Mata Hati Asma

Mata Hati Asma
01.Asma


__ADS_3

Disebuah rumah yang berkecukupan terdengar seorang ibu yang sedang berjuang untuk melahirkan sang buah hatinya ditambah hujan deras menyertai persalinan tersebut.


"Ya bu,lebih kuat lagi!!" suara bidan terdengar jelas dirumah tersebut menyemangati seorang ibu yang tengah berjuang untuk melahirkan seorang bayi.


"Aaa....." Teriaknya dengan lelah keluarlah seorang bayi yang cantik nan bercahaya membuat bidan itu sendiri tersenyum bahagia.


"Selamat bu anaknya perempuan." ucap bidan tersebut sambil menggendong seorang bayi yang mungil dan semu merah dipipinya.


"Huhuhu....Alhamdulillah dia bisa hidup." ucap Fatia dengan nafas berat karna ia baru saja mengeluarkan seorang anak yang selama ini ia kandung 9 bulan.


Setelah dibersihkan dari kotorannya, sang ayah menggendongnya dan tersenyum ia pun mulai mengumandangkan Adzan pada si bayi.


Allohu akbar


Allohu akbar...


Setelah selesai sang ayah menatap dengan bahagia karna sang buah hati begitu bercahaya ia bersyukur pada tuhan karna telah mengabulkan keinginannya yaitu dengan keselamatan istrinya dan juga bayi yang cantik seperti bidadari.


"Fatia,aku ingin memberi nama anak kita Asma Anniar apa kau setuju?" tanya sang ayah sambil menatap sang anak yang terpejam dengan tenang.


"Aku setuju suamiku Asma Anniar,begitu indah 'cahaya mulia'.Suamiku sudah cukup aku menatapnya aku menyayanginya dia permata terakhirku,Aku ingin menyusuinya untuk sekarang rasanya aku sangat merindukannya walau ia baru pertama hadir didunia ini." ucap Fatia dengan air mata mulai menetes entahlah rasanya ia ingin mendekap putrinya dengan bahagia bukan kesedihan,Ridwan memberikannya dan ia pergi untuk mengurus administrasinya.


Dengan kasih sayang ia menyusui sang anak sambil menyayikan lagu yang begitu menenangkan hati,sang buah hati hanya terpejam dengan bibir mengerucut.


"Ibu...kenapa engkau berbicara seperti itu?"ucap anak pertamanya yang berumur 15thn.


" Sayyid jikalau ibu tidak bisa bersama kalian jagalah adik-adikmu,dan..."Fatia menatap anak keduanya dengan penuh kasih sayang sedari dulu Fatia mendidik anaknya penuh kelembutan.


"Ibu..hiks...apa kau merasa sakit?" ucap anak keduanya yang berusia 8thn itu.


"Tidak ibu merasa senang sudah melahirkan adik kalian jangan pernah membenci ataupun menjelekkannya ibu berharap kalian bisa saling menyayangi kau anak ibu yang cantik Latifah jika ibu tidak bisa bersamamu dan kakakmu ibu harap kau bisa menjaga adikmu!" ucap Fatia ia menyuruh bidan membawa Asma untuk dikembalikan di Box nya.


Fatia mulai menghembuskan nafas berat sedari tadi ia memang sudah bisa merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi,semoga saja ia bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah.


"Ashadualailaha ilallah...waashaduana muhammada rasulullah..."ia membacakan kalimat syahadat tanpa yang lain dengar.

__ADS_1


"Tidak bu hiks...." seketika mata Fatia mulai menipis dan tak sadarkan diri membuat anak perempuannya yaitu Latifah berteriak karna kaget dengan respon ibunya yang tidak berucap lagi.


"Bidan tolong ibu kami!" teriak Sayyid penuh nada kekhawatiran.


"Ada apa ini?" tanya Ridwan sang ayah yang baru saja selesai membayar biaya persalinan istrinya.


"Ayah ibu menutup matanya." ucap mereka bersamaan dengan mata yang sudah berlinang air mata.


sang bidan memeriksanya dan ternyata denyut nadi maupun nafasnya berhenti membuat bidan menggelengkan kepalanya pada Ridwan.


"Innalillahi wainnailaihi roziun ibu Fatia telah meninggal dunia" ucap bidan tersebut sambil menunduk karna rasa kasihan pada keluarga kecil ini.


