
Turnamen Tarung Sejagat untuk Babak Final akan diselenggarakan dua hari kemudian. Para kontestan diberikan waktu istirahat selama dua hari sebelum menghadapi pertarungan babak akhir. Dibabak itu hanya diselenggarakan dua kali pertandingan disebabkan dua kontestan sebelumnya gugur sehingga jumlah kontestan hanya tinggal empat orang saja, yaitu Havard, Do Quo, Sinhala dan seorang lagi.
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan berplesiran. Selena yang paling antusias jika berhubungan dengan hal-hal plesiran. Tiba-tiba Nuzlan menyeletuk.
"Aku punya urusan penting, jadi aku terpaksa tak ikut bersama kalian." ujar Nuzlan dengan senyum namun Selena langsung mengeluarkan ******* kecewa karena lelaki itu tak ikut berplesiran bersama.
Havard mengangguk. "Aku paham jika hal ini menyangkut kepentingan negara." sahutnya lalu menatap Selena. "Sebaiknya jangan kau ganggu kakakmu."
Selena mendelik kearah lelaki itu. "Itu bukan urusanmu!" balasnya dengan ketus lalu melengos dan mendatangi Nagini.
"Nagini, kamu ikut kan?" tanya Selena dengan memelas.
Nagini menghela napas. "Aku sebenarnya..."
"Ikutlah dengan Selena..." pinta Nuzlan. "Kasihan dia, tak ada yang menemani."
"Aku akan mengiringinya..." sela Havard.
"Aku tak suka jalan denganmu!" balas Selena dengan ketus. "Yang ada hanya pertengkaran melulu ditengah jalan..."
Havard hanya garuk-garuk kepala mendengar ujaran perempuan itu. Nuzlan tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu nggak boleh berkata seperti itu, Selena..." tegur Nuzlan. "Bagaimanapun dia adalah teman sekampungmu. Dia juga yang membebaskanmu dari Benteng Maung... mengapa hanya sebuah pertengkaran membuatmu menjauhinya?"
Selena sekali lagi mendecak kesal. Akhirnya Havard mengangguk dan mengangkat bahu. "Ya sudahlah. Jika dia tak mau ditemani, aku juga tak memaksa... pertengkaran itu hanya sebuah kesalah pahaman memaknai maksud dari sebuah perkataan..." setelah berkata begitu, Havard melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Selena merasa bersalah membuat lelaki itu pergi, namun arogansinya sebagai seorang gadis membuatnya bergeming ditempatnya, tak sedikitpun bergerak menyusul Havard meskipun hatinya ingin.
Do Quo tersenyum lalu mengajak Selena. "Ya sudahlah... kau kutemani saja... tidak baik seorang gadis jalan-jalan sendirian dijalanan malam-malam." usulnya memberikan alasan yang bagus.
"Baiklah... aku ikut kamu saja." jawab Selena pada akhirnya. Do Quo menatap Nagini. "Nona tidak mau ikut?"
Nagini tersenyum datar. "Aku tak perlu menemaninya... anda sudah merupakan kawan jalan yang baik." tolaknya dengan halus.
Do Quo mengangkat bahu lalu menatap Selena. "Ayo..." ajaknya dan keduanya pergi meninggalkan ruangan.
Tinggallah Nagini dan Nuzlan diruangan santai itu. Pejabat militer itu menatap Nagini. "Sekarang hanya tinggal kita berdua saja... apakah kau tak punya kepikiran untuk jalan-jalan? Kemana saja?" pancing lelaki itu.
Nagini menghela napas. "Baiklah... aku mau pergi dulu menyambangi Kuil Bethania... kelihatannya akan makan waktu satu setengah hari."
Nuzlan mengangguk lalu memberikan wanita itu dompet berisi beberapa puluh keping dinar. "Gunakan itu dalam perjalanan. Siapa tahu kau membutuhkannya..."
Nagini menerima pemberian itu dan mengangguk lagi. "Kalau begitu, aku permisi..." ujarnya lalu berbalik meninggalkan ruangan tersebut.
Nuzlan menghela napas lalu menuju kamarnya dan berganti pakaian. Ia kemudian melangkah kembali menuju ruangan santai seakan-akan menunggu seseorang.
Tak lama kemudian terdengar ketukan. Nuzlan bangkit dari sofa dan melangkah ke pintu lalu membukanya. Nampak seorang pelayan berdiri didepan pintu.
"Seorang lelaki datang hendak menemui anda." ujar pelayan itu. "Dia sekarang menunggu di ruang lobi."
"Katakan padanya, supaya menemuiku di ruangan ini. "ujar Nuzlan. Pelayan itu mengangguk lalu meninggalkan tempat itu.
