MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA

MASSHIAHSAGA-KEKUASAAN DUA RAJA
PENGAWAL GERBANG BESI


__ADS_3

"Apa tindakan kita selanjutnya? tanya Havard dengan sikap siap. Sultan Yazid mengangguk.


"Kau bertugas sebagai perintis, bersama-sama Master Ismanto..." jawab Sultan Yazid. "Aku dan Nagini mengikuti dari belakang dan Do Quo memastikan tidak ada yang membuntuti kami dari belakang."


Havard mengangkat bahu. Master Ismanto mendekati pemuda itu. "Ikuti saya..."


Havard melangkah mengekori Master Ismanto menyusuri ruangan demi ruangan hingga tibalah mereka dihalaman belakang kediaman sang lektor. Di halaman belakang beberapa meter dari bangunan itu terlihat beberapa pekerja yang sedang melakukan eksvakasi.


"Disana..." tunjuk Master Ismanto mendahului melangkah mendekati para pekerja tersebut. Ia kemudian bercakap-cakap dalam bahasa asing dengan para pekerja. Mereka membalas perkataannya.


Master Ismanto menoleh menatap Havard dan tiga orang yang menyusulnya dari belakang. "Sejauh ini kita aman... para penjaga belum menyadari hal ini..."


"Bagus..." sahut Sultan Yazid. "Tunjukkan jalannya..." pintanya.


Master Ismanto membalik dan meminta obor kepada salah satu pekerja. Setelah menerima obor itu, ia menyalakannya lalu masuk kedalam lubang galian.


Kelima orang itu menyusuri terowongan yang panjang, kadang berkelok-kelok, kadang lurus. Ada juga jalan menanjak. Beberapa kali mereka menaiki tanjakan dan memanjati tangga untuk tiba disisi seberang.


Akhirnya mereka menemukan jalan tembus yang membawa mereka pada bilik istirahat dari ruangan kerja, sang lektor sendiri.


Havard memutuskan keluar duluan dari lubang tembusan itu dan mengamati keadaan diruangan kerja tersebut. Setelah meyakini keadaan yang aman terkendali, pemuda itu membantu Master Ismanto keluar dari lubang tersebut. Menyusul berturut-turut Sultan Yazid, Nagini, dan terakhir Do Quo memamerkan seni meringankan tubuhnya melompat keluar dari lubang dan mendarat dengan lembut disisi lubang tersebut.


"Dasar lebay...." gumam Havard dengan pelan, dan Do Quo tersenyum saja karenanya.


Master Ismanto melangkah mendekati pintu lalu membuka sedikit untuk mengintip koridor, memastikan tak ada barisan penjaga istana yang berkeliaran disana. Pria tua itu mengangguk lalu menjauhi pintu dan mendekati keempat orang yang bersembunyi disisi meja kerja sang lektor.


"Keadaannya aman..." bisiknya.


Havard mengangguk lalu menampakkan dirinya disusul ketiga sahabatnya. Mereka menatap pintu. Havard memberanikan diri mendekati pintu lalu membukanya sedikit lebih lebar untuk mengintip dan memastikan keadaan yang aman disana.


Havard menoleh menatap ketiga sahabatnya lalu melambaikan tangannya menandakan tempat itu aman. Do Quo bergerak lebih dulu membuka pintu itu pelan-pelan. Lelaki berkumis tebal itu kemudian keluar disusul oleh Havard. Sultan Yazid kemudian keluar dikawal oleh Nagini.


Master Ismanto keluar paling akhir dan berdiri didepan pintunya. "Kuharap perjalanan kalian lancar tak kurang suatu apa..." ujarnya kemudian merogoh sesuatu dibalik pakaiannya dan mengeluarkan sebuah dua benda. Satunya adalah peta rute jalan rahasia dan ruangan-ruangan dalam Istana, sedang satunya adalah sebuah anak kunci berbentuk medali.


"Ini adalah kunci khusus yang dibawa oleh setiap pejabat istana. Kunci ini bisa membuka akses ke tempat manapun di istana ini." ujarnya kemudian menyodorkan kunci itu kepada Sultan Yazid, sedangkan lembaran peta diserahkan kepada Do Quo.


