
Turan adalah kota yang terletak di perbatasan jazirah Runehall dengan batas kerajaan Zhou. Kota ini menjadi persinggahan favorit setiap penjelajah maupun saudagar yang melakukan lawatan dagang dari Runehall ke Kerajaan Zhou ataupun sebaliknya.
Selain itu, Turan merupakan kota otonomi yang dilindungi pakta perdamaian semesta yang terjalin satu milenium silam dimasa kerajaan-kerajaan pertengahan. Hingga sekarang, tiada satupun kerajaan-kerajaan lain yang menganeksasi dan mengklaim kota ini sebagai bagian dari wilayahnya. Seakan-akan Turan adalah sebuah negara-kota yang berdaulat dibawah kepemimpinan seorang amir yang independen dari intervensi dan intimidasi negara lain dibidang politik dan pertahanan. Selain itu, pemerintahan kota Turan memberikan akses bebas lintas ekonomi sehingga Turan dikenal juga sebagai stovopolis.
"Aaah leganyaaaa..." ujar Nuzlan dengan gembira ketika mereka tiba di gerbang kota Turan.
Digerbang berdiri pos jaga yang didiami oleh petugas keamanan dan migrasi. Keempat orang itu turun dari kendaraannya dan melangkah ke pos jaga.
Nuzlan menyerahkan surat-surat penting. Petugas itu mengangguk-angguk lalu menatap Nagini.
"Perempuan ini tidak ada dalam daftar..." ujar petugas migrasi, "Menurut hukum..."
"Dia adalah utusan Kerajaan Moull yang menjadi pemandu kami..." jawab Nuzlan berbohong. "Kami melalui jalur utara dari Kastil Moull..."
Petugas migrasi mengangguk-angguk. "Sebenarnya ini melanggar hukum." tukas petugas tersebut. "Namun karena yang memberikan alasan adalah anda, maka peraturan ini saya enyahkan..."
"Terima kasih..." ujar Nuzlan seraya menyimpan lagi surat-surat penting tersebut.
"Dan tolong pastikan tidak akan membuat kekacauan... berhubung di kota ini diselenggarakan Turnamen Tarung Sejagat, maka keamanan politik sangat ditekankan..." tambah petugas tersebut. "Sedikit keributan saja disebabkan oleh kelompok anda, maka kami dengan terpaksa harus mengusir kalian dari Turan..."
"Kami tak akan membuat kerusuhan..." tandas Nuzlan sambil tersenyum.
Petugas itu mengangguk lagi dan mempersilahkan Nuzlan dan rombongannya memasuki kota.
Mereka berempat melangkah sementara Havard menuntun Bukefals, Nagini dan Nuzlan menuntun kudanya. Hanya Selena saja yang dibiarkan berada dipunggung karkadan yang dituntun Havard.
"Kota ini memang kecil, tapi sangat ramai..." komentar Selena. "Bahkan lebih ramai dari Las Mecca..."
"Las Mecca hanya ramai disaat-saat tertentu..." jawab Havard, "Semisal musim haji..."
"Kalian tidak merasa lapar?" tanya Nuzlan tiba-tiba. "Mari kita mencari restoran yang berkelas..." ajaknya.
"Aku tahu restoran yang bisa menampung kita dan hewan-hewan ini..." ujar Nagini.
"Ah, tak salah juga jika Nuzlan menyebutmu sebagai pemandu..." ujar Havard sambil terkekeh. "Kau bisa menunjukkan tempat yang bagus bagi kami untuk mengistirahatkan diri..."
Nagini tidak menggubris ucapan lelaki itu. Ia mengajak Nuzlan menyeberangi jalanan yang ramai oleh pejalan kaki yang mengerubuti jalanan itu.
Kota Turan tidak mengijinkan adanya kendaraan lalu-lalang. Itulah sebabnya banyak terlihat orang-orang menuntun kendaraannya, apakah itu hewan tunggangan maupun kendaraan bermotor. Mereka baru boleh menggunakan kendaraan tersebut manakala meninggalkan kota Turan. Satu blok dari jalanan utama terdapat gedung parkir yang luas dan bertingkat sepuluh. Luasnya mencapai lima belas hektar, menampung segala jenis kendaraan. Dibagian atas diperuntukkan bagi kendaraan bermotor sedang di lantai satu, berfungsi sebagai istal bagi hewan-hewan tunggangan.
Mereka menitipkan kendaraan pada pengurus gedung parkir tersebut. Nuzlan membayar semua sewa penitipan itu. Mereka kemudian keluar dari sana. Nuzlan terlihat merenggangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ditengah kota ada penginapan yang bagus untuk kita..." ujar Nagini.
"Tunjukkan padaku." ujar Nuzlan. "Setelah kita mengaso sedikit, aku akan menghadap amir kota ini untuk membahas sesuatu..."
"Kamu tidak mau ikut Turnamen Tarung Sejagat, Havard?" tanya Selena tiba-tiba.
"Ah, benar..." sahut Nuzlan pula. "Untuk mencegah kecurigaan mata-mata musuh, alangkah baiknya jika aku menghadap sendiri ke kantor keamiran."
"Ayolah Havard, mari kita menonton turnamen itu... atau kau ikut serta juga dalam pertarungan itu." pinta Selena.
Nagini mengangguk. "Baiklah... masing-masing dari kita membagi tugas..." ujarnya dengan mantap.
Mereka terus melangkah menyusuri jalanan kota, menuju tempat yang ditunjukkan oleh Nagini. Menempuh perjalanan membelah lalu lintas pejalan kaki yang hilir mudik itu memang melelahkan. Mereka tiba di sebuah bangunan.
"Harem Bundi..." gumam Havard melafalkan nama bangunan itu. Ia kemudian menatap Nagini. "Nggak salah ini tempatnya?"