Nuzlan kembali melangkah menuju sofa dan duduk disana. Pintu tetap dibiarkan terbuka. Tak berapa lama masuk ke ruangan itu seorang lelaki berpakaian sederhana. Nuzlan bangkit menyambut tamu tersebut.
"Silahkan duduk..." pintanya.
Tamu itu membungkuk sejenak lalu duduk disofa beberapa jarak dari tempat pejabat militer itu duduk.
"Bagaimana kabar Sultan Yazid?" tanya Nuzlan.
"Beliau dalam keadaan baik, Tuan Jenderal." jawab tamu tersebut. "Beliau mengirim pesan untuk menanyakan, apakah penyelidikan Tuanku sudah menemukan titik terang?"
"Sedikit lagi." jawab Nuzlan dengan tenang. "Apakah sketsa wajah Lord Rotcshild yang kuminta sudah di cetak oleh pihak kementerian?"
Tamu itu serentak merogoh sesuatu dalam saku pakaiannya kemudian mengeluarkan selembar kertas berukuran besar dan menyerahkannya kepada Nuzlan.
Nuzlan menerima kertas itu dan membuka lipatan-lipatannya. Nampaklah potret Lord Rotcshild dalam balutan pakaian resminya sebagai seorang pejabat di birokrasi pemerintahan. Nuzlan memperhatikan wajah Lord Rotcshild yang kurang jelas karena tersamar dalam balutan cadarnya. Lagi pula tudungnya sedikit menghalangi bagian mata pejabat tersebut.
Nuzlan mendesah kecewa karena gambar itu tak banyak membantu penyelidikannya. Akhirnya ia menatap tamu itu.
"Kau kembalilah ke Tel-Qahira... sampaikan bahwa aku akan segera kembali setelah Turnamen Tarung Sejagat selesai diadakan." ujar pejabat tersebut. "Aku disini sedang bekerja sama dengan pihak intelijen kota Turan untuk mengamati gerak-gerik orang-orang Yahuda disini..."
__ADS_1
Tamu itu mengangguk lalu bangkit dan membungkuk kembali ke arah Nuzlan. Lelaki itu mengangguk dan tamu tersebut berbalik meninggalkan ruangan itu. Sepeninggal tamu tersebut, Nuzlan menghela napas kecewanya lalu bangkit melangkah menuju pintu, kemudian menutup pintu itu dan berjalan menuju kamar.
...****...
Selena berjalan-jalan ditemani Do Quo menyusuri jalanan kota. Perbedaan usia diantara mereka membuat warga kota mengira keduanya adalah ayah dan anak. Do Quo sabar benar meladeni berbagai celotehan gadis itu yang mengomentari kehidupan warga kota Turan.
"Paman, bagaimana bisa Paman mengenal Havard?" tanya Selena tiba-tiba.
Do Quo mengangkat alisnya sebelah lalu tersenyum dan menatap langit di ufuk timur.
"Havard kutemukan terlunta-lunta dijalanan di luar kota Mashed, saat aku meninggalkan Beningrad." kenang Do Quo. "Kota itu terbakar habis karena sebab yang misterius... namun kabarnya, kota itu diserang oleh sesosok monster yang mengamuk... tidak ada satupun warga disana... mereka semua tewas dalam peristiwa itu..."
Selena seketika dilanda rasa halu membayangkan hidup Havard semasa kecil. Do Quo menghela napas. "Kurasa dia adalah satu-satunya warga yang selamat dari kebakaran kota itu...usianya kuperkirakan saat itu adalah tujuh tahun." tebaknya. "Dia berdiri kebingungan sambil memegangi sebilah kopesh. Kemungkinan itu adalah senjata warisan keluarganya..."
Tanpa sadar Selena mendesah haru seraya menutup mulutnya. Keduanya tetap berjalan menyusuri trotoar jalanan.
"Aku kemudian mengajaknya berpetualang bersama..." kenang Do Quo. "Dalam petualangan selama tiga tahun itu, aku sedikitnya mengajari Havard beberapa teknik pedang. Setelah itu kami berpisah di Kurama. Aku menitipkan Havard pada salah satu kenalanku di sekolah-kuil. Aku melanjutkan perjalananku. Selama tujuh tahun itu aku tak lagi mendengar beritanya. Aku masih mengira ia tetap berada di sekolah-kuil tersebut." Do Quo menarik napas panjang lalu tersenyum. "Nyatanya... kami bertemu lagi saat mengikuti turnamen ini... aku tak menyangka, tujuh tahun tak berjumpa nyatanya ia sudah sebesar dan segagah itu..."
Selena merasa kedua namanya panas. Do Quo menatap gadis itu. Lelaki itu tersenyum. "Bagaimana kau bisa mengenalnya?"
