
Las Mecca, pukul 4 sore.
Sultan Yazid berdiri menatapi jenazah Nuzlan yang terwujud diam diatas dipan. Perasaan trenyuh dan haru memenuhi benaknya.
Bagaimanapun, Nuzlan adalah sahabatnya yang paling dekat, sekaligus abdinya yang paling setia. Lelaki itu seperti pendahulunya, para satria wangsa ad-Dakhil, merupakan seorang pemberani yang teguh memegang prinsip dan tak kenal takut.
Sultan Yazid mendesah lagi. Dua titik air matanya turun, namun lelaki itu tak sedikitpun memperdengarkan tangisnya. Hanya isakan saja yang terdengar sayup-sayup dalam ruangan itu.
Nuzlan disemayamkan sementara di kamar dalam bangunan kubus yang terletak ditengah alun-alun kota. Bangunan kubus yang dulunya merupakan situs ibadah ajaran kuno, kini hanya menjadi peninggalan sejarah saja. Sesuai tradisi, meskipun tidak lagi digunakan sebagai situs ibadah, tetap saja penduduk Las Mecca selalu melapisi bangunan itu dengan selimut kiswah yang dihiasi bordiran huruf-huruf kuno.
Setelah puas menatap jenazah sahabatnya, Sultan Yazid membungkuk dalam memberi penghormatan. Setelah itu ia menegakkan tubuhnya.
"Selamat tinggal sahabatku. Kelak, kita akan bertemu lagi..." ujarnya dengan lirih kemudian berbalik melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Ketika Sultan Yazid keluar dari bangunan kubus itu. Ia menyibak sedikit selimut kiswah yang menutupi pintu, dan tatapannya terarah kepada Havard yang duduk ditangga depan pintu sedang Do Quo berdiri didepan tangga. Sultan Yazid menoleh ke samping kiri dan menyadari disana ada Nagini yang menyandarkan dirinya pada selimut kiswah yang menyelimuti bangunan tersebut.
Menyadari keberadaan Sultan Yazid, Havard bangkit dari duduk dan berdiri didepan tangga disamping tegaknya Do Quo. Keduanya membungkuk takzim.
"Paduka..." sahut keduanya bersamaan.
Sultan Yazid menuruni tangga dan tiba dihadapan mereka berdua. "Sudah kau kirimkan warta ke Wisma Quba al-Bashir?" tanya Sultan Yazid kepada Havard.
"Saya sudah mengirimkan sahabat saya, Ahmad ke Tel-Qahira, mengabarkan berita duka itu kepada Ummu Nazila." jawab Havard dengan pelan. Ia menghela napasnya sejenak dan menyambung. "Aku tak menyangka... kebersamaan kami hanya sesingkat itu..."
Sultan Yazid al-Bustami menghela napas dan menatap langit senja. "Keturunan langsung Tuan Abdurahman Walid ad-Dakhil sudah musnah..." ujarnya dengan pilu. "Dia wafat tanpa meninggalkan keturunan..."
Havard menatap sebuah bangunan yang dibangun diatas puing-puing sisa bangunan kuno yang disebut Haram asy-Syarif. "Selena sangat bersedih... ia kehilangan kakaknya..." gumamnya.
"Selena? Maksudnya gadis yang menyandang busur itu?" tebak Sultan Yazid. "Apakah dia anggota keluarga ad-Dakhil?"
Havard menggeleng sambil tersenyum hambar lalu menatap lagi Sultan Yazid. "Selena adalah putri adopsi dari Ummu Nazila... dia diangkat secara resmi pada saat kami mengunjungi Tel-Qahira yang kedua kalinya, paska lolosnya Nuzlan dari Benteng Maung."
Sultan Yazid mengangguk-angguk pelan meresapi keterangan itu. "Berarti...secara hukum, silsilah keluarga inti ad-Dakhil masih ada... meskipun bukan sedarah..."
"Lalu, apa yang akan Paduka lakukan setelah ini?" pancing Do Quo.
Sultan Yazid menatap lelaki berkumis tebal dari Daipeh itu. "Tentu saja akan melakukan agresi secara langsung ke Ur-Balam!" tandas kepala negara tersebut.
"Kurasa usul itu tidak terlalu bagus, Paduka..." jawab Do Quo.
"Mengapa tidak?" tukas Sultan Yazid sedikit tersinggung. "Aku akan memimpin secara langsung pasukan segelar sepapan untuk menggempur kota Ur-Balam, dan memaksa Raja Saul keluar dari istananya untuk bertarung denganku."
"Paduka..." sahut Do Quo dengan lembut. "Bukan bermaksud menggurui Paduka... namun bukankah paduka juga pernah membaca beberapa kitab strategi..."
