu.
__ADS_1
Havard mendarat lembut dilantai dan menyarungkan pedang lengkungnya lalu membungkuk hormat kepada kepala tersebut kemudian berbalik melangkah meninggalkan arena menuju aula diiringi riuh-renyah suara penonton yang bersorak-sorai. []