Selena kembali mengenang. "Lima tahun sebelumnya, ia tiba di Las Mecca menumpang salah satu kafilah dagang milik ayahku." ujarnya menatap rumah-rumah yang berderet. "Kata salah satu pegawai, mereka menyewanya sebagai pengawal kafilah sebab diperjalanan banyak terjadi pembegalan oleh para perampok.... sejak saat itu dia tinggal menumpang disalah satu rumah pegawai kami." Selena sejenak tersenyum lagi. "Kerjanya tak menentu, serabutan saja... kadang dia bekerja dikebun, kadang juga bekerja sebagai binatu, kadang ikut ronda.... tapi tak ada yang bisa menandinginya dalam berkelahi..."
"Wah... kau sangat mengenalnya dengan baik ya?" komentar Do Quo setengah menggoda. "Aku saja yang tiga tahun berpetualang bersamanya tidak begitu mengenal pribadinya."
"Kami mulai bersahabat ketika dia membelaku saat beberapa anak lelaki mengolok-olok. Mereka semua dihajarnya sampai minta ampun..." kenang Selena lagi. Sejenak wajahnya berubah kesal. "Tapi kami selalu saja bertengkar karena hal-hal sepele..."
"Tapi aku melihatnya... sangat memperhatikanmu..." ujar Do Quo membuat Selena menatap lelaki itu.
Do Quo mengangguk. "Dia sangat memperhatikanmu, Selena... pertengkaran kalian adalah salah satu bukti betapa dekat hubungan kalian sebenarnya..." ujarnya. "Dan yakinlah... aku lebih paham..."
"Menurut Paman seperti itu?" pancing Selena.
Do Quo tersenyum dan kembali menatap jalanan dan deretan rumah serta beberapa warga yang berseliweran.
"Usiaku sudah empat puluh tahun, nak." ujar Do Quo, "Sudah paham sedikit tentang perasaan manusia..." lelaki itu menatap Selena. "Seorang lelaki yang selalu mengajakmu bertengkar sebenarnya hanyalah cara agar kau memperhatikannya..."
Langkah Do Quo terhenti. Nampak diseberang sana, disebuah kedai yang jendelanya terbuka, seseorang duduk membelakangi jendela. Do Quo sangat mengenal gaya duduk lelaki itu.
Selena ikut berhenti dan menatap lelaki itu. "Paman, kenapa berhenti?" tanya gadis itu. Do Quo tersenyum. Ia menunjuk kedai.
"Terus?" tanya Selena tak paham.
"Pergilah kesana dan temani dia..." usul Do Quo, "Dia sangat kesepian..."
"Nggak mau, ah." tolak Selena dengan enggan.
"Kenapa?" tanya Do Quo.
"Nanti dikiranya, aku perempuan murahan..." tukas Selena dengan wajah kesal.
Do Quo tersenyum. "Nggak bakalan..." ujarnya dengan mantap. "Kalau dia berani bilang begitu, tinggalkan saja dia..." Lelaki itu kemudian memegang kedua bahu Selena. "Dengarkan aku... ini saatnya kau memperlihatkan perhatianmu... secara wajar saja... temani dia dan buktikan bahwa kamu adalah sahabat terbaiknya." ujar Do Quo memberi semangat.
Selena masih menyimpan keraguan. Gadis itu baru berani saat Do Quo menepuk pelan puncaknya beberapa kali.
Selena menyeberangi jalanan meninggalkan Do Quo yang berdiri santai di trotoar jalan. Ia tiba didepan kedai dan sekali lagi menoleh menatap Do Quo.
Do Quo memperlihatkan dua jempolnya dan tersenyum membuat Selena akhirnya memberanikan diri masuk kedalam kedai itu.
...*****...
Havard duduk ditemani satu sloki ginger beer dan sepiring kacang mete. Ia sedang mengamati sebuah liontin batu ruby yang dilingkari logam berukir berbahan orihalcon. Perhiasan itu diminati oleh Selena namun gadis itu mengurungkan niatnya memiliki benda itu dengan sebab yang tak jelas. Ia membeli benda itu dan akan menyerahkannya sebagai kejutan kepada Selena.
Havard tanpa sadar mengangkat wajah dan menoleh kearah pintu. Ia kaget ketika melihat Selena masuk dan melangkah pelan mendekati tempat duduknya.
Cepat-cepat Havard menyembunyikan liontin tersebut lalu duduk dengan sewajarnya menikmati kacang mete. Selena duduk didepan Havard.
"Havard..." panggil Selena.
Havard menatap cuek kearah Selena lalu kembali menikmati kacang mete. Ia menyorongkan piring berisi kacang mete itu ke dekat Selena.
"Makanlah..." pintanya lalu menatap seorang biduan yang sedang menyanyikan sebuah tembang sendu diatas panggung.
__ADS_1
Selena mengambil sebutir kacang mete dan memakannya. Keduanya tidak bicara membuat Selena menjadi gugup dan takut memulai percakapan.
