MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
RESTU SANG IBU


__ADS_3

Keempat orang itu duduk di kursi menghadapi meja yang dihampar berbagai jenis kuliner dalam loyang prasmanan. Beberapa pelayan mengelilingi meja bersiap melayani keempat orang itu.


"Besok, perjalanan ke Runehall akan dilaksanakan..." ujar Ummu Nazila dengan senyum tersungging. "Malam ini, kita habiskan waktu untuk berintim..."


Nuzlan mengangkat gelas. "Untuk kejayaan keluarga Ad-Dakhily..." ujarnya.


"Untuk kejayaan keluarga Ad-Dakhily..." sambut yang lainnya.


Mereka kemudian menikmati kuliner di meja tersebut. Ummu Nazila menatap Selena. "Bagaimana denganmu, nak? Apakah kau mau menemani ibumu ini, ataukah mengikuti mereka ke Runehall?"


Selena menelan makanannya lalu menjawab. "Sebagaimana Ibu tahu, aku sekarang adalah anggota keluarga Ad-Dakhily..." ujarnya.


Mendengar kata-kata gadis itu membuat Havard mencibir, namun tak disadari oleh Selena.


"Aku tak mau dikatakan seorang pengecut manakala bersenang-senang disini, sementara anggota keluargaku yang lainnya harus menanggung tugas negara..." ujar Selena dengan tegas.


"Jadi kau memutuskan untuk ikut dalam ekspedisi ini?" pancing Nuzlan dengan senyum.


"Tentu saja!" jawabnya mantap.


"Ah... menjadi beban saja..." gerutu Havard dengan pelan namun terdengar oleh Selena.


"Apa katamu? Beban? Aku ini beban?" tukasnya dengan lantang. Ia sudah kehilangan selera makan. "Bagi siapa aku adalah beban? Bagimu? Aku tak menyuruhmu untuk melindungiku! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" tandas Selena.


Havard hanya mengangkat bahunya lalu mengangguk-angguk. "Terserah kepadamu saja... asal jangan menyusahkan kami..."


Selena kembali mendengus dan membuang mukanya. Ummu Nazila tersenyum.


"Tentu saja Selena boleh ikut... kurasa, Nuzlan telah memesan seperangkat busur dan anak panah untukmu...dan aku juga punya sesuatu untukmu..." ujar Ummu Nazila. "Sebagai anggota keluarga Ad-Dakhily, memang sepantasnya kau berprinsip demikian..."


"Bisakah Nyonya tidak memanjakannya?" tukas Havard tiba-tiba setelah ia menelan makanannya. "Dia sudah cukup dimanja oleh Syaikh Hasyim... sekarang dengan perlakuan Nyonya kepadanya, dia makin... melunjak..."


"Havard! Aku tak meminta pendapatmu!" sergah Selena dengan datar. "Kalau kau mau buktinya... setelah ini, marilah kita bertarung. Aku akan membuktikan bahwa aku bisa menancapkan sepuluh anak panah tepat dipantatmu itu!"


Nuzlan dan Ummu Nazila tertawa pelan mendengar ungkapan kata gadis itu sedang Havard memilih tak menghiraukan dan menikmati makanannya. Nuzlan mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Aku memang memesankan satu set peralatan perang untukmu." ujar Nuzlan. "Tapi itu bukan berarti kamu seenaknya terhadap Havard... bagaimanapun, dialah yang membebaskanmu dari Benteng Maung, menjaga dan mempertahankan dirimu dari ancaman Euryale di Gua Basilisk... kau tidak menyadari hal itu karena kau sibuk melakukan perlawanan... namun aku menjamin bahwa dibalik kata-katanya yang kasar terhadapmu, sebenarnya... dia sangatlah perhatian..."


Selena memperagakan sikap hendak muntah membuat Havard menatapnya dengan tajam. Ummu Nazila membelai putri angkatnya.


"Seorang anggota keluarga Ad-Dakhily adalah orang yang menghormati orang lain..." tegurnya. "Bagaimanapun, di sana nanti, kau harus menuruti perintah mereka berdua. Jangan pernah melawan."


Selena mendesah kasar lalu mengangguk. "Aku paham, ibu..." ujarnya dengan pelan.


"Ya... itu barulah adik perempuanku!" puji Nuzlan dengan mantap mengacungkan jempolnya lalu kembali menyantap makanannya.