"Apa??" dengan segera Ridwan memeluk sang istri dengan sedih penuh duka ia terus mencium jasad istrinya bertubi-tubi hanya senyum tipis dari jasad istrinya itu.


"Hiks...kau tega meninggalkan aku bersama anak-anak hiks...bangunlah Fatia istriku tersayang janganlah kau pergi meninggalkan kami!" ucapan Ridwan hanya menjadi sebuah harapan sia-sia karna Fatia tak mungkin dapat hidup kembali.


"Ayah ada apa dengan ibu apa dia sudah meninggalkan kita??" ucap Latifah kecil,ia tau bagaimana rasanya ditinggal pergi ibu karna dia juga punya teman yang punya nasib seperti itu.


"Ibu Fatia mengalami pendarahan hebat sehingga dia tidak dapat diselamatkan." ucap sang bidan dengan wajah sendu dia tidak pada kedua anak yang masih kecil dan satunya lagi baru saja berinteraksi dengan dunia.


"Ayah kau mau pergi kemana?" teriak Sayyid yang menyusul ayahnya yang entah kemana akan pergi.


"Ayah akan pergi ke rumah bibimu dan pamanmu kau jaga Latifah!" dengan segera Ridwan mengendarai motornya dengan segera.


Namun naas karna hati yang sedih dan fikirannya yang entah kemana didepan rumah sang adik ia tertabrak truk sehingga membuatnya terluka parah darah mengucur hebat karna terbentur dengan sebuah batu.


Jgerrr


Sang adik yang berdiri didepan rumah terkaget karna suara tabrakan yang nyaring mambuatnya berlari diderasnya hujan.


Ia membuka Helm tersebut dan ternyata dia sang kakak.


"Kak Ridwan?" ucapnya sambil memangku kakaknya yang terlihat terluka sangat parah.


"Malik...ak..aku...meminta.Kau

__ADS_1


jaga..putra...putriku...hhh...jagalah mereka...se..seperti..anak...


kandung..mu..hhh...aku minta...maaf...bila merepotkanmu." dengan suara bergetar Ridwan mulai menghembuskan nafas terakhir dengan Malik yang meneteskan air matanya ia tak kuasa menatap kakaknya dengan keadaan seperti ini.


"Kak ikuti aku,Ashadualailahailallah..."ucap Malik dengan tangisan yang coba ia tahan.


"A...shadu...alaillaha...ilallah...." ucap Ridwan dengan suara yang tersendat-sendat menuju shakarotul maut.


" Waashaduanna muhammada rasulullah..hiks"tangis tak terbendung dimata sang adik ia sudah tidak tahan mendengar suara rintihan sang kakak.


"Wa..ashaduanna Mu..hammada rasul..lullah..." mata pun terpejam,kini derasnya hujan tidak bisa menghilangkan rasa kesedihan,hujanpun tau bagaimana sedihnya kehilangan seseorang yang paling disayang.


"hiks...kakak....." teriak Malik ditengah guyuran hujan ia tidak perduli dengan yang lainnya.


.


.


.


"Kakak...ayah kenapa belum kembali?" Tanya Latifah kecil yang dari tadi menatap kakaknya yang hanya menatap jendela rumah.


"Kakak tidak tau." seketika Asma menangis.membuat Latifah dan Sayyid mendekatinya,mereka sangat senang dipertemukan dengan adiknya tapi juga bersedih akan kepergian ibunya.


"Bidan kenapa adik kami menangis?" tanya Latifah yang tidak tau menau tentang bayi kecil.


"Saya tidak tau sepertinya dia lapar bidan akan buatkan susu formula,kalian jagalah dia sebentar!" dengan segera sang bidan membuatnya saat diberikan namun Asma masih tetap menangis.


"Kenapa dia tetap menangis?" tanya Sayyid yang merasa khawatir pada adik kecilnya karna biasanya bayi akan diam jika sudah diberi makan.


"Saya tidak tau,mungkin dia ingin di..."sebelum berkata perkataan bidan itu terpotong oleh gebrakan pintu.


Brakkk


"Sayyid,Latifah mana Ibu kalian?!" ucap sang paman dengan raut wajah tergesa gesa Latifah dan Sayyid hanya bisa saling menatap.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2