"Tumben kamu menemukanku..." ujar Havard lagi.
"Oh, eh, aku s-sedang jalan dengan Paman Do Quo." jawab Selena dengan canggung.
Havard mengangguk-angguk pelan lalu menegakkan tubuhnya. "Mau minum apa?" tanya lelaki itu. "Jangan pesan Bir ya? Nggak baik bagi perempuan..."
Menghilangkan kecanggungan, Selena mengambil lembaran menu dan mengamati isinya. Setelah itu, ia menjawab. "Boleh aku pesan roti isi selai blueberry?"
Havard mengangguk lalu bangkit. "Sebentar aku pesankan..." ujarnya lalu pergi menuju kasir.
Selena memperhatikan Havard yang kelihatannya sedang berdiskusi panjang dengan kasir tersebut. Lelaki itu terlihat mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya kepada kasir tersebut. Setelah itu ia berbalik melangkah kembali ke tempat dimana Selena duduk.
"Aku sudah pesankan menu kamu." ujar Havard. "Tambah sirup Sarsaparilla..."
"Terima kasih..." ujar Selena dengan gugup. Gadis itu masih canggung.
Havard kembali menikmati kacang mete dan menegak ginger beer seteguk dan meletakkan kembali gelas besar itu di meja.
"Havard..." panggil Selena.
Havard menoleh menatap gadis itu sambil terus mengunyah kacang mete.
"Aku... aku... a-aku..." ujar Selena gagap.
"Kamu kenapa?" tanya Havard. "Nggak biasanya kamu begini."
Selena memperbaiki cara duduknya lalu menatap lagi Havard. "Aku... aku minta maaf atas sikapku belakangan ini..." ujarnya.
Havard tersenyum tipis sejenak lalu menjebikan bibirnya. "Nggak usah dipikirin... kamu nggak salah apa-apa terhadapku..."
"Belakangan ini, kita selalu bertengkar..." keluh Selena. "Aku jadi merasa kita berdua makin jauh..." tukasnya.
"Hanya pikiranmu saja..." balas Havard.
Tak lama kemudian pesanan roti besar isi selai blueberry itu tiba. Pelayan tersebut meletakkan menu itu dihadapan Selena bersama segelas tinggi sirup Sarsaparilla.
"Terima kasih..." ujar Selena mengapresiasi. Pelayan itu mengangguk dan berbalik meninggalkan tempat itu.
Selena mengambil garpu dan pisau diatas piring dan mulai mengiris roti. Ia melanjutkan bicaranya.
"Aku ingin kita kembali sebagaimana biasanya..." pinta Selena.
Sejenak Havard mengangkat alisnya sebelah lalu mengangguk-angguk lagi. "Jika itu keinginanmu..." sahutnya singkat.
"Havard... bicaralah..." pinta Selena. "Sedari tadi hanya aku saja yang bicara."
"Lalu siapa tadi yang menjawab semua ucapanmu?" tukas Havard mengembangkan tangannya dengan wajah heran.
"Maksudku... berceritalah... apa saja." pinta Selena. "Ceritakan saja masa lalumu..."
"Itu hal yang paling tidak seru untuk diceritakan..." sahut Havard.
Selena terdiam. Akhirnya ia mengalah dan memilih mengiris roti untuk dimakannya. Namun gadis itu heran ketika pisaunya serasa mengiris logam. Dengan penasaran ia meletakkan pisau dan membelah roti tersebut dengan jemarinya.
Gadis itu terpukau kemudian menyadari sebuah kalung nampak menyisip diantara daging roti itu. Ia menariknya dan makin kaget ketika melihat liontin yang menggantung dikalung itu.
"Havard... ini kan..." ujar Selena yang tak bisa lagi bicara.
"Ya... aku membelinya untukmu..." ujar Havard seenaknya. "Aku tahu kau menginginkannya... hanya aku heran saja kenapa kau tak membelinya... makanya aku membeli benda itu dan rencananya kuhadiahkan padamu..."
Tiba-tiba Selena bangkit dan langsung memeluk Havard. Sejenak lelaki itu kaget namun kemudian duduk tenang kembali.
"Terima kasih... terima kasih..." sedu Selena dengan haru.
"Lepaskan pelukanmu..." pinta Havard. "Orang-orang memperhatikan kita." ujarnya dengan jengah.
Selena akhirnya melepaskan pelukannya. Havard tersenyum. "Mau ku pasangkan?" tawarnya.
Selena mengangguk dan Havard kemudian berdiri lalu memasangkan liontin itu dileher gadis tersebut.
__ADS_1
"Sekarang, kau makin cantik dengan kalung itu." ujar Havard.
Selena merasakan hatinya berbunga-bunga pada malam itu.[]