
Sore tiba dan kini Asma dan Aqila beserta Reisa sudah tiba di masjid.
"Aduh As kenapa degdegan ya?" tanya Reisa.
"Serahin semuanya sama Alloh Rei,jika kamu memang tulus mualaf insyaAlloh semuanya akan terjalan dengan mudah ayo masuk." ucap Asma.
Setibanya semua orang yang telah mendengar cermah menoleh mereka tidak tau siapa yang datang karna pria dan wanita diskat dengan gorden.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,disini kita kedatang seorang gadis yang insyaAlloh pada kesempatan ini akan menjadi mualaf karna mendapat Hidayah dari Alloh,mari nak." ucap ustadz itu melambaikan tangan.
"Siapa namamu?" tanya sang ustadz,Reisa nampak gugup semua berbalut gamis sedangkan ia tidak.
"Saya Reisa Amanda Herlos dan saya adalah teman Asma dan Aqila." ucapnya.
"Berapa usiamu?" bertanya kembali.
"20 tahun." ucap Reisa.
"Alhamdulillah diusianya yang ke-20 ananda Reisa sudah mendapat Hidayah dari Alloh untuk menjadi seorang mualaf,apakah ada yang memaksa?" tanya ustadz kembali dan dibalas gelengan.
"Ada yang memberimu uang,atau memberimu sebuah janji yang tidak kau sanggupi?" lagi-lagi Reisa menggeleng.
"Syukurlah mari kita berdoa terlebih dahulu." semuanya berdoa.
"Baiklah kita mulai,dan ananda Reisa ikuti kata saya." dengan mantap Reisa mengangguk.
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH,..."
"Asyhadu an laa ilaaha illallah.."
"WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLOH..."
"Waasyhaduanna muhammadar rosulullah.."
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."ucap sang ustadz
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."ucap Reisa tanpa kendala.
"Alhamdulillah kini ananda Reisa sudah menjadi salah satu saudara kita dan ia akan bersih kembali sebagaimana seorang bayi yang baru lahir,yang mempercayai Alloh hanyalah satu tuhan yang patut disembah dan nabi Muhammad adalah nabi utusan untuk umat muslim,setelah ini mandi wajib dan berwudhu setelahnya kita sholat Ashar bersama ingat setelah menjadi seorang islam ananda sudah harus tau rukun islam dan iman lalu kitab yang Alloh tunjukkan sebagai pedoman kita adalah Al-Qur'an dan jangan tinggalkan sholat yang lima waktu apa ananda tau itu?" tanya sang ustadz.
"InsyaAlloh,Subuh Dzuhur Ashar Magrib Isya,beserta sunah lainnya ada juga sholat yang dikerjakan mendapat pahala dan tidak dikerjakan tidak mendapat dosa,sholat sebelum yang wajib adalah qobla dan setelah sholat wajib ba'da dan sholat disepertiga malam tahajud,istikhoroh dan sebagainya adapun sholat di waktu pagi menjelang siang yaitu dhuha lalu kewajiban yang dianjurkan islam adalah bersedekah dan membantu sesama dengan ikhlas karna Alloh." perkataan Reisa membuat semua orang terkagum.
"Subhanallah,insyaAlloh nak Asma akan membantu ananda untuk menjadi seorang muslim yang Alloh ridhoi." ujarnya.
Reisa kembali ketempatnya.
"Alhamdulillah makasih ya As,La entahlah tanpa kalian aku tidak bisa merasakan dunia kalian yang Alloh tunjukkan untukku." ucap Reisa dengan deraian air mata.
"Sama-sama." balas Asma dan Aqila.
Malam harinya.
__ADS_1
Tok
Tok
Asma yang baru selesai sholat Isya ia pun berjalan cepat kearah pintu karna merasa tak ada yang membukakan ia ingat kakaknya kan sempat keluar mau membeli bahan makanan di supermarket.
Cklek.
"Assalamualaikum." ucap Fatir.
"Kak Fatir,ada apa kemari kak?" tanya Asma.
"Tidak diajak masuk?" tanya Fatir.
Asma bingung,bukannya menolak tapi ia tidak mau timbul fitnah,ia berdoa semoga kakaknya pulang.
"Emm...ah begini saja kakak duduk diluar emm maksud Asma em...." melihat Asma yang bingung Fatir terkekeh gemas jika muhrimnya pasti ia akan mencubit Asma yang mengemaskan itu.