Sultan Yazid memperhatikan Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu melanjutkan. "Masalah perang adalah masalah yang menuntut kebijakan yang tinggi dan memperhatikan resiko sedalam-dalamnya.... ini demi kelangsungan negara dan pemerintahan anda... jika Paduka salah menentukan sikap dalam masalah ini, maka bisa jadi yang ada adalah kehancuran dan kematian banyak warga tak berdosa..."
"Lalu, apa yang kau sarankan untukku?" pancing Sultan Yazid.
"Cara yang paling tepat adalah memotong akar pohon..." usul Do Quo.
"Memotong akar pohon?" tanya Sultan Yazid tak paham.
__ADS_1
"Kita menyusup ke dalam Istana Tarsia dan membunuh Raja Saul di ruangannya." usul Do Quo.
"Itu usul yang berbahaya." bantah Havard. "Bagaimana kalau kita ketahuan? Bisa-bisa kita ditangkap dan dibunuh dihadapan rakyat Ur-Balam lalu jasad Paduka Sultan dihinakan... bagaimana usul seperti itu tercetus dikepalamu?" celanya.
Do Quo tersenyum. "Kemungkinannya mendekati nol, tapi tidak nol sama sekali." ujarnya.
Sultan Yazid mempertimbangkan usul lelaki berkumis tebal itu. Havard menoleh kepada Nagini yang sedari diam menyandarkan punggungnya diselimut kiswah yang membungkus bangunan kubus itu.
"Bagaimana menurut pendapatmu?" tanya Havard.
Nagini menatap sejenak kepada Havard lalu menatap Sultan Yazid. Wanita itu lalu mengemukakan pendapatnya.
"Dua opsi itu ada masing-masing kelebihan dan kekurangannya." ujar Nagini. "Opsi yang dipilih Paduka Sultan adalah mengerahkan pasukan besar untuk menggempur basis kekuatan Kerajaan Yahuda. Tapi kurasa itu sama saja termakan umpan yang selama ini dibuat oleh Raja Saul. Kurasa ia memang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan segalanya dan kita baru memulai dari awal."
"Kalau kita melakukannya dengan rencana yang matang, kurasa kita bisa menjalankannya tanpa ketahuan..." kilah Do Quo mengemukakan dalihnya.
"Yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu segala seluk beluk Istana Tarsia. Hal ini penting, agar ketika kita melakukan infiltrasi, kita tidak akan tersesat dan dapat menyelesaikan misi dengan waktu sesingkat mungkin." timpal Nagini menekankan pendapatnya.
"Itu yang kumaksudkan Paduka!" tambah Do Quo sembari menjentikkan jemarinya.
Sultan Yazid mengangguk-angguk lagi lalu berjalan mondar-mandir didepan tangga bangunan kubus itu. Kelihatannya ia memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian, Amir kota Las Mecca, Syaikh Hasyim bin Abdul Manaf muncul. Ia membungkuk takzim dihadapan junjungannya.
"Paduka Yang Mulia..." ujar Syaikh Hasyim, "Jenazah Jenderal Nuzlan bin Daliph ad-Dakhil telah diminta oleh pihak keluarga agar segera diantarkan ke Tel-Qahira... utusan kami baru saja mengabarkannya."
Sultan Yazid menatap Syaikh Hasyim. "Untuk sementara ini, jasad almarhum tolong disemayamkan dulu disini... setelah suatu urusan, saya akan membawa jasadnya langsung untuk dimakamkan..." pinta Sultan Yazid.
Syaikh Hasyim membungkuk kembali dengan takzim lalu menjawab. "Kalau begitu, ijinkan tabib kami menyuntikkan cairan Formaldehida metanalid kedalam jasad Tuan Jenderal, untuk mencegah dekomposisi dalam tubuhnya." usulnya.
Syaikh Hasyim membungkuk. Tak lama kemudian, muncul Selena mengenakan pakaian ketabiban. Ia membawa nampan berisi baskom air, Sebuah alat injeksi yang sudah diisi cairan pengawet mayat, beberapa botol berisi cairan kimia serta serbet dan kaos tangan higienis.
"Oh... rupanya anda adalah tabib kota ini..." seru Sultan Yazid dengan takjub. Namun alisnya berkerut ketika menatapi sisi kiri dari pakaian tabib itu tidak disematkan pin resmi ketabiban.
Seakan tahu isi benak Sultan Yazid, Havard maju menerangkan. "Sebenarnya, Selena bukan tabib resmi." ungkapnya dengan jujur. "Biaya pendidikan di Akademi Asklepian terlalu mahal untuk ukuran sakunya..."
Syaikh Hasyim menimpali, "Tapi Paduka Sultan tak perlu kuatir. Putri saya sangat memahami profesinya. Dia sama profesionalnya sebagaimana tabib-tabib resmi di negara ini."
"Apakah Las Mecca belum memiliki tabib resmi?" tanya Sultan Yazid.
"Belum..." jawab Syaikh Hasyim. "Tapi warga kota lebih meyakini Selena dari pada tabib-tabib lain, jika anda mengirim mereka kemari."