Havard tetap pada sikapnya, menghabiskan makanan hingga tandas lalu menyorongkan piring ke tengah meja.


"Nyonya, Nuzlan, Selena... saya minta maaf tidak bisa terus bersama kalian, saya harus mempersiapkan diri untuk keberangkatan besok... saya pamit." ujarnya sembari bangkit dan membungkuk lalu melangkah meninggalkan ruangan makan.


Nuzlan mengekori Havard sampai lelaki itu hilang di lekukan lorong rumah. Nuzlan kemudian menatap Selena.


"Sebaiknya kamu minta maaf, Selena." ujar Nuzlan dengan lembut. "Aku tak tahu bagaimana isi hati sahabatku itu... tapi kelihatannya, dia terluka dengan ucapanmu..."


"Tapi dia juga menjengkelkan." bantah Selena membela diri. "Dia bahkan meremehkan kemampuan memanahku. Apakah dia pikir bahwa dialah satu-satunya yang terhebat di Las Mecca?" rajuknya.


Selena menatap Ummu Nazila yang juga menganggukkan kepala. Gadis itu mendesah lalu mengangguk. "Baiklah... aku akan minta maaf kepadanya..." ujarnya bangkit lalu pamit meninggalkan ruangan.


Nuzlan dan ibunya menatapi Selena yang pergi meninggalkan tempat itu lalu keduanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Putri ibu memang perempuan yang berhati singa... sama seperti ibu dulu..." ujar Nuzlan.


"Siapa yang cerita? Papa ya?" tebak Ummu Nazila membuat Nuzlan kembali tersenyum.


"Menurut ibu, apakah keduanya akan akur kembali?" pancing Nuzlan.


"Tergantung kedewasaan mereka dalam melihat sebuah permasalahan..." jawab Ummu Nazila.


Keduanya kembali tenggelam dalam kegiatan santap malam itu.


...***...

__ADS_1


Havard duduk dibalkon, asyik mengasah kopesh kebanggaannya dengan batu amplas. Pedang itu harus tajam benar agar bisa berguna dipertempuran nanti jika bertemu lawan. Belati panjang, hadiah dari Nuzlan tergeletak disisinya.


Tak lama kemudian Selena muncul di balkon itu mengamati Havard yang sedang asyik mengasah senjatanya.


"Aku minta maaf..." ujar Selena.


Havard pura-pura acuh sambil terus mengasah kopesh tersebut. Selena kemudian duduk disamping pemuda itu dan memegang belati panjang yang tergeletak diatas kursi.


Havard menoleh sejenak dan tangannya terulur meminta belati tersebut. Selena memberikannya dan pemuda itu meletakkan senjata itu disisinya.


"Kau marah ya?" tanya Selena lagi.


Havard hanya menarik napas panjang lagi lalu kembali mengasah pedang itu. Selena jengkel dan langsung meraih kopesh tersebut membuat Havard menatapnya lagi dengan datar.


"Berikan pedangku, Selena." pinta Havard dengan datar.


"Nggak! Sebelum kau menjawab pertanyaanku." tolak Selena dengan keras.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Havard lagi.


"Apakah kau marah?" tanya Selena.


Havard membuang muka menatap angkasa. "Kau tak perlu menanyakannya. Itu bukan kewenanganmu..."


"Aku perlu tahu..." tuntut Selena.


Havard kembali menatap gadis itu. "Aku hanya menjalankan keinginan dari ayah angkatmu sendiri... aku tak mau hal yang jelek menimpamu... kau itu dalam tanggung jawabku!"


"Tapi... aku juga berhak menentukan hidupku..." protes Selena.


"Terserah kepadamu saja. Sekarang, berikan pedangku." pinta Havard hendak meraih kopesh yang dipegang Selena.


Tiba-tiba ia terpeleset dan menimpa Selena membuat keduanya jatuh ke lantai dalam posisi bertindihan. Mereka menjadi canggung satu sama lain tapi juga tak menyingkirkan dirinya.


Havard menatap Selena dengan sendu dan kemudian meraih pedang dalam genggaman gadis itu. Ia bangkit dan melangkah meninggalkan Selena sendirian di balkon. Gadis itu mengusap dadanya.

__ADS_1


"Apa ini? Perasaan apa ini?" gumam Selena dengan bingung. Sementara malam mulai beranjak larut.[]


__ADS_2