Sultan Yazid dan Do Quo menyambut kedua benda itu dan menyimpannya. Master Ismanto kemudian melanjutkan pesannya. "Ingat, jangan pernah masuk ke tempat manapun kecuali ke kamar utama yang berada dilantai puncak.... jalan menuju kesana harus melalui tangga khusus yang hanya bisa dilewati oleh para pemegang kunci ini..." pria tua itu kemudian menepuk pundak Sultan Yazid. "Sekarang pergilah, sebelum keberadaan kalian diketahui..."


Master Ismanto berbalik memasuki bilik kerjanya lagi. Sultan Yazid menatapi ketiga orang rekannya.


"Mari kita lanjutkan misi ini..." ajaknya.


Keempatnya kemudian menyusuri koridor-koridor itu dengan waskita. Di beberapa sudut, nampak terlihat dua orang prajurit berdiri dipintu-pintu.


Havard dengan cekatan mencabut dua bilah kunai dan melesatkannya ke arah penjaga tersebut.


JLEB!!! JLEB!!!


UGH... OHHH....


Dua prajurit itu roboh dengan leher tertancap senjata rahasia. Do Quo bergegas menyeret dua prajurit itu mendekati tempat mereka bersembunyi.


"Kita gunakan penyamaran." ujar Do Quo mempreteli baju jirah para penjaga itu dan Havard memberikan satunya kepada Sultan Yazid.


"Untuk keselamatan Paduka, ada baiknya anda mengenakan ini..." pinta Havard.


Sultan Yazid setuju lalu mengenakan baju besi pengawal tersebut. Tombak Pasak Bianglala tak perlu lagi disembunyikan. Kepala negara itu menggenggam senjata tersebut.


"Paduka terlihat seperti prajurit tulen." goda Do Quo yang sudah mengenakan baju besi pengawal tersebut.

__ADS_1


"Ayo kita bergerak." ajak Havard.


"Kami berdua berjalan didepan..." ujar Do Quo. Sultan Yazid mengangguk. Keempat orang itu kini melangkah dengan formasi yang sudah direncanakan.


Beberapa prajurit berpakaian serupa, lengkap dengan helmnya, menyapa kedua prajurit palsu itu, lalu mengamati Havard dan Nagini yang berdiri dibelakang keduanya.


"Hei, siapa mereka?" tanya salah satu prajurit menganggukkan kepalanya kearah Nagini.


Sultan Yazid menoleh menatap Nagini sesaat lalu kembali menatap prajurit tersebut.


"Keduanya adalah tamu kita." ujar Sultan Yazid. "Mereka adalah perwakilan dari Lord Rotcshild yang akan membahas tentang rencana penaklukan Tel-Qahira..." sambungnya dengan gemetar.


"Kamu kenapa prajurit?" selidik prajurit itu, menatap Sultan Yazid dengan curiga. Do Quo langsung menimpali.


"Rekan saya ini sebenarnya kurang sehat." ujarnya. "Namun berhubung dia piket hari ini, maka tetap menjalankan tugasnya."


Prajurit satunya menyahut. "Ah, kasihan sekali kau... pulang sajalah. Nanti kuberitahu komandan kalau kau lagi sakit."


"Biarlah..." jawab Sultan Yazid masih dengan nada gemetar untuk meyakinkan musuhnya. "Saya masih harus mengantar tamu ini dulu... bagaimanapun... urusan negara lebih penting..."


"Wah, lelaki berdedikasi juga kau." seloroh prajurit itu sembari menampar bahu Sultan Yazid.


Sultan Yazid mengangguk lalu mengajak Do Quo untuk beranjak. Namun prajurit satunya menahan lagi.


"Hei... tombakmu..." komentarnya.


"Bagus, kan?" sahut Sultan Yazid mengangkat Tombak Pasak Bianglala le hadapan dua prajurit itu.


"Kamu tahu, kan? Selain tombak yang resmi untuk para penjaga istana, selain itu terlarang dibawa." tegur prajurit itu. "Kau lupa, atau..."


