MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
BIARAWATI LUPRICALA


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan?!" teriak Havard dengan panik.


Nuzlan ikut-ikutan menjadi panik. "Mengapa tidak kau cegah dia mengambil tanaman itu?"


"Mana kutahu, jika dia memetik bunga itu?" jawab Havard dengan panik pula.


"Lalu bagaimana?!" seru Nuzlan dengan panik. "Jarak ke Turan lagi berapa kilometer?!" tanya panglima tersebut kepada Nagini.


"Masih sehari perjalanan..." jawab Nagini dengan tenang. "Sebelum kita tiba di Turan, gadis ini sudah tewas dengan tubuh menjadi batu..."


"Kamu jangan bilang begitu dong!!!" sergah Havard dengan panik.


"Kamu kok tenang-tenang saja, nggak seperti kita-kita?" selidik Nuzlan dengan ketus.


Nagini menghela napas lalu menjawab. "Pertama, dia tak ada hubungannya denganku..."


"Tapi gadis ini ada hubungannya denganku!!!" sela Havard makin panik.


Nagini kemudian menarik napas lagi dan tersenyum tipis. "Kedua... kita bisa mendapatkan obatnya di Kuil Bethania..."


"Kenapa nggak bilang-bilang dari tadi?!" seru Havard dengan kesal. "Tidak lihat, aku sudah sedemikian panik begini?!"


"Kamu tak bertanya apa obatnya." jawab Nagini dengan tenang.


"Kau!!!" seru Havard dengan jengkel.


SRINGGG....


Tiba-tiba Nagini mencabut pedangnya dan mengarahkannya kepada Havard. Nuzlan terperangah dengan sikap wanita itu.


"Halo??? kita bisa bicara baik-baik, kan?" ujar Nuzlan bernegosiasi.

__ADS_1


Nagini dengan tenang kembali menyarungkan pedangnya. Ia menatap Havard. "Aku tahu, kau panik. Tapi aku tak suka melihatmu seperti ini... aku seperti tidak melihat gaya ayahmu didalam dirimu..."


"Aku adalah aku!!!" sergah Havard lalu menggendong Selena. Ia menatap Nuzlan. "Kita akan bagi tugas. Kau tetap melanjutkan perjalanan ke Turan. Aku akan ke Kuil Bethania dengan petunjuk dari Nagini..."


Nuzlan menggeleng. "Tidak... aku memilih ikut kalian ke Kuil Bethania..."


"Tapi... kau menjalankan tugas negara... kau harus menangkap Lord Rotcshild di Turan!" bantah Havard.


"Ya, aku tahu." ujar Nuzlan. "Tapi, alangkah jeleknya diriku membiarkan adikku menderita sendirian... pokoknya, aku akan ke Kuil Bethania bersama kalian..." lelaki itu menatap Nagini. "Tolong, tunjukkan jalannya."


Nagini tersenyum tipis lagi. "Kau lebih cerdas dari Havard..." pujinya lalu menggebah kudanya agar bergerak membelok ke simpang kanan kemudian diikuti oleh Nuzlan.


Sambil menggendong Selena, Havard berupaya keras naik ke punggung Bukefals. Setelah itu, tanpa diperintah, seakan memahami majikannya, Bukefals bergerak sendiri menyusul Nuzlan dan Nagini.


Ternyata perjalanan ke Kuil Bethani hanya berjarak sepuluh kilometer. Mereka tiba digerbang. Nuzlan langsung terpana.


Pemandangan didepannya begitu indah dan penuh estetika. Nampak taman penuh bunga beraneka warna, beberapa pilar penghias taman dan sebuah bangunan yang terbengkalai, justru menambah keindahan tempat itu.


"Ini bukan kuil..." ungkapnya dengan kagum. "Semestinya, ini disebut kastil..."


Tak lama kemudian muncul Havard beserta tunggangannya. Ia menghentikan Bukefals lalu turun dari pelana dan kembali menempatkan Selena yang pingsan pada gendongannya. Lelaki itu mendekati Nagini.


"Sekarang tunjukkan dimana obatnya?" tanya Havard dengan tidak sabar seraya menatapi bunga-bunga dan tanaman yang terdapat ditaman. "Apakah disalah satu tanaman itu, obatnya?"


Nagini tersenyum. "Obatnya berada ditangan Lupricala sendiri."


"Omong kosong apa ini?" sergah Havard lagi. "Bagaimana kita memintanya? Bukankah orang itu sudah mati berjuta tahun yang lalu?!"


"Sabarlah Havard..." pinta Nuzlan. Lelaki itu kemudian menanyai lagi Nagini. "Bisakah kau memberitahukan dimana letak obat itu berada?"


"Sudah ku katakan, obatnya berada ditangan Lupricala..." jawab Nagini lagi dengan tenang.

__ADS_1


"Nagini... kumohon dengan sangat... terangkanlah, dimana Lupricala menyimpan obatnya?" tanya Nuzlan lagi dengan sabar.


Nagini akhirnya menatap Nuzlan dan menjawab. "Obat itu berada di makamnya..."


Kedua lelaki itu terdiam. Nagini menarik napas lalu mengajak keduanya memasuki tempat tersebut. Nuzlan mengamati taman-taman itu.


"Siapakah yang merawat tanaman-tanaman ini?" selidik Nuzlan. "Mereka tidak tumbuh sendiri, kan?"


"Tanaman itu dirawat dengan baik oleh Lupricala sendiri..." jawab Nagini.


Nuzlan hanya tertawa pelan mendengar Jawaban wanita itu. Nagini menoleh menatapnya.


"Kelihatannya kau tak percaya..." ungkapnya.


"Nggak juga... hanya sulit dicerna oleh logika..." kilah Nuzlan.


Mereka terus menyusuri lorong-lorong kuil dan tiba disebuah alun-alun. Nampak diujung tanah lapang itu terdapat sebuah makam unik, dimana nisannya berbentuk sebuah arca sesosok wanita, yang kelihatannya mengenakan pakaian yang menerawang sehingga terlihat lekuk-lekuk tubuhnya. Wanita itu mengenakan mahkota daun yang menghiasi rambut panjangnya. Arca itu memegang sebuah busur besar dari logam khusus nampak indah.


Nagini mengajak mereka menuju makam tersebut dan Havard dengan jelas dapat melihat betapa makam itu dihiasi bunga yang terlihat cantik.


"Inikah obatnya?" tanya Havard mengangguk ke arah tanaman yang mengerubuti makam tersebut.


Nagini mengangguk. Havard membaringkan Selena beberapa jarak dari makam.


Tiba-tiba terdengar suara.


"Siapakah yang membangunkan aku?!"


Nagini kemudian berlutut, diikuti oleh Nuzlan sedangkan Havard hanya duduk disisi Selena yang pingsan.


"Kami datang menghadapmu, Lupricala..." ujar Nagini menghaturkan sembahnya.[]

__ADS_1


__ADS_2