Sultan Yazid menatap tak percaya. Selena membungkuk takzim. "Jika Yang Mulia tak keberatan, ijinkan saya melakukan proses cadaver terhadap jasad kakak saya." ujarnya dengan suara gemetar menahan perasaan pilu.
Sultan Yazid akhirnya mengangguk. "Lakukanlah..." ujarnya.
Selena memohon ijin dan melangkah memasuki bangunan kubus. Havard maju membukakan pintu. Gadis itu masuk dan meletakkan nampan disisi dipan lalu mengambil cadar untuk menutup sebagian wajahnya.
Sultan Yazid memperhatikan seksama bagaimana Selena bekerja mengawetkan mayat Nuzlan. Lelaki itu mengangguk-angguk dan mengakui bahwa tindakan yang dilakukan gadis itu sama seperti yang dilakukan para tabib resmi ketika melakukan pengawetan mayat.
"Anda percaya, Paduka?" sahut Havard yang berdiri disisi pintu dekat Sultan Yazid yang memperhatikan cara kerja Selena saat melakukan cadaverisasi.
__ADS_1
"Dia harus memperkuat kompetensinya di Asklepian..." ujar Sultan Yazid. "Aku sendiri yang akan merekomendasikannya."
Havard tersenyum mendengar ucapan kepala negara itu. Mereka semua keluar saat Selena selesai melakukan tugasnya. Syaikh Hasyim kemudian mengundang Sultan Yazid ke rumahnya.
Dalam rumah itu, Sultan Yazid dijamu dengan baik. Kepala negara itu memuji pelayanan yang diberikan warga kota kepadanya.
...****************...
Selena duduk dibalkon menikmati udara senja menjelang maghrib. Tak lama kemudian muncul Havard dan duduk disamping gadis itu.
Keduanya memandang mentari yang mulai bersembunyi dibalik arakan awan yang berbaris diufuk barat.
"Paduka Sultan berniat merekomendasi kamu agar diterima di Akademi Asklepian..." ujar Havard membuka pembicaraan.
"Aku masih menunda hal itu..." timpal Selena tanpa menoleh.
"Kenapa?" tanya Havard.
Selena menghela napas lalu menunduk. "Aku masih berduka... aku belum mau melakukan apapun saat ini sampai jasad kakakku dikebumikan..."
Havard mengangguk-angguk lalu menyambung. "Kalau begitu, kau tinggallah disini..."
Selena menegakkan wajah menatap Havard. Pemuda itu menyambung. "Kami akan bergerak menuju wilayah kerajaan Yahuda, esok hari."
Selena kaget. "Esok hari?!"
Havard mengangguk. "Sultan Yazid berniat melakukan penyusupan ke Ur-Balam, menemui Raja Saul dan memaksanya untuk bertanding secara jantan...." jawabnya.
"Mengapa dia tidak mengerahkan saja pasukan segelar sepapan untuk menggempur Ur-Balam?!" tukas Selena dengan kesal. "Apa dia pikir segampang itu memasuki pekarangan musuh?!"
"Kami berupaya mencari cara terbaik diantara yang terburuk untuk menghentikan perang diantara dua kerajaan ini... dan cara yang paling logis adalah menyusup langsung ke pusat kekuasaan musuh dan membunuh akar busuknya." jawab Havard dengan datar.
"Aku ikut..." rengek Selena.
Havard tersenyum lalu tangannya terangkat membelai rambut gadis itu. Lelaki itu kemudian menggeleng pelan.
"Untuk saat ini, penuhilah permintaanku." pinta Havard dengan serius. "Aku tak mau kau terkena apa-apa diperjalanan kami nanti..."
"Tapi..." protes Selena.
"Ini misi yang berbahaya, Selena." ujar Havard. "Semakin sedikit jumlah anggota yang menyusup, maka akan semakin baik dan semakin kecil kemungkinan terdeteksi oleh musuh yang curiga..."
Selena menghembuskan napas kecewa. Havard tersenyum lagi dan membelai kembali rambut Selena.
"Tugasmu, merawat jasad kakakmu, sampai sekembalinya kami dari Ur-Balam..." ujar Havard.
"Itu kalau kalian kembali..." omel Selena.
"Kami akan kembali, Selena!" tandas Havard. "Kembali dengan selamat!" sambungnya dengan yakin.
Selena menatap lama wajah pemuda itu. Ia menangkap keyakinan yang besar dari air muka Havard yang serius. Akhirnya Selena mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah..." ujar Selena merestui. "Selesaikan misi itu, dan kembalilah dengan selamat...ke pangkuanku..."
Havard tersenyum lagi dan mengangguk. Lelaki itu bangkit dan melangkah meninggalkan Selena sendirian lagi duduk dibalkon. Suasana mulai gelap, sebab maghrib telah menjelang.[]