"Eh siapa ini?" tanya Latifah yang baru sampai.
"Alhamdulillah kakak sampai,ini dosen Asma sekaligus kakak kelas sewaktu SMA kakaknya Amran kak." ucap Asma.
"Selamat malam kak." Fatir tersenyum menatap Latifah dan juga Hafidz.
"Ya." balas Hafidz.
"Malam begini ada apa kesini?" tanya Hafidz dengan nada tak suka karna ia tau kedatangan pria itu kesini pasti ingin bertemu adik iparnya.
"Ayo masuk,diluar dingin!" ucap Latifah.
Setelah masuk Asma kedapur menyiapkan teh sedangkan Latifah menidurkan Zulkarnain dan tersisa Fatir dan Hafidz.
"Hanya ingin silaturahmi saja benar?" tanya Hafidz dengan sorot mata tajam.
"Anu kak,em...iya kedatangan saya ingin silaturahmi dan terimakasih sudah mengizinkan mampir kak." ucap Fatir dengan gugup.
"Suka Asma?" sontak Fatir terdiam dan tak bisa menjawab,dan tiba Asma membawa nampan dengan dua gelas.
Meletakkan tehnya dengan hati-hati.
"Silahkan diminum kak." ucap Asma menunduk.
"Asma masuk kamar kamu!" ucap Hafidz dan dibalas anggukan.
Hening...
Syruppp
"Sejak kapan kamu menyukai adik iparku?" dengan sorot tajam dan meletakan gelasnya dimeja.
"Sejak SMA kak." dengan sorot ketakutan.
__ADS_1
"Apa pekerjaanmu hanya sebagai dosen?" Mendelik.
"Y-a kak." mengangguk.
"Sudah hafal juz Al-quran?" tanya Hafidz.
"InsyaAlloh baru hafal juz 30." ucap Fatir membuat Hafidz terkekeh pasalnya jika ingin taaruf Asma meminta mahar surah Ar-rahman dan jika Fatir tidak hafal satu juz sulit juga.
"Hm,apa kamu tau Asma adalah adik iparku satu-satunya.Jadi ia harus bersanding dengan pemuda yang kental ilmu agama." ucap Hafidz.
"InsyaAlloh saya akan berusaha." ucap Fatir.
"Kau yakin,tak semudah itu kau berbicara nyatanya tidak ada kemajuan,buktikanlah." ucap Hafidz membuat Fatir meneguk salivia nya
"Iya kak." ucap Fatir ragu.
"Sudah malam pulanglah tidak baik pemuda datang kerumah seorang gadis malam begini orang akan berfikir macam-macam apalagi tadi Asma sendiri dirumah untung kami cepat pulang." Hafidz berdiri.
"Saya pamit kak selamat malam." dengan formal Fatir membunguk sopan.
"Kau islam?" tanya Hafidz langsung diangguki Fatir.
"Waalaikumsalam." ujar Hafidz dengan wajah datarnya.
"Eh..emm iya Assalamualaikum." dengan gugup Fatir pulang ia merasa bodoh karna memang kebiasaan formal lebih mendominan dari pada sikap religiusnya.
Sepulang Fatir.
"Kau mendengarnya tadi?" tanya Hafidz seperti mengintrogasi membuat Asma menunduk.
"Iya kak." ucap Asma.
"Pemuda itu menyukaimu apa kau pun suka?" melipat kedua tangannya sambil menatap sorot mata Asma.
Deg
"Em..."Asma bingung harus jawab apa tapi nyatanya dia memang tidak megagumi dosennya itu.
" Sudahlah jangan dijawab jika sulit,kakak tau apa jawabanmu jangan memaksakan kehendak karna Alloh tidak suka pemaksaan jadi tentukan hatimu mantapkan dirimu lebih mendekat pada Alloh agar segala sesuatu dipermudah."ujar Hafidz langsung diangguki Asma.
"Lusa kita pulang ke Bandung untuk menjenguk paman dan bibi,Kak Sayyid bilang bibi sakit." ucap Hafidz membuat Asma kaget.
"Sakit?"kaget.
"Iya,makannya kita kesana." ucap Hafidz.
"Iya kak,sekalian mau bertemu dengan Marsela menjenguknya bolehkan sekalian bawa Aqila dan Reisa bersama?" pinta Asma.
"Boleh." mengangguk dan tersenyum.
"Makasih kak." memeluk erat.
__ADS_1
Bersambung...