Prajurit itu mulai curiga. Sultan Yazid cepat-cepat berdalih.


"Tombakku patah... aku belum mengajukan pengusulan tombak yang baru ke bagian logistik tempur... senjata ini kupinjam dari sepupuku yang seorang petugas patroli kota..." kilah Sultan Yazid dengan gemetar. "Maafkan aku..."


Mereka mendesah lega lalu melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor istana tersebut. Setiap berpapasan dengan seregu pangawal, Sultan Yazid maupun Do Quo selalu mengemukakan alasan yang sama perihal kurang sehat, namun karena piket dan tugas negara, maka tetap menjalankan tugas dan alasan tentang tombak yang dipinjam dari sepupu membuat mereka lagi-lagi lolos dari investigasi mereka.


Di koridor yang sunyi, Do Quo mengeluarkan lembaran peta dan mengamati satu demi satu ruangan yang ditunjukkan dalam peta tersebut. Ketiga rekannya mengelingi ikut melihat peta tersebut.


"Setelah ini kita harus membelok ke kiri menuju elevator yang akan membawa kita menuju kamar utama..." ujar Do Quo menunjuk gambar dalam peta itu.


"Kalau jalan ke kanan?" tanya Havard.


"Itu jalan utama. Kamu akan tembus ke koridor utama yang mengarah ke balairung pertemuan." jawab Do Quo.


"Lanjutkan perjalanan..." titah sang penguasa.


Do Quo mengangguk lalu mengajak ketiganya menyusuri lorong, membelok ke arah yang ditunjukkan oleh peta tersebut.


Tibalah mereka di sebuah ruangan yang agak lapang dilantai dua. Di dinding terpahat lambang negara. Do Quo membalik menatap ketiga rekannya.


"Kita sudah tiba dijalan menuju kamar utama." ujar lelaki berkumis lebat itu. "Silahkan Paduka Sultan membuka aksesnya." sambungnya menunjuk pahatan lambang negara.


Sultan Yazid mendekati pahatan lambang negara tersebut dan mengamatinya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan kunci medali dari balik baju jirahnya. Tangan lainnya meraba pahatan lambang negara itu.


Havard dan Nagini kembali menuju pintu dimana mereka masuk dan mengawasi dengan teliti keadaan disekitarnya.


"Ketemu!" seru Sultan Yazid ketika menemukan sebuah ceruk kunci pada salah satu ornamen dalam pahatan tersebut.


Sultan Yazid segera memasukkan kunci medali ke dalam lubang kunci. Terdengar bunyi 'klik' disusul bunyi dengung halus.

__ADS_1


Lantai didepan pahatan lambang negara itu membuka dan keluarlah sebuah tabung mirip kapsul terbuat dari bahan hidrokarbon dan thermoglass. Tabung itu kemudian membuka.


Sultan Yazid memberanikan masuk, disusul oleh Havard dan Nagini. Setelah itu Do Quo terakhir masuk setelah memastikan suasananya aman dan terkendali.


Didalam tabung itu ada panel-panel holografis. Do Quo menatap Sultan Yazid. "Bagaimana ini Paduka?" tanya Do Quo. "Apakah Anda tahu sandi angkanya?"


Sultan Yazid mengeluarkan kunci medali dan mengamati benda tersebut. Ia kemudian menemukan sebaris angka, nyaris tak terlihat sebab begitu kecilnya, berbaris rapi pada bilahan mata anak kunci.


Sultan Yazid kemudian menghafal nomor sandi dan mengetikkannya pada panel tombol holografis tersebut.


Tabung itu menutup lagi. Mereka berada kembali bernafas lega. Tabung itu kemudian bergerak ke atas. Bagian atap membuka dan kapsul itu kembali meluncur.


Tak lama kemudian tabung kapsul itu berhenti disebuah ruangan lalu membuka. Keempat orang itu keluar mendapati sebuah anak tangga menuju ke atas.


"Sedikit lagi kita sampai..." ujar Do Quo.


Didepan mereka ada tangga lebar. Do Quo baru saja hendak melangkahkan kakinya, urung melakukannya ketika terdengar suara langkah kaki yang pelan menuruni anak-anak tangga dihadapan mereka.


