
"Bersediakah kau?" tanya Nuzlan.
"Aku bisa menemanimu, tapi... statusku bukan seorang prajurit." bantah Havard. "Alangkah ganjilnya jika aku ikut ekspedisi ke utara."
"Itu tenang saja..." ujar Nuzlan kemudian terkekeh. "Kau akan ku kontrak sebagai tenaga konsultan militer..."
"Aku bukan seorang tentara, Nuzlan." bantah Havard lagi.
"Itu hanya dalih, Havard." ujar Nuzlan. "Kau juga akan mendapat fasilitas yang sama dengan tentara reguler... asalkan kau bersedia menemaniku... kau mau, kan?"
Havard mengangkat bahu, menyerah. "Terserah padamu saja, Nuzlan. Tapi jangan berharap terlalu tinggi terhadapku..."
"Kita lihat saja..." ujar Nuzlan.
"Bagaimana dengan Selena?" tanya Havard.
"Dia sementara tinggal bersama ibuku di Quba al-Bashir... sampai kita pulang dari utara..." jawab Nuzlan dengan mantap.
"Baiklah kalau begitu..." ujar Havard dengan lega.
"Tapi... bagaimana jika dia bersikeras ikut?" pancing Nuzlan.
"Larang dengan keras!!!" tandas Havard. "Aku tak mau repot mengurusi perempuan itu!"
__ADS_1
Nuzlan tertawa mendengar jawaban lelaki tersebut. "Kau bicara tidak sesuai dengan hatimu..." sindir prajurit itu.
Tak lama kemudian, Sultan Yazid al-Bustami muncul. Seketika Nuzlan mengambil sikap tegap. Havard mengikuti sikap sahabatnya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Sultan Yazid.
"Lumayan lama, Baginda." jawab Nuzlan.
Sultan Yazid menatap Havard. "Siapa sahabatmu ini? Kau tak memperkenalkannya kepadaku."
"Dialah yang membebaskan saya dari Benteng Maung... secara kebetulan..." jawab Nuzlan.
Sultan Yazid mengangguk-angguk sejenak lalu kemudian membuka pintu dan mengajak keduanya masuk.
"Setidaknya, Baginda telah bermain peran dengan bagus..." puji Nuzlan.
"Tapi kurasa, para menteri yang pro kepadamu, akan menarik dukungan politiknya kepadaku gara-gara tindakanku tadi..." tukas Sultan Yazid dengan perasaan masygul.
"Jangan kuatir Baginda... saya bisa menjelaskannya kepada mereka nanti..." ujar Nuzlan menenangkan junjungannya.
"Lalu... mengapa kau mengusulkan ekspedisi ke Runehall? Apakah ada berita lain yang tak kau laporkan padaku?" pancing Sultan Yazid.
"Aku mencuri dengar pembicaraan antara Lord Rotcshild dengan utusan Kerajaan Yahuda di Kota Umbrich..." tutur Nuzlan. "Mereka berencana menyerang sekutu anda di Runehall."
__ADS_1
"Begitu ya?" gumam Sultan Yazid. "Aku menjalin persekutuan dengan Kerajaan Norchburg dan Kerajaan Moull... apakah mereka merencanakan serangan kepada dua sekutuku itu?"
"Saya belum dapat memastikannya." ujar Nuzlan. "Tapi untuk mengantisipasi hal tersebut, kirimkan saja utusan kepada Raja Sores dan Earl of Moull, Sir Longbottom.... sampaikan peringatan kepada mereka tentang agresi di Las Mecca yang pastinya akan terjadi juga di Norchburg dan Moull."
"Dan kau melakukan ekspedisi pengamanan wilayah ke utara sekaligus memperkuat hubungan trilateral antara kerajaan kita dengan mereka..." sambung Sultan Yazid sambil tersenyum. "Gagasan yang brilian, Nuzlan..." pujinya kemudian.
Sultan Yazid kemudian berdiri menatap keduanya. "Kalau begitu, aku akan segera mengirimkan kurir kepada Raja Sores dari Norchburg dan Sir Wayne Longbottom dari Moull..."
"Terima kasih, Baginda..." ujar Nuzlan.
"Kapan kau berangkat?" tanya Sultan Yazid.
"Lusa depan, Baginda." jawab Nuzlan.
"Dengan orang ini?" tanya Sultan Yazid mengerling kearah Havard.
"Saya mengajaknya sebagai tenaga konsultan... bolehkah?" pancing Nuzlan.
"Itu kewenanganmu, Nuzlan." sahut Sultan Yazid menganggukkan kepalanya. "Aku harap, ekspedisi ini berjalan dengan baik."
"Jangan lupa... pastikan telik sandi terus mengamati gerak-gerik Lord Rotcshild..." ujar Nuzlan memperingatkan.
"Itu akan selalu ku lakukan..." tandas Sultan Yazid.
__ADS_1
"Kalau begitu, kami berdua permisi, Baginda..." ujar Nuzlan sembari bangkit dan membungkukkan tubuhnya diikuti oleh Havard. Kedua lelaki itu kemudian meninggalkan ruangan itu setelah Sultan Yazid menganggukkan kepalanya.[]