Nagini menatap Havard. "Menurutmu, kita mencari yang mana lagi?"
"Namanya... jelek..." ujar Havard kemudian.
"Yang penting, pelayanannya nggak jelek." sahut Nuzlan dengan senyum. "Nama merek boleh saja aneh-aneh... namun pelanggan pasti menginginkan pelayanan yang baik."
"Bukan itu..." kilah Havard. "Tapi..."
"Sudahlah... ayo masuk..." ajak Nuzlan.
Mereka memasuki bangunan tersebut dan Nuzlan menuju meja resepsionis. "Kami mau check in..." ujar Nuzlan.
Petugas resepsionis itu mengangguk. "Berapa hari?" tanya petugas tersebut.
"Tergantung lamanya kami disini..." jawab Nuzlan.
Petugas itu mengangguk lagi seraya mengetik pada mesin penghitung. Ia bertanya lagi. "Berapa orang? Berapa kamar?"
Nuzlan menatap ketiga sahabatnya lalu menjawab. "Dua kamar, masing-masing dua tempat tidur."
"Baik... biayanya...." ujar petugas tersebut menyebutkan bea penginapan tersebut. Nuzlan mengangguk dan mengeluarkan dompetnya. Dari dompet itu ia mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya kepada petugas tersebut.
Petugas itu menggesekkan kartu itu ke mesin dan beberapa saat kemudian ia melakukan transfer uang digital.
"Terima kasih..." ujar petugas itu memberikan dua buah kunci kepada Nuzlan. "Selamat menikmati pelayanan kami..."
__ADS_1
Nuzlan mengangguk dan tersenyum lalu melihat nomor kunci kamar. Ia menyerahkan satunya kepada Nagini. "Kau dan Selena beristirahatlah di kamar nomor itu... aku dan Havard akan menempati kamar ini..." ujar Nuzlan memperlihatkan kartu kunci kamarnya. "Silahkan kalian simpan barang-barang dan aku tunggu kalian di restoran penginapan ini..." sambungnya seraya menyerahkan kunci kepada Havard dan ia sendiri melangkah meninggalkan mereka.
Havard memandang kunci itu sementara Nagini dan Selena sudah beranjak dari tadi menuju kamar yang dimaksud. Nuzlan sudah berada di restoran dan memesan makanannya.
Tak lama kemudian muncul seorang kakek mendatangi meja kasir. Ia bertanya, "Pak, berapa nasi kebab sebungkus?"
kasir itu menyebutkan jumlah harganya. Nuzlan yang sedang menunggu teman-temannya kemudian memperhatikan perbincangan diantara mereka. Terlihat kakek itu menghitung uangnya dengan ragu.
"Kalau segini... boleh, nggak?" tanya kakek itu dengan ragu. Kasir memperhatikan tiga keping perak yang disodorkan kakek itu lalu tersenyum.
"Bisa kek, tapi bukan Nasi Kebab, melainkan Nasi Biryani..." jawab kasir itu dengan santun.
Kakek itu terlihat kecewa namun ia menabahkan diri. Dengan senyum hambar, ia berucap. "Tolong bayakkan nasinya ya?" pintanya dengan harap.
Kasir itu tersenyum lagi dan mengangguk. "Tunggu sebentar ya?"
Nuzlan memperhatikan kakek itu keluar. Tak lama ia mendengar lagi perbincangan sang kakek dengan cucunya lewat jendela.
"Kakek... kita belanja Nasi Kebab hari ini kan?" tanya sang cucu.
"Wah, kakek belum punya uang... tapi kita bisa makan lagi Nasi Biryani..." jawab Kakek tersebut.
"Yaaa... kan Kakek sudah janji mau belikan saya Nasi Kebab..." protes sang cucu mengeluh. "Kemarin dan kemari-kemarinnya kita hanya makan Nasi Biryani saja... kapan kita makan Nasi Kebab?!"
Perbincangan itu masih terus berlangsung namun Nuzlan telah mengerti sebab muasalnya. Lelaki itu bangkit dan melangkah menuju kasir.
"Pak, nanti kalau kakek itu datang lagi, kasih saja Nasi Kebab tiga bungkus ya?" pesan Nuzlan.
Kasir itu sejenak termangu dan akhirnya mengangguk saat melihat ketegasan diwajah lelaki itu. Nuzlan beranjak keluar menemui si kakek yang sementara menenangkan cucunya.
"Kek, tadi kakek didalam pesan Nasi Kebab ya?" tanya Nuzlan membuat sang kakek kaget dan tergagap kebingungan. Sang cucu menatapi kakeknya dan Nuzlan bergantian.
"I-iya... tapi..." ujar Kakek itu dengan ragu.
"Berarti, uang kakek tadi jatuh didalam tuh..." ujar Nuzlan seraya memperlihatkan sepuluh keping uang perak dan langsung memberikannya kepada kakek itu yang semakin kebingungan.
"Kelihatannya kakek buru-buru tadi makanya nggak sadar kalau uangnya jatuh..." ujar Nuzlan tanpa memberikan kesempatan si kakek itu membantah. Nuzlan kemudian menatapi sang cucu.
"Kakekmu sebenarnya mau menggodamu... tapi kau terburu-buru memarahi kakekmu." tegur Nuzlan sembari membelai kepala anak itu. "Lain kali, jangan memaksa kakekmu untuk menyenangkanmu... justru kamu yang harus menyenangkan kakekmu..."
Nuzlan kemudian pamit meninggalkan kakek itu dan memasuki restoran. Sementara sang kakek hanya bisa berterima kasih dan memuji Nuzlan karena menjaga kehormatannya dihadapan cucunya.[]
__ADS_1