Keempat orang itu menengadah ke atas dan terkejut melihat seseorang melangkah turun dengan tenang mendekati mereka.


Orang itu mengenakan baju jirah yang dipasangi kenop-kenop baja dibagian dada dan perutnya. Sebuah sabuk besar dengan gesper yang dipasangi dua kenop baja melingkar dipingganya mengikat cawat berbulu dari kulit beruang menutupi bagian selangkangnya, begitu juga sepatu bot berbulu terbuat dari bahan yang sama membungkus kedua kakinya. Otot lengannya besar bersembulan dilapisi kaos tangan besi. Rambut lelaki itu terurai panjang hingga ke bahu. Sebuah senjata berhulu kapak dan palu tergenggam ditangannya.


"Thor Donnerstein..." seru Havard yang langsung menghunus nodachi Kanesada dari sarungnya.


Lelaki bersenjata mjolnir itu tiba diujung tangga dan berdiri dihadapan mereka. Tatapannya yang tajam terarah kepada Havard.


"Kau... lelaki dari Norchburg..." serunya menudingkan telunjuk kepada Havard.


"Aku bukan dari sana!" bantah Havard.


Thor kemudian menatap Nagini. Lelaki berambut panjang sebahu itu tersenyum menyeringai.


"Kau juga..." ujarnya. "Pertarungan kita belum usai..."


"Aku menantikannya..." sahut Nagini sembari menghunus pedangnya dengan pelan dan mengarahkan ujungnya kepada Thor.


Thor menatap kedua prajurit itu. "Kalian membawa dua orang musuh kemari... apa maksud kalian berdua?!" bentak lelaki tersebut.


"Eh, aku bukan temanmu!!!" seru Do Quo sembari mempreteli baju jirah penjaga istana dari tubuhnya lalu berdiri tegak dengan tangan terkepal. "Kedatangan kami bukan untuk itu, tapi untuk menemui rajamu..."


"Raja Saul sedang beristirahat... jangan ganggu beliau. Sebaiknya pulang dan menghadap saja besok." ujar Thor.


"Sudah kubilang kami datang bukan untuk itu, melainkan menemui rajamu dan memaksanya dengan cara apapun agar menghentikan kegilaannya..." jawab Do Quo dengan ketus.


"Kalian datang mencari masalah!" seru Thor kemudian berdiri dengan sikap siaga.


Nagini melangkah maju dan berdiri didepan ketiga rekannya. Ia menoleh sedikit kepada Havard.


"Bawa Sultan Yazid menyeberangi tangga! Diujung tangga sana adalah kamar peristirahatannya!" seru Nagini kemudian mengarahkan mata pedangnya kembali ke arah Thor. "Aku akan menyelesaikan pertarunganku yang tertunda di Norchburg dengan lelaki ini!"


"Jaga dirimu baik-baik." ujar Do Quo.


Nagini tak berkomentar apapun selain menatap tajam lelaki bersenjata mjolnir dihadapannya. Do Quo menuntun Sultan Yazid dan Havard menaiki tangga. Thor sendiri membiarkan saja mereka bertiga. Ia fokus kepada Nagini.


Sepeninggal mereka, Nagini tersenyum sinis menatap Thor. "Mjolnir dan sabuk Megingjorđ adalah milik Raja Theoldur... apakah kau pewarisnya?" pancing Nagini.


"Kau tahu banyak tentang Raja Theoldur." komentar Thor.


"Aku mengetahui semua suku-suku di dunia dan memahami mereka sejelas aku memandang dasar sungai di air jernih." jawab Nagini dan wajahnya berubah menjadi dingin mengintimidasi.

__ADS_1


"Aku tak suka mengotori kenangan bersama Theoldur... tapi kau telah merusak kenangannya..." ujar Nagini. "Maka temuilah arwah beliau dan minta ampunlah!"


Selesai berkata, Nagini melesat menyerang Thor. Lelaki itu dengan sigap juga mengangkat senjatanya dan menyambut serangan yang dilancarkan wanita bertiara tanduk tersebut.[]


__ADS_2